
"Kita menikah yah?"
Deggg..
Reva menggeleng, selama ini dia tidak pernah punya perasaan lebih pada rafi dan semua hanyalah sebatas teman. Belum juga luka di hati reva kering dan kini rafi akan mengajaknya menikah? reva kira ravi itu lebih berakal daripada vano,
"Aku janji rev, aku bakal bikin kamu bahagia" Rafi mempererat genggamannnya,
"Nggak fi, kita itu cuman temen dan gak lebih" Reva menarik tangannya, dan menunduk tidak ingin melihat rafi.
"Rev, selama ini gue udah mendem perasaan gue pleasee lo bales kek, Lo lupa ya selama ini siapa yang udah selalu ada buat lo!"Bentak rafi, sambil mengungkit-ungkit masa lalu.
"Berarti kamu gak ikhlas" Sengit reva.
"Setitik pun lo gak mau bales rev?, Please kasih gue kesempatan untuk jadi suami dan ayah buat anak lo" Pintah rafi.
"Udahlah fi, kamu pantes dapat yang lebih baik dari aku" Jawab reva lalu membuang pandangannya keluar jendela, berusaha menghindari tatapan rafi.
Rafi menghela nafasnya, Dan kembali melajukan mobil. Mungkin reva benar dia pantas mendapatkan yang lebih baik, Tapi apakah salah bila yang rafi maksud terbaik untuknya adalah reva?
----------------
Lain tempat Lain pula kejadiannya, setelah beberapa hari menghilang dari hadapan vano akhirnya bella menghubungi vano untuk bertemu di sebuah taman.
Emosi vano begitu meluap-luap ketika melihat bella bersama dengan seorang lelaki yang nampak sudah berkepala 4.
"BELLA!" Teriak vano
Bella hanya tersenyum miring lalu berjalan kecil ke arah vano, tangannya mengeluarkan sebuah kertas undangan.
"Dateng ya!" Ucapnya sumringah
Vano merasa di permainkan ,jadi selama ini bella hanya memanfaatkannya.
__ADS_1
"ini maksudnya apa bel?"
"Oh aku cuman mau ngucapin makasih atas tumpangan dan uang yang selama ini udah kamu kasih ke aku" Bella tersenyum lebar,laki-laki itu datang.
"Kenapa sayang?" tanya jordan
"Nggak kok yang ,dah yuk.." Bella meninggalkan vano yang masih berkecamuk dengan fikirannya dengan fikirannya sendiri.
Vano mengerang marah, tidak peduli dengan orang-orang yang mencibirinya atau mengatainya. Tangannya terkepal penuh emosi, darahnya benar-benar telah mendidih.
"Tenang....., Masih banyak perempuan di luaran sana. Dia cuman ******" Vano meyakinkan dirinya, lalu tersenyum miring.
Kehidupan vano hanya tentang uang, harta, dan Wanita. Siapa yang tidak kenal vano yang sekarang, seorang pengusaha kaya yang begitu dingin, memiliki banyak perusahaan.
------
Rafi hanya mengantar reva sampai ke terminal, atas perintah dari reva.
"Nggak papa kok ref, Kita kan emang sahabat dan maafin gue ya tadi udah bentak-bentak" Mohon rafi, Reva mengangguk lalu tersenyum manis dan memeluk rafi sebagai salam perpisahan mereka.
"Jaga diri ya, Kalo lo butuh apa-apa bilang ke gue, Jaga dedek bayinya...., Dan kalo lo mau lahiran gue usahain dateng" Rafi mengusap-usap punggung reva.
"Iya, Makasih" Reva akhirnya melepaskan pelukannya, Setelah rafi pergi reva menghembuskan nafasnya perlahan.
"Hari baru, Kehidupan baru, Semua akan bunda mulai dari nol ya sayang" Ucap reva sambil mengusap perutnya dari luar dan berjalan menyusuri terminal.
Dulu reva sebenarnya tidak menyerahkan seluruh uang yang dia miliki, Awalnya reva hanya menyimpannya ketika keadaan genting dan mungkin inilah saatnya.
"Ibu yang punya rumah itu?" Tanya seorang ibu-ibu yang rumahnya berhadapan dengan rumah reva.
"Iya bu" Jawab reva dengan ramah,
"Wah..., nama saya bu lastri tetangga baru ibu" . Reva menjabat tangan ibu itu dan mengucapkan namanya.
__ADS_1
"Reva bu"
Rumah ini adalah rumah yang reva beli dari gaji pertamanya, nah bisa kalian bayangkan kan berapa gaji reva ketika masih bekerja di perusahaan hingga sekali gajian langsung bisa beli rumah.
"Bunda yakin nak, Gak akan ada yang nemuin kita disini" Gumam reva.
Jika vano sedang menghambur-hamburkan uangnya, Sekarang reva sedang berusaha mencari pekerjaan dengan keadaan hamil.
"Bu, maaf disini kami nerima karyawan yang kuat angkat-angkat barang, sedangkan ibu kan lagi hamil" Lagi-Lagi reva di tolak,
Mencari pekerjaan sungguh sulit, bagaimana dia bisa membiayai biaya hidup di kota ini jika tidak bisa mendapat pekerjaan.
"Dicari karyawan untuk menjaga toko"
Membaca Pamflet itu membuat reva tersenyum sumringah lalu memasuki toko kelontong yang akan dia tempati melamar.
"Assalamualaikum" Sapa reva.
Si pemilik toko itupun langsung melempar senyum, dan Memperkenalkan diri.
"Pak dito, Mau cari apa mbak?" Tanyanya
"Reva pak, Saya mau lamar pekerjaan" Reva menyerahkan map berwarna coklat yang langsung ditolak oleh pak dito.
"Kerja disini gak perlu ijazah, Kamu di terima"
"Yang benner pak?". Pak dito mengangguk
Tidak papa bekerja di tempat ini, asalkan reva mampu membiayai biaya hidupnya.
Sedangkan vano?, Tiap malam mabuk-mabukan, Gonta ganti perempuan, Kehidupannya menjadi amburadul karena diliputi oleh kekayaan.
NOTE : AKU LANJUT KALO BANYAK YANG KOMENππππ
__ADS_1