Sesalku

Sesalku
PART 33. VANDO HILANG?


__ADS_3

" Mulut menolak, Namun Hati berkata lain. Aku harus apa?" :'(


Reva terbangun ketika merasakan pipinya diusap-usap. Perlahan kelopak matanya terbuka dan menampakkan netra mata coklatnya.


"Udah Bangun?" Suara itu nampak tak asing bagi indra pendengaran reva,


Ketika mata reva terbuka sepenuhnya


Netra coklatnya seketika berpapasan dengan netra mata hitam legam, milik vano.


"Ka-kamu ngapain disini?" Hardik reva kemudian mendorong pelan vano.


Reva mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan cahaya yang memasuki matanya. Masih dalam posisi berbaring, reva menyelidik isi ruangan ini.


"Loh? Ini kan bukan kamar aku. Ha! vano!" Batin reva, Kemudian menoleh ke samping dan terkejut ketika mendapati vano yang berbaring di sampingnya tanpa berkedip memandanginya.


"Aaaaaaaaaaaaaa Ka-"Reva yang berteriak membuat vano harus membekap mulut reva.


Sedangkan reva tidak habis fikir, Apakah semalam Vano dan Reva tidur bersama?, Vano menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri memberi isyarat pada reva untuk diam.


"Lep...Ashhh". Reva menimpuk vano berkali-kali dengan bantal.


"Rasain kamu, Dasar hidung belang!. Apa yang udah kamu lakuin? Hah?!" Reva tidak berhenti menimpuk vano dengan bantal.


"Ampun" Vano mengambil alih bantal itu, dan melemparnya ke pojok ruangan.


Reva menyilangkan kedua tangannya di depan dada, emosinya naik turun.


"G-gue gak ngapa-ngapain. Sumpah!"Vano mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya ke udara hingga membentuk huruf 'V'.


Reva memeriksa pakaian yang dia gunakan, Ini bukanlah pakaiannya. Reva melempar sorot mata tajam,


"Gue bisa jelasin" Ucap vano. Reva bersedekap dada kemudian agak bergeser untuk menjauhkan jaraknya dan vano.


" 2 menit " Akhirnya reva memberi kesempatan pada vano untuk menjelaskan apa yang terjadi.


Vano tersenyum, kemudian mulai membuka mulutnya untuk berbicara.


"Jadi, semalem lo jatuh ke kolam renang dan gue nolongin. Gue bawa lo kesini dengan keadaan basah kuyup, dan gue gak tega kalo lo sampe masuk angin. Jadi,...."Vano menggantungkan kalimatnya, Reva tidak sanggup mendengar fakta yang akan diucapkan oleh vano.


"Kamu yang gantiin baju aku? Dasar!" Nada suara reva agak meninggi, membuat vano bergidik seram.


"Suwerr..., Gue gak liat apa-apa!"Alibi vano. Wajah reva memerah menahan emosinya yang sudah sampai ke ubun-ubun.


"Aku mau pulang," Reva meraih gaunnya yang semalam dia pakai. Lumayan kering, namun masih agak lembab. Sesegera mungkin, reva berganti pakaian di dalam kamar mandi karena lama-lama bersama vano bisa membuat darahnya mendidih.


Brrakkk...


Vano tersentak kaget, ketika reva membanting pintu kamar mandi. Namun, sedetik kemudian vano tersenyum devil.


"Gak akan gue cuci ni seprei.."Vano mencium aroma rambut dan tubuh reva, yang masih tertinggal di Sarung bantal dan sprei.


Tak lama reva keluar, Baju vano dan boxer yang semalam vano pinjamkan reva buang asal.


"Eh..Eh.. Tunggu," Vano menahan tangan reva yang hendak keluar dari kamar.


"ih apa sih?!," Reva menghentakkan tangannya kasar, membuat tangan vano terlepas.


"Gue an-"

__ADS_1


"Gak!" Reva sangat kesal, Ya mungkin vano ada benarnya juga karena berniat untuk menolongnya. Tapi haruskah semalam vano harus tidur bersamanya?.


Vano tidak menahan reva lagi, Akhirnya vano membiarkan reva untuk pulang sendiri setelah vano memesankan taxi online untuk reva.


oo0oo


Reva tidak mau anaknya sampai terlibat dengan wanita ular alias grenda itu, Kejadian semalam telah membuat matanya terbuka bahwa grenda serius dengan ancamannya.


Reva mengantarkan anaknya ke tempat yang aman, Lebih tepatnya menyembunyikan vando.


Tinnnn........


Suara klakson mobil yang terparkir di depan rumah reva itu, membuat reva menutup telinganya yang berdengung.


"Mobil siapa sih?, Kayak cuman dia doang apa yang punya mobil" Dumel reva kemudian membuka pintu depan rumahnya.


Vano?,Lagi-lagi vano, Untung saja reva sudah membawa vando pergi. Jadi tak ada lagi alasan bagi vano untuk bisa rajin berkunjung,


"Vando mana?," Tanya vano dengan wajah sumringah dan mata yang berbinar.


Reva menatapnya dengan datar, Reva sudah menguatkan pertahanan hatinya bahwa dekat dengan vano hanya akan membuatnya kesusahan.


"Nggak ada"Jawab reva singkat. Vano mengernyit tidak mengerti, Reva tidak ingin beradu mulut yang hanya membuat dosanya semakin menumpuk.


"Nggak usah boong"


"Emang gak ada kok"


"Ha?!, Gak ada?, Udah jangan halang-halangin gue buat ketemu sama dia!" Bentak vano, Kali ini reva tak mau mengalah Vano dan grenda sama saja hanya membuat hidupnya terancam


"Aku bilang gak ada, Mending kamu pulang!" Usir reva, Buru-buru reva ingin menutupi vano pintu. Namun, vano mendorongnya kasar dan menyelonong masuk tanpa izin.


"Vando!" Teriaknya, Reva menarik lengan vano untuk keluar dari rumahnya.


"Vando mana?, Jawab?!" Ujar vano nafasnya menggebu-gebu.


Reva menggeleng, tidak ingin memberi tau vano. Sungguh vano begitu menyebalkan, bisakah vano mengalah sekali saja pada egonya.


"Gue mohon rev, Vando dimana" Vano berjongkok kemudian memeluk kaki reva.


"Aku gak akan kasih tau, Sekarang kamu keluar!" Bentak reva, kemudian mendorong vano dengan begitu kasar.


Vano tidak habis pikir, apa lagi salahnya pada reva?, Apakah karena semalam vano tidur bersamanya?Tapi kan hanya tidur, Lagian vano juga tidak mungkin tidur di sofa.


"Aaarrrrrrgggggghhhhhhh.....Reva!" Vano mengerang, memukul stir mobilnya berkali-kali kemudian menjambal rambutnya,


Tangisan reva memenuhi kamar itu, Bukan hanya vano yang tersiksa berpisah dengan anaknya, reva pun begitu tapi reva harus mengalahkan egonya karena grenda benar-benar tidak main-main dengan ancamannya,


"Hiks...Belom apa-apa, Udah kangen aja hiks.."Isak reva sambil memeluk sebuah bingkai foto.


Seorang pria memeluk reva dari belakang, membuat reva membalikkan badannya.


"Mas hans?" Reva mengusap bulir-bulir air matanya.


"Sssttt...., Bentar aja rev, aku kangen posisi ini" Mohon hans, Tangannya menyusuri pipi reva. Tangan reva segera mendorong hans mundur, mereka tidak pantas berada di tempat ini dalam keadaan berdua dan posisi yang begitu dekat.


" Maaf, Aku.." Hans menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dan merasa canggung.


"Gak papa aku ngerti kok" Reva tersenyum canggung, Keduanya berjalan ke ruang tamu.

__ADS_1


"Rev, Aku udah pisah sama Lisa" Ucap Hans tiba-tiba, setelah lama bungkam. Hans beralih berjongkok di depan reva kemudian meraih kedua tangannya.


"Kamu gila ya!, Inget anak kamu, dia butuh kamu!" Reva berusaha melepas genggaman hans, Namun hans justru makin mengeratkannya.


"Dengerin aku dulu!," Hans Menangkup kedua pipi reva yang sudah basah oleh air mata.


"Aku gak pernah hamilin dia, Itu bukan anak aku. Aku di jebak rev!"Kata ravi,


Reva melepas tangan hans kemudian bergeser,


"Hiks...Aku gak percaya, Dari dulu kamu selalu bilang gitu"


"Aku diam-diam ngelakuin tes DNA sama Aina anak aku, Dan iya, hasilnya aku dan dia memang gak ada ikatan darah. Asal kamu tau, lisa udah ceritain semua. Aina itu anak yang dia kandung dari pacarnya" Jelas hans.


Reva tidak percaya, Selama ini dia telah salah menilai hans. Mereka harus berpisah karena sebuah kesalah pahaman, andai dulu reva tidak buru-buru meminta cerai dan harusnya dulu reva lebih percaya pada omongan hans bukan dari perempuan itu.


"Maaf, hiks..." Reva menghamburkan diri masuk ke dalam pelukan hans, kemudian tangan hans juga ikut merengkuh tubuh reva dengan begitu erat.


"Aku sayang dan cinta banget sama kamu rev," Hans mengecup berkali-kali pucuk kepala wanita yang tengah menangis terisak itu,


Reva mengangguk, Kemudian mendongak menatap hans.


"Kalo kamu?, Aku harap rasa itu masih utuh dan tidak terbagi" Ucap hans. Reva mengangguk lagi, Baginya hans adalah pria baik. Pria yang menemaninya dari nol, yang menemaninya di dalam ruang operasi, Pria yang bertanggung jawab. Berbeda dengan vano, Sekarang pun reva harus berpisah dengan anaknya karena dirinya, Pria yang tidak bertanggung jawab, Datang dan Pergi seenaknya.


NOTE: β€’AINA ITU SIAPA LAGI YEUW?


JAWABAN Q&A.


πŸ™: Hai, hari ini kita kedatangan mbak reva. Selamat datang mbak di acara Q&A.


πŸ‘Έ: Hai juga, Hai semua para pembaca.


πŸ™: Mbak kita itu salut banget, sama kisah perjuangan mbak.


πŸ‘Έ: Hehe makasih, Nggak nyangka juga sih pembacanya bakalan sebanyak ini. Makasih semua.


πŸ™: O yah, Mbak ini kan orang nya kenapa bisa baik banget sih? kenapa mbak nggak ngelawan aja pas digituin sama Vano dulu, dan sekarang sama grenda?. Kalo aku ya mbak, udah aku injak batang lehernya mbak.


πŸ‘Έ: Kenapa saya nggak ngelawan sama vano dulu?, Dia itu suami saya, selayaknya seorang istri itu patuh sama suaminya, hingga akhirnya ada kata menyerah dalam hidup saya. Buat grenda, Saya akan melawan suatu saat nanti tapi bukan ini saatnya, Karena saya yakin dia masih ngincer bagian hidup saya yakni anak saya.


πŸ™: Mbak kok kuat banget sih?


πŸ‘Έ: Haha masa sih thor?, Saya yakin banyak wanita di luar sana yang lebih kuat kisahnya daripada saya.


πŸ™: Mbak, apa komitmen mbak sampai sekarang.


πŸ‘Έ: Komitmen saya, Pengen lepas dari masa lalu kelam saya. Nggak ada yang perlu diperbaiki, semuanya udah jalan Allah buat saya, Vano, dan anak saya.


πŸ™: Si ganteng vando dibawa kemana mbak?


πŸ‘Έ: Sssttttt rahasia thor, jangan sampe vano denger.


πŸ™: Hehe. maaf mbak, Oke sekian Q&A buat mbak reva hari ini moga berkah.


β€’DIBUKA LAGI Q&A, BUAT VANO, YANG MAU NANYA ATAU NGEHUJAT VANO DI BOLEHIN KOK πŸ˜‚πŸ˜‚


(Vano) πŸ™‡: Jangan lupa follow Akun author kesayangan kita, Kalo kagak siap-siap aja, di rumah masih banyak balok es tuh buat kalian.


@Merliancy_

__ADS_1


(Author)πŸ™: Pak vano galak benner


(Vano)πŸ™‡ : Hehe maaf thor sayang. Oke yang mau nanyak-nanyak ,atau mau ngehujat, Silahkan tinggalkan di kolom komentar.


__ADS_2