Sesalku

Sesalku
PART 24. TAMU DI PAGI HARI


__ADS_3

Semalaman suntuk vano sama sekali tidak bisa tertidur, Dirinya berpikir keras tentang reva dan terutama anak itu.


"Nggak. Nggak mungkin, Anak itu pasti udah gugur" Vano menjambak rambutnya frustasi. Jangan sampai vando itu adalah anak yang reva kandung sebelum mereka berpisah, Tapi tidak mungkin anak itu selamat pasalnya kala itu vano membeli obat peluruh kandungan yang berkualitas.


"Itu pasti anak dari pernikahan keduanya reva, Huh...Tetep positif thinking van" Vano menghela nafasnya yang begitu gusar.


Raganya memang disini, tapi pikiran dan hatinya entahlah kemana. Tangan vano meraih bantal guling yang ada di sampingnya lalu memeluknya,


"Ya Allah, Gue takut" Gumam vano, Cairan bening itu akhirnya menetes. Jujur saja kini vano sangat takut, mengetahui fakta yang sebenarnya.


Reva membaringkan tubuh kecil vando ke atas ranjang, Air matanya kembali turun ,tangannya membekap mulutnya sendiri untuk tidak mengeluarkan isakan.


"Aku harus alasan apa kalo vano bertanya?, Mas Hans Aku takut" Ucap reva, Lelaki itu kini sudah tidak ada di sisinya dan Hal yang paling di takutkannya akhirnya datang.


Reva meraih foto pernikahannya yang berada di atas nakas, tak jauh darinya. Reva mengusapnya pelan


"Mas hans..." Lirihnya, Bulir air mata reva turun setetes membasahi bingkai foto itu.


"Jalani saja rev, Jangan takut dengan masa lalumu. Aku selalu disini, tepatnya di hatimu" reva kembali mengingat perkataan Hans.


"Iya mas, aku percaya mas selalu ada di hatiku" Reva mengecup foto pernikahannya itu.


Reva membaringkan badannya di samping vando, Tangannya menyisir rambut putranya itu.


"Mama sayang banget sama kamu sayang, Kamu bukti perjuangan mama melawan kerasnya dunia yang berusaha menolak kita" Ucap reva, berbagai memori lama kembali terputar. Mengandung dan Melahirkan anaknya seorang diri, bahkan membesarkannya pula.


"Selamat tidur, pangeran mama" Reva mengecup singkat kening anaknya. Tak lama kantuk menyerangnya dan tertidur.


Hari minggu seperti ini harusnya vano masih bergelud di bawah selimutnya, Namun tidak untuk hari ini.


"Duh.., ini jalanannya gak salah kan?" Tanyanya sendiri pada dirinya. Sebuah kompleks perumahan kecil, tampak masih sepi dan agak berkabut.


Mobil vano memasuki sebuah pekarangan rumah, Rumah minimalis dan sederhana.


"Benner ini rumahnya" Vano meyakinkan dirinya sendiri, kemarin dia mengantar vando sampai kesini tepat di rumah berwarna Putih ini.


Entah mengapa vano ingin terlihat Perfect saja, Setelah memantapkan hatinya akhirnya vano keluar dari mobilnya.


"Dingin banget" Vano menggosok-gosokkan telapak tangannya, berharap mendapatkan kehangatan.

__ADS_1


Sebelum mengetuk pintu , Vano berusaha menahan degupan jantungnya.


"Sialan ni jantung, gak bisa di ajak kompromi bentar apa!" Vano memegangi dadanya yang bergemuruh.


Dengan pasti tangannya mulai mengetuk pintu dengan cat putih itu. Ada suasana damai disini, berbagai jenis bunga yang tertata rapi dan bahkan di gantung makin menambah kesan asri rumah ini


Tok...Tok...Tok...


Reva yang mendengar pintunya diketuk, segera bangun dan mengikat rambutnya dengan karet. Jangan lupakan tampilannya yang sekarang hanya memakai daster batik.


"Walaikumsalam.." Teriak reva seolah menjawab salam, padahal tamunya itu saja tidak mengucap salam.


Ceklek..


"Iya sia-" Ucapan reva terhenti ketika melihat siapa tamu yang datang sepagi ini.


Vano terdiam kaku, melihat penampilan reva dari bawah sampai atas, Ada rasa hangat yang menyentuh hatinya tepatnya rasa rindu. Dulunya ada perempuan yang setiap hari lalu lalang di rumahnya dengan memakai daster.


Reva buru-buru kembali menutup pintunya, Tidak memberi kesempatan pada vano untuk bicara.


"Yah..yah,, Rev, buka!" Vano menggedor-gedor pintu itu. Namun sang empunya sudah menguncinya.


"Sial, kenapa pakek bengong sih!" Vano kesal sendiri pada dirinya.


"its Oke, Besok gue dateng lagi" Ucap vano sebelum pergi meninggalkan rumah itu.


Reva diam-diam melihat vano dari kaca jendelanya, Pria itu sudah benar-benar pergi, Entahlah reva hanya ingin melihat usaha pria itu namun nihil vano masihlah vano, pria yang tidak akan berusaha.


"Cih...Aku kira kamu akan usaha sedikit van" Kata reva, salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman miring meremehkan.


Berbeda dengan vano yang kini sudah dihadapkan dengan papinya, dan jangan lupakan janda yang dijodohkan lagi dengannya.


"Vano, ini kan hari minggu sana bawa grenda jalan-jalan" Suruh mahatma, Sedangkan vano sedari tadi hanya duduk dan diam.


Grenda memeluk lengan vano, pertanda sangat senang. Vano menjauhkan tangan grenda dari lengannya sungguh sangat risih.


"Vano capek," Tolak vano secara halus.


Grenda mengerucutkan bibirnya, Apa sih yang kurang darinya? Bahkan seluruh harta dan perusahaannya pun akan dia beri pada keluarga mahatma.

__ADS_1


"Ayolah van, Kita kan udah mau nikah. Masa kamu gak ada so sweat so sweat nya sih?!" Ucap grenda dengan nada manja dan dibuat-buat.


"Nikah? Lo aja kali sana" Vano bangkit berdiri, Mahatma menahan bahu vano yang hendak pergi.


Vano melepas tangan papinya itu dari bahunya.


"Udah papi aja sana yang nikah sama Tante grenda, Aku mah ogah pi" Tekan vano pada kata "Tante", Grenda memang lebih pantas disebut seperti itu, Umurnya pun terpaut lebih tua dibanding vano.


"Tante kamu bilang? Kit-" Omongan grenda terhenti ketika vano mengangkat tangannya pertanda menyuruh diam.


"Inget umur dong tan" Kata vano lalu segera pergi, papinya mengerang kesal sedangkan grenda menghentak-hentakkan kakinya.


Vano membuka sweater hitam yang melekat di tubuhnya, menyisahkan siluet tubuh atletisnya.


"Kenapa sih gue jadi penasaran banget sama tuh anak?" Gumam vano kemudian membaringkan badannya di atas kasur.


Senyumnya terbit ketika membayangkan reva, Aroma tubuhnya masih sama Bahkan masih suka menggunakan daster. Dulu vano sering melihat wanita berdaster batik-batik sebelum berangkat bekerja, Dan hal itu yang sedikit di rindukannya.


"Sial, kenapa gue jadi kepikiran gini sih? , Sadar!" Vano memukul-mukul kepalanya, berusaha menghilangkan bayangan reva dan anak itu dari isi kepalanya.


Reva mengaduk-aduk susu yang baru saja dia seduh untuk vando, Pandangannya lurus ke depan timbul banyak pertanyaan dalam hatinya.


"Kenapa vano tau rumah ini ya?"gumamnya mencari tau.


Vando yang sudah, menunggu susunya sedari tadi menatap sang mama kesal.


"Ma, Vando mau minum" Rengeknya,


Reva tersentak kaget, lalu tersenyum kikuk dan segera memberikannya pada vando.


"Diminum ya, supaya cepat besar" Kata reva, sembari meneguk segelas susu yang telah dibuatkan reva. Tangan reva mengusap-usap surai hitam putranya itu.


"Andai ,van kamu tau, Anak kamu sekarang sudah besar loh.., Dia mirip banget sama kamu" batin reva, namun semua kenyataan harus dia telan pahit. Nyatanya vano tidak pernah menginginkan vando, bahkan sudah menolak vando sebelum lahir ke dunia.


NOTE : Pendek ya?, hehe iya soalnya aku kehabisan ide. Makin kesini yang komen makin dikit kali ya,😿 Aku minta dukungan dong.


Jangan lupa komen buat semangatin author😿😿😿, Author lagi ikut seminar kepenulisan online loh, doain ya supaya dapet ilmunya banyak dan bisa aku bagiin ke kalian lewat ceritaku, okey?


•Kasih rating kalian dari 0-10 untuk part kali ini?

__ADS_1


•Gimana perasaan kamu ke vano?


Jangan lupa follow Akun Instagram author kalo mau liat si kecil vando, di @Merliancy.


__ADS_2