Shenna Love

Shenna Love
Jealous (2)


__ADS_3

Hari jumat pagi ini Shenna datang begitu awal ke kantor, arlojinya masih mununjukan pukul 07.10. Hampir semalaman dia tidak tidur, mungkin baru tertidur pukul 02.00 subuh dan terbangun pukul 05.00, matanya sayu, langkahnya gontai. Shenna tiba keruang kerjanya bersamaan dengan OB yang akan membersihkan ruangannya pagi ini.


"Eh. Pagi bu Shenna.. Datang awal sekali? Maaf saya baru saja ingin membersihkan ruangan ibu." Pak Alif OB yang sudah bekerja 10 tahun lamanya diperusahaan ini baru saja akan masuk kruang Shenna dengan janitor trolley nya.


"Pagi pak Alif, iya gak apa apa silahkan bersihkan ruangan saya dulu. Saya mau turun sarapan aja. Terimakasih pak."


Shenna duduk termenung disalah satu meja cafe dibawah gedung kantornya, ingatannya melayang soal tadi malam. Bukan hanya candaan, Steve benar benar datang ke apartemennya.


Flash back on


Shenna sudah sangat lelah seharian bekerja di kantor, tidak perlu waktu lama untuk dia bisa pulas tertidur setelah makan malamnya, suara bel pintu apartemen menganggu tidur nyenyaknya.


Mungkin karena terlalu teler dan tidak fokus Shenna lagi lagi hanya membuka pintunya tanpa mengintip di door viewer siapa yang datang.


Begitu pintu terbuka, Shenna tersikap dan sadar seketika. Steve hanya tersenyum sangat manis melihat rambut Shenna yang berantakan dan tubuh ramping Shenna dalam balutan baju tidur lucunya.


Karena mungkin juga sudah malas untuk berdebat, Shenna hanya ingin ini cepat berlalu dan selesai. Mungkin setelah menjabarkan apa keinginannya, Steve tidak akan mengganggu hidupnya lagi pikir Shenna.


Shenna hanya berjalan untuk duduk di sofa dan membiarkan pintu terbuka lebar, menandakan isyarat bahwa Steve boleh untuk masuk bertamu.


Karena tidak ada penolakan dan pengusiran justru membuat Steve melangkah ragu ragu untuk masuk, Steve menutup pintu dan dengan canggung duduk di sofa sebelah Shenna tentu saja dengan menjaga jarak aman agar Shenna tidak menyemprotnya malam ini.


*Kemaron masuk gak tau malu pake acara meluk. Sekarang malu malu mau duduk juga*.


Shenna memandang Steve dengan malas.


"Ada keperluan apa anda kemari?" tanpa basa basi Shenna bertanya.


Steve hanya tersenyum dan menatap Shenna dalam.


"Kamu mau kan denger penjelasan aku soal kejadian dulu?" Steve berancang untuk mendekat memangkas jarak antara dirinya dan Shenna.


Shenna menghela nafasnya kasar sebelum berbicara. "Kalau saya bilang tidak tertarik juga anda akan terus menganggu saya kan dokter Steve? Anda juga tidak akan membiarkan saya hidup tenang kan? Jadi buat saya sama saja tidak akan terjadi apa apa. Dan untuk menghargai usaha anda silahkan saja cerita dan akan saya dengarkan." Desis Shenna dingin.


"Dan tolong, jaga diri anda dijarak seperti ini, saya tidak berselera untuk berdekatan lebih dari ini dengan anda." Lanjut Shenna.


Steve tersenyum simpul melihat Shenna yang memandang sinis padanya.


"Rio bercerita sama aku soal waktu itu, dia bilang kamu.."


"Owh masih hidup manusia itu??" Potong Shenna.

__ADS_1


Steve hanya diam tersenyum tipis Shenna memotong ceritanya. "Lanjutkan saja.." Shenna bersedekap.


"Rio cerita bahwa kamu menelfon dia, dan Rio bilang ke kamu bahwa aku lagi ngambek ngerayu pacar aku.. iya kan?" Shenna malas untuk menjawab pertanyaan Steve.


"Kenyataannya adalah aku memang sedang berdebat dengan Villy, dia mengadu ke orang tua aku bahwa aku putusin dia. Karena pada saat itu aku akan berangkat ke Jerman untuk melanjutkan studi 2 minggu lagi yang dimana semua biaya kuliah aku masih menjadi tanggung jawab orang tuaku saat itu. Dan mama marah besar karena aku putusin Villy, sampe handphone aku di ambil alih mereka sehingga aku sulit hubungi kamu."


Steve menghela nafas panjang sebelum lanjut bercerita. "Villy bilang sama mama bahwa aku selingkuh dan mencampakan dia. Padahal kenyataannya aku udah break sama Villy jauh sebelum aku ketemu kamu. Dan akhirnya kami tetap berangkat kuliah ke Jerman setelah mama mengultimatum aku, tetapi status kami tidak lebih dari itu, hubungan yang terpaksa dan putus sambung lebih dari 10x selama kami d Jerman. Dan akhirnya 6 bulan yang lalu sebelum aku kembali kesini aku memutuskan secara resmi hubungan aku sama villy dan memberitahukan pada mama bahwa hubungan ini tidak lagi bisa dipaksakan karena aku..."


"Stoppp...!" Shenna mengangkat tangannya menginterupsi cerita Steve.


Shenna mendengus kasar. "kehidupan kamu yang kamu ceritakan ini ga ada sangkut pautnya sama aku.." Tanpa sadarpun Shenna sudah ber- aku kamu dengan Steve..


Steve yang sadar Shenna sudah bersikap tidak formal lagi padanya lalu tersenyum. "Karena aku bilang sama mama aku udah jatuh cinta sama gadis cilik 7 tahun lalu. Dan aku pulang kesini lagi buat ngejar cinta dia lagi. Maaf aku gak pernah bilang soal lanjut kuliah ke Jerman saat itu, berbagai alasan akan terdengar klise tapi, aku menjamin kalau perasaan aku sungguh sungguh sama kamu baik itu dulu maupun sekarang."


Flash back off


Shenna memangku kepalanya dengan lengannya, jujur saja dia sangat bingung dengan sikap Steve. Pria itu menjadi agresif dan berani berbeda dengan Steve yang dulu dia kenal. Steve juga secara terang terangan menunjukan obsesinya pada Shenna, terbukti malam tadi sebelum pulang Steve dengan berani mencium pipi Shenna dan berbisik untuk segera memutuskan pacarnya.


*Gilaaa gilaa.. pipi gua main disosor ajah! Lengah dikit bisa bisa bibir gua jadi sasaran.


Shenna mendengus sebal


Tapi dia beneran ngira kalau Kevin itu pacar gua apa yah?? Aaah bodo aaah pusing*.


Tiba tiba handphone Shenna bergetar, Rara yang menelfonnya. "Halo .. kenapa Ra?"


"Sheii! Lu dimana? Kok tas lu ada diruangan tapi lu gak ada? Ini udah jm 08.20, lagian tuh pak bos nyariin lu Sheii. Disuruh keruangannya SEKARANG!"


Shenna melirik arlojinya "Yah ampun udah jam segini aja.. yaudah gua naik dulu deh.. Bye Ra."


Shenna memutuskan telefonnya dan bergegas naik keruangan Kevin.


Begitu Shenna tiba diruangan Kevin, baru saja akan mengetuk pintu bersamaan dengan Daniel yang membuka pintu untuk keluar.


"Masuk saja Nona Shenna. Pak Kevin sudah menunggu sedari tadi."


Shenna hanya tersenyum kecut dan segera masuk.


"Na.. bersiap yah 30 menit lagi kita berangkat."


Kevin tengah sibuk berkutat dimejanya tanpa memandang kearah Shenna karena sudah tau wanita itu yang masuk kedalam ruang kerjanya.

__ADS_1


"Berangkat? berangkat kemana pak?" Tanya Shenna bingung.


Kevin seketika langsung mengankat kepalanya dan memandang Shenna tajam, menusuk. Shenna menelan ludahnya kasar, sadar kenapa Kevin demikian langsung membenarkan ucapannya.


"Ki..kita mau kemana Kev?"


"Ke perusahaan mantan gebetan kamu itu, GIANT OCEAN TEXTILE. Masih ingatkan dia maunya kamu yang mengurus perjanjian kerjasamanya?" Tegas Kevin.


Shenna hanya tersenyum pias.


Sepanjang perjalanan menuju perusahaan Jansen, Kevin tidak berhenti memberi ultimatum pada Shenna.


"Jangan genit liatin Jansen terus nanti."


"Hapus itu lipstik kamu, gak usahlah make up!"


"Nanti gak usah banyak bicara biar aku aja."


"Kenapa pakai rok sih??? kamu gak punya celana bahan?"


Dan banyak lainnya yang hanya ditanggapi malas oleh Shenna.


Lu pikir lu siapa masbrohhh????!!! Suruh gua gak boleh ini itu!!! Tetapi jeritan itu hanya sampai didalam hati Shenna saja.


Begitu sampai diperusahaan Jansen, mereka diantar untuk memasuki ruangan meeting yang disediakan khusus untuk tamu penting Jansen.


Kevin berjalan lugas memasuki ruangan yang sudah ada Jansen didalam untuk menunggu mereka tak lupa juga Kevin menautkan tangannya pada jemari Shenna seolah ingin menunjukan kepemilikannya, Shenna bebisik pelan pada Kelvin


"Lepasin Kev, gak enak dilihat orang." Sambil berusaha melepaskan tangannya. Dan Kevin terlalu acuh, mengabaikan kata kata Shenna malah terus mengeratkan genggaman tangannya.


"Saya tidak mengira bahwa orang sesibuk Pak kevin bersedia menemani bawahannya hanya untuk mengurusi perjanjian kerjasama kecil ini dengan perusahann saya. Silahkan duduk pak Kevin dan... Shenna." Jansen seolah ingin memprovokasi Kevin karena ketidaknyamanannya melihat Shenna digandeng erat oleh kevin tetap tersenyum sangat manis untuk Shenna.


Shenna yang canggung hanya bisa mengangguk dan membalas tersenyum tipis, sekilas dia merasa hawa dingin menyerang tengkuknya,


*G*ilaaa itu mata bentar lagi keluar!!!! Selow pak selow... Shenna menelan kasar ludahnya mendapati Kevin memelototi dia dan memasang wajah menyeramkan karena balas tersenyum pada Jansen.


"Sesibuk apapun tentu saya akan menyempatkan waktu untuk perjanjian kerjasama ini, terlebih saya harus menjaga yang berharga buat saya ini." Kevin tersenyum puas sambil menepuk pelan bahu Shenna.


Jansen menatap dalam mata Kevin dan sebaliknya Kevin juga menatap penuh arti pada Jansen. Dalam diam mereka berjibaku dengan tatapannya masing masing.


Shenna yang merasa terjebak situasi yang tidak mengenakan ini hanya ingin ini cepat selesai dan menghabiskan akhir pekannya dirumah mamanya tersayang.

__ADS_1


Tuhannn tolongin Nana!!


__ADS_2