Sesalku

Sesalku
PART 6. SANDIWARA


__ADS_3

"Hanya bisa menutup luka. Menahan api cemburu. Memendam rasa kecewa. Karena mau marahpun aku sadar, 'siapa aku?'."


-Reva Elkana-


Setelah makan malam vano ,reva dan kedua orang tua vano tuan mahatma dan nyonya mahatma duduk di ruang tamu yakni mami dan papi vano sendiri, dari sinilah sandiwara akan dimulai.


"Enak banget masakan kamu nak reva mami emang gak salah pilih mantu" Puji grace pada menantunya.


"Makasih mi" Reva sedikit risih karena vano yang begitu dekat dengannya ,merangkulnya pula,dan senyuman yang begitu lebar itu loh.


"Pasti Harmonis banget nih" Celetuk Roni Mahatma papi vano.


"Papi bisa aja,iya nggak sayang.." Vano menoleh pada reva,sedangkan reva agak awkward dengan panggilan sayang itu rasanya sangat berbeda


"i-iya" jawab reva terbata-bata.


"Gimana?" Tanya grace dengan wajah sumringah.


"Gimana apanya mi?" Balik vano


"iihh maksudnya tuh,udah siap belom ngasih cucu lucu buat mami papi"


Vano dan reva  begitu terkejut dan saling melirik. Reva meneguk ludahnya kasar. Sedangkan vano menjadi terbatuk-batuk


"uhuk..uhuk.."


"mami, si vano itu lemah baru aja ngomongin cucu udah batuk-batuk" sindir papi vano.


"Apaan sih pi? belom dikasih aja" protes vano


"Siapa juga yang mau punya anak dari pernikahan ini!" Batin vano menjerit


"Mami,papi,benner kata vano, kita emang belom dikasih aja" Tambah reva agar pembahasan ini cepat selesai.


"Tapi kalian harus tau ya,secepatnya keluarga mahatma dan elkana ingin seorang cucu supaya tonggak perusahaan kita bisa cepat teralihkan pada kalian" Tambah papi vano.


"Terserah mami sama papi aja deh" Vano berpasrah.


"mami gak sabar di keluarga kita lahir putra pertama keluarga mahatma" Tambah mami vano


Vano dan reva hanya bisa berpasrah,dan sesekali hanya tersenyum. Keduanya sudah membuat kesepeakatan untuk bercerai setahun setelah pernikahan, dan vano juga tidak ingin ada bekas apa-apa dari pernikahan ini, khususnya yang namanya anak.


-------------------------------


Waktu terasa sangat cepat hingga hari ini reva dan vano sudah memasuki bulan kedua dalam pernikahan mereka. Reva kembali bekerja seperti biasa, hari demi hari ia bisa lewati dengan baik dan dengan tindakan kasar vano Yang tidak pernah absen setiap harinya


"Ah..pusing" Reva memegangi pelipisnya yang begitu sakit.

__ADS_1


"Bu sudah ditunggu" yura memberitahu kan reva bahwa meeting sudah akan dilaksanakan.


" Yaudah Saya OTW ya yur.." Reva berusaha menepis rasa pusingnya .hari ini ia akan meeting di perusahaan suaminya sendiri.


Tangan reva menutup mulutnya serasa ingin muntah,dan mual.


Ting...


Dentingan lift itu membuat reva segera keluar dan mencari toilet,setelah menemukannya reva buru-buru mengeluarkan isi perutnya yang sudah sedari tadi ia tahan.


"Ya ampun" ucap reva pelan setelah beres dan rasa mual itu sudah agak redah reva dengan cepat menuju ruang meeting.


Ceklek.......


"Selamat siang.maaf saya terlambat" Ucap reva sambil tersenyum di dalam sana sudah ada beberapa pimpinan perusahaan,dan vano sebagai pemimpin rapat.


"Siang bu reva,senang bekerja sama dengan elkana group" Ujar pak anton


"Saya juga pak"


Setelah cipiki cipiki,reva mengambil tempat duduk dan tak disangka itu adalah rafi.


"Rafi?" Gumam reva. Mendengar namanya disebut dengan cepat rafi menoleh dan sudah menemukan reva sosok yang menghilang beberapa bulan yang lalu.


"Reva?kamu udah balik"


"Iya" .Rafi langsung memeluk erat reva tanpa memperdulikan siapapun


"Ekhm..bisa profesional sedikit" Ucap vano dengan wajah datarnya.Reva dab Rafi langsung melepas pelukan mereka tanpa melihat vano lagi


"Oke meeting dimulai......"


Berjam-jam berlalu,dan hari mulai gelap,sekitar jam 08:00 malam barulah meeting itu selesai.


"Rev? Gue anter mau nggak?" Tawar rafi deng begitu sumringah.


"emm...g-gimana ya fi,aku masih ada urusan soalnya" Tolak reva halus ,sebenarnya ia tidak ingin di cap sebagai cewek tukang selingkuh di depan vano.Cukup vano jangan dia.


"Yaudah aku anter"


"Nggak usah fi" Reva begitu memelas,membuat rafi akhirnya mengiyakan.


"Iya deh,tapi kalo ada apa-apa telfon gue aja ya?" . reva mengangguk, setelah rafi pergi rasa mual yang reva tahan sedari tadi sudah tidak bisa dibendung lagi.Akhirnya reva berlari ke toilet.


"wuekkkk....wuekkkkk.." Reva memegangi perutnya.


Tak lama reva keluar dari toilet matanya bertemu dengan mata vano yang begitu tajam,suasana makin dingin apalagi kini sisa mereka berdua.

__ADS_1


"Lo sakit?" Tanya vano masih dengan wajah datarnya.


"Iya" Jawab reva singkat.


"Gue gak akan anterin lo, jadi jangan kegeeran ya" sinis vano lalu keluar dari ruangan.reva hanya bisa mengusap dadanya pelan.


"Sabar rev" Batin reva.


Reva berjalan di sepanjang trotoar, sudah sejam dia berjalan tak ada angkutan umum yang lewat di halte. Sesekali reva menyeka keringat yang jatuh,sebenarnya reva ingin menghubungi taxi online tapi ponselnya sudah sangat lowbat.


Tittttttt.......titttttttt


Sebuah mobil berhenti tepat disamping reva,warnanya hitam legam kaca jendela mobil mulai turun dan terlihat vano dengan tatapan dinginnya.


"Masuk!" Suruh vano


Buru-Buru reva masuk tapi bukan duduk di samping vano, namun duduk di jok tengah.


"He! Maju,lo kira gue sopir lo!" Bentak vano . Reva menghela nafas gusar lalu  mulai berpindah tempat duduk ke depan tepatnya samping vano.


Suasana begitu hening hanya ada kerlap-kerlip lampu dan suara bising kendaraan.Mobil vano terjebak macet dan sudah setengah jam mobil hanya berjalan seperti semut.


"sialan nih.." Maki vano sambil menekan klakson mobilnya.


"Sabar van" ceramah reva.


Vano tak menggubris perkataan reva


"Lo kenapa sih gak mundur aja rev?lo nggak capek apa gue siksa mulu?! Inget ya gue gak akan pernah nerima lu!" Bentak vano mengalihkan pembicaraan.


Jujur saja lubuk hati reva yang terdalam sudah sangat hancur mendengar perkataan terakhir vano padanya ,secara tidak langsung vano sebenarnya ingin meminta pisah tapi ia terbelenggu dengan harta papinya


"Karena bagi aku nikah itu cuman sekali buat seumur hidup.Dengan cara apapun aku akan mempertahankan pernikahan ini, bukannya aku takut sama kamu van,aku cuman berusaha jadi istri yang terbaik buat kamu" Tutur reva panjang lebar tanpa mau menatap vano.


"o yah? Suatu saat  lo bakalan nyesel sama kata-kata lo.dan lo pikir baik-baik ya Reva Elkana sampe kapan pun gue gak akan nerima lo jadi istri .ora sudi aku" Sengit vano sambil tersenyum miring.


"Hmm aku terima kata-kata kamu van, tapi aku punya satu keyakinan buat kamu van" Reva tersenyum getir


"Apa?"


"Suatu saat nanti kamu akan menerima aku,tapi itu tinggal masalah waktu cepat atau lambat" jawab reva dan memberanikan diri menoleh pada vano.


"Inget gue punya bella,suatu saat nanti dia yang akan ngelahirin seorang  putra mahatma buat gue.Bukan lo!" sengit vano.


"iya kamu boleh ngomong gitu sekarang karna kamu nggak tau apa-apa" balas reva


Vano langsung kicep,tidak tau mau berbicara apa lagi .Maksud reva mengatakan bahwa dirinya tidak tau apa-apa itu apa?, seolah reva sudah tau kedepannya akan terjadi apa.

__ADS_1


Note :HALO SEMUA MAAF YA CUMAN BISA UP 2 CHAPT, TAPI AKU USAHAIN BESOK-BESOK LEBIH DEH. O YAH JANGAN LUPA DUKUNG CERITA KU INI YAH.


-Mau di tampilin visualnya atau nggak nih? (Komen ya, supaya aku cariin kalo ada yang mau usul juga boleh😊)


__ADS_2