
-Jangan takut belajar dari masa lalumu..-
Reva,Perempuan itu sudah sangat cantik dengan kebaya berwarna putih dan dipasangkan dengan rok batik berwarna coklat. Namun, satu yang membuat para penata rias sedari tadi menghela nafas sabar. yaitu air mata reva yang tak kunjung berhenti,
"Mbak.., Jangan nangis mulu dong. Kapan selesainya make up nya kalau gini terus" Ujar si penata rias. Vano benar-benar pergi, Mana bukti bahwa dia akan memperjuangkannya?, Padahal reva sudah berharap banyak. Reva mengusap air matanya dengan kasar, menggunakan punggung tangannya.
"Ekhm..Maaf ya mbak," Reva Akhirnya memantapkan hatinya. Mungkin inilah jalan hidupnya, Bersama dengan hans, Lagipula pria itu sangat baik. Dan tidak pernah menjanjikan kata-kata manis, yang tak akan pernah di tepati Seperti vano.
Setengah jam kemudian, hans sudah duduk berhadapan dengan pak penghulu. Senyumnya merekah, kedua orang tuanya bahkan sangat bahagia karena anaknya Akhirnya Mendapatkan pujaan hatinya kembali, Hans sudah menyusun semuanya dengan rapi bahkan kedua orang tuanya ia perlihatkan surat tanda cerai palsunya bersama dengan lisa.
Erlan, Anak laki-laki itu menatap sinis calon kakak iparnya itu. Wajah erlan harus dipenuhi lebam karena hans telah memukulinya, Untuk membuat erlan tutup mulut .
"Bang erlan, Papa aku kemana ya..?" Vando, Anak itu duduk manis di samping erlan, Anak polos yang sama sekali belum mengerti apa-apa.
"Palingan lagi macet tuh," Celetuk erlan.
"Padahal aku Kangen banget sama papa" Vando memeluk erlan dari samping, Dirinya sangat merindukan vano. Pria itu tidak sudah menghilang beberapa hari lamanya.
Elkana bahagia dengan besan barunya ini, Apalagi hans yang bisa dikatakan sudah sangat mapan dan bisa menafkahi anaknya lahir dan batin,
"Pak?, Bisa kita mulai sekarang saja?, Karena Saya juga masih harus menghadiri akad yang lain" Ujar pak penghulu, Elkana mengangguk dan menyuruh seorang WO untuk memanggil reva.
Tok.....Tok...
"Sudah ditunggu di bawah mbak" Ucap Seorang WO, dan reva mengangguk mengerti
Reva berjalan menuruni tangga Semua tatapan Hampir tak bisa luput darinya, Reva sangat cantik dan tak bisa Hans pungkiri. Mereka hanya melakukan acara Kecil dan Resepsi Di hotel.
Reva duduk di samping Hans dengan jantung yang deg-degan. kepalanya Celingak-celingukan, Mencari vano, berharap menemukan pria itu namun nihil.
"Baiklah, saudara Hans Pragantara sudah siap? " Ucap pak penghulu.
Hans mengangguk siap, Senyumannya begitu manis hari ini.
"Tanpa membuang waktu, silahkan jabat tangan ayah mempelai putri" titah pak penghulu.
Hans berjabat tangan dengan Elkana, Papa reva hatinya sudah mantap.
"Tirukan kata-kata saya, saya nikahkan dan kawinkan anda dengan Anak kandung saya, Reva Elkana binti Halim elkana dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan 50 gram emas dibayar tunai" Ucap Elkana dengan begitu lantang.
"Saya terima nikahnya Reva Elkana binti Halim elkana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" Hans mengikuti kata-kata halim dengan sekali tarikan nafas dan lancar, air mata reva berhasil lolos.
"Bagaimana sak-"
"NGGAK!. PERNIKAHAN INI NGGAK SAH!". Semua hadirin, tak terkecuali reva dan hans menoleh ke arah pintu masuk yang terbuka lebar. Yang membuat reva terkejut adalah kedatangan rafi bersama dengan seorang perempuan hamil, Dan anak kecil yang tengah di gendongnya. Sedangkan hans menggerutu ketika melihat, siapa yang datang, Dia adalh lisa.
"Kalian lihat perempuan ini? Dia adalah istri sahnya. Dan kalian tau? Dia sedang hamil anak dia" Rafi menunjuk hans dengan jari telunjuknya, Lisa menangis sesegukan.
Hans menggeleng, Elkana telah dibuat malu olehnya.
"Apa itu benar?! Hah?!" Bentak elkana, Redra menarik suaminya itu.
__ADS_1
Reva menatap hans tidak percaya,
"Aku gak mau diduain, Nggak. Aku gak mau" Reva beringsut menjauh dari hans. Lisa mendekat dan satu tamparan keras mendarat sempurna pada pipi pria itu.
Pllaaaakkkkk....
"Hiks..Kamu tega," Sekali lagi lisa menampar pria itu,
"Ka-kamu Jahat, A-aku hamil anak kamu. Dan dengan gampangnya kamu pergi gitu aja dan bilang ada urusan, Ini urusannya? Iya? Hah!" Lisa menampar lagi, Hans hanya diam Tak berkutik seribu bahasa.
"Hiks...A-aku Minta cerai, Setelah anak ini lahir" Lisa hendak berdiri, Hans membelalakkan matanya dan memeluk kaki wanita itu.
"Please jangan tinggalin aku, Lis..." Mohon hans.
"Ki-kita bisa mulai dari awal" Mohon hans. Lisa menghempas hans, hingga sedikit terjungkang ke belakang.
Rafi tersenyum miring, Lisa, Perempuan itu begitu kuat dan bahkan tidak pernah mengeluh ataupun Merasa rugi akan menceraikan hans.
"Ayo fi," Lisa Digandeng oleh rafi keluar dari rumah itu.
Lisa dan rafi pergi, Tak lama beberapa polisi datang bersama dengan grenda yang sudah memakai pakaian tahanan.
"Di-dia...Pelakunya, Bukan cuman saya." grenda tidak ingin mendekam sendirian di penjara. Hans, Membelalakkan bola matanya, Sudah diceraikan, Gagal menikah, Dan sekarang grenda justru membeberkan dirinya sebagai salah satu pelaku penusukan nyonya mahatma.
"NGGAK!. GUE GAK MAU DIPENJARA!" Hans menolak ingin diringkus. Dirinya meronta-ronta, Grenda Tersenyum miring setidaknya bukan hanya dirinya yang hancur tapi hans juga.
Reva memeluk mamanya Sambil menangis sesegukan. Tapi bukan karena sedih pernikahannya gagal, Namun lebih besar rasa bahagia yang kini menyelimutinya.
"Bu reva?" Dito menghampiri perempuan itu, Reva yang merasa dipanggil pun berbalik badan dan mendapati seorang pria.
"Bisa ikut dengan saya sekarang?" Tawar dito. Reva melirik mamanya yang tersenyum dan memberi kode lewat mata 'Pergi saja'.
Reva mengangguk sambil menggendong vando. Reva masih mengenakan pakaian pengantinnya, namun memakai sendal jepit karena terburu-buru.
"Kita Mau kemana ma?" Tanya vando. Reva tersenyum,
"Ketemu papa". Vando tersenyum, Akhirnya rasa rindunya akan terobati setelah hampir tak bertemu dengan pria itu selama dua minggu.
Dito mengusap air matanya yang menetes pada ekor matanya sambil terus menyetir. Mobil yang ditumpangi reva dan anaknya mendapat penjagaan ketat oleh para ajudan vano,
"Vanonya mana?" Tanya reva ketika mereka sampai di bandara. Dito tidak menjawab dan terus berjalan,
Dari kejauhan reva bisa melihat mantan papi dan mami mertuanya itu menangis. Reva segera menghampiri keduanya sambil menggendong putranya,
"Ke-kenapa?" Tanya reva sambil mengusap punggung grace.
Grace memeluk mantan menantunya itu, Baru kali pertama ini dirinya melihat langsung cucunya itu. Sangat mirip dengan vano,
"Ka-kamu harus kuat. Kemaren sore vano akhirnya mendapat donor ginjal di amerika, Ta-tapi sayang, Tubuh vano melakukan penolakan atas Donor ginjal itu. Vano sudah berusaha, Ta-tapi beberapa jam yang lalu vano sudah pergi" Grace berusaha menenangkan reva. Sedangkan reva akhirnya menumpahkan kembali air matanya.
"Hiks...,Lo bohong van.." Histeris reva. Vando masih tertidur pulas sejak dari perjalanan tadi.
__ADS_1
Sebuah brankar didorong dari atas pesawat, Reva menangis terisak.
Mahatma mengambil alih cucunya itu, Membiarkan reva untuk mendekat pada vano.
Tangan reva terkepal, Melihat jasad vano yang terbujur kaku.
"Hiks...Van, Lo bilang mau berjuang? Mana? Hah?! Pengecut!" Reva menggoyang-goyangkan tubuh itu berharap mendapati pria itu agar segera bangun.
"PLEASE.. !, BANGUN!, BANGUN!" Reva memompa dada kiri pria itu, Meminta agar jantung itu kembali berdegup. Reva menangis histeris, Bibirnya mendekat pada telinga pria itu,
"Hiks....A-aku mohon bangun," Mohon reva...
Di alam Lain vano terbangun, Semuanya gelap Nampak tak ada yang terlihat.
"Hahahha!" Terdengar suara gelak tawa, 4 orang anak-anak di seberang sana. Seorang anak lelaki yang ia kenal adalah anaknya, yakni vando. Dan 3 orang anak lainnya menatapnya, salah satunya adalah anak perempuan yang masih merangkak, dan begitu mirip dengan reva.
"Papa gak mau pulang? " Ucap anak lelaki yang tidak kenal namun memanggilnya dengan sebutan 'Papa'.
"Hah? Pu-pulang?" Tanya vano tidak mengerti,
"Iya pah." Jawab vando. Vano menoleh pada anak perempuan itu, Nampak menggemaskan dan lucu. Vano memberanikan diri untuk menggendong anak itu,
"Mama!" Teriak 3 orang anak laki-laki itu dan segera menjauh berlari, ketika menyadari seorang perempuan di ambang pintu. Vano meneteskan air matanya ketika melihat reva.
"Papah Ayo puyang..." Anak perempuan yang vano gendong itu menunjuk-nunjuk ke ambang pintu itu.
"Kamu lucu sekali.., Yaudah ayo pulang" Vano akhirnya mendekati reva dan 3 orang anak laki-laki tadi itu bersama dengan anak perempuan yang kini di gendongannya.
"Kamu papa yang hebat.." Ucap reva lalu mengecup singkat pipi vano dan menuntun vano keluar dari ruangan gelap itu.
Reva sudah begitu lelah menangisi mayat vano, Bahkan berkali-kali reva memukul-mukuk pria itu memintanya untuk segera bangun.
"PLEASE VAN, BANGUN!,KALO LO BANGUN KITA NIKAH DETIK INI JUGA!" Bentak reva sambil memeluk tubuh kaku itu
Reva merasakan rambutnya diusap pelan. Tim dokter keluarga mahatma yang melihat iru langsung mendekat dan menjauhkan reva untuk bisa menangani vano.
"Bu minggir!". Reva menggeleng dirinya masih senantiasa memeluk tubuh itu.
"Re-va" . Suara itu membuat reva mendongak dan mendapati mata vano yang sedikit demi sedikit terbuka. Reva menjauh, Memberi ruang pada tim dokter untuk menangani pria itu.
NOTE : GANTUNG YA? HEHE, INI BELUM ENDING YA.
•Siapa pemain favorit kamu?Reva?Vano?Rafi?Lisa dll. atauuuuuuu Author💞? Ha author? Makasihhhhhhh
•Angkat kaki yang suka cerita ini? hihihi🙉🙉🙉
•ADA YANG MAU EXTRA PART? KOMEN YA
• JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM AKU @Merliancy_
•Sempet un-Publish part ini soalnya ke double up💞, Maaf ya, Gimana? Suka sama Part ini? Ekspresiin sesuka apa kamu?....
__ADS_1
•Salam Author Uwuw dan Kece badai
SIAP UNTUK ENDING YANG SEBENARNYA, O YAH AKU MAU NANYA KALIAN DAPET CERITA INI DARIMANA SIH?