Sesalku

Sesalku
PART 47. EXTRAPART (2)


__ADS_3

"Pusing van..." Reva memegangi kepalanya yang terasa pusing, belum lagi rasa mual yang membuatnya terus menerus bolak-balik


ke kamar mandi.


"Iya, Sabar ya sayang.."Vano dengan sabar tetap berada di samping reva. Tangannya mengusap-usap punggung perempun itu,


"Papa!, Tolongi valel!"


"Huaaaaaaaa Papa!"


"Eh varel, Diem lu!"


Suara kegaduhan itu dari lantai bawah, Vano mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kamu tuh gimana sih, Liatin tuh varel minta tolong" Omel reva pada vano. Entahlah, Menurut vano , reva kini sangat galak dan mungkin itu berasal dari hormon kehamilannya.


"Tapi kamu kalau mau ke kamar mandi panggil aku ya, Jangan sendirian" Perintah vano. Reva mengangguk, Vano sangat over protective padanya akhir-akhir ini.


"Hiks..hiks.." .


vadel mengambil lakban dan menutup mulut varel dengan lakban agar tidak berisik, begitupun kaki dan tangan anak itu sudah di ikat dengan sarung oleh vando. Karena vando dan vadel tau, adik mereka itu tukang ngaduh. Vando dan vadel melanjutkan pergulatan mereka.


*Bugghhhhh....


Buggghhh*..


"Apa lo hah!?"


"Sok jago lo?!" Vadel menarik kerah baju kakaknya itu, begitupun vando. Wajah keduanya sudah babak belur.


Vano terkejut ketika melihat ruang tamu sudah berubah menjadi seperti ring tinju. Terlihat vadel dan vando sedang bertengkar, yang membuat vano marah adalah varel yang di ikat dan dilakban mulutnya.


"VANDO! VADEL!" Teriak vano sambil berjalan turun dari undakan tangga. Vadel dan vando menghentikan pergulatan mereka berdua.


Vano buru-buru melepas ikatan sarung di kedua kaki dan tangan varel.


"Kalian ya!, Berantem karena apa lagi? hm?" Vano menatap tajam vando dan vadel yang masih mengatur nafas mereka masing-masing.


"Abang duluan pah!" Tuduh vadel.


Vando, Anak itu tidak terima dan langsung mencengkram kedua kerah baju adiknya.


"Eh!, Lo duluan yah!" Tuduh vando,


"STOPPPPPP!, SEKARANG SATU-SATU JELASIN!" Vano berdiri sambil mengusap-usap punggung varel yang masih menangis sesegukan. Vano sengaja, tidak melepas lakban di mulut varel agar reva tidak mendengar tangisan anak kesayangannya itu.


"Vadel pengen main PS, Tapi bang vano main gitar mulu sambil VC an sama ceweknya tuh pah.." Ucap vadel


"Eh *****, dari mana lu tau hah?! gue gak ada cewek ya!" elak vando. Vano menatap tajam keduanya,


"Abang main gitarnya di kamar, Jagoan main PS disini" Suruh vano.


"Ah Aku gak mau pah, di kamar suara aku jelek!" Tolak vano.


"Yaudah, vadel main PS nya di kamar. Kan ada tivi nya kan? Udah sana" Suruh vano, Vadel berkacak pinggang menatap papanya.


"Ogah ah, Vadel gak mau sendirian di kamar" Tolak vadel. Vando tertawa terbahak-bahak,


"Cowok kok takut sendirian di kamar!" Ledek vando.

__ADS_1


"STOP!, DUA-DUANYA DI KAMAR. GAK ADA PENOLAKAN!, SEKARANG!, ATAU GITAR SAMA PS NYA PAPA SITA!" Ancam vano. Vadel hendak memprotes, mulutnya sedikit terbuka namun dengan cepat vano menyambar.


"PS diambil atau ke kamar?" Ancam vano lagi. Vadel menghentak-hentakkan kakinya di lantai Lalu kemudian mengambil peralatan PS nya dan segera pergi.


Vando langsung berjalan ke dapur membawa kameranya, dan gitar di tangannya. Vano menghela nafasnya, Sambil mengusap-usap dadanya berusaha sabar.


"Oke...sabar, sisa satu" Batin vano. Varel masih menangis, dengan cepat vando membawa anak itu ke kamar mandi.


"Sssssttttt..., Kalo varel nangis, papa goreng loh si ojipnya" Ancam vano, Bukannya berhenti menangis varel justru makin menangis.


"Cup...cup...cup,, jangan nangis dong nak" Vano berlari ke taman belakang dan duduk di pinggir kolam, Dan membuka lakban di mulut varel.


"Huaaaaaaa-" Vano membekap mulut anak itu. susah juga, mengurus varel.


"Varel diam ya.." Vano mengusap air mata anak itu. Ketika varel hendak menangis lagi, vano dengan cepat mengalihkan perhatiannya.


"Eh..eh..eh.,,, liat tuh apa terbang-terbang" Vano menunjuk-nunjuk langit, yang nyatanya kosong.


"Ma-mana Papah?, Hiks.." Varel dengan antusias melihat ke arah langit yang di tunjuk vano. Sedangkan vano, Merutuki kebodohannya sendiri.


"I-itu tuh..., terbang-terbang.."


"Hahahaha..." Varel tergelak sendiri sambil bertepuk-tepuk tangan, Vano mencium kedua pipi anak itu terserahlah varel mau ngetawain apa yang penting jangan nangis.


"Hahahhahahaha..." Makin lama varel tertawa macam orang kesetanan, sampai-sampai anak itu mengeluarkan air mata.


Oke, Sepertinya ini bukan hal yang wajar. Vano membawa anaknya itu masuk ke dalam rumah,


"Varel ngetawain apa tadi?" Tanya vano khawatir, Sejujurnya vano takut anaknya dirasuki jin atau penunggu taman.


"Haha, Valel Liat yang telbang-telbang pah.." Ucap varel, Vano mengernyit dan kembali melihat keluar. Tidak ada yang terbang-terbang kok,


"Mana? Papa gak liat?" Tanya vano sambil menggendong anaknya itu keluar lagi. Vadel tertawa lagi, sambil menunjuk.


"Hahaha..., Uh anak papa pinter banget sih" Vano mencium kedua pipi gembul anaknya itu dan masuk kembali. Bisa dibilang, varel adalah anaknya yang paling suka pada binatang apa pun bahkan menepuk nyamuk pun varel tidak mau.


"Varel nonton tivi aja ya.." Vano mendudukkan anaknya itu di atas karpet bulu, dan memutarkan acara kartun spongebob. Tak lupa vano mengikat tubuh anak itu di bawah kaki meja,


"Varel jangan kemana-mana yah"


"Iya papah.." Varel mengangguk patuh. Vano kembali naik ke atas kamar mengecek reva,


ceklek...


"Anak-anak kenapa?" Tanya reva yang sedang duduk di pinggir ranjang.


"Nggak papa, Rebutan remote tivi doang" Alibi vano. Reva mengangguk percaya, Padahal sebenarnya anak-anak nya telah menghancurkan ruang tamu. Vano bermain ponsel di samping reva, sedangkan reva membaca majalah-majalah.


"Hahahaha" Suara tawa riang itu membuat vano dan reva saling lirik,


"Nggak papa. Mungkin, mereka lagi main" Ucap vano menenangkan reva sambil mengusap-usap punggung tangan perempuan itu, Padahal dalam hati vano sedang gelisah entah apalah yang diperbuat oleh mereka lagi.


"Hahahahahah!" Suara tawa itu makin besar dan terdengar suara derap langkah kaki.


Brrrrrakkkkkkkk....


Vadel menggebrak kasar pintu kamar orang tuanya, Vando dan vadel tertawa keras.


"Hahha lucu banget deh bang"

__ADS_1


"hahhaa iya-, Duh sakit.." Vando tertawa sampai perutnya sakit.


Reva bangkit dari kasur, Varel tidak ada.


"Varel mana?" Tanya reva,


"Hahahaha!, Duh i-itu mah " Vadel menunjuk-nunjuk tanpa arah. Perasaan reva menjadi tidak karuan. Dan langsung menerobos kedua anaknya,


"Revaaaaa!" Teriak vano dramatis, Vano berlari keluar. Vadel dan vando berjalan dari belakang vano,


Air matanya menetes, Terlihat vadel yang mengerjap-ngerjapkan matanya polos. Reva berjalan mendekati varel dan melepaskan ikatan anak itu.


"Hiks...Hiks, I-ini mahal ba-nget" Reva menangis sambil berkata secara terbata-bata. Bagaiaman tidak?, Varel ngompol, dan membasahi karpet bulunya.


"Rev in-"


"Diem!, Ini mahal banget, Kamu tau nggak sih ini tuh stock nya sisa satu waktu itu. kamu ih, Liat nih kena ompol varel. Hiks kamu mah masa bodo!" Omel reva pada vano. Varel yang ngompol vano yang kena semprot, Tak lama varel ikut menangis


"Huaaaaa Hiks hiks.." Tangis varel.


Vano mengusap wajahnya kasar, Tiba-tiba vadel memberinya tali rafia,


"Buat apa?" Tanya vano, Vadel terkekeh pelan


"Siapa tau papa, udah Ga kuat dan pengen akhirin hidup" Vadel buru-buru menjauh setelah mengatakan itu.


"Vadelll!" Desis vano, Bisa-bisanya vadel menyuruhnya untuk bunuh diri dasar anak tidak tau diri.


Vano memanggil bi ami untuk membersihkan karpet tadi, Dan mendekat pada Varel yang menangis sesegukan.


"Sssttt...., Ikut papa ya" Ajak vano lalu menggendong anak itu,


"Iyah papah". Vano membawa anak itu ke kamar mandi untuk memandikan varel karena habis mengompol.


"Lain kali varel jangan ngompol yah.." Ucap vano sambil membuka seluruh pakaian anaknya itu dengan sabar.


"Iyah papah.." Jawab varel dengan kepala menunduk


"Papah Malah?" Tanya varel. Vano tersenyum hangat,


" Nggak kok sayang..., Kalo varel mau pipis ke kamar mandi yah"


"Ta-tapi kan, tadi papah yang bilang jangan kemana-mana" Jawab varel dengan begitu polos. Baiklah, Vano yang salah, sepertinya kata-katanya tadi merupakan bom untuknya.


Reva mengintip dari Celah pintu, Terlihat vano yang sedikit kesusahan memandikan varel karena anak itu terus memercikkan air dan sabun pada vano.


"Udah, biar aku aja" Reva berjongkok di samping vano.


"Biar aku aja sayang, Kamu nggak boleh capek" Tolak vano.


"Mending kamu ngurusin vadel, Dia berulah lagi tuh" Kata reva. Vano mendengus sabar, Benar-benar butuh kesabaran yang besar.


"Maaf ya sayang, Anak-anak jadi nakal banget.." Ujar vano sambil mencuci tangannya,


"Bukan salah kamu," Jawab reva. Vano menunduk dan mengecup singkat kening perempuan itu.


"Makasih," Ucap vano lalu keluar dari kamar mandi untuk menghadapi anak bandelnya itu. Vano benar-benar bersyukur memiliki reva, perempuan sabar yang mau mengajarinya Bersabar, menunggu, dan mendidik anak-anak.


NOTE :

__ADS_1


• AKU SUKA SAMA VADEL🙉💞, NAKAL- NAKAL GIMANA GITUH.


• AKU PENGEN BIKIN KISAHNYA VADEL AH.....


__ADS_2