
Seorang cewek dengan rambut di pirang, kulit langsat yang sangat eksotis dan hampir coklat, serta pakaian ketat dan mini itu datang membuka pintu ruang kerja vano.
"Hai Babe" cewek itu langsung mencium pipi kiri vano lalu mengalungkan tangannya di leher vano dari samping.
"Hai sayang, kenapa? " tanya vano
"eh.. Gimana sama istri kamu itu? " Tanya bella dengan sangat antusias, membuat vano tersenyum.
"ya gak gimana-mana sayang" jawab vano masih fokus dengan layar laptop mac miliknya itu.
"Menurut kamu dia gimana? Cantik gak? " kata bella dengan sedikit manja
"Kenapa?Kamu cemburu?. Hm? " Goda vano lalu menutup laptopnya itu dan menatap bella.
"Cemburu? What the? He asal lo tau gue itu cuman ngincer harta lo. Secara kan gue juga bentar lagi mau nikah ama jordan pengusaha kaya" Batin bella, lalu kembali terseyum dan duduk di pangkuan vano masih dengan tangan memgalung di leher vano.
"Aku itu sayang banget sama kamu van, Kamu malah nikah ama dia. " Manja bella
"Halah.. Bentar lagi juga dia gak betah, Aku juga gak suka sama dia" Ujar vano.
"emm yaudah deh sayang, aku mau shopping nih kamu ikut dong.. " Ajak bella.
Vano mengangguk, bella tersenyum senang karena jika bersama vano apapun yang ia beli pasti vano akan membelikannya.
----------------------------------------
Reva sampai di rumah sekitar jam 8 malam . reva langsung berganti pakaian menjadi daster batik-batik selutut
Tengdong..... Tengdong......
Mendengar suara bel rumah, senyum reva langsung merekah akan menyambut vano, dengan cepat reva berjalan le depan.
Ceklek.......
"Seben-" Kata-kata reva langsung tercekat di tenggorokan melihat vano sedang merangkul pinggang seorang perempuan.
"Minggir! " Sarkas vano, dengan cepat reva membuka pintu dan setelah vano dan perempuan itu masuk barulah reva menutupnya dan ikut berjalan masuk.
"Ya Allah siapa perempuan itu?" batin reva, sedari tadi mata reva memang sudah memanas menahan tetesan air matanya, apalagi kini perempuan itu dan vano nampak berpelukan di atas sofa.
"Eh.. Van, ini pembantu baru kamu hahahha" Hina perempuan itu pada reva. Sedangkan vano hanya diam dan memasang senyum miringnya.
"Saya istrinya" Jawab reva.
"Oh ya? Kesian tapi kek nya lo nggak dianggep deh.Eum BTW lo lebih cocok jadi pembantu, iya nggak van? " Bella makin menjadi-jadi menghina reva, sedangkan reva hanya bisa berpasrah dan bersabar.
"Ma-" belum sempat menyelesaikan omongannya,
"Iya mendingan lo bikinin kita teh anget deh! " Bentak vano mengusir reva, bella tersenyum penuh kemenangan.
"Iya" Reva menurut saja lalu berjalan ke dapur,setetes demi setetes air matanya perlahan turun membasahi pipi putih reva namun segera dihapus oleh reva dengan punggung tangannya.
Setelah selesai membuat teh untuk vano dan bella, reva segera membawanya dengan nampan menuju ruang tamu, dan pas sekali reva melihat vano dan perempuan itu sedang berciuman panas.dengan cepat reva mengalihkan pandangannya, namun tak disangka tangannya langsung bergetar tak kuasa, hingga gelas yang berisikan teh itu tumpah dan pecah.
Vano menghentikan ciumannya dan beralih menoleh ke belakang bersama bella. Reva menahan tangisannya sambil membersihkan beling kaca, kakinya terasa perih terkena air panas.
Bella dan vano berjalan mendekati reva yang begitu miris.
__ADS_1
"Miris" Cibir bella sambil menyerak-nyerakkan beling itu kemana-mana membuat reva kewalahan.
"Ganggu aja lo!.Dasar drama! " Bentak vano.
"Maaf" Cicit reva dengan nada suara yang begitu bergetar.
"Udahlah sayang aku mau pulang" Ujar cewek itu.
"Mau aku anterin? " tawar vano dengan lembut.
"ng-gak usah sayang, lagian om aku juga udah mau jemput kok sayang" .vano mengangguk
Sebelum bella benar-benar pergi, bella sempat berjongkok lalu meraih dagu reva hingga menatap dirinya.
"Kenalin gue bella, pacarnya suami kamu" ucapnya lalu segera bangkit berdiri dan berjalan keluar dari rumah.
Vano berkacak pinggang dan akan segera memarahi reva.
"Lo tuh pengganggu, parasit, dan benner kata bella lo lebih cocok jadi pembantu! " Bentak vano, air mata reva keluar apalagi ketika jarinya terkena pecahan beling yang mengakibatkan jari telunjuk miliknya meneteskan darah segar.
"aw... " Rintih reva.
"Oh ya jangan lupa, lo bakalan liat pemandangan tadi setiap hari. Jadi saran gue mending cepet-cepet ke pengadilan deh! " Sinis vano dan tanpa pedulinya langsung meninggalkan reva.
-------------------------------------
reva berjalan keluar dari kantornya, ia sengaja untuk tidak membawa mobil ke kantor karena takut pulang malam dan mengantuk sehingga bisa membuatnya mengemudi secara ugal-ugalan.
"Hai! " Sapa seorang cowok dengan berbinar.
"Hai. Rafi? " Tebak reva. Dan cowok itu langsung mengangguk, dia dan reva adalah teman sejak SMA walaupun reva tau rafi menyimpan perasaan yang lebih padanya.
"udah fi" jawab reva dengan senyuman manisnya.
"Jalan yuk, lepas rindu gitu kita kan sahabatan" Celetuk rafi, yang langsung dijawab dengan anggukan kecil oleh reva.
Rafi menuntun reva mendekat ke mobil hitam miliknya, lalu membukakan reva pintu.
"Kamu makin cantik rev, dan sikap kamu masih kayak dulu gak sombong, baik, lembut, manis dan siapapun yang berhasil milikin kamu pasti adalah orang paling beruntung" batin rafi.
*****
Mereka berdua setelah makan siang langsung berjalan ke arah taman yang dulu mereka biasa tempati ketika pulang sekolah dan menghabsikan waktu.
"Gimana Kabar Lo rev? " Tanya rafi
"Baik. Kalo kamu fi? " reva tersenyum lembut sambil menatap rafi.
"Sama gue juga baik. BTW anyway baswey status lo skarang gimana rev?" maklum saja rafi masih belum bisa move on dari reva.
"Aku baru aja nikah fi, sebenernya aku mau ngundang kamu tapi aku nggak tau alamat kamu dimana" Pernyataan itu sukses membuat raut wajah rafi berubah seketika, hatinya serasa ditusuk-tusuk, tapi tidak ia tidak boleh begini di hadapan reva. Dengan cepat ravi tersenyum lebih tepatnya di paksakan.
"Oh' i-iya ref kemaren aku masih di amerika ngelanjutin perusahaannya ayah" Jawab rafi sambil terbata-bata
"Ooh ayah gimana keadaannya?sehat?" Tanya refa
"Eum.. Ayah dia sehat kok" Raut wajah rafi langsung berubah mengingat kedua orang tuanya yang kini sudah bercerai setelah rafi menyelesaikan kuliahnya di Amerika.
__ADS_1
"Terus kenapa cemberut? Hayoo kenapa? Cerita aja fi" Goda reva
"Hehe sorry. Ayah sama Bunda mereka baru aja pisah" Jawab rafi
"eh maafin aku ya fi" Reva memeluk rafi dari samping, jujur saja rafi rasanya sangat nyaman di pelukan reva serasa tidak ingin melepas
"Iya nggak papa kok rev" Balas rafi sambil tersenyum " Pasti kamu bahagia banget ya rev udah punya suami dan pasti dia beruntung banget punya kamu" Sindir rafi.
"hehe kurang lebih gak gitu juga sih fi" balas reva dengan tawa recehnya untuk menghilangkan semburat menyedihkan dalam dirinya.
"m-maksudnya rev? " tanya rafi canggung.
"Kita nikahnya cuman karena dipaksa, tapi aku bakal berusaha sih buat jatuh cinta sama dia, aku juga udah berusaha bikin dia mau nerima aku, tapi nyatanya...... Kayaknya dia belom bisa fi, buktinya dia masih punya pacar di luaran sana, dan dia juga masih kasar sama aku fi" Balas reva sambil tersenyum tipis pada rafi.
"Loh gak bisa gitu dong rev, Kamu harusnya ngelawan rev, aku gak terima" Balas rafi
"Aku nggak mau ngelawan fi, aku percaya fi suatu saat dia bakalan baik kok sama aku, dan mau nerima aku fi jadi tenang aja" Kata reva sambil mengusap air matanya kasar.
Dengan cepat ravi menangkup wajah reva , ibu jarinya mengusap lembut air mata reva yang jatuh ke pipinya.
"Udah. Aku anterin pulang ya. Cup... Cup... Jangan nangis ya" Rafi memeluk reva sebentar lalu mengantarkan reva pulang.
Skippp........
Rafi memarkirkan mobilnya di halaman rumah bercat putih, dan gold itu.
"Makasih fi... " Ucap reva sambil tersenyum.
Vano melihat kedua manusia itu dari jendela, dan dengan senyum miringnya vano keluar dan menghampiri kedua orang itu.
"Bagus deh reva, lo sekarang udah punya pacar juga, jadi disini gue gak dosa-dosa amatlah" Kata vano enteng.
"enggak van, dia bukan pacar aku, dia itu temen SMA Aku"
"Iya kita gak ada hubungan apa-apa kok" Sinis rafi.
"Ya nggak papa sih bro kalo lo pacarin istri gue, ya gue gak keberatan dan malahan gue senneng banget kalo reva jadian sama lo" Sengit vano.
Rafi geleng-geleng kepala apa mungkin di dunia ini ada seorang suami yang rela menyerahkan istrinya seperti ini.
"Tega ya lo sama istri lo sendiri, lo buta atau gimana sih? Pikir bro reva ini udah sempurna banget buat jadi istri dan malah lo sia - sia in" Balas rafi tak kalah sengit
"O yah? gue nggak merasa tuh, malahan gue nganggep dia parasit, benalu dan bahkan cuman beban biat gue" . Reva hanya tunduk diam, tapi daripada nanti rafi dan vano bertengkar dan adu mulut lebih baik ia menyuruh rafi untuk pulang.
"Fi.. Udah, aku gak papa kok, kamu pulang aja" Reva menuntun rafi ke arah pintu pengemudi.
"Inget Lo bakal nyessel! " Peringat rafi
"O yah? Kayaknya nggak tuh" ledek vano.
Setelah rafi pergi, reva bernafas lega lalu berbalik badan menghadap vano yang sedang tersenyum miring padanya.
"Kenapa van? " Tanya reva lembut
"Udahlah lo pacaran aja sama si rafi" Titah vano
"Nggak van, aku kan sekarang udah punya suami" Jawab reva
__ADS_1
"Udahlah inget gue gak akan pernah ngakuin lo. Inget itu Reva Elkana! " Tegas vano lalu masuk ke dalam rumah. Setelah vano pergi tanpa sadar akhirnya air mata yang reva bendung sedari tadi itu akhirnya turun juga, hati reva menjadi begitu sakit ketika mendengar suaminya sendiri menyuruhnya untuk berselingkuh.