
"Permintaan Maaf bukanlah obat ajaib penghilang ingatan. Kamu mungkin bisa menghapus rasa bersalah, tapi bukan berarti ngehapus rasa sakit"
-Revaπ-
"MESRA BANGET YAH...!" Suara itu mengagetkan keduanya, Reva dan vano langsung menoleh ke asal suara.
"Grenda?" Vano kebingungan, dari mana grenda tau letak rumah ini. Pasti papi yang sudah mengatakannya.
Grenda melangkah maju dan menghampiri reva yang berdiri bersama vano yang sedang menggendong anak kecil.
"Kenalin, Saya grenda calon istrinya vano" Grenda mengulurkan tangannya, Dengan sedikit ragu reva akhirnya menjabat tangan wanita itu.
"Reva" Ucap reva singkat, Vano memberi tatapan sinisnya pada grenda.
"Pembantu baru toh.."Sinis grenda.
"Grenda!"Desis vano memperingati,
Reva merasa tidak enak dengan suasana ini, apalagi reva sangat tau diri bahwa statusnya hanyalah seorang mantan. Tidak pantas jika reva masih berada disini,
"Ekhm...,Aku mau pulang van" Reva mengambil alih anaknya dari pelukan vano.
"Gue anter ya," Tawar vano, namun reva menolak dengan gelengan kepala.
"Yaudah sih van, Pembantu kok sombong banget. Mending kamu temenin aku keliling rumah kita" Grenda bergelayut manja di lengan vano, Tanpa basa basi vano seketika menghempas tangan grenda.
"Diem deh lo. Ayo rev, Gue yang bawa lo kesini jadi gue juga yang harus anter lo lagi" Ucap Vano, Benar juga reva sama sekali tidak tau dengan daerah sini.
"Yaudah ayo" Reva berjalan keluar di ikuti oleh vano di belakangnya,
"Van!, Terus aku gimana sayang..." Grenda memasang raut wajah ketakutan.
Vano membalikkan badannya lalu menatap grenda dengan tatapan tidak suka,
"Serah lo, Dan asal lo tau perempuan tadi itu mantan istri gue, bukan pembantu!" Bentak vano lalu segera menyusul reva dan anaknya dengan senyuman yang tidak luntur sama sekali.
Grenda berdecak sebal, Vano tidak pernah memperlakukannya seperti semestinya. Dan perempuan tadi ternyata adalah mantan istri vano, Sepertinya untuk mendapatkan vano, grenda harus sedikit bermain kasar.
__ADS_1
"Hmm reva ya?. Jangan sampe mereka rujuk, gak akan aku biarin. Liat aja yang bakalan aku lakuin sama dia" Grenda memasang senyum miringnya, merencanakan sesuatu untuk reva.
Di dalam mobil suasana sangat hening, Hanya lantunan musik dan deru kendaraan yang menemani mereka.
"Yang tadi itu, Lo beneran maafin gue kan rev?, bukan karena vando?" Tanya vano tanpa melirik sedikit pun pada reva.
"Iya, Aku memang sama sekali gak mendendam ataupun naruh benci ke kamu. Tapi kenapa sih harus pake acara kejar-kejaran di rumah sakit?" Reva mendelik tidak suka, sungguh dia sangat malu.
Vano menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, berusaha mencairkan suasana.
"Ya maaf. Lagian lo pake bilang mau bawa vando jauh-jauh, ya gue gak rela. Masa baru ketemu anak , udah langsung mau misahin aja" Jawab vano dengan sedikit senyuman tipisnya.
"Kan kamu sendiri yang gak mau vando ada, jadi fikiran aku, kamu bakalan nyakitin vando atau apalah" . Perkataan reva barusan membuat vano kembali ke masa lalunya yang kelam bersama reva. Memang benar dulu vano tidak menginginkan anak, Tapi sekarang rasanya vano ingin mati saja jika harus di pisahkan dengan anaknya.
Vano menghentikan mobilnya, dan menepikannya membuat reva menoleh dengan raut wajah kebingungan.
"Rev, gue dulu emang bodoh, malahan bodoh banget mau bunuh anak gue sendiri. Tapi please rev sekarang gue udah berubah.." Vano menatap manik mata reva dalam-dalam, kemudian melanjutkan ucapannya
"Andai waktu itu gue gak bodoh, Kita mungkin sekarang udah bahagia banget sama keluarga kecil kita. Tapi, disaat gue udah nyesel lo justru udah bahagia sama yang lain" Lanjut vano,
"Aku gak mau bahas van. Permintaan Maaf bukanlah obat ajaib penghilang ingatan. Kamu mungkin bisa menghapus rasa bersalah, tapi bukan berarti ngehapus rasa sakit," Jawab reva tanpa melihat pria itu sedikit pun.
"Iya gue ngerti, Lagian lo udah bahagia kan? Nah bentar lagi gue juga bakalan nikah. Gue janji gak bakalan nyakitin grenda, dan gak akan sia-sia in dia lagi" Entahlah, Kenapa ucapan vano barusan justru membuatnya tertohok.
Keduanya sampai di rumah reva, Vano juga ikut turun dan masuk ke dalam rumah itu untuk pertama kalinya.
"Aku bawa vando ke kamar dulu ya, Kamu duduk aja" Ujar reva sebelum pergi menidurkan anaknya dan membuatkan vano minuman selayaknya seorang tamu.
Vano mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang tamu, Vano agak heran bukannya reva sudah punya usaha yang sukses, Tapi kenapa reva masih mau tinggal di rumah kecil satu lantai, yang begitu minimalis ini.
"Oh ini yang namanya hans" Gumam vano sembari melihat sebuah bingkai foto yang terpajang di atas dinding, menampilkan reva dan hans yang menggunakan pakaian pengantin.
"Minum dulu van," Reva menaruh minuman di atas meja.
Vano kembali duduk lalu menyesap kopinya yang masih sedikit panas.
"Suami lo mana?" Tanya vano, sambil meniup-niup kopinya
__ADS_1
Reva tersenyum tipis,Lalu menggeleng pelan.
"Kami sudah cerai," Jawab reva. Vano begitu terkejut dan hampir saja menyemburkan kopinya,
"Uhuk....Uhuk" Vano terbatuk-batuk, bibirnya menyunggingkan senyum bahagia,Padahal harusnya vano memasang raut prihatin.
"Kamu Nggak papa van?" Reva terkejut melihat reaksi vano.
"Gilaaa ni bibir bisa berhenti senyum gak sih, malu gue-"Batin vano, Kepala vano menggeleng tanda tidak apa-apa.
"Ekhm..,Selama ini lo dimana?" Tanya vano,
"Aku di bandung, dan setahun yang lalu kami pindah lagi ke jakarta" Jawab reva, kemudian dilanjutkan oleh cerita vano selama dirinya di tinggal oleh reva.
Mereka berbincang sebentar, Tak lama vano pamit pulang pada reva. Vano tau kok kalau reva masih merasa tidak nyaman berdekatan dengannya.
"Ini uang sepuluh juta buat DP doang," Grenda memberikan uang itu, namun dengan cepat dia menariknya lagi "Inget, Lo harus beresin Reva dan anaknya" Lanjut grenda.
"Tanpa lo suruh pun, Gue juga Bakalan lakuin" Jawabnya, lalu mengambil uang itu.
"Maksud lo?" Grenda mengernyit bingung,
"Gue juga gak sudi kalo mereka balikan, Jadi lo dapetin vano dan gue dapetin reva. Deal?" Ucap Orang itu,
Grenda tersenyum miring, kemudian menjabat tangan orang itu pertanda setuju.
"Deal, dong!" Grenda tersenyum sinis,
NOTE : π**Hai semuaπ, ini UP terakhir aku untuk minggu ini. Kenapa?, Hehe maaf ya pas malem senin aku mimisan lagi sampe hari ini dan akhirnya dianjurin sama dokter buat istirahat total .
Lebay banget sih thor!, Hehe iya tapi bukan mimisan sembarangan, author emang punya sakit. Oke, jadi aku minta maaf sebesar-besarnya, maaf ya aku jadi gak bisa up.
tetep jadiin cerita ini Fav kalian ya, Jumpa lagi kalo aku udah sembuh. Aminπ
ππππ
β’π¦π¦π¦π¦π¦ Partnya pendek ya? Iya hehehe, Doain author cepet sembuh yup supaya cepet Up**.
__ADS_1