
Kevin gelisah sedari siang tadi setelah makan siang berdua dengan Shenna dan berpisah di parkiran, pikirannya terus menerawang apa yang sedang dilakukan gadis itu, mau bertanya langsung pun gengsi. Bahkan saat meeting pemegang saham berlangsung, Kevin beberapa kali terlihat tidak terlalu fokus sehingga membuat Daniel yang merupakan sekretaris pribadi Kevin kesal.
Setelah selesai rapat Kevin kembali keruangannya bersama Daniel.
Daniel akan beranjak keluar untuk memerintakan Kartika membuat notulen rapat tadi, tetapi Daniel sungguh bingung dengan sikap Kevin sedari tadi.
Kevin terlihat duduk sebentar dimeja kerjanya, lalu bangkit menuju pintu, terhenti dan mengerutkan alisnya lalu kembali duduk di kursinya. Sebentar terlihat gelisah, memegang handphone mengutak-atik sesuatu, ragu, lalu meletakkan handphonenya kembali.
Sebenarnya ada apa dengan pak Kevin sedari tadi sih? - Daniel
"Ehmmm!" Daniel sengaja berdehem mencoba untuk memecahkan situasi ini.
"Apa ada yang bisa saya bantu pak? Atau Bapak sedang butuh sesuatu?" lanjut Daniel.
Kevin melirik Daniel sekilas. Otaknya berpikir, gengsi juga bila harus menceritakan pada Daniel. Tetapi Daniel sudah mengabdi pada Kevin selama 8 tahun dan sudah terbukti kesetiaan dan integritasnya.
Kevin menghela nafas sebentar.
"Hmmm.. Public Relation kita... apa dia sudah bekerja dengan benar untuk acara peresmian perusahaan pekan depan? Apa dia.." Kevin sendiri sedang bingung apa yang dia bicarakan. Daniel pun terlihat memasang wajah datar tetapi mengintimidasi, jelas saja karena baru saja selesai rapat pemegang saham dan juga dihadiri oleh Ibu Rara sebagai perwakilan divisi public relation, bahkan Rara menjelaskan dengan presentasi sangat baik dan jelas sehingga para investor saham pun merasa puas dan tenang.
"Apa bapak membutuhkan sesuatu? Ada yang bisa saya bantu pak?" Daniel mengulang pertanyaannya yang tentu saja ada maksud untuk mendesak apa yang Kevin sebenarnya inginkan.
Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Shenn.. Eehmm Ibu Shenna..." Kevin tersendat untuk melanjutkan kata-katanya.
Tetapi bukan Daniel namanya jika tidak paham dengan maksud dan tujuan Kevin karena juga sebagai asisten pribadi, Daniel sangat mengerti pola tingkah laku atasannya ini. Selain itu juga dengan mata kepalanya sendiri Daniel melihat Kevin menggandeng tangan Shenna siang tadi saat keluar ruangannya menuju lift.
"Baik Pak, akan saya cari tahu informasinya."
Tutup Daniel sopan dan langsung beranjak dari ruangan Kevin.
Kevin mengulas senyuman tipis segaris bibirnya, tidak akan ada yang menyadari senyuman itu mungkin kecuali Tuhan dan dirinya.
Tidak butuh waktu terlalu lama untuk Daniel mengirimkan pesan informasi untuk Kevin.
"Ibu Shenna baru saja kembali dari Djaya Hospital, karena ibunya mengalami retak tangan. tetapi keadaan beliau baik-baik saja dan sudah pulang kerumah. Ibu Shenna saat ini sudah berada diruangannya." Isi pesan singkat dari Daniel membuat Kevin puas.
__ADS_1
Akan aku naikan bonus dan gajinya.
Senyum Kevin mengembang, sesaat mengubah mimiknya menjadi cool, berdehem lalu dia mengangkat telefonnya dan memencet nomor extensi yang dituju.
"Keruangan saya sekarang!" lalu menutup telefon dan mengembangkan senyumnya kembali.
****
Shenna duduk dengan manis dikursi depan meja kerja Kevin dan berusaha untuk mencerna situasi macam apa yang ada dihadapannya.
Karena sedari tadi dia memasuki ruang kerja Kevin, atasan barunya itu tidak memerintahkan tugas atau meminta apapun yang berkaitan dengan pekerjaan.
Shenna hanya disuruh untuk duduk, Kevin sibuk memeriksa beberapa dokumen dan mengabaikan Shenna.
Ini apaan sih?? kenapa gua disuruh kesini tapi dicuekin?? Tapi... gapapa deh, sekalian cuci mata, liat itu muka serius kerjanya aduhhh cakep pisan!
"Udah puas ngeliatin aku Na?" Kevin memecah lamunan Shenna dan gadis itu terlihat sedikit gelagapan.
"Ke.. kenapa saya diminta kesini pak? ada keperluan apa?" Shenna berusaha untuk tetap bersikap tenang meskipun dia malu.
"Kenapa masih berbicara formal begitu sih sama aku?" Bukannya menjawab Kevin malah memberi pertanyaan kembali untuk Shenna.
"Ini masih dikantor pak."
Baru saja Kevin akan menjawab Shenna, handphone Kevin bergetar menandakan ada telefon masuk.
Kevin melihat siapa yang menelfonnya dengan segera berdiri menjauh beberapa langkah dari Shenna.
*Angkat aja sih teleponnya, kenapa p*ake acara jalan kesono biar kagak gua denger. Gua gak penasaran huhh! Dengus Shenna
Bukan tanpa alasan Kevin menjauh beberapa langkah dari Shenna, karena dia ingin melihat reaksi Shenna apakah sama seperti dia tadi saat Shenna menerima telefon saat makan siang tadi.
Terlihat dari ekor mata Kevin, Shenna duduk agak mencodongkan badan kearahnya berusaha untuk menguping membuat seulas senyumam tipis tercipta dari bibir Kevin.
Tanpa Shenna tahu sebenarnya yang menelfon adalah calon klien baru perusahaan Kevin.
Setelah telefon ditutup kevin kembali duduk dimeja kerjanya.
__ADS_1
"Lusa temani aku bertemu calon klien baru!" Tegas Kevin.
"Hahh?? kenapa saya pak?" Shenna merasa ini bukan bagian dari tugasnya yang notabene adalah seorang public relation harusnya Daniel yang mendampingi Kevin bukan dirinya.
"Daniel ada kerjaan diluar kota dan aku butuh kamu untuk menjelaskan company profile pada calon klien kita!" Kevin seakan bisa membaca pikiran Shenna.
Shenna mengertakan giginya dan tersenyum pias, ini diluar kekuasaan dia untuk menolak.
****
Shenna merebahkan dirinya pada sofa bed diruang tamu apartemennya.
Aaaaaaah gila mau rontok badan.. capek capek capek..!
Rutuk Shenna. karena sepanjang perjalanan dari kantor menuju apartemennya tadi dia disuguhi kemacetan panjang.
Dia segera bangkit untuk mandi dan membersihkan dirinya, karena jam sudah menunjukan pukul 7 malam, dia juga harus segera mengisi perutnya karena perutnya sudah demo sedari tadi meminta untuk diisi.
Setelah selesai mandi, Shenna menggenakan baju rumahannya. Celana yang sangat pendek dan atasan kaos besar yang sangat nyaman digunakan, sembari mengusap rambut basahnya dengan handuk. Wanita itu menyiapkan makan malam yang tadi dibeli saat perjalanan pulang untuk dirinya.
Untung aja beli makan tadi, lagi cape gini mana sanggup masak dan cuci cuci piring lagi!
Sambil menikmati makan malamnya yang sederhana yaitu hanya nasi sayur dengan beberapa lauk balado yang terlihat menggugah selera, dia memainkan handphone nya mengecek beberapa notif di sosial medianya.
Saat sedang asik-asiknya terdengar bel apartemen berbunyi.
Tanpa mengecek siapa, Shenna langsung membuka pintunya. Karena disamping keamanan apartemennya yang cukup baik, tidak sembarang orang bisa naik ke lantai atas kecuali petugas ataupun jasa laundry langganannya.
Ibu tukang laundry datang pikirnya.
Saat pintu terbuka, bukannya melihat ibu tukang laundry yang biasa. Tetapi apa yang dilihat oleh mata Shenna adalah sosok yang membuat bulu kuduknya meremang. Shenna shock se shock shocknya, mata nya membulat sempurna, jantungnya berpacu cepat seperti pacuan balap kuda liar.
"Ba... ba.. bagaimana bisa???!!!" tenggorokan Shenna tercekat.
Tanpa diundang, sosok itu dengan tersenyun puas langsung memasuki apartemen melewati Shenna yang mematung.
"Data pribadi dan rekam medik kamu semuanya ada di basis data aku Sheii."
__ADS_1
"Tiga kali medical check, dua kali kungjungan THT, ke internist 1 kali. Itu kamu sakit apa???" Yang tak lain tak bukan adalah Steve yang sudah duduk dengan manis di sofa ruang tamunya.
"Hahhhh????!!!!!!" Teriak Shenna shock.