Sesalku

Sesalku
PART 9. BONGKAHAN ES


__ADS_3

"*Air mata akan berbicara saat mulut tak mampu lagi menjelaskan sebuah rasa sakit"


-Reva Elkana*-


Reva sampai di rumah sekitar pukul 10 malam, setelah berganti pakaian dan makan malam reva akhirnya duduk di ruang tamu sesuai dengan permintaan vano untuk menunggunya, reva sudah tau bahwa pada akhirnya vano menyuruhnya untuk menunggu pasti karena akan dihukum. Tak lama reva terserang kantuk hingga tertidur di atas sofa.


Vano melepas jas yang dia kenakan lalu menyampirkannya di lengan kanannya, setelah memasukkan mobil ke dalam garasi vano segera masuk ke dalam rumah karena memiliki kunci cadangan. Di ruang tamu vano sudah melihat reva yang tertidur nyenyak.


"Hmm, waktunya main-main" Ucap vano sambil mengelus-elus pipi reva.


Vano menyeret beberapa bongkahan balok es dari dalam bagasi mobilnya, yang sudah ia beli dan rencanakan sejak di pesta tadi. Sampai di kamar mandi vano mengeluarkan semua bongkahan es itu ke dalam bathup , dan di campur dengan air dingin lagi.


Reva tersentak kaget ketika merasakan hawa dingin yang menyerang sekujur tubuhnya, reva berusaha untuk keluar dari bathup berisi air dan bongkahan es ini tapi kaki dan tangannya sudah di ikat dengan tali.


"Van!, Hiks....D-dingin" Reva menangis sejadi-jadinya. Sedangkan vano tertawa puas dengan hasil karyanya ini.


"Selamat tidur sayang..." Vano keluar dari kamar mandi meninggalkan reva yang sudah menggigil oleh suhu dingin yang kini menjalar di sekujur tubuhnya.


"Hiks...tolong!, hiks...dingin van" Rancau reva "Ampun van!" Teriak reva, namun percuma vano justru sudah menyumbat telinganya dengan


Earphone agar tidak mendengar rintihan reva itu.


 


\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-


 


Paginya vano sudah bersiap pergi ke kantor, namun kembali mengingat reva yang mungkin sudah tidak sadarkan diri di kamar mandi karena menahan dingin. Vano berjalan ke arah kamar mandi, Hal pertama yang dia lihat adalah reva yang sudah begitu pucat dan seperti dugaannya pasti perempuan itu sudah tidak sadarkan diri.


"He! Bangun, udah pagi!" Bentak vano sambil menepuk-nepuk pipi reva. Semua balok es yang ia taruh di dalam bathup tadi malam sudah mencair semua dan menyatu dengan air.


Kelopak mata reva terbuka secara perlahan, hal pertama yang dia lihat adalah vano. Air mata reva kembali turun,


"Hiks,, Ampun van!" Tangis reva, sedangkan vano memutar bola matanya malas. Akhirnya vano menggulung lengan kemejanya dan mengangkat tubuh reva dari dalam bathup dan membuka ikatan kaki dan tangan reva.


"Skali lagi lo macem-macem, dan gak nurut sama gue. Gue gak segan-segan lakuin yang lebih buruk dari ini!" Ancam vano, reva dengan cepat mengangguk lalu mengusap air matanya kasar.


Vano tidak ingin berlama-lama, lalu keluar meninggalkan reva yang masih berada di atas lantai kamar mandi. Kaki reva begitu keram hingga sangat sulit di gerakkan


"Ya Allah, Aku gak kuat lagi" Lirih reva, Akhirnya reva memilih ngesot saja menuju kamar untuk berganti pakaian dan beristirahat.

__ADS_1


Rafi masih tidak percaya dengan alasan reva untuk pulang cepat dari pesta semalam, padahal mereka baru saja sampai dan reva sudah memilih untuk pulang. Rafi ingin tau urusan apa yang begitu mendadak itu,


"Berapa semuanya mbak?" Tanya rafi pada penjual martabak itu, rafi sengaja lewat membelikan reva martabak karena rafi tau betul kesukaan perempuan itu.


"Dua puluh lima ribu aja pak". Rafi merogoh saku celananya lalu segera membayar pesanan martabak yang ia beli untuk reva itu.


Belum dua langkah rafi keluar dari pintu toko martabak itu, mata rafi sudah mendapati vano suami reva merangkul pinggang seorang cewek. Tanpa pikir panjang, rafi segera menarik kerah baju vano.


"APA MAKSUD LO?!" Bentak vano, lalu menghempas tangan rafi dari kerah bajunya.


"Harusnya gue yang nanyak!, Lo selingkuhin sahabat gue!" Sengit rafi,


Vano menampakkan senyum miringnya dan langsung melayangkan bougemannya tepat di wajah rafi.


Bugghhhh....


Rafi terkapar di tanah, vano mendekat lalu mencengkram kerah baju rafi dan menatap manik mata rafi lekat.


"Reva mau-mau aja kok gue duain" Ucap vano dengan enteng, lalu melayangkan dua pukulan lagi di rahang rafi hingga membuat wajah rafi babak belur.


Setelah selesai berurusan dengan pengganggu kecil, vano kembali merangkul pinggang bella dan membawanya masuk ke dalam sebuah cave. Rafi menyeka darah yang menetes dari ujung bibirnya, tangannya terkepal kuat namun satu fakta yang dia dapat adalah reva tidak menentang vano berhubungan dengan perempuan lain.


"Kenapa sih rev lo harus baik banget, gue tau lo lemah dan rapuh, tapi gue gak terima lo diginiin sama suami lo itu" Kata rafi pada dirinya sendiri, reva memang adalah perempuan yang sangat sabar bisa hidup bersama laki-laki seperti vano itu.


Ceklek..


"Rafi...." lirih reva ketika melihat tampilan rafi yang sudah begitu babak belur.


"Hehe ini martabak buat lo" Rafi terkekeh pelan lalu menyodorkan martabak yang berada di dalam plastik untuk reva, namun reva tidak meraihnya tapi memeluk rafi .


"Hiks...kenapa gini fi?". Hal yang membuat rafi terkejut adalah reva yang menangis.


"Jangan nangis rev, gue gak papa kok" Ucap rafi menenangkan reva, sambil mengusap punggung cewek itu pelan.


Reva menarik tubuhnya kembali lalu mengusap air matanya kasar, dengan punggung tangannya.


"Udah tua, masih aja berantem!" Omel reva sambil berkacak pinggang.


"Emm,, maafin gue rev" Rafi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Akhirnya reva mengambil martabak yang dibeli oleh rafi itu, dan membawa rafi masuk ke dalam rumah untuk diobati lukanya.

__ADS_1


Dari jarak sedekat ini. Rafi bisa merasakan deru nafas pelan reva yang menyentuh wajahnya. Reva duduk menyerong sambil membersihkan luka lebam yang ada di wajah rafi dengan alkohol dan kapas.


"Rev" rafi menahan pergerakan tangan reva, membuat reva menatap manik mata rafi bingung.


"Apa sih fi, aku mau beresin luka ini" Ucap reva.


"Kenapa sih lo masih mau pertahanin pernikahan lo ini?" Spontan rafi, sedari tadi pertanyaan ini tercekat di tenggorokannya.


"Ap-Apa sih fi" Reva memalingkan wajahnya tidak mau menatap rafi lagi.


"Lo tau kan kalo suami lo punya pacar di luar sana? Dan kenapa lo biarin itu rev?!" Nada bicara rafi naik satu oktaf berusaha meminta penjelasan dari reva.


"JAWAB!" bentak rafi


"Karena aku gak tau harus ngapain fi hiks..." Tangis reva pecah. Rafi menarik reva masuk ke dalam dekapannya, lalu menaruh tangannya di pinggang reva


"Akh... Jangan vi" Reva merintih kesakitan ketika rafi menyentuh pinggangnya, rafi melepas pelukannya lalu melihat ekspresi wajah reva yang menahan kesakitan.


"Pinggang lo kenapa rev?" Tanya rafi lembut. Reva menggeleng pelan, dia tidak ingin rafi tau kelakuan vano semalam.


"Pasti vano lagi kan?". Rafi memang pandai sekali menebak, reva akhirnya mengangguk pelan.


"Semalem lo di apain sama vano? Tolong jawab gue rev" Mohon rafi lalu menggenggam kedua tangan reva yang rasanya begitu dingin dan pucat.


"Kamu gak perlu tau fi" Jawab reva tanpa menatap rafi, sudah cukup dia tidak ingin rafi masuk ke dalam lingkaran penderitaannya apalagi rafi pasti akan membela reva jika dia memberitahukan kelakuan vano padanya yang sudah kelewat batas.


Di tempat lain vano sedang mengemudi dalam kecepatan di atas rata-rata. Kepalanya terasa berkunang-kunang karena habis meminum beberapa soft drink bersama bella tadi di cave.


"Ssshhh pusing.." Vano memengangi kepalanya, mata vano terbelalak kaget apalagi ketika hampir menabrak sebuah gerobak sayur.


Dengan cepat vano membanting stir mobilnya ke kanan, hingga mobil menabrak pembatas jalan yang membuat mobil vano jatuh ke jurang.


Vano memejamkan matanya, pusing di kepalanya sudah tidak bisa terhindarkan lagi dan darah tercucur dari pelipis vano akibat tertampar stir mobil . Dan akhirnya sebuah dentuman keras, terdengar ketika mobil vano menyentuh dasar jurang


Brrrrruuuuuuuuuuukkkkkkkkk......


Note : Jangan lupa vote dan coment buat part kali ini 💕


•Perasaan kamu untuk part ini gimana?


Ini template quotes ku buat para readers tersayang, supaya kalo ada yang mau upload quotes "Sesalku" ke media sosial bisa upload ini aja.

__ADS_1



__ADS_2