
Steve menghampiri kekasihnya yang sedang bermain dipinggir pantai, lalu lelaki itu mengangkat tubuh Shenna ala bride style sehingga Shenna memekik terkejut. "Aaaah kamu bikin kaget aja!" Shenna menepuk pelan dada bidang Steve membuat lelaki itu tertawa renyah.
"Makan siang dulu yuk, udah disiapin sama penjaga villanya, nanti sakit belum makan malah main air."
Steve menurunkan Shenna dan menjawil hidung mancung kekasihnya. Shenna hanya mengangguk tersenyum dan menggandeng kekasihnya berjalan menuju villa.
"Ini villa punya mama kamu??" Shenna memandang sekeliling dengan takjub, interior villa dengan dominan kayu dan sentuhan klasik sungguh membuat nyaman siapapun yang berkunjung kesini.
"Norak!" Steve menjitak pelan kepala Shenna membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya.
"Dikondisikan itu bibir minta dicium. Iya ini villa mama, dulu setiap akhir pekan selalu liburan sekeluarga kesini." Shenna hanya mengangguk paham.
Mereka duduk dimeja makan untuk menikmati hidangan yang disediakan, tersaji berbagai hidangan laut karena memang itulah bahan utama disini.
Shenna makan dengan lahap karena rasa lapar yang ditahannya sejak tadi, Steve tersenyum senang melihat kekasihnya makan. "Sheii, lihati kamu makan aku seneng banget dari dulu, gak pernah jaim. Mau makan yah makan aja langsung gak mikir ini itu, gak kayak cewe kebanyakan makan sedikit sedikit kaya kucing."
Shenna melirik Steve sekilas dan kembali sibuk makan,
"Jadi kamu terpesona sama aku dulu gara gara cara makan aku??"
Steve hanya tertawa renyah "Iya itu salah satunya. Kamu tau gak dulu aku pernah sempat ngomong sama Rio, kenapa aku baru kenal kamu saat itu, Harusnya aku kenal kamu lebih awal."
"Padahal Rio udah lama kenal kamu, tapi aku gak pernah tau ada seorang Shenna. Sampai Rio bawa aku ketemu kamu, aku sempat kesal. Harusnya aku sedari awal aku pacaran jika hanya benar benar jatuh cinta bukan coba coba yang malah berakibat aku terjebak saat itu." Steve tersenyum tipis.
Shenna hanya memandang mata Steve lurus,
"Sebenarnya aku banyak pertanyaan soal kamu dan mantan kamu. Tapi aku milih untuk melihat saat ini saja. Yang penting kita uda bersama sekarang, gak perlu ungkit hal lalu."
Steve hanya mengusap lembut pipi Shenna dan tersenyum.
"Owh yah sayang kamu tau gak sih, dulu Rio kan sempat naksir juga sama kamu?!" Shenna langsung terbahak mendengar perkataan Steve.
"Aku tau, tapi gak aku ladenin dia kan playboy cicak Hahahaha!" Steve ikut tertawa bersama Shenna.
Siang itu sehabis makan Steve mengajak Shenna untuk berenang di kolam renang karena pantai sangat terik mataharinya.
Shenna memakai bikini hitamnya, meski bukan jenis bikini yang seksi tetap saja Steve gusar melihat penampilan Shenna.
Kalau bukan karena udah janji sama tante Myra bakal jaga Sheii udah pasti gua serang nih anak, bikin geregetan aja! Steve mengusap wajahnya kasar.
"Sheii aku benar benar serius peringatin kamu, jangan sekali kali kamu pakai bikini itu kalau berenang diluaran apalagi tanpa aku!"
Shenna hanya memutar bola matanya malas mengabaikan kekasihnya itu lalu masuk ke kolam dan dengan lincah berenang.
Shenna mengambil ponselnya, "Sayang fotoin aku please." gadis itu menyerahkan ponselnya pada Steve dan disambut dengan erangan dari Steve.
"No!!! kamu mau kasih liat siapa???! Ga ada yah Sheii!"
__ADS_1
Shenna mulai jengah dengan tingkah kekasihnya itu dan mengambil foto sendiri alias selfie lalu mengupload pada media sosialnya.
Steve yang mengetahui itu langsung memasang wajah kesal. "Kamu kok susah banget dikasih tau yah Sheii?! Aku gak paham harus gimana supaya kamu nurut." Shenna hanya memasang muka innocent dan menahan senyumnya untuk membuat kekasihnya luluh.
Setelah 3 jam menghabiskan waktu dikolam renang berenang, kini mereka tengah duduk bersantai dibalkon villa yang menyajikan hamparan pantai disore hari. Matahari yang bersinar hangat, angin sepoi sepoi, dan ditemani oleh kelapa segar sungguh Shenna bahagia.
"Terimakasih yah udah ajak aku kesini. Aku suka kado dari kamu." Shenna mengelus lengan Steve dan pria itu hanya tersenyum tipis.
"Iya sama sama. Tapi aku masih kesal sama kamu perihal foto itu, hapus yah..." Sedari tadi Steve merengek seperti anak kecil meminta Shenna untuk menghapus fotonya, pria itu tidak berhenti mengomel sedari tadi menyebut dada Shenna yang terkespos lah padahal tidak, tubuh basah dia yang bisa mengundang pikiran kotor pria lah dan lain sebagainya membuat dia sangat jengah.
Shenna menarik kerah baju Steve dan mencium bibirnya "Bisa diem ga?!!" Steve yang terkejut membolakan kedua matanya dan menganggukan kepalanya seperti terhipnotis. Shenna berselonjor kembali dibangkunya dan menikmati kelapanya sambil memejamkan matanya damai mengabaikan tingkah kekasihnya yang masih terkejut.
Hari sudah malam dan mereka sudah menyelesaikan makan malam, kini kedua insan itu sedang menonton televisi di sofa. Mata Shenna sudah berat karena dia hari ini bangun subuh dan lelah bermain sedari siang ditambah perutnya yang kenyang. Gadis itu berusaha membuka matanya sedari tadi untuk mengusir rasa kantuk yang tak tertahan, jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Steve yang telah mempunyai rencana untuk ulang tahun kekasihnya memang mendukung Shenna untuk tidur dahulu agar dia bisa menjalankan rencananya.
Steve mengelus halus kepala Shenna agar gadis itu lebih cepat tertidur dan setelah dirasa kekasihnya sudah tertidur pulas, Steve dengan hati hati memindahkan Shenna keatas kasur dan menyelimutinya. Steve mencium jidat Shenna dan setelah itu dia mengendap keluar untuk menjalankan rencana kejutannya.
Shenna bersingut dalam tidurnya karena samar samar dia merasakan sesuatu mengelus pipinya, geli. Dia berusaha untuk menghindar sambil tetap memejamkan matanya. Tetapi gangguan itu semakin terasa dan dia membuka matanya, suasana kamar gelap hanya ada cahaya lilin didepan wajahnya, dia mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya.
Setelah sudah sadar sepenuhnya dia bisa melihat Steve berlutut disamping kasur membawa sepotong kue berserta lilin kecilnya tersenyum kearah Shenna.
"Happy birthday sayang." Steve mencium lembut bibir kekasihnya itu. "Make a wish and blow the candle"
"Terimakasih" Shenna tersenyum bahagia segera berdoa mengucapkan permohonannya dan meniup lilin itu, kamar menjadi gelap setelah lilin mati hanya ada cahaya rembulan yang masuk melalui jendela. Shenna meletakan kue itu di nakas dan mencium bibir Steve.
Steve cukup agresif dalam berciuman kadang Shenna kewalahan mengimbanginya, tangan dia meremas baju Steve dan tangan satunya lagi meremas sprei kasur hingga dia tersadar ada sesuatu dikasur, "Steve stop.." Shenna mendorong tubuh Steve perlahan dan pria itu hanya menggumam setelah ciuman mereka terlepas.
"Ada sesuatu dikasur." Shenna mencoba meraba kasur, senyuman Steve muncul dan segera dia menyalakan lampu. Shenna tersikap melihat kotak dengan berbagai ukuran dikasur serta buket bunga yang besar dengan tulisan HAPPY BIRTHDAY LOVE.
Shenna meringis pias, bukan tidak suka dengan kejutan atau kadonya, gadis mana yang tidak suka. Ada hampir 20 kotak dikasur dengan berbagai ukuran, ada yang bewarna orange dengan lambang kuda itu terikat pita yang manis, ada juga kotak pink pastel dengan rose hitamnya, Shenna tahu semua merk itu dan dia bukan tipikal yang akan menghabiskan gajinya untuk membeli barang tersebut atau mungkin gajinya tidak akan cukup membeli barang tersebut.
Steve mengambil salah satu kotak berwarna merah maroon berbahan beludu dan membukanya, ada seuntai kalung berlian berinisial SS, pria itu memakaikan pada leher kekasihnya. "Inisial Kita." Katanya sambil tersenyum lembut.
Shenna menghembuskan nafasnya, masalahnya mereka sudah sepakat tidak ada kado berlebihan. Mereka hanya ingin melewatkan hari spesial ini berdua dan Shenna sudah berpikir bahwa kado dari Steve adalah mengajaknya berlibur kesini.
Dia sendiri juga sudah menyiapkan kado untuk kekasihnya, jam tangan couple Gshock babyG neon edition yang lucu. Tetapi melihat semua kado yang Steve berikan ini, kado darinya akan terlihat seperti..... remahan rengginang.
"Kamu gak suka?? kok diem aja??" Steve duduk mendekat kearah Shenna dan membelai kepalanya.
"Sayang.. kan kita udah sepakat gak ada kado berlebihan. Ini apa??" Shenna merengutkan wajahnya.
Lelaki itu tersenyum manis dan mengecup jidat Shenna, "Buat aku ini gak berlebihan untuk diberikan ke kamu.. dan aku udah pilihin ini semua sendiri dengan semua pertimbangam cocok gak nya dikamu. Jadi jangan ngerasa gimana gimana, pokoknya ini aku sendiri yang pilihin buat kamu."
Shenna terdiam dan melihat Steve lurus, lalu tersenyum dan memeluk Steve, "Aku ngerasa benar benar disayang sama kamu."
"Memang aku sayang banget sama kamu Sheii. Yasuda yuk tidur. Atau kamu mau lanjutin yang tadi??"
__ADS_1
Shenna memukul lengan Steve,
"Dasar mesum!" Steve tertawa terbahak.
***
Mereka sudah melewatkan ulang tahun terbaik versi mereka, kini Steve dan Shenna sedang dalam perjalanan pulang kembali kerumah. Terlihat mereka menggunakan jam tangan yang sama terlihat begitu menggemaskan.
Sepanjang perjalanan Shenna tidak berhenti tersenyum, dia beruntung melepas status single demi pria yang bernama George Steve Aldjaya, pria yang mencintai dia sepenuh hatinya.
"Sayang, apapun yang terjadi kamu harus tetap percaya dan jangan pernah ninggalin aku yah."
Shenna menengok kearah Steve dan bingung kenapa kekasihnya berucap demikian.
"Aku cuma takut kehilangan kamu. Gak akan pernah aku lepasin kamu lagi Sheii. Gak akan..." Lanjut Steve dan mengerat genggamannya lalu mengecup sayang tangan Shenna.
Shenna tersenyum dan memeluk lengan Steve.
"Kamu tenang aja, hati aku sepenuhnya milik kamu."
Tidak terasa 3 jam perjalanan kini mereka sudah sampai dirumah Shenna.
"Kamu harus langsung pulang dan istirahat yah, kurang tidur kamu..." Shenna mengulumkan senyumnya karena dia yang menjadi penyebab utama kekasihnya kurang berisitirahat . Semalaman Shenna mengganggu tidurnya Steve untuk mengerjai kekasihnya itu dihari ulang tahunnya, dia sendiripun juga harus bergadang tetapi Shenna masih bisa tidur dimobil tadi selama perjalanan.
Shenna melihat ada mobil terpakir diperkarangan rumahnya, mobil sedan Mercedes Benz all new Aclass berwarna putih.
Mobil siapa nih??? Shenna melihat tajam plat nomor mobilnya 78 SAK, dia menautkan kedua alisnya dan melihat Steve dengan gusar.
"No..." Shenna tertawa hambar sambil menggeleng kepalannya perlahan bingung hendak berkata apa.
Steve tersenyum dan menganggukkan kepalanya melihat Shenna. "Yes.." lalu menyerahkan sebuah kotak kecil persegi dan pipih. Shenna meringis membuka kotak itu perlahan dan sesuai dugaannya.
Kunci mobil!!
"Gak Steve, ini diluar berlebihan ini sangat berlebihan. Aku gak mau!!" Shenna segera mengembalikan kunci mobil itu ketangan Steve.
Wajah pria itu berubah datar, "Yaudah kasih Ransen aja." Steve hendak turun dari mobilnya.
"Apaahh???? Dia masih kuliah bawa mobil begitu nanti buat ajang pamer! No!!!" Shenna menahan tangan Steve.
Steve tersenyum tipis, "Kamu yang pakai atau aku kasih Ransen. Udah gitu aja beres." Pria itu turun dan membuka bagasi untuk membantu Shenna membawa banyak barang pemberian dia.
"Mobil lama kamu kasih Ransen pakai, kasian dia kuliah naik motor terus. Panas kepanasan hujan kehujanan." Shenna hanya memutar bola matanya jengah mendengar perkataan kekasihnya itu.
Mama dan Ransen keluar pintu karena mendengar suara Shenna dan Steve pulang, Ransen tersenyum licik seolah sudah menunggu kakaknya itu.
"Kata kak Steve mobil lama kakak kasih ke aku!" Ransen memainkan kunci mobil Shenna dengan gembira sehingga mendapat tatapan tajam dari Shenna.
__ADS_1
Mama sedikit takjub melihat banyaknya kado berkotak orange yang Shenna bawa pulang, "kalian abis dari Paris??" Tanya mama polos.