
Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela kamar rumah sakit, menembus hangat meski suhu ruangan kamar cukup rendah. Kamar Vip yang diperuntukan khusus keluarga Aldjaya mempunyai fasilitas lengkap dan ruang ramu hingga kamar tunggu pasien yang nyaman. Entah karena silau cahaya matahari atau memang sudah saatnya Steve bangun dari istirahatnya kemarin pagi, pria itu mengerjapkan matanya perlahan. Sakit dikepalanya dan rasa sesak di dadanya masih dapat dia rasakan, dia menggerakan tangannya, sedikit terkejut karena ada jarum infus terpasang seolah belum sadar dengan keadaan. Steve menatap sekeliling ruangan dan segera sadar dia berada di kamar perawatan.
Dia memegang keningnya dengan tangan yang bebas, *S*heii..
Nama itu masih saja memenuhi benak dan kepalanya karena merasa tersadar sudah berapa hari lamanya dia tidak bertemu kekasihnya itu.
"Sudah sadar? Apa yang kamu rasain? Tidak nyaman dimana?!" Suara pintu terbuka dan Villy masuk dengan raut bahagia bercampur cemas.
Steve mengerutkan alisnya sesaat,
"Shock hipovolemik, kamu dehidrasi berat." Villy berjalan mendekat dan memberi informasi seakan bisa membaca pertanyaan dalam kepala Steve.
"Aku panggil suster buat cek tensi kamu dan aku periksa kamu yah." Villy menekan tombol untuk memanggil suster dan meraih stetoskop milik Steve diatas nakas samping tempat tidur.
Steve manahan tangan Villy meski masih sedikit lemas tetapi dia cukup sadar, "Tidak." Lalu menghembuskan nafas perlahan mengatur pasokan oksigen,
"Nanti biar dokter Christian yang periksa aja."
Meski dilontarkan dengan halus tetapi Villy tau itu kalimat penolakan nyata, dan Villy hanya tersenyum tipis mengangguk menutupi rasa sakit hatinya.
Tidak lama suster masuk dan memecah kecanggungan diantara mereka,
"Dok, ini tensinya sudah normal yah 115/70." Suster tersebut tersenyum mungkin dalam hatinya bersorak riang gembira berkesempatan untuk mengecek tensi pria yang paling diminati dirumah sakit ini.
"Sus, tolong panggilkan dokter Christian, dan tolong naikan posisi tempat tidur saya. Terimakasih."
Suster tersebut langsung dengan sigap melaksanakan perintah dari Steve.
"Ada lagi yang bisa saya bantu dok? Jika tidak saya akan segera mengantar sarapan untuk dokter." Steve hanya mengucapakan terimakasih dan anggukkan.
Suasana kembali hening sesaat setelah suster tersebut keluar ruangan, Steve membetulkan posisi nya untuk duduk bersandar dengan nyaman. Villy tentu saja dengan sigap membantu.
"Aku udah hubungin tante Liana, dia akan segera kesini." Villy berkata sambil membetulkan letak tiang infus agar lebih dekat dengan jangkauan tangan Steve.
Steve hanya mengangguk, gadis itu menghela nafas sesaat karena Steve tidak kunjung berbicara padanya. "Steve, aku.."
"Kamu mau bahas apa Vil? Aku rasa semua udah jelas kan? Sampai detik ini saja aku masih belum tau kabar Sheii, dan sekarang bukan saat yang tepat untuk membahas masalah apapun." Ada nada kesal dalam suara Steve meski masih terdengar lemah.
Villy meremas jarinya sendiri hingga buku jari kukunya bewarna putih,
Bahkan dia gak peduli dengan luka diwajah aku.
Luka cakaran kuku Shenna atau Rara, dia tidak tahu masih membekas merah dipelipis Villy.
Akibat perkelahian mereka kemarin siang Villy cukup banyak menerima cakaran dan pukulan dari dua wanita yang dianggapnya masih bocah dan gila.
Bagaimana tidak dia dikeroyok oleh dua wanita sekaligus meski dia yang memulai perkelahian.
"Aku.. cuma mau bilang, apa gak bisa kita berteman dengan baik? Perasaan aku gak bisa dihapus paksa dengan hanya beberapa hari Steve." Ada getaran dalam suara Villy, wanita itu sekuat hati menahan air matanya.
Belum sempat Steve berkata apapun, pintu kamar diketok dan masuklah sesosok pria yang tidak kalah menawan. Wajahnya mempunyai senyuman manis meski tidak setampan Steve, postur tubuhnya juga tidak kalah dari Steve, tinggi dan cukup proposional meski tidak mempunyai bentuk sixpack dibalik pakaiannya.
"Halo." Senyuman merekah dokter Christian sedikit menyurut seolah tersadar dia masuk diwaktu yang tidak tepat.
"Apa perlu saya kembali lagi nanti?" Tanyanya dengan canggung.
Steve menipiskan bibirnya, "Gak perlu, masuk sekarang dan periksa gua cepetan.!" Steve memang tidak pernah memakai bahasa formal dengan rekan dokternya yang satu ini, selain mereka seumuran juga karena mereka 1 kampus dahulu saat kuliah studi S1 kedokteran. Dan tentu saja Christian mengenal Villy, meski tidak dekat tetapi dia tahu Villy merupakan kekasih Steve.
Christian melangkah mendekat memegang stetoskopnya sesaat setelah tersenyum menyapa Villy. "Ckck.. kenapa lu bisa kena Hipovolemik sih? Untung kemarin suster dilantai atas nemuin lu cepet kalau gak bisa tinggal nama!" Christian memakai stetoskopnya dan menyingkap baju Steve.
"Ini kenapa pake buka buka baju gua sih?? Ganjen banget lu!!" Steve membetulkan bajunya dan hanya dibalas tatapan malas oleh Christian.
"Kalau diliat dari kata kata yang keluar dari mulut lu kayanya lu udah sehat dan gak ada kerusakan organ dalam terutama otak lu!" Dengus christian kesal.
"Ada sesak gak? Pala lu sakit gak?" Christian melepas stetoskopnya dan memasukan kekantong jas dokternya.
Disaat bersamaan pintu kembali dibuka dan suster masuk membawa sarapan untuk Steve. Lagi lagi suster tersebut tersenyum dalam hatinya bersorak riang pagi ini dia puas sekali mendapat cuci mata. Perpaduan dua dokter ini merupakan paduan yang paling indah bagi mata para suster dirumah sakit ini.
__ADS_1
"Lu makan dulu sana!" Christian seolah memerintah Steve dan dengan segera memerintahkan suster untuk menyiapkan beberapa obat yang harus dikonsumsi Steve.
Steve hanya mengangguk kecil seolah setuju dengan resep yang Christian berikan, lalu pria itu pamit keluar untuk praktek dan mengecek hasil lab Steve.
Villy membantu Steve menyiapkan makannya karena satu tangan Steve dengan diinfus sehingga menyulitkan pergerakan tangannya.
"Terimakasih." Steve menyuapkan bubur kedalam mulutnya, "Dan soal hubungan kita, aku setuju untuk kita berteman." Steve tersenyum tulus pada Villy.
Meski dalam hatinya merasa sakit dan patah tetapi kesempatan berteman dari Steve tidak akan disia siakan, siapa tahu nanti Steve akan berpaling mencintainya. Dia selalu yakin Steve bisa mencintainya meski sudah 10 tahun berlalu dia masih tetap yakin.
"Iya." Villy membalas dengan senyuman.
"Muka kamu kenapa?" Steve menunjuk pelipis Villy yang terdapat 2 garis panjang dengan luka yang masih memerah.
"Aah ini? Hhmm.. kamu jangan marah yah." Villy menjadi sedikit salah tingkah, Steve hanya menautkan kedua alisnya bingung. "Aku berantem." Villy berkata dengan suara rendah tetapi masih jelas didengar.
"Owh? Berantem kenapa? Sama siapa?" Tanya Steve ringan sambil menghabiskan sisa makanan dalam mangkoknya dan minum.
"Shenna..." Cicit Villy.
Mendengar nama Shenna membuat air yang masuk dari mulut Steve ikut terkejut hingga salah memilih jalan masuk yang seharusnya meluncur bebas lewat tenggorkannya malah memilih jalur trachea sehingga Steve terbatuk batuk hingga wajahnya memerah dan dia merasakan nyeri di ulu hatinya dan membuat Villy panik menepuk nepuk punggung Steve.
Setelah Steve dapat mengontrol acara tersedaknya, dia menatap Villy seolah menagih maksud perkataan wanita itu dan Villy hanya tersenyum pias.
"Maaf.." Hanya itu yang dapat Villy ucapkan setelah menceritakan kejadian kemarin.
Steve terdiam, dia sudah tentu marah pada Villy karena telah menampar Shenna.
Steve memperlakukan kekasihnya dengan penuh kasih sayang, menjaga wanita itu dengan sepenuh hati tetapi dia tidak bisa melindunginya kemarin dan malahan menurut cerita Villy ada lelaki yang menengahi mereka dan memeluk Shenna dari belakang.
Pasti itu si Kevin! Sialan!!
Meski marah dan cemburu disaat bersamaan dia tidak bisa menyalahkan Villy 100%
Aaah iya gua harus hubungin Sheii!!!
Villy mengerutkan dahinya mencoba mengingat,
"Kayaknya dibawa tante Liana pulang kemarin sama baju dan tas kamu semua."
Steve mengehempaskan tubuhnya bersandar pada ranjang dan menghembuskan nafas kasar karena jengkel lalu memijat keningnya.
***
Shenna tengah mengikuti meeting seluruh manager untuk membahas perencanaan kegiatan sebulan kedepan, mengevaluasi masalah internal yang terjadi diperusahaan dan memberi solusi terbaik untuk mengatasinya. Meeting ini dilakukan setiap bulan dengan diikuti oleh Kevin selaku CEO perusahaan, tiap manager harus mempresentasikan seluruh kegiatan dan perencanaan mereka.
Giliran Shenna telah selesai, meski mendapat tatapan aneh dari beberapa orang karena sudut bibir Shenna yang sedikit membengkak akibat luka sobek kecil, luka tipis bekas cakaran di pipinya dan lengan Shenna yang ditutupi oleh plester lebar karena ada luka cakaran juga yang cukup dalam untuk dibiarkan terbuka.
Diluar itu semua presentasi Shenna selalu berjalan baik, meski ada gosip antar karyawan tapi untuk semua karyawan lama mengetahui kinerja dia dan mereka mengakuinya bahwa gadis ini berada diposisi sekarang berkat kerja usahanya sendiri.
Ponsel Shenna bergetar, menampilkan nama yang menghubungi dirinya.
*T*ante Liana?!
Shenna mohon undur diri untuk mengangkat teleponnya, setelah mendapat ijin dia keluar ruangan tersebut.
"Halo tante.."
Setelah mendapat kabar bahwa Steve sudah sadar, dia dengan tergesa bersiap untuk kerumah sakit. Dia meminta ijin pada Kevin untuk keluar kantor, dan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Hari ini dia membawa mobil pemberian Steve, meski ada perasaan sungkan tetapi Shenna juga terpaksa untuk hari ini karena dia bangun kesiangan, jika menunggu dan memesak taksi online dia pasti akan terlambat.
Shenna berjalan sedikit tergesa dilorong rumah sakit, tetapi kemudian dia tersadar.
Gua kan masih marah dan udah berapa hari cuekin Steve. kalau ketemu pertama gua harus ngomong apa yah???
Kini langkah Shenna menjadi gontai meski dia tetap menuju ruangan Steve. Setelah berdiri di dekat pintu ruangan yang sedikit terbuka, Shenna mematung.
__ADS_1
Dia berjalan mendekat kearah pintu untuk mengintip sebentar, dia sudah bisa menebak apa yang akan dilihatnya, hatinya teriris. Meski tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tapi bisa dinilai dari gestur badannya, Steve tersenyum mengobrol dengan wanita itu, iya Villy mantannya.
Gua kaya dejavu sial banget! Balik kantor aja lah!!
Saat Shenna hendak melangkah pergi, bahunya ditahan oleh seseorang.
"Kenapa gak masuk aja Sheii??" Liana mendorong pintu dan Shenna untuk masuk kedalam ruang perawatan.
Shenna yang terkejut tanpa sadar memekik pelan, sehingga perhatian Steve yang sedang mengobrol dengam Villy teralihkan.
"Gimana kabar kamu Steve? Udah ok??" Liana meletakkan beberapa barang bawaanya dimeja, dia membawa sup untuk Steve dan beberapa pakaian ganti. Pria yang ditanya tidak menjawab karena dia terpaku dengan sosok Shenna, sinar matanya tidak bisa menyembunyikan kerinduan yang dalam terhadap wanita itu.
Villy terpaku melihat sorot mata Steve penuh cinta pada Shenna yang tidak pernah sekalipun ditujukan padanya.
Steve mematap nanar Shenna seolah memohon maaf dan dia sangat merindukan kekasihnya.
Shenna menatap sembarang arah dengan sejuta pikiran dan cemburu berkecamuk dihatinya.
Suasana hening, "Ehmmm!!" Liana berdehem untuk menyadarkan semuanya hingga ketiganya terlihat sangat canggung.
"Villy boleh temenin tante makan siang sebentar?" Merasa putranya dan Shenna harus menyelesaikan yang terjadi, Liana hendak memberi waktu untuk mereka berdua. Villy hanya mengangguk canggung dan mengikuti Liana keluar dari kamar Steve.
Shenna masih berdiri pada tempatnya, dia menatap lantai bingung hendak bicara apa.
"Sheii, kemari.. aku gak bisa samperin kamu disana." Suara Steve terdengar parau dan sedih, dia mengulurkan tangannya berharap Shenna menyambutnya.
Gadis itu berjalan lambat lambat kesamping tempat tidur Steve dan berdiri diam.
"Duduk sini. Aku mau ngomong.." Steve menepuk kursi disamping tempat tidurnya.
"Gak mau." Perkataan Shenna membuat Steve mengerutkan alisnya,
"Bekas wanita itu duduk." Meski rendah tetapi Steve bisa mendengar jelas perkataan Shenna selanjutnya.
Steve tersenyum dan meraih lengan Shenna yang bisa dijangkaunya, merengkuh pinggang gadis itu dan mendudukannya diatas kasur, Steve memeluk Shenna dari belakang karena posisi duduk Shenna yang membelakangi Steve.
"Kalau disini gak apa apa kan??" Steve meletakkan dagunya dibahu Shenna sehingga dia menjadi salah tingkah.
"Lepasin Steve, tangan aku sakit.." Steve segera melepaskan pelukannya dan memaksa Shenna menghadap dirinya tanpa menyakiti wanita itu.
Steve mengamati lekat lekat wajah kekasihnya itu, pipinya ada luka cakaran halus meski tidak dalam tetapi cukup mengganggu matanya, sudut bibirnya ada luka kecil dengan sisa obat gel yang mengering, dan tangan yang katanya sakit itu ada plester lebar menutupi luka disana.
Steve mengelus luka disudut bibir Shenna dengan ibu jarinya dan menghela nafas kasar.
"Pacar kamu yang nampar aku duluan." Tatapan mata Shenna dingin, Steve memandang Shenna dengan tatapan tak suka.
"Pacar aku cuma satu dan itu kamu Sheii!" Steve menatap Shenna tak suka.
Shenna berdiri dan memandang Steve tidak kalah tajam, "Kita udah putus kemarin dan aku..."
perkataan Shenna terputus karena Steve menarik tangan dia hingga gadis itu jatuh terduduk kembali diranjang dan Steve langsung mencium bibir Shenna.
Saat nafas mereka berdua terengah barulah Steve melepas ciuman panas mereka.
"Sekali lagi kamu ngomong putus aku gak bakal kasi ampun Sheii." Suara Steve parau disamping daun telinga Shenna.
Shenna memukul lengan Steve kencang dan berdiri,
"Kamu gak kira kira bibir aku lagi ada luka dan ini sakit!!!"
Belum sempat Steve menjawab lagi lagi pintu diketok dan terbuka, masuklah sosok yang dia tidak harapkan sekarang ini.
"Steve ini hasil lab lu kemarin uda gua cek dan semua......" Tatapan mata Christian teralih ke Shenna "...Ok.."
Steve memandang Christian dengan tatapan tajam dan dalam, baru saja dia akan membuka mulutnya untuk memaki pria itu jangan pernah memandang kekasihnya dengan tatapan kagum itu.
"Aaah!! Hai si gadis yang nangis kemarin... Shenna yah nama kamu. Saya ingat." Christian melangkah mendekat kearah Shenna.
__ADS_1
"Ha..halo dokter.. Terimakasih kemarin." Shenna tersenyum canggung dan dibalas oleh Christian terlihat salah tingkah dengan senyumnya yang membuat Steve merinding.