
Steve tidak tahu dia terduduk berapa lama di depan apartemen Shenna, hanya bisa bersedih dan meratapi kebodohannya. Gadis itu kekasihnya, dia akan kehilangan gadis itu sungguh karena kebodohannya. Seharusnya dia tau sedari awal bertengkar hanya karena masalah jam tangan itu bodoh dan yang paling terbodoh menerima Villy yang katanya hanya ingin bertemu dan mengobrol itu kesalahan fatal terbesar. Steve tahu bahwa Villy gadis yang punya obsesi tinggi terhadap apa yang dia inginkan, tetapi apa yang dilihat Shenna kemarin bukan seperti apa yang gadis itu bayangkan.
Flash back on
"Dok itu pasien terakhir sebelum jam makan siang, dokter mau makan disini atau mau diruangan?" Suster jaga yang bekerja bersama Steve untuk prakteknya hari ini menyerahkan rekam medik pasien.
Steve melihat arloji yang melingkar di tangannya,
"Saya ada urusan mau keluar kantor, jam berapa praktek lanjutannya?"
"Jam 14.00 dok."
"Ok baik. Terimakasih suster." Suster itu hanya mengangguk dan permisi keluar ruangan praktek.
Setelah membereskan beberapa berkas Steve baru akan keluar ruangan, jam masih menunjukan pukul 11.30 dia akan ke kantor Shenna untuk mengajak kekasihnya makan siang dan meminta maaf.
Begitu membuka pintu dia terkejut, seorang wanita sudah berdiri di depan pintu ruangannya dan tersenyum ramah.
"Apa kabar pak kepala rumah sakit?" Villy tersenyum sumringah dan melambaikan tangannya.
Steve membatu, pikirannya sempat blank karena melihat Villy dihadapannya, setelah beberapa detik mendapatlan kesadarannya kembali, hanya ada 1 kata di pikirannya.
*S*heii..
Batin Steve, dia tau dia harus melindungi Shenna dari Villy.
"Steve?? Haloo kok malah bengong??" Villy melambaikan tangannya tepat di depan wajah Steve
"Aah. iya! Halo..." ekspresi Steve sulit terbaca tapi Villy tau bahwa ekspresi itu menunjukkan ada rasa tidak nyaman bertemu dengan dia.
"Sudah waktunya makan siang, lunch bareng yah sambil ngobrol kan udah lama gak ketemu."
Steve tahu menolak pun percuma Villy gadis yang tidak terima penolakan jadi pria itu hanya menganggukan kepala, "A.. aku taro berkas diruangan dulu."
Villy menganggukan kepalanya, "Bareng, mau liat liat ruangan kamu juga..."
Steve menghembuskan nafas panjang dan tersenyum tipis lalu berjalan mendahului Villy, tapi gadis itu memang Villy jadi dia berusaha untuk berdampingan dengan Steve. Setelah naik keruangan Steve meletakkan beberapa berkas kedalam lemarinya dan melepas jas dokternya, "Makan di coffee shop bawah saja yah, aku gak bisa lama."
Villy tersenyum singkat mendengar ucapan Steve, dia menebak lelaki ini pasti mau keluar untuk menemui kekasihnya. "Okeh, tapi setengah jam lagi yah baru turun, kita disini dulu. Aku mau bicara secara pribadi."
Steve yang telah bersiap untuk turun hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan duduk disudut mejanya berhadapan dengan Villy yang duduk di sofa sebelah meja kerjanya. "Mau bicara apa Vil?" Steve bersidekap menatap gadis di hadapannya.
Villy tersenyum dan menyandarkan punggungnya untuk duduk dengan santai, "Kamu uda ada janji? kenapa keliatan buru buru amat?" Villy mengamati ekspresi Steve yang sedikit terganggu memperkuat dugaan dia, "Gimana kabar kamu tanpa aku Steve? Kamu gak kangen sama aku?"
"Kamu cuma mau berbicara soal ini??" Steve mengerutkan jidatnya.
"Tapi kelihatannya kamu baik dan udah sukses jadi kepala rumah sakit. Jangan jangan kamu juga sudah punya kekasih baru??" Mengabaikan pertanyaan Steve dan malah langsung menembak blak blakan.
Raut wajah Steve berubah dan seketika terbaca oleh Villy, dia akan memulai aksinya. Villy menarik nafas dalam,
"Steve... kamu tau kan perasaan aku sama kamu gimana." Air mata Villy tiba tiba menggenang di pelupuk matanya. "Dibanding wanita entah siapapun itu ada apanya sih sama aku yang rela nungguin dan dukung kamu lebih dari 10 tahun??" Wanita itu kembali meneror Steve dengan kata kata itu lagi, persoalan dia setia menunggu dan mendukung Steve seolah pria itu juga wajib menuntaskan balas budinya.
Melihat Villy menangis begitu ada rasa iba dihati Steve, biar bagaimanapun juga Villy wanita yang baik sebenarnya hanya saja sebagaimana Steve berusaha untuk membalas perasaan Villy selalu saja tidak bisa. Dia memang tidak mencintai wanita itu sama sekali, semua hanya rasa simpati ditambah juga desakan mamanya saat itu yang tidak bisa dibantah.
"Sudah jangan menangis, Vil aku entah bisa berapa kali bilang sama kamu. Kejar bahagia kamu sendiri, aku bukan tujuan kamu."
"Enggak..." Villy menggeleng kepalanya kuat dan berdiri mendekat ke Steve. "Aku gak apa apa terluka bahkan aku rela kalau harus jadi begini asal itu kamu."
"Villy..." Steve memegang kedua bahu wanita itu,
__ADS_1
"Aku sudah memiliki kekasih dan aku cinta dia. Aku ingin menikah sama dia."
Villy terdiam, hatinya terluka teramat sangat bahkan 10 tahun dia rela berada disebelah pria inipun tidak sama sekali meniatkan pria ini untuk menikahinya. Tapi siapa wanita itu yang bahkan 1 tahun saja mungkin belum mengenal Steve tapi sudah bisa membuat dia seperti ini.
Villy mengusap airmatanya dan tertawa pias,
Kalau aku gak bisa milikin kamu, wanita itu juga ga boleh!
"Jadi...."
Steve memeluk Villy, pelukan seorang teman untuk menenangkan wanita itu "Jadi kita seperti ini saja kita tidak ditakdirkan bersama Vil, kita begini saja."
"Kamu tau bahwa sampai selamanya aku tetap mencintai kamu Steve, rasa ini akan tetap selamanya." Villy balas memeluk erat.
Villy terdiam sebentar, hatinya tidak terima sama sekali sesungguhnya. Villy melihat kearah pintu sepertinya ada seseorang, dan dia menduga itu pasti kekasih Steve yang menguping. Setelah melihat pergerakan orang disamping pintu seperti akan masuk, Villy segera melepaskan pelukan lalu menjijitkan badannya untuk mencium Steve.
Tepat seperti dugannya, wanita itu terkejut dan menjatuhkan semua bawaannya, Villy tersenyum melihat wanita itu. Mereka pasti akan segera putus seperti keinginannya.
Sial wanita itu cantik juga!!
Setelah kepergian wanita itu Villy menarik tangan Steve yang mematung sedari tadi, dia tertegun melihat Steve
Dia menangis??
"Steve?!!" Villy mengguncang lengan pria itu.
Steve tidak menjawab dia maju dan berjongkok untuk mengambil sebuah cincin yang ditinggalkan wanita tadi dilantai, dan Steve masih dengan posisi berlutut dia menangis.
Villy yang melihat itu menggeram mengepalkan kedua tangannya dengan keras, menarik bahu steve kencang.
"Jangan bodoh!!!!!!! Dia tidak mencintai kamu sebesar aku Steve!!!!!"
Flash back off
Steve memukul kepalanya pelan, setelah dia meninggalkan sebuah kotak kecil di depan pintu Shenna dia terpaksa pulang, besok pagi pagi dia mempunyai jadwal operasi yang tidak bisa dia abaikan begitu saja dan penting untuk dia menjaga konfisi tubuh karena pekerjaannya berhubungan dengan nyawa orang lain. Steve masih berusaha untuk menelfon Shenna meski tadi wanita itu menolak untuk menemui dan mendengar semua penjelasaanya, dia baru menyadari ada sejumlah pesan dikirimkan dari mamanya sedari pagi.
Mom
"Steve angkat telepon mama."
" Steve jika sudah bisa langsung telefon mama yah."
" Steve.. astaga Villy datang kerumah mama."
" Jaga Sheii."
Steve memukul setir mobilnya dengan kesal, sekali lagi pria itu meratapi kebodohannya.
Shenna mengintip pada door viewer.
Kayaknya Steve udah pergi.
Terus kenapa lu kecewa Na???
Pasti dia mau temuin cewe itu lagi. Hiks!!
Shenna melihat ada sebuah kotak kecil disaming pintu, dia membuka pintu untuk mengambil kotak itu.
kotak yang sedari tadi dibawa Steve, dia menyadari itu.
__ADS_1
Shenna membuka kotak itu, ada cincin serta kunci mobilnya dan sebuah note.
Jangan pernah mengembalikan cincin ini Sheii.
Selamamya kamu milik aku.
Shenna meremas kertas itu, hatinya kembali bimbang dan sakit. Dia tidak bisa menoleransi sedikitpun perselingkuhan, dia benci. Apapun alasannya kekasihnya itu sudah berpelukan dan mencium wanita lain.
Tarulah steve memang benar dicium oleh wanita itu, tetapi kenapa dia membiarkannya? kenapa Steve juga membalas memeluk wanita itu?
Shenna benci dan dia kembali menangis dikamarnya hingga kelelahan dan tertidur.
****
Shenna mengerjapkan matanya, bel apartemennya berbunyi, kepalanya sedikit nyeri dia memaksa untuk bangun dan membuka pintu.
"Ra??"
Gadis itu hanya melengos dan masuk kedalam apartemen sahabatnya itu, melihat penampilan Shenna saat ini sudah dipastikan wanita itu memang ada masalah dengan Steve. Mata bengkak, wajahnya sembab, eyeliner luntur membentuk kawah hitam dibawah matanya dan masih menggenakan baju yang kemarin.
Rara meletakkan beberapa kantong plastik diatas meja makan, "Gua cuti, gua bawain bakmi ayam kedoyanan lu. Gua kesini atas perintah pak bos, dan.... Steve yang nyari nyari lu dari kemarin sefrustasi itu dia udah kayak orang gila nungguin lu kantor sampe malam!"
Rara menghela nafas sebentar dan melihat kearah Shenna, "Lu kenapa sih Sheii??"
Bukannya menjawab pertanyaan Rara, gadis itu malah menangis sesengukan kembali. Sambil mengusap kedua matanya, bahunya bergetar naik turun seolah tidak sanggup menjawab. Rara langsung memeluk sahabatnya itu.
"Gua benci Ra..." Shenna masih menangis sesengukan.
"Gua benci fakta kalau otak sama perasaan gua gak sinkron, gua uda putusin buat gak berhubungan sama yang namanya pacaran begini dulu karena gua tau saat ada masalah seperti ini gua gak bisa ngadepinnya." Shenna semakin terisak.
Rara hanya menepuk punggung Shenna dengan pelan untuk menenangkannya,
"Pelan pelan coba ceritain sama gua Sheii, ada apa sama Steve sebenarnya?"
Setelah Shenna tenang dia menceritakan dengan detail semua pada Rara, Rara menarik nafas panjang.
"Jadi sekarang keputusan lu apa Sheii?"
"Gua bingung Ra." Suara Shenna mulai serak.
"Sekarang jawab, lu percaya gak sama Steve?"
Shenna menatap Rara sendu, "Gua percaya, dari awal gua yakin dia gak niatan buat khianatin gua Ra..."
"So??"
"Tapi.. Gua gak bisa terima dia meluk cewe itu! Semalaman gua juga merenung dan sekarang gua udah sadar. Itu cewe mantan dia Ra, mantan yang udah 10 tahun sama dia. Dari segi ini aja gua udah kalah.
Oke taro aja Steve emang cinta sama gua saat ini, tapi feeling gua kuat banget itu mantan gak gampang disingkirin." Air mata Shenna jatuh kembali.
"Gua gak mau jalanin hubungan dengan perasaan kuatir terus menerus kalau kalau Steve gak bisa lupain mantan yang udah 10 tahun itu dan ninggalin gua gitu aja. Lebih baik gak sih diakhiri sekarang aja?"
Rara memandang Shenna dengan iba, dia tau sahabatnya ini wanita tangguh dan mandiri. Jika karena cinta bisa membuat sahabatnya ini terpuruk begini berarti memang dia sangat mencintai Steve.
"Semua keputusan ditangan lu Sheii, ikut saja kata hati lu maunya apa. kadang memang suatu hubungan perlu ada yang namanya masalah biar kita tau ini mau dibawa naik ke step berikutnya atau mungkin udah waktunya di stop." Rara memeluk Shenna erat,
"Sekarang lu mandi, lu asli bau banget, bau jigong bau ketek juga. Abis itu kita makan bakmi. okay!"
Shenna hanya terkekeh mendengar celoteh sahabatnya.
__ADS_1