Sesalku

Sesalku
35.MENINGGAL


__ADS_3

"Anak adalah titipan berharga dari sang kuasa, Anak juga merupakan bonus dalam kehidupan sebuah pasangan, karena tak semua pasangan bisa memiliki anak. Jangan engkau sia-sia kan"


-Vano Mahatma-


Vano sudah berkali-kali memohon pada reva, seminggu tidak bertemu anaknya dirinya menjadi tidak bersemangat lagi untuk hidup. Reva pun masih kekeh menyembunyikan anaknya,


"Rev, Lo gak liat kesungguhan gua?, Nih belah dada gua supaya lo liat kesungguhan gua kalo perlu. Please gua pengen liat Vando" Mohon vano, Pagi, Siang, Malam tak ada waktu tanpa memohon bagi vano di hadapan reva.


Reva menghela nafasnya, sudah berapa ribu kali reva katakan bahwa dia tidak akan pernah mengatakan dimana anaknya.


"Nggak van. Kamu buang-buang waktu tau gak dateng kesini" Reva Masih tetap fokus di meja kasir,


"Lo belom maafin gue ya rev?, Kalo emang iya, gue mohon.."Vano meraih kedua tangan reva dan berlutut di bawah lantai. Reva membulatkan matanya, terkejut.


"Van.., Berdiri" Desis reva. Kepala vano menggeleng seperti bocah umur lima tahunan.


"Gue mohon, gue pengen liat anak gue" Mohon vano. Baiklah, Kali ini reva harus menyerah dulu pada vano. Reva melepas tangannya dari vano kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto vando.


Vano meraihnya kemudian melihat foto anaknya, Reva hanya bisa geleng-geleng kepala dengan vano yang kini bersimpuh di bawah lantai padahal ini adalah tempat umum.


Tangan vano menyentuh layar ponsel itu, Vano bisa melihat tawa anak itu. Jari jemari vano menggeser layar ponsel itu, Sungguh banyak foto-foto yang bisa vano lihat. Bahkan foto anak itu selagi masih bayi masih ada


"Kenapa ya, Dulu gue bisa-bisanya buang reva dan anak seimut ini. Rasanya gue nyesel banget" Batin vano, Bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu lebar.


"Van, Mendingan kamu pulang. Kalo nanti ada yang liat kamu disini, aku bisa dapat masalah" Kata reva, kemudian merebut ponselnya dari vano.


Ting...


Hans : Aku udah di depan resto, Pasti kamu udah kangen banget kan sama Vando?


Reva menggigit sudut bibirnya, bagaimana ini jika vano melihat anaknya.


"Yaudah, Gue pamit ya rev. Hehe maap ganggu" Vano mengedipkan sebelah matanya kemudian tersenyum manis pada reva.


Tanpa banyak bicara, reva meraih lengan vano yang hendak melangkah pergi.


"Kenapa?Hm?" Vano menoleh kemudian menyunggingkan senyumannya.


Wajah reva begitu tegang, Reva menelan ludahnya dengan susah payah.


"Ikut aku" Reva membawa vano keluar dari restaurant melewati pintu belakang. Karena jika lewat pintu depan bisa di pastikan vano akan melihat anaknya.


Vano merasa senang, Tangan reva yang semula berada di lengannya turun ke telapak tangannya menggenggamnya dengan begitu erat.


"Hehe takut banget gue hilang" Goda vano, Reva memutar bola matanya malas.


Setelah sampai di halaman belakang, reva segera melepas tangannya.


"Yah, kok dilepas sih?" Protes vano,


"Ha?!, Ya iyalah, Kamu sekarang mendingan pulang aja ya" Ucap reva. Vano mengernyitkan keningnya tidak mengerti, Kenapa harus lewat belakang? Kenapa tidak lewat pintu depan saja?, Vano menjadi curiga.


"Eummm....., E Maksud aku,pintu depan lagi di servis" Reva yang ditatap tajam buru-buru mencari alasan.


"Ooh. Yaudah, Gue balik dulu ya." Vano kemudian pamit, Reva segera masuk kembali tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Hmmm..., Gak akan gue cuci ni tangan Sebulan" Vano mencium aroma tangannya yang barusan di genggam reva. Senyumnya mengembang,

__ADS_1


Reva berjalan mendekati meja nomor 5, disana sudah ada hans yang memangku vando di pahanya.


"Mama!" Vando diturunkan oleh hans, Anak itu kemudian berlari menemui reva kemudian memeluk mamanya itu.


Hans ikut berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan keduanya. Nampak seperti keluarga bahagia, Vano memeluk reva dan hans.


Senyum vano luntur, Jadi ini alasan reva. Vano bisa melihat sendiri bahkan anaknya sendiri begitu senang bisa berkumpul lagi dengan reva dan hans.


"Miris banget gue. Ya, mungkin ini karma buat gue" Vano tersenyum miring, Tangannya terkepal kemudian segera pergi dari sana. Makin lama berada disana makin akan membuatnya sesak.


oo0oo


Malamnya, Vano sama sekali tidak bisa tertidur. Raganya memang kini sedang ada di kasur namun jiwanya digenggam oleh putranya.


"Arrrrgggghhhhh...., Gini amat ya karma buat gua!" Vano merubah posisinya menjadi duduk dan mengacak rambutnya pelan.


Mata vano melirik jam yang berada di dinding, Sudah pukul 2 dini hari. Vano sama sekali tidak bisa tertidur.


Tok...Tok....Tok........


Pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar, Vano menghembuskan nafasnya gusar.


"Masuk" Ucap vano dengan begitu lesu.


Grace masuk ke dalam kamar putranya, Benar firasatnya bahwa anaknya pasti sedang kesusahan untuk tidur. Di tangannya sudah ada segelas susu,


"Belum tidur nak?" Tanya Grace sambil meletakkan segelas susu tadi di atas nakas.


"Belum mi" Vano menyender pada kepala ranjang, Disusul oleh grace yanh ikut naik ke atas kasur kemudian mengusap rambut vano dengan jarinya.


"Hehe Mami sendiri kenapa belum tidur?" Tanya vano sambil tertawa kecil, untuk menghilangkan kecanggungan.


"Mana bisa mami tidur, Kalo anak mami aja gak bisa tidur. Asal kamu tau, Mami itu ikatan batinnya kuat banget sama anak mami" Ucap grace.


Vano mangut-mangut, Kemudian menyenderkan kepalanya di bahu maminyam


"Mami kenapa mau jodohin vano lagi?, Gak karena harta kan mi?" Tanya vano.


Grace tersenyum dan menganggukkan kepalanya,


"Mami gak pernah kepikiran kesitu malah. Mami pengen punya cucu dari kamu, Inget umur itu makin nambah, Kamu kan putra pertama keluarga kita harusnya kamu juga kasih pewaris buat perusahaan keluarga kita kan?" Jelas grace, Sepertinya vano bisa memanfaatkan maminya untuk menghentikan perjodohan ini.


"Mi, Kalo emang mami pengen cucu. Vano udah punya buat mami" Aku vano, Grace tercengang


"Maksud kamu?"


"Maaf mi, Dulu vano ninggalin reva dalam keadaan hamil anak vano" Akhirnya vano mengeluarkan kalimat rahasia yang selama ini dia pendam itu.


Grace tidak bisa menahan air matanya lagi, Dirinya terisak. Memori itu kembali lagi, Ketika reva diusir secara tidak hormat bahkan kedua orang tuanya tidak ingin mengakuinya lagi.


"Reva nggak pernah ngelakuin apa-apa di belakang vano mi. Mami, Please jangan jodohin vano, Vano pengen perjuangin reva lagi" Mohon vano, kedua tangannya menangkup pipi maminya,


"Hiks..." Grace terisak, Vano membawanya masuk ke dalam pelukannya. Rasa tenang dan lega setelah menceritakannya adalah hal yang kini vano rasakan.


"Mami jangan nangis lagi. Anak vano itu namanya Revando, Dia ganteng kayak Vano mi, Tingginya sekitar segini" Vano mengambangkan tangannya di atas udara memberi gambaran pada maminya.


"Hiks..Mami gak nyangka, Kamu ini ternyata udah orang tua!" Cibir grace. Vano tertawa receh, Malam itu vano menjadi bocah lagi tidur bersama maminya lagi.

__ADS_1


 


oo0oo


 


Sesuai dengan ucapannya semalam, hari ini vano sudah stay di depan Restaurant reva. Ketika hendak turun, senyum vano mengembang ketika melihat seorang anak laki-laki yang tengah asik mengusap-usap bulu kucing yang ada di tengah jalan.


Tin.....Tin...


Sebuah truk melaju dengan kecepatan sedang dari sisi kanan jalan, Vano tidak tinggal diam dia segera berlari.


"Vando!" Vano berusaha berteriak menyuruh anak itu pergi, namun vando rupanya masih asik dengan kucing itu.


Detik terakhir, akhirnya vano berhasil mendorong anaknya ke sisi jalanan. Vano hendak ikut berguling ke pinggir jalanan namun sayang, waktu telah habis mobil tadi menyambar dirinya.


"Akh..,Sakit huaaa..." Vando menangis di sisi jalan, Pengemudi tadi tetap melajukan mobilnya dan tidak bertanggung jawab.


Tubuh vano seolah mati rasa, darah keluar dari mulutnya, kepalanya bocor, Dan masih banyak lagi.


Vando mendekat pada vano, sambil mengusap air matanya. Vano menyunggingkan senyumnya


"Uhuk...ja-jangan Na..Uhuk , Nangis" Vano terbatuk darah, tubuhnya terlentang di jalanan karena terseret.


Tak lama reva keluar bersama hans ketika melihat banyak orang yang berkerubung di tengah jalan.


"Itu kenapa mbak?" Tanya reva pada seorang ibu-ibu,


"Ih ngeri mbak, Korban tabrakan" Ujarnya.


Vando keluar dari lingkaran manusia itu, tangannya dipenuhi darah.Dirinya menarik-narik tangan mamanya,


"Mama, Hiks...Om vano" Reva segera membelah kerumunan. Air matanya seketika turun ketika melihat siapa yang berlumuran darah


"Van?, Bangun...Kamu nggak boleh nutup mata" Reva memangku kepala vano yang terus saja mengeluarkan darah.


Vano telah menutup matanya sejak tadi, Seseorang mencoba mengecek nadinya, dan deru nafas di hidungnya.


"Inalillahi" Ucapnya karena nadi vano sudah hilang, deru nafasnya juga sudah tidak terasa.


Degggg.....


Note:


•Heheh Gantung banget ya?


•Yang udah follow instagram aku pasti udah tau dong ya judul part kali ini, o yah buat yang belum follow yuk buruan di follow karena aku bakal selalu posting bab baru di Instagram aku.


@Merliancy_


• Satu kata buat :


>Reva


>Author Imut (wkwkwkk)


•Sesuai janji aku, Aku update tiap pagi. hehe masih jam 11 nih kalo disini.

__ADS_1


__ADS_2