
"*Air mata itu datang dari hati yang tersakiti, bukan dari mata "
-Reva Elkana*-
Vano meminta seluruh buku rekening, kartu ATM, Kartu Kredit, dan seluruh uang tunai yang ada di dompet reva. Mau tidak mau, suka tidak suka, reva harus tetap memberikannya karena kalau tidak reva pasti akan dikasari oleh vano sampai vano mendapatkan apa yang dia mau.
"Mulai sekarang duit gue yang atur, jadi lo gak akan bisa belanja boros-boros!" Bentak vano. Padahal selama ini yang boros-boros adalah vano, sebagai contoh saja membeli Soft Drink berpuluh-puluh krak yang ujung-ujungnya hanya akan Mubadzir.
"Iya" jawab reva singkat sambil menundukkan kepalanya. Vano tersenyum penuh kemenangan dan bangkit dari duduknya menuju kamar.
Reva yang hendak ke dapur dihentikan oleh suara bel rumah dari depan, reva berlari kecil tak ingin membuat tamunya menunggu.
Ceklek...
"Ada paket, untuk bu reva" Ternyata yang datang adalah kurir paket.
"Saya sendiri mas" Ucap reva dengan begitu ramah.
"Mohon ditanda tangani". Reva meraih formulir pengambilan paket lalu ia tanda tangani.
Kurir tersebut memberikan Amplop undangan berwarna merah maroon, senyum reva merekah kala mengetahui itu adalah undangan respsi pernikahan arumi, sahabat SMA nya. Yang menjadi dilema kini adalah bagaimana caranya meminta izin pada vano.
"REVA, BIKININ GUE KOPI, SEKARANG!" Teriak vano dari atas kamarnya, reva hanya bisa mengusap dadanya pelan, vano tidak pernah menyuruh dengan baik selalu saja berteriak atau membentak pada reva.
Tangan reva meletakkan undangan tadi di atas meja di dalam kamarnya, reva beranjak ke dapur untuk membuatkan vano kopi.
Ting...
Suara ponsel reva membuatnya berhenti mengaduk kopi panas, dan beralih mengetikkan balasan untuk pengirim
Rafi
•Nanti berangkat bareng ya
You
Km di undang juga?. Boleh aku mau
Rafi
•iyalah, masa si arum kagak
Undang cowok ganteng se SMA
Dulu sih.
You
Suka-suka km aja sih.
Rafi
•Dandan yg cantik ye 😌
Tangan reva hendak mengetikkan balasan lagi, namun sepertinya vano sudah menunggu terlalu lama dan bahkan kini berteriak lagi.
__ADS_1
"REVAAAAAA!" Teriak vano.
Reva segera memasukkan ponselnya ke dalam saku , lalu membawa kopi tersebut ke atas kamar vano.
Tok...Tok...
"MASUK!" Ucap vano dari dalam, reva menekan knop pintu lalu berjalan ke arah nakas lalu meletakkan kopi buatannya tadi.
"Kenapa sih, lo lelet amat?!" cibir vano yang tidak dijawab oleh reva.
"SETRIKAIN PAKAIAN GUE!" Vano menunjuk setelan jas yang di gantung di depan almari,
"Mau di pakek kapan?" Tanya reva
Vano memejamkan matanya emosi dengan pertanyaan reva, tidak mungkin juga vano akan memakainya tahun depan. Dasar reva dia memang bodoh atau idiot?
"BURUAN!" Bentak vano yang membuat reva terperanjat kaget dan segera melakukan pekerjaannya.
Sedangkan vano kini masih berkutat fokus dengan laptopnya, sesekali mendesah jengkel ketika hasil rekapitulasinya yang salah. Hingga tangan vano meraih ponselnya lalu mengetikkan pesan untuk bella pacarnya
You : Sayang.., nnti malem sibuk gak?
Bella💕: nggak kok sayang, kenapa emang?
You : temenin aku, ke nikahan temen aku ya syg..
Bella💕: hahah emang istri udik km itu gak mau km ajak?
You: ogah aku mah syg, yang ada aku malu bawa si udik.
Bella💕: Oke aku mau, tp jemput ya
Setelah memastikan pasangan yang akan dia bawa ke pernikahan sahabatnya nanti malam itu, vano segera mengecek jam tangannya dan sebaiknya kini dia harus segera bersiap-siap agar bisa menjemput bella dan tidak terlambat ke pesta.
Vano beringsut turun dari kasur dan melihat reva dengan telatennya menyetrikakan pakiannya.
"Awas sampe ada yang kusut, siap-siap tidur di teras!" Ancam vano. Reva bergidik ngeri begitulah vano semua tabiatnya pasti akan ia lakukan dan semua itu tidak main-main.
Reva akhirnya mengurungkan niatnya untuk memberitahukan vano perihal dirinya yang akan menghadiri pesta nanti malam, karena melihat pria itu begitu sibuk dan takut mengganggu. Setelah selesai menyetrika baju vano hingga tidak kusut sama sekali, reva turun ke kamarnya untuk memilih pakaian yang akan dia kenakan nanti malam.
Gaun berwarna pink yang begitu manis, dan pas di tubuh reva akhirnya menjadi pilihan reva untuk dia pakai nanti malam. Reva merebahkan tubuhnya di atas kasur hingga tertidur lelap.
Kali ini reva begitu bimbang, akan ke pesta atau tidak. Bagaimana tidak, reva harusnya sudah meminta izin sedari tadi pada vano tapi reva malah ketiduran dan ketika reva akan meminta izin pria itu sudah tidak ada.
"Gimana rev?" Rafi mengusap punggung sahabatnya itu,
"Aku belum minta izin sama vano, fi.." Lirih reva.
Rafi tersenyum senang andai saja dia yang kini berstatus sebagai suami reva pasti dia akan begitu bahagia, bayangkan saja reva sampai begitu gelisah cuma karena belum pamit pada suaminya.
"Telfon aja ntar di jalan, daripada kita telat kan?" Usul rafi, dan akhirnya reva mau mengikuti usul rafi itu.
Namun sayang, nomor telfon vano sangat sulit dihubungi, bahkan sempat masuk tapi tidak diangkat oleh vano.
"Fi, vano gak angkat" Ucap reva dari jok mobil sebelah rafi.
__ADS_1
"Yaudah sih, salahnya gak angkat" Jawab rafi, setidaknya reva cukup tenang dengan kata-kata rafi barusan.
Di sebuah ballroom hotel, vano mennggandeng bella di sampingnya lalu berjalan ke arah meja khusus sahabat-sahabat mempelai.
"Ohooo vano, makin keren aja lu" Puji bima lalu menyalami vano dan bella bergantian.
"Iya dong" Jawab vano lalu beralih pada teman-temannya yang lain.
Bima melihat penampilan bella dari bawah sampai atas yang begitu sexy, bima iseng-iseng mengedipkan sebelah matanya menggoda bella, dan diluar dugaan bella juga membalasnya.
Setelah sekian lama berbincang-bincang akhirnya vano mengedarkan pandangannya, sungguh pestanya sangat meriah dan glamour. Mata vano memicing melihat siapa yang baru saja datang, dengan seorang pria di sampingnya dan itu adalah reva.
"Sial" gumam vano, tangannya terkepal bukan karena cemburu tapi karena tidak suka dengan reva yang pergi tanpa seizinnya.
"Bel, Aku ke toilet dulu ya sayang" pamit vano yang langsung mendapat anggukan dari bella, sebelum pergi vano mengecup pucuk kepala bella
Lain dengan bella yang bisa mencuri-curi perhatian bima sahabat vano, yang nampak menyukainya dari awal itu.
Rafi dan reva memasuki ballroom hotel itu, Kesan pertama yang mereka dapati adalah kemewahan.
"Rev, Gue mau ambil minum, lo mau nggak?" Tawar rafi
"Boleh. Samain aja ya" Jawab reva
Rafi mengacungkan jempolnya lalu segera pergi dari hadapan reva. Sepertinya dewi fortuna dan keberuntungan sedang berpihak pada vano. Dengan gesit vano menarik tangan reva masuk ke dalam lingkaran dansa yang membuat reva terpekik kaget.
"Va-vano?" Reva tidak percaya akan bertemu vano.
Tangan vano meraih pinggang istrinya itu, lalu meletakkan kedua tangan reva di pundaknya. Dan berbisik,
"Iya sayang,, kita main-main dulu ya" bisik vano pada mangsanya itu, lalu memulai dansa mematikannya.
Dari pandangan orang-orang mungkin mereka adalah pasangan dansa yang serasi, tapi siapa sangka kini reva sedang menahan sakit di pinggangnya yang dicubit habis-habisan oleh vano dan reva yakin kini pinggangnya sudah membiru.
"Gue udah bilang, jangan main-main sama gue!" Desis vano
"Akh...aw...sssakkit van" rintih reva lagi ketika vano, makin brutal mencubit pinggangnya.
Rintihan reva itu lebih mirip nyanyian malaikat yang begitu indah di pendengaran vano. Senyum miring menghiasi wajah vano,
"Masih mau keluar tanpa izin gue?" tanya vano, reva tak menjawab dan justru mencengkram kedua pundak vano seolah meminta dilepaskan karena sudah begitu sakit.
"Ck! Kalo gue nanyak itu jawab!" Vano makin menekan cubitannya,
"ng-nggak" jawab reva singkat berharap cubitan vano pada pinggangnya itu cepat lepas.
"Sekarang, lo langsung pulang, dan tunggu hadiah gue di rumah ya sayang.." Ucap vano lembut lalu menyampirkan anak rambut reva yang menutupi wajah reva yang sudah berkeringat dingin itu.
"I-iya" jawab reva lagi.
"Yaudah, sana pergi!" Bentak vano, reva buru-buru pergi. Dari kejauhan vano masih bisa mengawasinya apa benar-benar pergi atau tidak, Reva pergi melalui pintu darurat dan akhirnya keluar.
Setelah mengetikkan pesan pamit untuk rafi bahwa dirinya ada urusan mendadak, kini reva harus berjalan kaki ke rumah masih dengan rasa sakit lebam yang ada di pinggangnya.
Reva harus berjalan kaki, karena benar-benar sudah tidak memiliki ongkos tadi sore semua uangnya telah dia serahkan pada vano. Air mata reva meluncur turun ke pipinya, takut dengan iming-iming hadiah penyiksaan vano yang akan ia terima nanti di rumah.
__ADS_1
Note : **Jangan lupa vote dan coment, untuk part ini.
Question : • Siapa pemain favorit kamu**?