Sesalku

Sesalku
PART 17. REVA MENYERAH


__ADS_3

"Untuk apa mempertahankan sesuatu yang tidak diharapkan?, jika mundurku membuatmu bahagia akan kulakukan, karena aku bukan apa-apa"


-Reva Elkana-


NOTE : HAI READERS, PART KALI INI MUNGKIN ADALAH PART YANG READERS TUNGGU-TUNGGU. JANGAN LUPA VOTE,


COMENT BUAT SEMANGATIN AKU.


STAY SAVE 💕😘


Om Bara💕 : Syg...., Hotel Prima, aku tunggu. 😉


Senyum Bella terukir di wajah cantiknya, lalu segera bersiap-siap. Kalian masih bertanya-tanya tentang pekerjaan bella, jadi bella bekerja di lounge, Lounge adalah sebuah tempat yang biasanya ada di hotel berbintang. Bukan hanya itu , pada malam hari bella akan bekerja di sebuah diskotik. Akunya pada vano dia adalah seorang wanita karir,


"Sayang, aku pamit yah..." Ucap bella dengan begitu manjanya pada vano.


Vano mengangguk, lalu mengecup bibir bella sekilas sebelum wanita itu pergi. Sebenarnya vano sudah tidak sabar lagi untuk mangadili istrinya itu.


Tok.....Tok......Tok,


Reva berjalan menuju pintu lalu membukanya, tampaklah vano dan di tangannya sudah ada Box susu yang baru beberapa hari yang lalu dia beli.


"Kenapa? Kaget?" Vano berjalan masuk ke dalam kamar reva, lalu menyingkirkan reva dari dekat pintu.


"Akh" Rintih reva ketika terjungkang jatuh, untungnya jatuh ke atas kasur.


Vano mengunci kamar reva dari dalam lalu membuang kuncinya asal,Reva meneguk ludahnya kasar dan was was dengan vano yang semakin mendekat.


"Ini apa?" Vano melempar box susu tadi,


"Nggak mungkin punya bella kan?" Vano menyeringai devil,


Baiklah kali ini reva tidak ingin terlihat lemah lagi, Reva bangkit berdiri lalu membuka jaketnya yang dia gunakan untuk menutupi perutnya.


"Iya, itu emang punya aku..."Aku reva dengan lantang,


"Maksud lo?" Vano menyelidik, dia hanya ingin reva mengatakan bahwa dirinya tidak hamil, benar-benar vano tidak ingin sampai dari pernikahan ini ada bekas-bekasnya apalagi yang namanya anak., "Lo nggak hamil kan?"


Mata reva berkaca-kaca, benar dugaannya vano pasti tidak akan pernah mau mendapatkan anak dari pernikahan ini.


"Iya, aku hamil......,Anak kamu" Jawab reva sambil menunduk.


Vano menjambak rambutnya kasar, Pikirannya berusaha untuk bisa memutar balikkan fakta ini.


"Nggak, Lo bohong kan!?, gue gak mau, dia bukan anak gue " Vano mengguncang kedua bahu reva.


"APA SALAH AKU VAN?, APA SALAH ANAK INI? DIA GAK LAHIR DARI HASIL ZINA!" Teriak reva frustasi, Vano seolah bungkam seribu bahasa.


"NGGAK!, ITU BUKAN ANAK GUE, ITU PASTI ANAK...." Vano berusaha mencari nama seseorang untuk dia tuduh "Itu anak Rafi kan?" Tuduh Vano


Reva tidak habis pikir dengan suaminya ini, apakah memang hati vano terbuat dari batu?

__ADS_1


"Kamu lupa van?, kamu yang maksa aku malem itu van!" Sinis reva.


Memang benar , vano ingat pagi itu dia bangun dan sudah tidak memakai busana lagi. Vano juga ingat malam itu, dia habis mabuk-mabukan di Club dan kehilangan kendali.


Vano berjalan keluar dari kamar reva berusaha mencari cara, pikirannya kalut. Satu ide terlintas di pikiran vano


"Maaf" Batin vano, tangan vano menarik ponselnya dari dalam sakunya. Jari jemarinya menarik layar ponselnya dan memesan sesuatu


--------------------


Bella sudah tidak pulang dari dua hari yang lalu, sejak bertengkar dengan vano sore itu membuat reva dan vano jadi jarang bertemu. Vano jadi lebih sering mengurung diri di kamar Bahkan vano juga sudah tidak membentak-bentak reva lagi, Tidak menyuruh reva layaknya pembantu.


"Akhirnya beres..." Kata reva setelah membersihkan ruang tamu yang cukup luas itu.


Reva duduk sambil menganti chanel televisi yang sedari tadi hanya menampilkan acara yang membosankan baginya, Tak lama kantuk menyerangnya dan akhirnya reva tertidur pulas dalam posisi duduk.


"Oke, File nya taruh di meja kerja saya saja ya" Suruh vano pada sekertaris pribadinya,


Setelah memikirkannya matang-matang, vano


akhirnya akan melancarkan aksinya siang ini. karena lebih cepat lebih baik, Pesanan vano juga sudah datang.


ceklek.......


Vano membuka pintu rumahnya, lalu melonggarkan dasinya Dan melempar jas kerjanya ke sembarang arah. Dari jarak ini vano bisa melihat reva yang begitu pulas tertidur.


Vano berjongkok di depan reva, Tangannya terangkat menyentuh perut reva yang sudah agak buncit.


"Rev bangun..." Vano menepuk pipi reva lembut, hingga membuat reva terbangun.


"Kenapa van?" Tanya reva, Sebenarnya reva agak terkejut dengan vano yang tiba-tiba sudah berjongkok di depannya ini.


"Kamu kenapa van?, kok duduk di bawah?"


Vano menggeleng tidak apa-apa, lalu meraih kedua tangan reva perlahan.


"Kita gugurin aja ya" Kata vano dengan spontan, reva berusaha melepaskan tangannya dari vano, ternyata vano bersikap manis karena punya kemauan.


"Lepas van, Aku gak mau" Tolak reva, Air matanya sudah tidak terbendung lagi.


Vano tidak mau melepas.


"Tolonggg rev, gue gak mau, oke gue ngaku kalo dia emang anak gue. Tapi gue gak mau rev punya anak dari pernikahan ini," Ucap vano


Reva menangis, air matanya sudah tidak dapat terbendung lagi. Apakah ada seorang ayah di dunia ini yang ingin membunuh anaknya?,


"Van, Kamu mau bunuh anak kamu?" Tanya reva disela-sela air matanya.


"IYA!, INTINYA GUE MAU ANAK ITU MATI AJA!" Bentak vano, tangannya bukan lagi memegang tangan reva dengan lembut namun mencengkramnya.


"Hiks...Camkan ini pak Vano mahatma!" Reva menuding vano dengan jari telunjuknya tepat di depan wajah vano,

__ADS_1


"BINATANG AJA MELINDUNGI ANAKNYA, SEDANGKAN KAMU? KAMU MAU BUNUH NYAWA YANG GAK BERDOSA, GAK HERAN KALO BINATANG LEBIH PUNYA AKHLAK DIBANDING KAMU!" Bentak reva, lalu berusaha kabur.


Mata vano sudah di butakan oleh harta, karir, dan cintanya pada bella. Sebelum reva dapat kabur vano terlebih dahulu menarik tangan reva.


"Lep-as van..." Reva berusaha melepas tangannya.


"Kita selesaikan dulu, Kita gugurin dia dulu baru kamu boleh pergi"Kata vano, lalu menyeret reva menuju dapur.


"Hiks....Van, Ampun!"


"Aku janji van, Aku akan pergi jauh"


"Jangan van...."


Vano seolah berpura-pura tuli dan dengan kasarnya mendorong tubuh reva hingga jatuh ke lantai. Vano menarik sebuah botol obat kecil dari dalam sakunya, dan itu adalah obat peluruh kandungan


Mata reva terbelalak kaget lalu berusaha untuk mundur,


"Hiks...Hiks, jangan van," Mohon reva , kedua tangannya tertangkup di depan dada.


Vano berjongkok lalu menjambak rambut reva hingga membuat reva menengadah, dan mempermudahnya untuk memasukkan obat ke dalam mulut reva.


"JANGAN VAN!" Reva menggeleng tidak mau,


"Udah diem aja!" Vano membuka tutup obat itu, dan tidak memperhatikan dosis pemakaian obat yang dia inginkan saat ini hanyalah bayi itu bisa segera gugur.


Tangis reva semakin menjadi-jadi, Vano mengambil tiga buah pil obat peluruh kandungan itu dan menyumpalnya masuk ke dalam mulut reva.


"Hmmmmmpppppppppp-"


Dengan cepat vano memberikan reva air putih agar obat tadi cepat turun,


"TELAN!" Bentak vano.


Setelah melihat reva telah meneguknya, vano melepas jambakannya lalu bangkit berdiri.


"Nah, Gini kan lebih enak, Gak ada penghalang" Ucap vano lalu segera pergi tanpa memperdulikan reva.


Tubuh reva bergetar hebat, Tangannya terkepal kuat. Reva mengeluarkan tiga pil obat yang dia sembunyikan di bawah lidahnya, Air mata reva mengalir namun dengan cepat reva menyekanya kasar.


"Buat apa aku bertahan lagi, sudah cukup perjuanganku buat Rumah Tangga dan pernikahan ini" Reva mengeluarkan cincin nikahnya yang dulu vano sematkan di jari manisnya, Reva sudah lelah menjadi satu-satunya pihak yang mengalah.


Buat apa aku memperbaiki, sedangkan vano selalu berusaha merusak. Sudah cukup perjuangan reva.


•😰😰😰Sedih aku tuh,Padahal aku masih pengen liat reva berjuang. Tapi tak apalah, nanti kita bikin cerita reva berjuang cari cowok yang lebih baik lagi.


• KOMENTAR YANG BANYAK YA, SUPAYA AKU BISA TAU KALIAN PENGEN LANJUT ATAU HANYA SAMPE CERAI.


•Lanjut (Yang mau lanjut, komen)


•Stop sampe cerai aja (Yang mau sampe cerita reva cerai aja komen)

__ADS_1


__ADS_2