Sesalku

Sesalku
PART 18. RENCANA VANO


__ADS_3

NOTE : REVA BUKAN POWER RANGER YANG BISA BERUBAH MENJADI PAHLAWAN, BUKAN JUGA WONDER WOMAN YANG BEGITU KUAT UNTUK MELAWAN VANO.


TAPI KALIAN TAHU APA YANG DIA MILIKI?, DIA PUNYA KESABARANđź’•, DARI AWAL CERITA INI SAYA BISA MELIHAT PARA READERS YANG SERING MARAH KETIKA REVA DITINDAS.TAPI APA? SAYA MALAH MEMBUAT KARAKTER REVA MAKIN TERTINDAS, UNTUK MEMBERI PELAJARAN MORAL BAHWA PEREMPUAN ITU PUNYA KESABARAN YANG MELEBIHI APA PUN, JADI JANGAN REMEHKAN PEREMPUAN, DAN JADILAH KUATđź’•


KEDEPANNYA REVA AKAN LEBIH SABAR LAGI, KIRA-KIRA KARENA APA YA UJIAN HIDUP TUHAN BUAT DIA?❤


Reva mengunci diri di dalam kamarnya sejak kejadian tadi siang itu, Keputusannya sudah bulat untuk menceraikan vano. Toh, selama ini memang itu yang diinginkan vano,


"Aku harus kabur, sebelum vano tau kalau aku gak gugurin anak ini" Ucap reva pada dirinya sendiri, lalu segera mengemas barang-barang nya.


Reva tidak akan menggunakan koper, karena akan menyulitkannya untuk kabur. reva hanya membawa beberapa potong pakaian, setelah selesai reva mengendap-endap memeriksa keadaan, dan benar saja vano sedang tidak berada di rumah.


"Aman" Reva mengangkat tas miliknya itu lalu segera keluar dari rumah, Tanpa membawa uang sepeser pun. Reva tidak akan pulang ke rumah orang tuanya hanya karena urusan rumah tangganya, dia akan tetap menyelesaikannya sendiri.


Vano pulang dengan kondisi mabuk berat, Dan akhirnya ambruk di sofa.


"Revaaaa!" Teriaknya, Sama sekali tidak ada jawaban. Dalam kondisi mabuk beratnya vano berjalan sempoyongan ke arah kamar reva


tok....tok...tok


Vano menggedor-gedor pintu dengan keras, akhirnya karena emosi vano menekan knop pintu.


"Nggak di kunci?" gumamnya ,lalu mendorong pintu.


"Reva!" Teriak vano, nihil vano tidak menemukan siapa pun di kamar ini.


Apapun yang ada di dekatnya akan vano banting dan hancurkan, begitulah nasib bekas kamar reva itu.


Senyum miring terukir di wajah vano,


"Tunggu tanggal mainnya reva-" Batin vano, tak lama dirinya kembali ambruk di atas kasur dan tertidur, Siapapun yang pergi tanpa pamit akan dia kejar sampai di mana pun itu.


Perempuan cantik itu kini sudah berada di apartemen pribadinya, dulu ketika belum bersuami reva sesekali tinggal di sini jika lembur. Vano tidak akan mungkin tau apartemen ini karena, yang vano tau hanyalah rumah orang tuanya.


"Halo nak, Kamu baik-baik aja kan? Bunda akan pertahankan kamu, Nggak papa yah gak sama ayah" Reva mengusap-usap perutnya itu, seolah berinteraksi dengan anak yang ada di dalam kandungannya.


Hari ini reva akan kembali bekerja, Tidak peduli lagi dengan larangan vano. Mulai sekarang reva akan mencari nafkahnya sendiri.


"Bismillah" Ucapnya sebelum berangkat bekerja.


Sedangkan vano pagi ini begitu terburu-buru, Tidak ada yang memasak untuknya, bangun terlambat, Pakaian belum di setrika dengan rapi.


"Gara-Gara reva" Geramnya lalu segera menancap pedal gas mobilnya, dengan kecepatan di atas rata-rata.

__ADS_1


*You : Bikin mereka Meeting di hotel


Bayu : Siap bos*.


"Siap-Siap reva, hari ini hari kehancuran lo di mata keluarga lo" Kata vano, sisa bermain cantik sedikit saja vano akan segera menceraikan istrinya itu tanpa takut dengan ancaman ayahnya yakni mahatma.


Mobil reva memasuki parkiran hotel, tempat dia akan melakukan meeting nya dengan seorang Client .


"Reva?" Seorang laki-laki muncul dari belakang reva dan dia adalah bayu, teman bisnis reva.


"Oh, Hay pak bayu" Sapa reva sambil berjabat tangan dengan laki-laki itu.


Setelah cukup berbincang-bincang, akhirnya keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam hotel dan beberapa pihak mengambil kesempatan untuk menjepret aktifitas keduanya.


Cekrek....


Tiba-tiba saja reva di suruh datang ke rumah orang tuanya, dan reva begitu khawatir jangan sampai mama atau papanya sedang sakit.


Langkah reva memasuki rumah orang tuanya itu, Raut kekhawatirannya berubah menjadi kebingungan ketika melihat keluarga besarnya dan keluarga besar vano dan tentunya vano sudah berada di ruang tamu.


Plakkk....


Tangan tuan elkana, papa reva mendarat di pipi putrinya itu. Reva memegangi pipinya yang terasa panas, Sedangkan vano memasang senyum kemenangan.


"Papa kenapa tampar reva?" Tanya reva dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Maksud papa?" Reva mengernyit bingung.


"UNTUNG ANAK SAYA, TIDAK PERNAH MAU BERHUBUNGAN SUAMI ISTRI DENGAN KAMU!" Timpal mahatma dari sofa yang lain


Kini reva terpojokkan, semua menatapnya sinis. Apa maksud tuan mahatma berkata seperti itu? jelas-jelas putranya lah yang memaksa reva.


"Ma, Pa, ini gak sep-" Ucapan reva terpotong ketika elkana papanya, melempar beberapa foto ke atas meja yang menampilkan dirinya masuk ke dalam hotel bersama bayu.


"Maaf rev, A-aku selama ini udah berusaha buat jadi suami yang baik buat kamu, tapi kenapa ini balasan kamu?" Vano mulai bersuara, dan apa katanya? suami yang baik?, bahkan berucap lembut pun rasanya reva tidak pernah mendengarnya.


"Pa-"


"Kamu bukan anak saya!" Bentak elkana, Mata reva membulat lalu segera bersimpuh di hadapan pria yang merupakan orang tuanya itu.


"Hiks....Ja-jangan pahhh..." Mohon reva, elkana justru mendorong reva hingga terjungkang ke belakang.


Sekarang reva tau, ini semua adalah rencana vano. Reva mengusap air matanya kasar, Mamanya sudah pingsan dan reva tidak tega.

__ADS_1


"Baik tuan elkana, tapi saya mohon jaga mama untuk saya" Kata reva kemudian beralih menatap kedua mertuanya dan adik iparnya yang menatapnya sinis.


"Tu-Tuan elkana, Nyonya elkana, dan dek vani, Saya minta maaf" Lirih reva, biarkanlah disini dirinya yang salah.


"Rev..." Vano menyodorkan map berwarna hijau, Berisi surat cerai.


Air mata reva mengalir tanpa isakan, Keputusannya sudah benar untuk menyelesaikan Rumah tangga ini. Reva menatap vano dengan tatapan mengiba, tangannya bergetar dan dengan pasti menandatangani materai enam ribu itu.


"Ya Allah, Setelah ini kehidupanku mungkin akan lebih pilu tapi kumohon beri aku kekuatan dan anak ku, Benar-benar aku tidak sanggup" Doa reva, dan tetesan terakhir air matanya menyudahi pernikahannya dengan vano. Surat itu telah tertanda tangani.


"PERGI KAMU!" Usir Mahatma.


Reva mengusap air matanya, buat apa menangis lagi? Toh semuanya sudah selesai kini yang harus dia lakukan adalah berjuang untuk anaknya. Reva menghela nafasnya, lalu tersenyum miris.


"Saya pastikan, ada penyesalan setelah ini" Kata reva lalu segera berbalik badan dan pergi.


Apartemen ini bukan lagi miliknya, ini hanyalah harta tuan elkana yang dia pinjam. reva mengedarkan pandangannya lalu segera keluar. Di luar sudah ada rafi yang dengan sigap langsung membantu reva mengangkat tasnya ke atas mobil. Dan segera pergi, menjauh dari kota yang menyimpan pilu ini.


"Reva?, Lo gak papa kan?" Tanya ravi masih dengan fokusnya menyetir.


"Ekhm..., Aku gak papa, dan kini aku lebih baik" Jawab reva dan berusaha memaksakan senyumannya.


"Kita mau kemana?" Tanya rafi lagi.


"Kita ke bandung"


Rafi mengangguk mengerti, Reva menatap ponselnya lalu membuka kaca jendela dan membuangnya.


"Biarkan waktu yang mengobati, Aku berharap Angin akan membawa kebahagiaanku dan perlahan membawa sakitku"


Di perjalanan rafi melihat air mata reva yang kembali turun, kemudian rafi menepikan mobilnya.


"Hey, jangan nangis" Tangan rafi menangkup wajah reva.


"Aku gak nangis" Reva berusaha tersenyum untuk terlihat baik-baik saja.


Rafi memeluk sahabatnya itu, Apakah ini waktu yang tepat? tapi reva baru saja berubah statusnya menjadi seorang janda .Tidak ,ini memang waktu yang tepat reva pasti akan merasa bahagia karena akhirnya menemukan pria yang lebih baik daripada vano.


"Reva, aku mau nanyak sesuatu, kamu denger baik-baik ya" . Reva mengangguk lalu menjauhkan tubuhnya dari rafi,


Rafi memegang kedua tangan reva, dan menatap manik mata reva dalam.


"Kita menikah yah?"

__ADS_1


Deggg....


Sad


__ADS_2