
"*Ada saatnya, kamu akan tahu siapa sahabat yang rela berjuang dan memendam perasaannya buat kamu"
-Rafi Bramanta*-
Pundak reva didorong kasar oleh bella hingga punggungnya menyentuh dinding, yang membuat reva meringis sakit.
"Gue ingetin skali lagi, jangan deketin cowok gue. Vano itu gak akan pernah kepincut sama cewek kayak lo!" Sinis bella, dengan tangan kanannya mencengkram kuat rahang reva.
"i-iya" Jawab reva.
"Skarang, pergi!" Usir bella. Reva menunduk lalu pergi, sambil memegangi pipinya yang sempat ditampar oleh bella, Reva tidak pernah berusaha mendekati vano bahkan tidak pernah ingin membuat vano kepincut pada dirinya. Reva hanya ingin dihargai sebagai seorang istri.
Kaki reva menyusuri trotoar sambil memeluk dirinya sendiri, tengah malam begini ternyata ramai juga dengan lampu yang kerlap-kerlip.
"Reva?!" Seorang cowok turun dari mobilnya, ketika melihat seseorang yang nampak tak asing banginya.
Merasa namanya dipanggil, reva menghentikan langkahnya lalu menoleh dan sudah mendapati rafi yang menatapnya bingung.
"Rafi?" Reva sendiri bingung, kenapa rafi masih bisa berada di jalan sambil mengemudi padahal hari sudah malam.
"Lo ngapain disini? lo jalan kaki?" Selidik rafi, mata rafi melihat penampilan reva dari bawah sampai atas.
"Aku habis dari rumah sakit, vano kecelakaan, dan kamu kenapa bisa disini fi?" Tanya reva lembut.
"Gue gak habis pikir sama lo rev, kenapa sih lo masih meduliin cowok kayak dia" Rafi mengusap wajahnya kasar, memang salah orang tua reva sudah melahirkan reva dengan hati malaikat.
"Karena dia suami aku fi, kamu sendiri?"
"Gue...."Rafi berusaha mencari alasan, tidak mungkin kan kalau dia bilang habis dari diskotik , yang ada reva akan mengomelinya.
"Diskotik ya fi?" Tebak reva. Rafi menggaruk tengkuknya berusaha menghilangkan kecanggungannya.
"Hehe iya rev, Di rumah gue gabut banget" Jawab rafi.
"Jangan kesana lagi ya fi, itu tempat maksiat gak boleh kamu datengin lagi" Saran reva, tangannya terulur mengusap lengan rafi.
"Iya. Eh lo gue anterin ya". Reva mengangguk lalu naik ke atas mobil rafi.
__ADS_1
Sesekali rafi mengamati reva dari ekor matanya, reva sudah tertidur pulas mungkin karena kecapekan. Mobil rafi memasuki pekarangan rumah reva yang luas lalu memarkirkan mobilnya disana, rasanya rafi tidak ingin membawa reva kesini, rafi tau pasti di rumah ini reva sering disiksa oleh vano.
Tangan rafi menyentuh pipi reva, satu tangannya meraih tangan reva lalu menggenggamnya.
"Andai dulu lo nerima gue rev, gue bakal jaga lo walaupun nyawa gue yang jadi tanggungannya" Bisik rafi lembut, lalu memberanikan diri mengecup punggung tangan reva.
Untung saja pintu rumah reva tidak dikunci, mungkin karena terlalu buru-buru sampai lupa di kunci. Rafi merebahkan badan reva ke atas kasur lalu menyelimuti tubuh reva dengan selimut tebal sampai dada.
"Good night rev". Rafi menundukkan sedikit kepalanya lalu memandangi wajah reva yang tidak sanggup dia tinggalkan, Setelah puas memandangi wajah reva, akhirnya rafi meninggalkan kecupannya di kening reva lalu segera pergi. Jantung rafi berpacu cepat, apalagi ketika membawayangkan dirinya mengecup kening reva.
"Ah...gila, gue khilaf!" rafi memukul-mukul kepalanya frustasi.
Suster masuk membawakan sarapan untuk vano lalu keluar dari ruangan lagi karena masih banyak pasien yang harus dia bawakan makanannya. Pembantu mami vano juga belum datang, katanya anaknya mendadak sakit jadi berhalangan datang.
"Sial"Gumam vano, menggerakkan tangannya saja rasanya begitu ngilu. Bella semalam datang, tapi hanya sebentar dan datang pamit mau ke amerika pagi ini.
Ceklek ....
Reva membuka pintu ruang rawat vano dengan pelan, terlihat vano yang sedang kesusahan menyuapkan makanan masuk ke dalam mulutnya.
"Lelet banget lo datengnya" Cibir vano, reva tidak mau menanggapinya karena jika ditanggapi vano akan terus menjawab.
"Buka mulutnya aaa..." . Dengan ragu-ragu akhirnya vano membuka mulut dan mulai mengunyah.
Vano sendiri masih bingung dengan reva, apakah selama ini dia kurang keras pada reva harusnya reva sudah menyerah dan menggugat cerai vano, namun reva malah terlihat makin kuat saja.
"Kenapa sih lo gak gugat gue aja? Andai papi gak ancem gue dengan perusahaan pasti gue udah lama ceraiin lu" Ucap vano ketika selesai meneguk air.
Kata-kata vano barusan memang begitu menyakitkan hati reva, secara tidak langsung vano seolah ingin menalak nya segera.
"Sampai aku merasa pernikahan ini gak bisa dipertahankan lagi, aku akan mundur van" Lirih reva lalu menaruh piring ke atas nakas.
Tangan reva mengeluarkan dompet, dan ponsel vano dari dalam slim bag nya.
"Ini barang kamu". Vano meraihnya lalu menaruhnya di samping.
Tak lama pintu terbuka dan menampilkan beberapa cowok, mungkin teman-teman vano. Reva cukup sadar diri, lalu menyampirkan tasnya di lengan kananya dan hendak keluar.
__ADS_1
"Eits...tunggu cantik" Seorang cowok menahan tangan reva namanya vargas , membuat reva menoleh tidak suka
"Siapa van?" Vargas berteriak pada vano sambil menunjuk reva dengan dagunya.
"Anak Pembantu" Ucap vano dengan enteng, dan memutar bola matanya malas.
Tanpa sadar air mata reva turun, vargas menarik reva untuk lebih dekat dan melihat reva yang sedang menangis.
"Cantik jangan nangis dong, babang lap air matanya ya" Tangan vargas hendak mengusap air mata reva, namun dengan cepat reva menepis tangan vargas kasar.
"Jangan, ganggu saya" Reva menyentak tangannya , hingga tangan vargas terlepas dari tangannya.
Reva duduk di kursi taman, kata-kata vano barusan seolah
menghantui pikirannya. Sebegitu bencinya kah vano padanya?, apa kesalahan reva sampai-sampai vano seperti ini? .
"Jangan nangis mulu, jelek tau". reva kenal sekali dengan suara itu, pasti rafi.
Rafi menyodorkan sapu tangannya pada reva lalu duduk disamping reva, senyum reva mengembang lalu meraih sapu tangan itu.
"Tuh kan jelek banget" Ledek rafi, membuat reva terkekeh pelan.
"Kenapa bisa disini fi?" Tanya reva.
"Perasaan aku bilang kalo disini ada bidadari lagi nangis" Ucap rafi sambil menatap reva lekat. sedangkan reva celingak celingukan mencari bidadari yang dimaksud rafi,
"Mana fi?" Tanya reva polos.
"duhhh temen gue polos amat sih. Maksud gue lo itu bidadarinya" Rafi menyentil kening reva
"Haha kamu bisa aja" Reva memalingkan wajahnya.
Rafi membuat ekspresi-ekspresi konyol yang mampu membuat reva sedikit tertawa, bagi rafi tawa reva itu sudah cukup membuat hidupnya serasa di surga, dibanding ketika melihat reva menangis. Tangan rafi meraih tubuh reva lalu menyandarkannya di bahunya sendiri,
Note : Jangan lupa vote dan coment untuk part kali ini.
•Rafi Atau Vano?
__ADS_1