
"Nanti mama jemput ya," Reva hari ini akan sangat sibuk dan tidak bisa menemani anaknya di rumah.
"Iya ma, Vando masuk ya ma" Vando mencium punggung tangan mamanya, dan segera masuk ke dalam Pondok Taman Bermain.
Perlahan punggung kecil vando sudah tidak terlihat lagi, Reva tersenyum tak menyangka vando bukti perjuangannya telah tumbuh besar, reva hanya ingin vando tidak tumbuh menjadi seperti papanya.
Beberapa perusahaan mengajaknya bekerja sama, dan hari ini akan dilaksanakan rapat terbuka di antara mereka. Bukan hanya resto dan Resort reva yang di ajak bekerja sama, tapi masih banyak lagi.
Vano menatap datar sekitarnya, Apakah rencananya kali ini akan gagal?, padahal tawarannya begitu menggiurkan.
"Maaf, saya terlambat" Perempuan yang dia tunggu itu akhirnya datang. Reva mengiyakan tawaran bisnis yang perusahaan vano tawarkan, lagian kan bukan hanya dia. Jadi tidak ada rasa curiga dalam hati reva.
"Ekhm, Baik kita mulai" Vano berdeham singkat.
Semua nampak berjalan dengan lancar, Reva memperhatikan dengan saksama. Seolah di antara mereka tidak pernah terjadi apa-apa bahkan tidak saling kenal.
Meeting akhirnya selesai, reva mengecek jam tangannya. Harusnya sudah sedari siang reva menjemput vando.
"Akh...Lepas" Desis reva pelan agar tidak terdengar oleh orang lain, Kini tangannya di cekal oleh vano.
"No...No...No" Vano menggeleng.
Setelah cukup sepi dan menyisahkan mereka berdua akhirnya reva menghentakkan tangannya kasar hingga terlepas dari cekalan vano.
"Apa mau bapak?" Tanya reva dengan begitu formal.
"Pertama lo jangan panggil gue dengan sebutan bapak!" Ucap vano.
"Maaf, ini jam kerja pak" Jawab reva, Kakinya melangkah mendekati pintu. Dengan cepat vano bergerak memutar kunci dan memasukkannya ke dalam saku.
"Saya mau pulang pak" Reva bersedekap dada.
Vano mengunci pergerakan reva kedua tangannya berada di samping kiri kanan tubuh reva. Reva meneguk ludahnya dengan susah payah,
"Jangan panggil gue dengan sebutan itu, Atau gue harus pakek cara macam-macam baru lo bisa gak panggil gue gitu?" Ancam vano dengan sorot mata yang begitu tajam.
Oke,Kali ini sepertinya vano tidak main-main, sebelum hidup reva berakhir disini lebih baik reva mengiyakan saja.
"Apa mau kamu van?" Reva akhirnya mengubah panggilannya.
Vano sedikit mundur memberikan ruang pada reva.
"Gue mau lo jujur. Siapa vando? Kenapa dia pakek marga keluarga gue?, dan...."Vano menjeda kalimatnya lalu menatap bola mata reva dalam-dalam "Dan...A-anak kita waktu itu gugur kan? Di-dia Gak lahir kan?" Tanya vano bertubi-tubi.
Mata reva berkaca-kaca, cobaan apa lagi ini?, Reva bingung harus menjawab apa. Air mata reva perlahan turun,
"Gue butuh jawaban!, Bukan air mata lo!" Bentak vano,
Reva mengusap air matanya dengan kasar,
"Vando itu anak aku," Jawab reva. Jujur malah akan membuat masalah bertambah banyak, reva tau kok vano tidak akan pernah menerima anaknya, Mungkin jika vano tau kalau vando itu anaknya bisa saja vano membunuhnya atau bahkan menyakitinya
"Oke, Kalo lo gak mau bilang. Gue sendiri yang akan cari tau" Vano menyeret tangan reva.
__ADS_1
"Lepassss"Bentak reva, Tangannya berusaha memukul tangan vano namun apa daya kekuatan vano lebih besar.
Tubuh reva dihempas masuk ke dalam mobil, Reva bingung vano akan membawanya kemana?, Laju mobil vano layaknya orang kesetanan.
"Van, Aku gak mau mati!" Reva meremas jari jemarinya.
"Nggak papa, Kan kita matinya barengan" Jawab vano yang disertai tawa kecil.
Reva tau kok selera humor vano itu tinggi, dan tidak mudah tersenyum atau bahkan tertawa. Kata-katanya barusan itu tidak lucu, Bahkan lebih cocok dikatakan menyeramkan.
"Ka-Kamu gila ya?!" Bentak reva. Tiba-Tiba saja vano menghentikan mobilnya, membuat reva sedikit terpental ke depan.
"Ayo, Turun!" Vano menyeret reva masuk ke dalam sebuah rumah sakit, Reva terlihat pasrah melawan pun sudah tidak bisa.
"MAMA!, OM!"Suara itu membuat tubuh reva bergetar hebat, Itu adalah suara anaknya.
"Maksud kamu?, Van.. lepasin anak aku!" Mohon reva,
Vando digendong oleh salah satu anak buahnya, di tangannya sudah terdapat banyak mainan.
"Om bebi, itu mama ku" Vando memperkenalkan mamanya pada om bebi alias pria bertubuh besar.
Vano tersenyum, lalu beralih pada mantan istrinya itu.
"kalau kamu nggak bisa ngomong jujur, Biar aku sendiri yang buktikan" Kata vano.
Reva berlinang air mata, Vano sebenarnya prihatin dengan itu. Namun keputusannya sudah bulat, sebelum mati penasaran lebih baik vano membuktikannya sendiri dengan tes DNA.
"Aku capek van!, Udah kan? Kamu udah dapet apa yang kamu mau kan?, biarin aku pergi sama anak aku" Mohon reva. Pergelangan tangannya sudah merah akibat cekalan tangan vano.
"Apa susahnya sih rev?, timbang jujur doang" Kata vano.
"Dia itu anak aku sama hans, udah puas?"Reva berusaha mencari alasan yang tepat, tapi entah kenapa otak reva buntu.
Vano menyeringai iblis , lalu mendekatkan bibirnya ke telinga reva.
"Lo kira gue bodoh?, lo baru nikah sama orang itu dua tahun yang lalu, sedangkan anak lo itu udah umur enam tahun. Kalo mau ngasih alasan, yang bermutu dikit dong" Bisik vano di telinga reva yang membuat reva bergidik ngeri.
"Mama, aku di beliin banyak mainan loh sama om bebi" Ucap vando yang sedang di pangku oleh lelaki besar itu,
"Om bebi?"Cicit reva, Pria besar tadi mengangkat tangannya.
Reva tidak nyaman dengan posisi ini, terlalu dekat baginya. Reva bergeser sedikit, membuat vano menoleh curiga.
"Kenapa?"Nada suaranya begitu lembut.
"Please jauh-jauh, Aku gak nyaman" Reva menunduk. Vano justru makin mendekat hingga bersentuhan dengan reva.
"Terserah" Reva memutar bola matanya malas, Reva tidak akan membiarkan anaknya disakiti oleh vano . Mungkin saja vano akan membunuh Vando setelah mengetahui bahwa dia adalah anak kandungnya.
Ceklek...
Pintu terbuka menampilkan seorang dokter yang membawa hasil laboratorium tes DNA antara vano dan vando.
__ADS_1
"Bagaimana dok?" Vano begitu antusias.
Reva berkeringat dingin, Tangan vano mulai longgar dari pergelangan tangannya.
"Jadi dari hasil laboratorium tes DNA, Bapak Vano mahatma dan nak Vando Mahatma memang berkerabat Atau lebih tepatnya ayah dan anak kandung" Tutur dokter itu.
Reva melepas tangannya dari vano, Dan menangkupnya di depan dada sembari berjalan mundur.
"Aku janji van, Aku bakalan pergi jauh bawa vando. A-aku janji"
Vano terdiam kaku, Jadi selama ini dia punya anak.
Reva tidak diam saja, Dengan seribu keberanian dengan cepat reva menginjak kaki Anak buah vano yakni om bebi lalu mengambil alih vando.
"Hoi!, Kejar!" Cerca vano pada anak buahnya yang malah tinggal diam itu.
Vano bergerak mengejar reva, Kali ini tidak boleh sampai lolos lagi. Untung saja vano tau jika reva begitu cerdik, seluruh pelosok rumah sakit ini sudah berjaga.
"Dia kabur, Cepet kepung!" Ucap vano lewat walkie talkienya.
Vando sedang anteng-antengnya tidur. Reva harus bisa kabur, Keluar dari pintu rumah sakit reva langsung dikejutkan dengan beberapa lelaki yang reva yakini adalah anak buah vano.
"Udah capek larinya?Hm?" Vano muncul dari belakang bersama dengan beberapa anak buahnya lagi.
"Hiks...,Aku janji van Aku akan pergi jauh" Reva memeluk anaknya dengan begitu erat.
Vano bermain mata dengan yang lainnya, Kaki vano melangkah maju mendekati reva .
"Hiks...Hiks, Van please" Mohon reva, Tangannya masih setia memeluk anaknya itu dengan erat.
Vano menarik vando dari gendongan reva dengan sedikit kasar,
"Please...." Reva bersujud memeluk kaki vano, meminta anaknya dikembalikan.
"Bebi, bawa dia ke mobil" Vano menyerahkan vando pada anak buahnya. Reva menangis histeris, Sungguh dia tidak ingin di pisahkan dengan anaknya.
Kesadaran reva mulai hilang, Tak lama badannya oleng dan hampir jatuh ke belakang, untung saja vano Cepat berjongkok dan menahan tubuh reva.
"Maaf"Vano tersenyum miring, Lalu mengangkat tubuh reva.
NOTE : • MAAFIN AKU, SEMALEM AKU LUPA MAU UP. HEHE, KEASIKAN LEBARAN KALI YA.
•PART KALI INI SPECIAL VANO&REVA
•ADA YANG PENASARAN? HUHUHU😌 AKU KASIH BOCORAN YA, PART BERIKUTNYA GAK KALAH SERU KOK.
•JANGAN LUPA FOLLOW AKUN INSTAGRAM AUTHOR.
@Merliancy_
•MAU BILANG APA KE AUTHOR SUPAYA MAKIN SEMANGAT?,
• BAB INI GREGET GAK?, ATAU BIASA AJA?
__ADS_1