Sesalku

Sesalku
PART 14.


__ADS_3

Sebuah tomat menggelinding di atas lantai, bella yang sedang melangkah tidak sengaja menginjak tomat tersebut yang membuat keseimbangannya tergangg dan akhirnya jatuh.


Brakkkkkkkk


"Auwwwww" Pekik bella, reva menoleh ketika mendengar suara bella.


"Astagfirullah bel," Reva mendekat dan membantu bella.


"Duh...sakit" Sungut bella sambil memegangi punggungnya yang terasa sakit


"Aku bantu ya". Akhirnya reva membantu bella untuk naik ke atas kamarnya, bella mencari-cari gunting yang tadi ada di tangannya yang akan dia gunakan untuk menggunting rambut indah reva itu.


"Cari apa bel?" Tanya reva ketika melihat bella celingak-celingukan.


"Nggak ada, udah sana lo pergi" Usir bella


"Kamu masih mau jus nya?" Tanya reva,


"Nggak. Pergi!" Bentak bella yang sudah muak melihat reva , belum lagi sakit yang kini menjalar di punggungnya.


Akhirnya reva keluar dari kamar, tadi itu agak lucu sih reva sudah menduga pasti bella akan mengerjainya. Reva cekikikan lalu turun dari tangga dan mengambil jus yang sudah bella tidak inginkan lagi.


"Bella mana?" Suara bariton itu membuat reva berhenti meneguk minumannya, lalu menoleh ke asal suara.


"Bella ada di kamar" Jawab reva singkat

__ADS_1


Tanpa basa-basi lagi vano segera, menemui bella entahlah apa yang akan dibicarakan keduanya. Sedangkan reva hanya mendelik tidak peduli lalu membuka kotak martabaknya.


Reva masih setia menyembunyikan kandungannya dari vano, Sekarang reva sedang berada di salah satu Rumah Sakit swasta di ibukota, untuk memeriksakan kandungannya.


"Bu reva?" Tanya seorang suster.


"Saya sus.." Reva beranjak dari duduknya, lalu masuk ke dalam ruang periksa.


Sampai di dalam, sama seperti biasa reva mengikuti treatment USG. Ketika melakukan USG, raut wajah Dokter yang menangani reva berubah dan nampak khawatir.


"Sudah bu.." Ucapnya. Reva kemudian dibantu untuk duduk, dan membersihkan gel bening yang tadi dioleskan sebelum menempelkan alat USG.


Reva duduk berhadapan dengan dokter tadi di meja konsultasi.Terlihat dokter itu sibuk mencari dokumen,


"Saya butuh suami ibu sekarang," Ucap dokter itu tiba-tiba.


"Baik bu, jadi selama empat bulan ke belakang ini apakah ibu tetap mengalami datang bulan?" Tanya dokter dengan antusias,


Reva kembali mengingat-ingat, dan benar dirinya tetap saja menstruasi padahal kan harusnya wanita hamil sudah tidak menstruasi.


"Iya dok, tapi hanya flek saja, makanya saya gak nyangka bakal di vonis sedang hamil" Jawab reva.


"Jadi bu itu bukan darah menstruasi, namun karena letak ari-ari janin yang terlalu rendah dan menutupi pintu rahim sehingga darah itu lah yang keluar dan disangka ibu sedang datang bulan" Jelas dokter, reva mengangguk mengerti.


"Tapi, itu gak ngaruh kan buat anak saya dok?" Tanya reva

__ADS_1


Dokter itu menghembuskan nafasnya berat, ini memang adalah pilihan yang sulit tetapi lebih baik dilakukan daripada membahayakan ibu dan anak.


"Tidak bu" Jawab dokter itu, reva bernafas lega. Dokter itu mengajukan sebuah formulir di atas meja lalu menyodorkannya pada reva yang sedang melantunkan 'Alhambdulillah'.


Reva meraih formulir itu, dan membacanya dalam hati. Reva mengerutkan keningnya tidak mengerti, dokter itu menyerahkan formulir pengangkatan janin padahal baru saja dokter itu mengatakan tidak apa -apa


"Maksud dokter?" Mata reva berkaca-kaca, lalu meletakkan formulir itu menggeleng tidak mau.


"Ini harus dilakukan bu. Letak janin dalam kandungan ibu begitu membahayakan dan tidak mungkin lahir, makin dipertahankan pun ibu akan makin tersiksa" Jelas dokter itu.


Reva menahan isakannya dengan tangan di tempelkan di mulut, baru saja beberapa minggu yang lalu reva mendapat kabar bahagia dan kini dia harus melepasnya.


"Bu, jadi saya harap suami ibu juga ikut tanda tangan" Tutur dokter itu.


Reva tetap menggeleng dengan air mata yang sudah berlinang. Ini sangat sulit, perasaan ibu mana yang rela jika anaknya saja yang belum pernah dia timang, harus dia relakan untuk segera diangkat.


"Saya, mau mempertahankan anak saya dok" Final reva. Biarlah dia yang tersiksa, dia tetap ingin mempertahankan anaknya.


Di atas taxi , reva kembali memikirkan nasib anaknya . Ibu mana yang rela jika akan dipisahkan dengan anaknya? Sungguh reva tidak mau.


Sebelum masuk ke dalam rumah, reva menghapus terlebih dahulu air matanya, lalu melangkah masuk.


Reva terkejut ketika vano menarik sebuah koper berwarna merah dari dalam kamarnya yang diyakini berisi barang-barang reva.


"Van..." Panggil reva lirih.

__ADS_1


Vano tersenyum miring lalu berjalan mendekati reva sambil menarik koper, air mata reva turun dari pelupuk matanya berbagai pertanyaan muncul dari dalam benaknya, apakah vano akan mengusirnya? atau bahkan menceraikannya? , Pikiran reva benar-benar kalut, belum lagi urusan kandungannya yang kini berada di ambang pintu keguguran.


__ADS_2