
Reva meletakkan segelas susu hangat di atas meja, Untung saja semalam reva tidak diantar pulang oleh hans. Bisa berabe masalahnya kalau vano bertemu lagi dengan hans,
"Di-dingin" Gumam vano sambil mengeratkan selimut yang ada di tubuhnya .
"Ngapain sih kamu pake main hujan-hujanan kesini?, aku kan bilangnya vando lusa datengnya" Omel reva. Terpaksa reva membiarkan vano beristirahat di kamar tamunya walaupun tak luas dan mewah, tapi sangat nyaman kok untuk ditempati.
"Jangan diomelin mulu dong rev, dingin tau" Rengek vano pada reva. Reva geleng-geleng kepala, kemudian duduk di tepi kasur dan menyendokkan susu hangat untuk vano.
"Minum gih, supaya cepet angetnya" Saran reva. Kalau disuapi begini mah siapa aja mau , Surga dunia yang vano rasakan.
Ketika sedang asik berdua dengan reva, mata vano menangkap pemandangan baru yakni cincin yang melingkar pada jari manis reva.
"Beli cincin?"Terka vano. Namun reva menggeleng,
"Cincin lamaran hans, semalem buat aku" Jawab reva. Vano membulatkan matanya, demi apa Hans dan reva akan rujuk? Lalu bagaimana dengan perjuangannya?Sia-sia kah?
"Benneran rev?Gak bohong?" Tanya vano begitu menuntut kejujuran. Reva tetap mengangguk.
Hati vano hancur, Tangannya menangkup pipi reva dan menatap manik mata itu lekat.
"Please kasih gue kesempatan buat perjuangin Lo dan vando lagi, Satu aja keaempatan.."Mohon vano, Namun reva segera menjauhkan tubuhnya
"Nggak van. Kita cuman masa lalu, Gak ada yang perlu kamu perjuangkan" Jawab reva.
"Ada!, Gue pernah buang harta berharga gue dan itu adalah lo dan vando, Apa salah kalo gue pengen hal itu balik lagi?". Reva terpojokkan dengan ucapan vano, Baginya vano tak lebih dari seorang pecundang yang berubah menjadi seorang pahlawan.
"Kamu benar van. Tapi alangkah lebih baiknya kalau sekarang, masing-masing dari kita punya kehidupan baru" Lanjut reva
"Tap-"
"Please van," Mohon reva. Akhirnya vano berhenti untuk membahas inu, dirinya sudah sedikit kalah satu langkah dari hans tapi sepertinya hans akan kalah satu langkah jika urusan anak.
"Oke kalo itu mau lo, Tapi gue pengen Vando panggil gue 'Papa'. Hanya itu , gak lebih, Gue mohon" Pintah vano. Ini adalah salah satu tak tik barunya, Kalau anaknya bisa ditaklukkan apalagi ibunya, Oke, Hana mungkin memiliki reva tapi vano masih punya hak asuh terhadap vando yang bisa dia jadikan alasan untuk PDKT bersama dengan reva.
"Aku bakal usahain"Ucap reva lalu keluar dari kamar itu, meninggalkan vano yang masih berfikir keras.
oo0oo
Setelah asik bermain di Timezone, Akhirnya vano memboyong reva dan anaknya ke foud cort, untuk membeli makanan.
"Om, Nanti beliin aku mainan ya" Minta vando, Sedangkan reva sedang pergi memesan makanan.
Vano tersenyum dan mengangguk senang.
"Iya dong, Tapi ada syaratnya" Vano tertawa licik
"Apa om?" Tanya vando
"Jangan panggil om lagi, Tapi 'Papa' "
Vando menimang-nimang lagi, dan akhirnya menggeleng.
"Nggak ah. Vando kan udah punya papa, Masa sih vando punya dua papa" Tolak vando.
Bukan vano namanya kalau tidak bisa membujuk, Vano mengedarkan pandangannya tepat dengan seorang anak laki-laki yang merengek minta dibelikan robot transformers keluaran baru.
"Yaudah. Padahal mau dikasih robot transformers keluaran baru loh" Vano pura-pura membuang muka. Sedangkan mata vando berubah menjadi berbinar-binar, tangan mungilnya menarik ujung lengan baju vano.
"Aku mau deh om". Vano menoleh kemudian tersenyum senang,
"Oke deal, Nanti papa beliin" Vano dan vando saling berjabat tangan
"Papa janji ya?" . vano mengangguk, Lubuk hati vano menghangat setelah mendengar sebutan itu.
Reva memgernyit bingung sambil membawa nampan Di tangannya, ketika melihat ayah dan anak itu saling berjabat tangan.
__ADS_1
"Hayoo, ngapain aja pas mama tinggal" Goda reva yang baru datang,
"Nggak Ada kok ma," Ucap vano, Reva melotot tajam tidak suka dipanggil dengan sebutan itu oleh vano.
Ketiganya menikmati makanan yang telah dipesan oleh reva, Ada rasa lega ketika vando sudah memanggil vano dengan sebutan 'Papa'.
"Mama, Vando mau milih mainan dulu ya". Reva mengangguk, Anak itu kemudian mulai memilih mainan yang dia inginkan, Sedangkan kedua orangtua nya mengawasi dari kejauhan.
"Vando ulang tahun minggu depan, tanggal 14" Kata reva secara tiba-tiba,
Vano menoleh kemudian tersenyum senang,
"Bagus dong, Gue yang rayain" Usul vano.
Reva menggeleng,
"Vando gak suka dikasih kejutan,"
"Loh terus gimana?" Tanya vano tak mengerti, biasanya kan anak kecil suka diberi kejutan .
"Aku yang bikin kuenya, Ntar kamu yang siapin kadonya" Kata reva, Vano mengangguk
"Vando suka apa emangnya?,"
"Eum..." Reva mengetuk-ngetukkan jarinya pada dagu, "Vando itu, dari kemaren minta kelinci tapi aku gak ngasih, Kamu bisa beliin itu buat dia"
Vano mangut-mangut, dimana pula ia akan mendapatkan kelinci. Tapi dia harus bisa demi anaknya,
"Dan aku harap van, sekarang kamu akuin diri kamu di depan vando kalau kamu itu papanya.Akuin segala kesalahan kamu, supaya dia ngerti kenapa kamu harus dipanggil 'Papa' " Ucap reva, dengan tatapan mata yang begitu sendu,
"Gue takut rev, kalo vando bakalan marah dan menjauh" Kata vano, Kepalanya sedikit menunduk.
Reva menepuk pundak vano,
Vano tersenyum, Reva mampu menenangkannya. Vano menyesal sangat menyesal pernah melakukan hal bodoh itu, Dan sekarang vano sendirilah yang harus membuktikan pada dunia bahwa reva dan vando adalah hal terpenting dalam hidupnya yang harus dia miliki lagi.
"Pa, Aku ambil ini" . Setelah mendapatkan mainan yang sesuai ketiganya segera membayar dan meluncur pulang.
Ketiganya sampai di rumah, reva memberi kode pada vano untuk segera mengatakannya. Kata-kata ini sudah vano siapkan dan rangkai sejak perjalanan pulang,
"Vando, Papanya mau bicara tuh" Suruh reva pada anaknya yang masih fokus dengan mainan barunya, Vando mendekati vano.
Lidah vano begitu kelu untuk mengatakan ini, Vano berharap vando tidak mengerti. Vano bersimpuh di depan vando, untuk mensejajarkan tubuhnya dengan vando.
"Vando, tau nggak kenapa om vano harus dipanggil 'Papa' ? " Tanya reva, yang ikut bersimpuh bersama keduanya.
"karena Mainan robot" Jawabnya polos. Reva memberi kode untuk vano agar segera mengatakannya, Vano menelan ludahnya susah
"Bukan itu nak, Ini memang papa vando" Ucap reva,
" Terus kenapa papa gak pernah dateng liat vando dulu? Kenapa papa gak ada pas vando mau belajar naik sepeda?, " Tanyanya dengan polos.
"Papa minta maaf, dulu papa gak ngajarin vando naik sepeda, gak pernah nengokin vando. Karena..." Vano menggantungkan kalimatnya, Vando menunggu kalimat selanjutnya,
Sedangkan mata reva sudah berkaca-kaca,
"Karena papa ninggalin mama dan vando, Jauh sebelum vando lahir. Papa Usir mama dari rumah. Papa minta maaf ya sayang..." Vano hendak mengusap rambut vando, akan Tetapi anak itu justru memundurkan kepalanya tidak ingin di usap.
"Papa minta maaf, Papa jahat, Papa nggak jagain vando dan mama, Papa menyesal nak.." Vano memohon pada anaknya, Vando justru beralih bersembunyi di belakang tubuh reva,
"Ayo nak, Dijawab dong, Papanya minta maaf tuh.." Reva menarik-narik tangan vando dari belakang, Namun anak itu tetap tidak mau.
"Gimana rev?" Tanya vano. Reva takut jika emosi vano naik, Dan malah akan membuat vando menurut dengan paksa,
"Nggak papa kok van, Nanti aku yang ngomong ke vando. Kamu pulang aja, Aku tau ini susah" Ucap reva meyakinkan,
__ADS_1
"Papa pamit ya, papa sayang sama vando.." Pamit vano, Reva hanya tidak ingin anaknya membenci papa kandungnya sendiri, karena bagaimana pun darah yang mengalir dalam tubuh vando adalah darah ayahnya.
oo0oo
Vano memukul dinding Rumah Sakit, kenapa penderitaannya begini sekali. Hari ini dirinya ditolak oleh anak sendiri, dan sekarang mami dan saudarinya harus mengalami kecelakaan.
"Pi, Ini kenapa bisa kecelakaan segala sih pi?" Tanya vano dengan begitu frustasi, Mahatma menghela nafasnya
"Mami kamu dan vani, tadi pamit belanja ke Mall. Dan sepertinya di jalan keduanya dihadang oleh preman dan dibegal, Tapi mami kamu itu melawan dan mendapat luka tusuk, Kalau vani dia kena luka kepala yang berat" Jelas mahatma pada putranya.
Tangan vano terkepal, Ini harus dibawa ke rana hukum. Apalagi melibatkan nyawa maminya,
Ceklek
Pria berjas putih itu akhirnya keluar dari ruang UGD, vano menghela nafas lega
"Keadaan bu vani sudah baik-baik saja, Tapi Bu grace..." Dokter tersebut menahan ucapannya,
Vano menanti kalimat selanjutnya, dia tidak ingin kehilangan wanita itu.
"Bu grace harus segera mendapat satu donor Ginjal, Satu ginjalnya hancur karena ditusuk terlalu dalam" Jelasnya, dunia vano hancur dalam satu detik.
Mahatma jatuh tak sadarkan diri, untung saja ditahan oleh Suami vani.
"Kami butuh donor ginjal secepatnya. Kondisi bu grace sudah tua dan tidak memungkinkan bisa hidup hanya dengan satu ginjal" Lanjut dokter tadi, Vano mengangkat tangannya
"Saya dok, Ambil ginjal saya." Usul vano, Semua anggota keluarga lainnya menolak namun siapa yang bisa menentang vano.
Vano meraih tangan vani, Tangisan vani pecah ketika mendengar kondisi maminya dan rencana operasi pengangkatan ginjal sebentar malam.
"Ssttt jangan nangis" Vano mengusap air mata vani,
"Hiks.."
"Coba ceritain ke gue," Ucap vano
"Hiks...gue sama mama, Dihadang di jalan sama begal. Tapi lo tau kan mami kekeh banget gak mau ngasih kalung itu, alhasil mami ditusuk. Dan anehnya, Preman itu gak mau ngambil mobil gue bang..., Pas udah liat mami berdarah gue buru-buru nyetir ke rumah sakit. Dan anehnya lagi bang Rem mobil blong, gak bisa berhenti padahal sebelum di begal mobil baik-baik aja". Jelas vani tidak terima pasti ini semua disengaja,
Vano mengepalkan tangannya, Air matanya ingin turun. Tapi tidak, Vano tidak boleh terlihat rapuh bagi adiknya,
"Ssttt, gak papa, Lo berdoa aja supaya mami dan gue Selamet keluar dari ruang operasi" Ucap vano menenangkan,
"Hiks...Bukan abang yang harus menderita, hiks..." Tangis vani kembali pecah, Seolah langit mengerti perasaan vano, Langit pun ikut menangis.
"Maaf nak, Papa gak bisa dateng langsung nemuin vando. Selamat ulang tahun jagoan papa, dan Papa sayang banget. Kamu harus jagain mama, jangan kayak papa ya nak."
Vano menulis secarik surat yang dia masukkan ke dalam kandang kelinci yang barusan dibeli oleh asistennya,
"Kamu bawa ini ke alamat yang udah saya tulis, Tanggal 14, Jangan telat!, Kelincinya mahal, Dan jangan bilang keadaan saya" Ucap vano pada asistennya itu,
NOTE :
• KALIAN DAPET CERITA INI DARIMANA?
• BEBERAPA PART MENUJU ENDING,
• AKU BAKALAN BIKIN CERITA BARU, KISAH TENTANG SEORANG ABDI NEGARA. TAPI HABIS CERITA INI TAMAT DULU YA,
• YUK FOLLOW AKUN INSTAGRAM AUTHOR SUPAYA KAMU TAU PERKEMBANGAN CERITA AUTHOR, DAN CERITA YANG AKAN AUTHOR BAGIKAN LAGI BUAT KALIAN SEMUA.
@Merliancy_
•Kalo cerita ini rada nggak nyambung, maafkan ya soalnya authornya masih SMA wae....
•Bubayyyyyy💕
__ADS_1