
Vadel menekuk wajahnya, Pasalnya semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, Papanya sedang menyetir, Abangnya sedang bermain ponsel sambil mendengarkan lagu, Dan mamanya sedang melakukan telfon via suara. Sedangkan dirinya harus memangku varel,
"NGGAK ADIL!" Teriak vadel tiba-tiba membuat vano mengerem mendadak.
Cittttttttttttttt............
Vano dan reva seketika langsung menoleh ke jok tengah mobil, terlihat dada vadel naik turun mengatur emosinya. Sedangkan vando, cuek saja dan menambah volume musik yang ia dengarkan.
"Kenapa sayang?Hm?" Tanya reva.
"Nggak adil. masa vadel sih yang jaga varel,"
"Loh?, Kan gak papa. Varel kan adeknya Babang vadel" Balas vano, sambil terkekeh kecil melihat tingkah anaknya.
"Nggak, Adek vadel itu dedek bayi. Bukan varel" Sarkas Vadel. Reva dan Vano beradu tatap,
"Dulu juga pas varel masih di dalam perut, vadel bilang itu adeknya" Ucap vano.
"Itu beda pa.." Rajuk vadel.
"Yaudah sini varelnya, Papa yang pangku" Tawar vano.
"Iiihh kamu kan nyetir," Tolak reva.
"Nggak papa kok. Aku nggak mau bikin kamu capek". Reva mengangguk saja mengikuti ucapan vano,
"Nih nih...ambil anak kalian" Ujar vadel dan memberikan varel pada papanya. Vano geleng-geleng kepala dengan sikap vadel,
Varel menatap vano dengan polos, Vano mencium pucuk kepala anak itu.
"Tidur aja yah jagoan.." Ujar vano dengan sayang.Varel merebahkan kepalanya pada perut vano sambil mencari posisi yang begitu nyaman.
Vano tersenyum, dan melajukan mobilnya kembali. Hari ini dan beberapa hari kedepan mereka akan liburan di sebuah villa, Dan reunian lagi dengan keluarga Rafi. Mumpung lagi liburan sekolah, Vando akan masuk bangku SMA dan Vadel yang naik kelas 4 Sekolah Dasar.
"Aku takut, nanti anak-anak berantem. Atau berulah di villa" Kata reva tiba-tiba. Vano mengambil satu tangan reva dan ia genggam sedangkan tangan yang satu lagi mengemudi.
"Tenang aja, Noh..Vando bisa ngatasin adik-adiknya." Ucap vano. Reva menjadi sedikit tenang,
Di tengah perjalanan Reva, Vando, dan vadel sudah tertidur. Vano tetap fokus menyetir, sesekali menepikan mobil untuk meminum air.
"Varel gak bobok sayang..?" Tanya vano sambil mengusap kepala anaknya pelan.
"Valel temenin papah.." Ucap varel.
"Varel harus bobok. Masih jauh loh," Kata vano, namun varel justru menggeleng. Yasudahlah, Vano juga tidak akan memaksanya.
Varel sudah menahan Untuk buang air kecil sedari tadi, Matanya melirik mamanya lalu vadel dan vando. Namun tak ada yang bisa ia mintai, Varel menjadi bingung harus ngompol? atau bilang ke papah? , dan akhirnya varel memilih menangis saja ππ(Ngakak aku)
"Huaaaaa Hiks hiks.." Tangis varel tiba-tiba. Vano menghentikan mobilnya,
"Cup..cup..., Varel kenapa?Hm?" Tanya vano sambil terus mengusap-usap punggung anaknya.
"Hiks..hiks..., Va-valel mau pipis" Ucap varel sambil terus menangis.
"Tunggu Sampai SPBU ya sayang.." Kata vano, Namun justru varel tetap menangis.
"U-udah di ujung papah..." Jawab varel. Vano melajukan mobilnya, mencari tempat untuk parkir sebentar. Reva terbangun karena mendengar tangisan varel,
"Aaaa varel kenapa? Kok nangis?" Tanya reva. Varel justru makin memberontak menangis.
"Mau pipis dia" Jawab vano. Mobil berhenti di sebuah lapangan, Terlihat banyak orang mulai dari kalangan orang tua, remaja, bahkan anak-anak sedang asik bermain layangan.
"Ayo ikut papah.., Rev, Titip anak-anak ya.." Vano segera berjalan keluar dan mencari toilet umum.
Setelah membuang air kecil, vano membasuh wajah anaknya itu.
"Hahaha Telbang.." Varel bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa riang. Vano mengikuti sorot mata varel, Yang tertuju pada layangan yang sangat banyak di atas langit.
"Gitu dong ketawa.., Jangan nangis mulu" Vano memeluk varel, Tubuh mungil anaknya itu selalu membuat vano gemas.
Vando menggendong anaknya berjalan menyusuri lapangan sambil menonton orang-orang yang bermain layangan,
"Pak? Layangan?" Seorang penjual layangan dengan berbagai karakter menemui vano.
"Nggak..Nggak" Ujar vano.
"Aaaaaaa Valel mau.." Varel menunjuk-nunjuk, Penjual layangan itu tersenyum penuh kemenangan. Vano, melempar tatapan sinisnya.
"Nggak us-"
"Huaaaaa Valel mau, Hiks.." Varel mengamuk, dan mau tidak mau vano harus membelikannya.
__ADS_1
"Beh..Bapak sukses" Ujar vano tiba-tiba, membuat bapak penjual layangan itu Mengernyit tidak mengerti.
"Saya? Sukses?Kalo saya sukses gak mungkin Saya jualan layangan mah.." Balas penjual layangan itu,
"Maksudnya, sukses bikin anak saya nangis. Berapaan tuh?" Vano benar-benar jengkel, kenapa sih penjual layangan ini tiba-tiba harus datang dan menemuinya. Jadinya kan uangnya pecah lagi, Hati vano menjadi begitu dongkol.
"Gope'. Ini mah sepuluh ribuan doang oak dibanding Bapak beliin mainan robot?" . Mendengar itu vano memelototkan matanya, menakutkan.
"HA!, SEPULUH RIBU? BAPAK GELO? INI CUMAN KERTAS MINYAK. kagak-kagak, Kalo lima ribu saya mau" Vano berjalan menjauh, penjual layangan itu kembali berpikir dan akhirnya memanggil vano lagi,
"I-iya deh pak, Ambil aja lima ribu.." Teriaknya. Vano tersenyum Miring,
"Mau nipu gue lu? orang kertas minyak cuman lima ratusan-" Batin vano sambil berbalik badan.
"Papahhh, valel mau.." Varel menunjuk layangan bermotif Mei-mei dalam karakter upin-ipin.
"Tunggu..papa tawar dulu" Bisik vano.
Penjual layangan itu tersenyum, Namun vano dengan cepat berdeham.
"Maksud saya, duit saya cuman tiga ribu. Itupun kalo mau sih" Vano memberi pilihan, raut penjual layangan itu berubah sinis.
"Iya iya.., Ambil aja deh pak". Vano memberi uang berwarna biru pada penjual layangan itu dengan nominal lima puluh ribu.
"Lah? Bapak bilang cuman punya duit tiga rebu?" Cibir penjual layangan itu. Vano berkacak pinggang,
"Bapak tau kan prinsip ekonomi?, Hemat Pangkal kaya" Ucap vano dengan begitu bangga sambil memukul pelan dada kanannya.
"Bukan hemat ini mah pak. Tapi pelit," Cibir penjual itu. Vano tidak ambil pusing dan segera berjalan ke arah mobil, setelah mendapat layangan.
"uhhh Gegara kamu duit papa pecah lagi.." Vano mencium pipi varel.
Vadel begitu berbinar ketika terbangun dan melihat sebuah layangan di atas Dashboard mobil. Vadel meraihnya,
"Bang vadel, Itu punya valel" Varel menarik layangan itu dari tangan vadel. Tangan vadel mencengkram kuat layangan itu,
"Ishh..Pelit, Kan cuman pengen liat!" Bentak vadel. Varel tidak melepas cengkramannya,
"Vadel!, Awas ya layangannya robek atau patah. Uang jajan dikurangin" Ancam vano,
"Papah kok gitu? udah tau jajan aku cuman dua ribu, pakek mau dikurangin lagi" Sinis vadel sambil menarik layangan itu kuat hingga membuatnya robek dan kerangkanya patah.
Suasana sejenak hening, Vano meneguk ludahnya. Sebentar lagi, Pasti varel akan menangis.
"Eh eh..Varel, liat ini.." Reva Menangkap kumbang yang hinggap di dekat jendela mobil.
"Ma-Mah.." Varel perlahan melepas bangkai layangannya, dan tersenyum ketika melihat hewan yang ada di tangan mamanya itu.
"Ayo.., Sini" Ajak reva. Varel beranjak bergerak pelan ke arah pangkuan mamanya. Reva mengisyaratkan vano agar segera membuang, layangan sobek itu.
"Hahaha Ucu.." Kata varel sambil menyentuh kumbang itu. Reva memperbaiki posisi duduk varel agar tidak menindih perutnya, Reva menghapus air mata varel yang mengalir membasahi pipinya.
"Kenapa nangis sayang?"
"Valel senang" Begitulah varel, Terlalu sedih akan menangis, terlalu bahagia pun juga akan menangis.
Mobil vano berhenti di depan sebuah villa berlantai dua, Di daerah puncak. Suasana sangat asri, dan alami. Vadel duluan keluar dari mobil, diikuti yang lainnya.
"Ihhh..Ada kebo..." Histeris vadel ketika melihat kerbau yang digiring ke sawah.
"Kampungan. Baru liat kebo aja dah kayak kejauhan uang satu Milyar" Ketus vando.
Beberapa Pegawai villa itu membawakan barang bawaan keluarga vano masuk.
Rafi dan claudia keluar dari villa, menyambut kedatangan Vano dan reva.
"Anak kalian semua ini?" Tanya claudia.
"Iya mbak" Jawab reva sambil tersenyum hangat.
"Ini vando?" Tanya rafi, ketika melihat cowok yang hampir satu tinggi dengan reva.
"Iya om" Jawab vando. Rafi, memeluk anak itu. Setelah itu beralih pada vadel, Cowok yang bersedekap dada dan kelihatan songong.
"Ini?" . vadel menyisir rambuynya ke belakang,
"Kenalin om, Aku vadel, anaknya vano dan reva yang paling ganteng" Ucap vadel dengan begitu percaya diri. Rafi mengacak rambut vadel, dan beralih pada anak yang digendong vano.
"Songong banget, kayak lu dulu" Bisik rafi pada vano. Gelak tawa vano pecah seketika, ya vano tau kok hampir semua orang mengatakan bahwa vadel adalah wujudnya ketika masih kecil dulu.
"Yang lucu dan gemoy ini siapa..?" Rafi mencubit pelan pipi gembul varel. Anak itu hanya menatap rafi polos sambil memeluk leher vano.
__ADS_1
"Namanya varel," Reva memperkenalkan anaknya itu. Claudia menjadi gemas sendiri pada Varel,
"Rev kok bisa Lucu gini sih?" Claudia mengecup singkat pipi varel. Menurutnya varel lebih mirip perpaduan antara reva dan vano,
"Ekhm...Susah tau dapet yang lucu begini" Celetuk vano. Rafi dan claudia tertawa mendengar tanggapan vano, Sedangkan reva langsung mencubit vano hingga meringis.
"Waww..., Pasti vano gak absen nih tiap malem" Timpal rafi.
"A-apaan sih, Udah ah ayo masuk" Reva menjadi begitu salah tingkah dan langsung memasuki Villa bersama dengan claudia, vando dan vadel. Meninggalkan Rafi dan vano yang masih tertawa,
"Kasih tau resepnya ya van," Bisik rafi,
"Hehehe lu ada di ahli yang tepat" Vano merangkul pundak rafi dan berjalan masuk menyusul istri mereka.
Vano duduk di sofa bersama dengan reva dan anak-anak sambil menghilangkan penat. Rafi duduk di samping claudia yang sedang memangku varel,
"Nanti kita bikin yang lebih lucu dari ini.." Bisik rafi. Claudia membulatkan matanya dan mencubit pinggang rafi,
"Benner-benner ya omongannya..." Desis claudia membuat rafi terkekeh pelan.
"Anak kalian mana?" Tanya Vano.
"Behhh...Belum liat dia, Panggilin bidadari kita ma.." Suruh rafi dengan begitu sombong.
Claudia Tersenyum manis,
"Clara?, Aina?, sini dulu dong sayang" Teriak claudia ke lantai atas.
Vando tetap dengan setelan Cool nya, Dan masih tetap fokus dengan ponselnya. Vando memang sangat Berbeda ketika ada di luar rumah dan di dalam rumah, Diluar rumah anak itu akan sangat pendiam dan bermuka datar, namun ketika bersama keluarga akan sangat berbeda jauh.
"Iya mah..Tunggu," Clara Turun, Setelannya bisa terlihat sangat tomboy.
Gadis cantik, dan sedikit kebule-bule an yang mungkin turunan dari Claudia. Vano geleng-geleng kepala dibuatnya,
"Wuih pirang. Gilaaakkk..." histeris vano apalagi ketika melihat rambut cokelat anak itu,. Rafi tertawa,
"Ya kagak lah, Asli nih..." . Reva dan vano mangut-mangut mengerti, Varel menang banyak karena dipegang-pegang oleh dua wanita cantik. Yakni claudia dan clara,
"Aina mana?" Bisik rafi tepat di telinga clara,
"Sholat pa.." Jawab clara, dan kembali bermain dengan anak yang ada di pangkuan mamanya itu. Sangat lucu, dan gemoy.
Vano melirik vando yang sama sekali tidak bereaksi ketika melihat clara yang begitu cantik, Vano menyenggol lengan vando.
"Noh, Cantik.." Ucap vano sambil melirik clara.
"paan sih pah..?" Ketus vando dan kembali bermain ponsel. Baiklah, vano patut curiga kalau anaknya ini homo karena tidak tertarik pada cewek cantik.
"Assalamualaikum.." Sapa seorang perempuan seumuran dengan clara, Yang lengkap dengan hijab dan pakaian tertutupnya.
"Astagfirullah" Ujar vadel tiba-tiba ketika melihat clara. Vano mengernyit heran,
"Kok astagfirullah sih?" Tanya vano.
"Soalnya vadel barusan liat bidadari pah.." Jawab vadel. Membuat Semua orang tertawa, kecuali vando yang tidak tau dengan kedatangan perempuan itu karena masih fokus dengan ponselnya.
"Bukan Astagfirullah itu mah, Harusnya Masyaallah.." Timpal rafi,
Aina duduk di samping rafi, sambil tersenyum manis.
"Ini Aina, Anak gue sama Lisa" Lanjut rafi untuk menjawab raut tanda tanya reva yang terpancar dari wajah perempuan itu.
"ooh, Mbak lisa sekarang dimana?" Tanya reva.
"Lisa sekarang menetap di surabaya, Dia udab berkeluarga lagi. Dan, dapet suami seorang ustad" Jawab rafi.
Vano menyenggol lagi lengan vando, Mmebuat vando muak.
"Apa lagi sih pah?" Ketus vando. vano melirik ke arah aina, Vando mengikuti sorot mata Vano.
'Cantik' Kata itulah yang sangat cocok untuk menggambarkan cewek yang kini dia tatap itu. Vando sampai tak berkedip,
"Ekhm" Deham rafi ketika menyadari vando yang sampai tak berkedip menatap anaknya.
"Cantik.." Kata itu lolos begitu saja keluar dari mulut vando. Vadel geleng-geleng kepala dan langsung menutup mata vando dengan telapak tangannya.
"Perlu di ruqiyah" Celetuk vadel. Yang lagi-lagi membuat semua orang tertawa. Sedangkan, Aina menjadi begitu canggung karena telah ditatap seperti itu.
Vano bisa menyimpulkan, Vando itu punya tipe sendiri.
vando menggigit sudut bibirnya merasa malu., Tapi benar-benar vando tidak bohong, perempuan itu memang cantik.
__ADS_1
NOTE:
β’SATU KATA BUAT AUTHOR!π