
Matahari menyembulkan sinarnya dengan malu-malu, Reva telah selesai membuat kue untuk hari ulang tahun putranya. Reva terpaksa bangun subuh hanya untuk
membuat kue ini.
"Udah jadi kuenya?" Hans datang mencolek pipi reva, jika kalian bertanya mengapa pria itu bisa ada di rumah reva sepagi ini, jawabannya adalah Memang sudah genap empat hari hans tinggal disini.
"Iya. Sisa bangunin vando aja, Kado kamu udah selesai dibungkus?" Tanya reva pada hans
"Udah dong" Hans mengacungkan dua jempolnya. Reva mengecek ponselnya, Sejak kejadian vano ditolak oleh vando , pria itu tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya, atau bahkan mengirimkan pesan.
"Vano pasti dateng, Aku yakin-" Batin reva, Keduanya kemudian berjalan mengendap-endap untuk meredam suara langkah kaki mereka memasuki kamar bernuansa putih itu.
Terlihat seorang anak lelaki yang memeluk bantal guling, dengan baju tidur berwarna biru tua motif bulan.
"Selamat ulang tahun....." Ucap hans dan reva bersamaan. Vando bangun sambil mengucek-ngucek matanya, Matanya berbinar ketika melihat kue dan lilin yang telah tertancap di atasnya yang bertuliskan angka tujuh.
"Selamat ulang tahun anak mama, Jadi kebanggaan mama terus ya" Reva memeluk putranya itu, Rasa bahagia dan haru bercampur aduk. Tidak terasa juga, reva sudah delapan tahun melewati masa kelamnya dengan vano. Masa mengandung, melahirkan,menyusui dan bahkan membesarkan reva lakukan sendiri .
"Happy Birthday, Jagoan papa" Hans menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang. Vando menerimanya dengan sumringah, kemudian memeluk hans.
"Makasih papa" Katanya, Kemudian membuka hadiah itu. Binar mata vando berubah ketika melihat hadiah itu, Senyumannya luntur.
"Kenapa sayang?Hm?" Hans yang melihat perubahan itu menanyakan penyebabnya.
"Kurang suka?" tebak hans.
"Nggak pa. Ini udah dibeliin sama papa vano," Jawab vando. Hans merasa muak mendengar nama lelaki itu, Reva yang merasa tidak enak langsung mencairkan suasana.
"Gimana kalau kita makan kuenya sekarang aja?" Tawar reva. Vando berdiri dan mengangguk,
Ketiganya berjalan keluar dari kamar dan menikmati kue tadi di meja makan. Hans tidak suka ketika hadiahnya ditolak, Apalagi vando sama sekali tak menggubrisnya lagi.
"Mama, Papa vano kok jarang sih kesini? Papa vano sakit? atau sib-"
"Stop. Nggak usah nyari dia lagi!" Bentak hans yang sudah diambang batas kesabarannya sedari tadi anak itu hanya menanyakan vano.
Reva menatap hans, berusaha menenangkan pria itu.
"Sab-" belum selesai dengan ucapannya, pintu rumah sudah diketuk. Senyum reva mengembang, Mungkin itu adalah vano.
Tok..Tok....Tok...
"Itu papa ya ma?" Tanya Vando tanpa menghiraukan hans yang begitu geram.
"Mama cek dulu ya," Reva hendak berdiri. Namun hans mencegatnya,
"Biar aku aja, Kamu diem disini sama anak kamu itu" Perkataan hans itu cukup membuat hati reva tersayat, Sikap hans yang asli telah keluar. Hanya karena anak kecil, Bayangkan saja betapa pencemburunya hans.
__ADS_1
Hans membuka pitu, menampakkan seorang wanita dengan Style rapi pekerja kantoran.
"Cari siapa?" Tanya hans
"Ini ada titipan dari pak vano, untuk hadiah ulang tahun anaknya" Rowena, asisten pribadi vano mengantarkannya langsung.
Hans meraih kandang kelinci itu, kemudian tersenyum canggung.
"Trimakasih"
"Baik. Kalau begitu saya pulang dulu"
Setelah perempuan tadi pergi, buru-buru hans memasukkan kandang kelinci tadi ke dalam tong sampah besar. Berharap mobil pengangkut sampah cepat-cepat datang,
"Siapa hans?" Tanya reva yang muncul dari belakang pria itu.
"Nggak kok. Ayo masuk, Dan maafin sikap aku yang tadi itu. Nggak seharusnya aku ngomong kayak gitu" Maaf hans tangannya menggaruk tengkuknya canggung
Reva mengangguk kemudian kembali masuk, ada rasa kecewa yang tersirat dalam hati reva. Vano tidak hadir, apakah hanya karena ditolak waktu itu nyali vano langsung ciut?,
oo0oo
"Maaf rev," Vano hendak memejamkan matanya namun ponselnya yang berada di nakas berdering.
Tangan vano berusaha menggapainya, Tak ada satupun orang yang ada di ruangan ini. Semua masih sibuk dengan urusannya masing-masing, Pembantu vano juga sedang keluar makan siang.
"Sial" Vano tidak berhati-hati hingga tubuhnya jatuh kelantai membuatnya harus merasakan sakit pada bagian operasinya.
Ponsel vano masih berdering di lantai, Vano mengambilnya dan menggeser tanda berwarna hijau pada layar ponselnya.
"Halo van?, Kamu dimana?, Vando nungguin loh" ucap seseorang dari seberang sana
Vano merasakan sakit yang teramat sakit, Seberusahanya vano menggigit bibirnya untuk tidak mengerang
"I-iya" Jawab vano terbata.
"Kamu gak papa kan van?, Sekarang kamu dimana?" Reva mulai khawatir, karena suara vano layaknya orang yang sedang menahan sakit.
"Ekhm..Maaf ya rev, Aku gak bisa dateng. Aku ada pertemuan di luar negeri, Sekali lagi maaf ya" Jawab vano sebisa mungkin
"Yaudah gak papa. Jaga kesehatan ya, Kamu tau vando udah gak marah kok sama kamu. Karena aku udah jelasin semuanya baik-baik"
Vano tersenyum,
__ADS_1
"Makasih, Kamu memang mama yang baik" Tanpa menunggu jawaban reva, dengan cepat vano mematikan ponselnya. Darah menembus pakaian rumah sakitnya, tangan vano bersimpah darah untuk menahan pendarahan itu,
"Aaaaarrrrrrrrggghhhhh...Suster" Erang vano, Ponsel itu sudah tergeletak disamping vano. Masih berdering, Vano tau reva pasti sudah mulai khawatir.
Reva akhirnya menyerah dan tidak menelfon vano lagi. Hans sudah pulang, karena memiliki jadwal penerbangan dalam minggu ini ke belgia,
"Mama, Kado dari papa belom dateng ya?" Tanya vando. Reva menggeleng, Vando merasa rindu dengan vano
Sedari tadi vando bolak-balii mengecek halaman apakah papanya datang atau tidak, Namun nyatanya tidak. Vando, Hendak berbalik badan sebelum mendengar suara kerusuhan dari dalam tempat sampah.
"Itu apa ya?" Vando yang cerdik namun pendek berusaha mencari cara untuk mengeluarkan isi tempat sampah itu hingga akhirnya vando mengeluarkan jurus Ultraman.
Brrakkkk....
Vando menendang tempat sampah besar itu hingga terguling dan mengeluarkan sampah yang berceceran. Reva segera keluar dari rumah dan berkacak pinggang melihat kelakuan anaknya itu,
"Vando..." Geram reva. Vando cekikikan kemudian menarik sebuah kandang berisi kelinci.
"Mama lihat deh, Vando dapat kelinci" Vando menyeret kandang itu,
Reva mengernyit bingung kemudian bergerak membantu anaknya itu, Ketika kandang dibuka keluar seekor kelinci berwarna hitam. Ingatan reva kembali pada sosok vano,
"Lucu, Kenapa dibuang ya?" Vando mengusap-usap bulu kelinci tadi.
Reva mengingat kembali gelagat hans tadi siang, apa dia yang membuang kelinci ini?
Sebuah surat meluncur dari dalam kandang itu, dan benar setelah dibaca adalah benar dari vano.
"Van..." Lirih reva, Vando mengobrak abrik isi kandang itu hingga menemukan sebuah bingkai foto yang menampilkan pengantin.
Reva meraihnya, Itu adalah foto pernikahaannya dengan vano. Vano memang menyelipkan ini sebelum Memberinya pada rowena, asistennya.
"Maaf belum bisa jadi suami, dan papa yang baik" Tepat dibelakang bingkai itu ditulisi langsung tulisan tangan Vano.
Tak terasa reva menitikkan air matanya,
NOTE:
• HARI INI AKU DOUBLE UP LOH 😫, SOALNYA BESOK AKU ABSEN UP KARENA ADA KESIBUKAN.
•Supaya gak ketinggalan update cerita ini yuk follow instagram author imut.
@Merliancy_
•Selanjutnya aku bakalan ceritain Rafi lagi ya,
__ADS_1