
Katakanlah gejolak jiwa muda seorang gadis remaja sedang bermekaran. Keinginan besar untuk berkenalan, kencan buta hingga berpacaran selalu tidak dapat terbendung. Segala aktifitas tersebut banyak dilakukan oleh gadis yang akan memasuki fase umur dewasa.
Disinilah Shenna dan sahabatnya Rara, duduk di sudut restoran terbaik di mall untuk menemui kencan butanya Shenna. Bukan karena kepo atau ikut campur Rara ikut terseret dalam acara ini, tetapi karena dipaksa oleh Shenna untuk menemaninya.
"Gua takut diculik, ini orang udah umur 29 tahun Ra!" Alasan Shenna memaksa Rara untuk menemaninya.
"Yahhh kalo takut kenapa kenalan, kenapa juga lu setuju diajak ketemuan cumi?!"
Rara sebal karena malam minggu merupakan jadwalnya berkencan dengan pacarnya dan itu gagal total.
"Ssstt udah diem!" Shenna meminum minumannya dan mengamati sekitar.
Entah apa pikiran Shenna saat itu, mungkin dia sedikit jealous Rara sudah punya pacar, atau mungkin dia juga ingin merasakan asiknya berpacaran selama masa kuliah. Apapun itu alasannya Shenna sekarang sudah terseret untuk melakukan kencan buta ini.
Tiba-tiba munculah lelaki perawakan gemuk besar, memakai kemeja lengan pendek motif kotak kotak dan celana cargo sebetis. Ditambah memakai sendal modelan untuk bapak bapak yang suka nongkrong di warung kopi dan meminum kopi panas dari piringya.
Sebenarnya fisik bukan persoalan besar untuk Shenna, tapi siapa juga yang menolak lelaki keren. Tapi pria ini di hadapannya
Duhhh penampilannya bentrok sekali!
"Shenna yah??" Sapa pria besar itu yang bernama Anton.
"Ehh iyaaaa gua Shenna." Shenna berusaha untuk tersenyum ramah.
Rara hanya tersenyum pias sambil menyikut lengan Shenna dibawah meja.
Ga salah ini pilihan Sheii????
'Fisik gak penting amad lah, yang penting dia baik, bertanggung jawab dan yang paling utama nyambung sama gua.' Itu yang Shenna ucapakan pada Rara sebelum menyeret Rara dalam kencan buta ini.
*Y*aaah sih fisik ga penting tapi jangan gini gini amat sih Sheiii! ini mah cocoknya lu jodoin sama tante tetangga gua noh yang perawan udah kelamaan!!
Setelah mempersilahlan Anton duduk, mereka berkenalan secara resmi dan berbasa basi mengobrol lalu memesan makanannya.
Berbasa basi disini bukan hanya sekedar berbasa basi tetapi Anton ini memang tipikal pria basi!!!
Shenna merasa jengah dan ingin cepat-cepat mengakhiri pertemuan ini.
Puncak ke-illfil-an pun terjadi saat makanan yang di pesan Anton tiba, pria itu memesan set 1 ekor ayam taliwang yang pedas beserta nasi untuk dirinya. Tidak ada masalah pada ayam dan nasi itu, tetapi masalahnya lebih kepada cara makan Anton yang sangat sangat sangat berantakan.
Wajah Shenna dan Rara tersenyum pias dan sangat dipaksakan untuk bersikap normal, terlebih saat Anton masih berusaha untuk mengobrol sambil makan padahal dirinya sudah sangat kepedasan akibat ayam berbumbu itu. Bibir Anton membengkak merah, keringat bercucuran, tangan yang penuh dengan bumbu ayam, sesekali pria itu menyeka keringat di jidatnya dengan lengan yang bersih.
Shenna dan Rara sungguh sudah tidak bernafsu untuk melanjutkan makan makanan mereka karena disuguhi pemandangan seperti itu di depan mereka.
__ADS_1
Saat menunggu momen untuk pergi tak kunjung tiba, namun sperti melihat padang di gurun pasir dan langsung terbesit ide cemerlang Rara saat melihat lelaki melintas melewati meja mereka yang tak lain tak bukan adalah teman semasa sekolah Rara.
"Jansen!!!!!" Rara berteriak kegirangan menyapa pria itu seperti menemukan penyelamatnya.
Sontak disaat bersamaan Shenna, Jansen dan Anton juga saling bertatap.
Kalian pernah merasakan indahnya jatuh cinta pada pandangan pertama? Ada perasaan menggelitik diperut kalian, yang mungkin seperti dikatakan orang banyak, butterfly in my stomach.
Tatapan mata Jansen menjurus masuk ke dalam mata Shenna begitu juga sebaliknya, dalam diam mereka saling tahu, mungkin akan ada kisah yang akan segera dimulai.
****
Tidak begitu jelas diingatan Shenna apa yang terjadi selanjutnya saat itu, yang jelas terjadi adalah Rara dan Shenna berpamit pada Anton dengan alasan apa juga Shenna lupa, mereka melanjutkan hari itu dengan berjalan di mall dan menertawakan kesleboran Shenna berkenalan dan berkencan buta dengan seorang pria tipikal Anton.
Entah apa jadinya jika Shenna pergi menemui Anton sendiri saat itu, sungguh pilihan yang bijak untuk menyeret Rara.
Dan setelah kejadian itu, di malam harinya Jansen mengubungi Shenna.
"Dapat nomor kamu dari Rara." katanya saat itu.
Shenna berbunga bunga, dia tau Jansen merupakan sosok tipenya saat itu, benar benar tipikal Shenna banget istilahnya.
Hubungan Jansen dan Shenna terbilang sangat mulus dan berlangsung cukup lama diantara dua nama lainnya, you all know who they are.
Shenna dan Jansen seperti saling cocok dan mengisi satu sama lain. Kencan kencan berdua yang dilakukan, pergi ramai ramai bersama Rara dan teman lainnya, dan berbagai kegiatan Jansen dan Shenna lakukan hampir setiap hari seperti berpacaran sungguhan.
Jansen tidak pernah menghubunginya duluan, selalu Shenna yang memulai. Balas chat juga mulai lama.
*A*aaah terjadi lagi.
Shenna memang belum ditakdirkan untuk bertemu jodohnya mungkin.
Dan puncaknya terjadi saat Shenna berulang tahun, Jansen mengucapkan selamat ulang tahun via chat. Disitulah Shenna memberanikan diri untuk bertanya,
Shenna
"Aku ada salah yah?"
Jansen
"Gak ada Sheii. kamu wanita baik sungguh. Tetapi beberapa hal aku kurang nyaman dengan sifat kamu yang suka mengeluh. Mungkin aku aja yang kurang nyaman dan kita ga bisa sedekat dulu. Ini bukan salah kamu."
"Ok."
__ADS_1
Hanya itu yang Shenna bisa jawab saat itu. Shenna tau dia sangat kecewa, padahal keluhan yang Shenna sering ceritakan pada Jansen setiap harinya itu merupakan bentuk 'manja' dan kepercayaannya pada Jansen.
Jansen menjadi satu-satunya laki-laki yang mundur dengan mengkonfirmasi bahwa PDKT tidak bisa berlanjut dalam hidup Shenna, selesai dengan Shenna menghapus nomor pria itu dan moved on.
****
Shenna menyeret kakinya dengan sangat berat kembali keruang meeting.
isi pesan dari kevin memaksanya untuk kembali.
Kevin
"Kembali kesini sekarang juga Na!!"
*Ke*napa ini harus terjadi??
Shenna meratapi nasibnya.
"Permisi.." Shenna masuk setelah mengetuk pintu dan duduk kembali ke bangku keramat itu.
Jansen melihat pergerakan yang Shenna lakukan dengan mengulas senyum tipisnya. Semua itu disadari oleh penglihatan kevin.
Ada apa dengan dua orang ini - Kevin
"Ehmmm! Mari kita teruskan pembicaraan yang sempat terputus tadi." Kevin memecah keheningan yang terjadi.
Meeting berlangsung sukses, Shenna mempresentasikan company profile dengan sangat baik.
Kevin beberapa kali menangkap basah Jansen sedang menatap Shenna dalam dan penuh arti, Kevin bukan lelaki lamban untuk menyadari bahwa Jansen sepertinya sangat tertarik dengan Shenna. Dia menjadi sedikit menyesal mengajak Shenna untuk meeting dengan Jansen.
*T*au gitu tadi Rara aja yang menggantikan Nana.
"Baik kita akan mengatur lagi pertemuan selanjutnya untuk membahas profit kesepakatan ini jika Pak Jansen setuju untuk bekerja sama." Kevin menutup meetingnya.
*Se*belum ada interaksi lebih jauh Shenna harus gua jauh jauhin dari nih manusia dulu!
"Na.." Kevin melirik Shenna, "kamu sudah boleh turun kebawah untuk kontrol check dengan EO yah sekarang." Penekanan kata sekarang oleh Kelvin disambut baik oleh Shenna yang langsung berpamitan undur diri.
Terlihat lagi raut muka Jansen yang kecewa Shenna pergi dari ruangan itu. Dan lagi lagi Kevin menangkap gelagat Jansen yang menyakitkan matanya.
Jansen langsung berbalik arah menghadap Kevin dan bersalaman dengan Kevin.
"Saya akan langsung menyetujui kerja sama ini, kita tanda tangan kontrak sekarang juga. Dengan syarat..." Jansen diam sebentar dan menghembuskan nafasnya. "Ibu Shenna yang akan mengorganisir kerjasama hingga peluncuran produk ini diperusahaan saya." Tegas Jansen.
__ADS_1
Sudah kuduga..... tidak semudah itu ferguso.
Kevin menatap dalam mata Jansen.