Shenna Love

Shenna Love
She Will be Loved


__ADS_3

Setelah berputar tak ada arah akhirnya Kevin menepikan mobilnya disebuah dermaga, terlihat hamparan laut yang luas dan ombak yang menghantam batuan karang dipinggir dermaga.


Kevin melihat Shenna masih menangis sesengukan meski terkadang wanita itu memberi jeda sebentar lalu dia menangis lagi, tisu di mobil Kevin sudah habis hampir setengahnya.


Waktu menunjukkan pukul 3 siang, sudah hampir 3jam wanita itu menangis dan dia sudah terlihat lelah dengan mata yang bengkak, kini hanya sisa sisa tangis dan sesekali tersenguk kecil Shenna masih tetap bertahan dengan kebisuannya.


Kevin menarik nafas dalam, menyandarkan kepalanya pada kemudi mobil sambil melihat Shenna yang masih betah terisak.


"Jadi... apa yang dokter bodoh itu lakukan?" Sudah hampir 3 jam Kevin tidak bersuara kini dia sudah tidak tahan lagi untuk tidak bertanya.


Shenna berhenti menangis dan terdiam meski masih ada isakan kecil, "Jangan sebut dia bodoh..." Shenna terisak kembali.


"Astaga Na. Kamu hanya merespon jika aku menyebut dia bodoh?!" Kevin memasang tampang heran.


"Dia brengsek! Sebut dia dokter brengsek!!!" Shenna menangis kembali kali ini dan Kevin hanya memasang tampang tidak percaya.


Kevin mengusap wajahnya kasar, "Ceritakan semua jika kamu sudah puas menangis." Dia membelai kepala Shenna dengan sayang dan setia menunggu gadis itu hingga selesai menangis.


Setelah 1jam berlalu kini Shenna sudah terdiam dan benar benar berhenti menangis, gadis itu hanya memandang keluar jendela, lalu membuka jendela mobil hingga angin laut menghembus masuk kedalam mobil dan membiarkan rambutnya berantakan tertiup angin.


Shenna menghembuskan nafasnya, "Steve selingkuh.. dia ciuman dan berpelukan sama cewe lain, dan semua aku lihat sendiri." Shenna masih membuang pandangannya keluar mobil.


Kevin menautkan kedua alisnya, "Coba ceritakan dengan detail."


Sambil memainkan tisu ditangannya dan sesekali mengusap air mata yang kembali menggenang, serta ingus diwajahnya Shenna menceritakan semuanya. Dimulai dari mereka bertengkar kecil perihal jam tangan yang Kevin berikan, hingga Shenna menyusul kerumah sakit dan malah melihat hal yang sangat dia tidak sangka.


Setelah mendengar semua cerita Shenna, Kevin terdiam sejenak. "Na, sebelumnya aku ingin bertanya, mereka berciuman?? Atau si dokter bodoh itu yang dicium?"


Shenna menoleh binggung kearah Kevin, "Ten.. Tentu saja mereka berciuman!!"


"Yakin??" Tanya Kevin dengan pandangan meneliaik.


"Si dokter bodoh itu membalas ciuman gadis itu mereka berciuman dengan mesra?"


Shenna hanya terdiam, lalu memasang wajah bingung dan marah. "Kenapa hal itu yang kamu permasalahkan Kev??"


"Aku bertanya Nana, jawab saja. Si dokter bodoh itu dicium atau mereka berciuman mesra??"


Shenna hanya terdiam mendengar pertanyaan Kevin,


"Kenapa? kamu ragu??" Lanjut Kevin dan dia hanya tersenyum lalu menyandarkan punggung pada bangku mobil.


"Na, aku bisa saja berkata pada kamu saat ini bahwa kekasih kamu itu tidak setia, dia sudah berselingkuh, putuskan saja, jangan kasih kesempatan sedikitpun. Tapi.... aku tetap tidak bisa menduduki tempat spesial itu dihati kamu. Hati kamu tegap tidak memilih aku kan?" Kevin tersenyum tipis.


"Tapi, sebagai pria dengan pemikiran rasional aku ingin memberitahu kamu satu hal Na.


Aku dan Steve, kami itu hanya contoh kecil lelaki yang sudah mapan. Tadi aku kerumah sakit untuk melanjutkan kontrak kerja sama, aku bertemu dengan direktur keuangan disana, aku baru tahu bahwa kekasih kamu itu cucu pemilik rumah sakit dan sekarang menjabat sebagai kepala rumah sakit disana."


"Lalu maksud kamu apa Kev?? Aku gak paham." Shenna bertambah bingung dengan arah pembicaraan Kevin.


"Kekasih kamu bukan orang sembarangan Nana, dia lebih dari sekedar kata mapan. Coba kamu pikirkan berapa ratus wanita akan siap melemparkan dirinya untuk dia??" Shenna terdiam masih mencerna ucapan Kevin.


"Atau kamu sama sekali gak menyadari soal ini???" Kevin kembali bertanya karena Shenna masih terdiam.


"Astaga Nana..." Kevin terkekeh pelan. "Aku gak pernah salah jika aku suka sama kamu Na, atau mungkin aku cinta kamu Na."


Shenna terkejut dengan ucapan Kevin dan bingung harus bereaksi seperti apa.


"Shenna, aku berterus terang sama kamu. Untuk ukuran pria seperti aku..." Kevin mengeluarkan ponselnya dan mengutak atik lalu memperlihatkan ponsel itu pada Shenna. "Kamu lihat berapa banyak wanita yang menggoda aku..."


Shenna sedikit terbelak, dia membolakan matanya melihat ada puluhan chat yang Kevin belum buka bahkan dari 3 hari lalu semua wanita yang tidak segan atau malu mengajak dia untuk bertemu dan lainnya. Lalu dia sadar ada nama dia, dan hanya dia yang tidak merespon chat pria itu. Shenna meringis sedikit merasa bersalah.

__ADS_1


"Kamu gak tertarik satupun dari mereka Kev?" Shenna malah bertanya hal tidak penting.


Kevin terkekeh pelan, "Jangan suka memancing di air keruh Na.." dan Shenna hanya tertawa kecil mendengar ucapan Kevin.


"Aku hanya memberi tahu kamu satu hal Na, siapkan hatimu dengan baik dan dengarkan apa yang akan dia jelaskan padamu. Barulah saat itu kamu bisa memutuskan harus bagaimana. Jangan gegabah atau kamu akan menyesal.... seperti aku."


Shenna tertegun sebentar tanpa terasa air matanya kembali jatuh menetes.


"Na aku mau jujur satu hal agar aku bisa lega.." Kevin mengusap airmata dipipi Shenna dengan jarinya.


"Sejak pertama kita berkenalan aku sudah suka sama kamu, tapi saat itu aku menyangkal dan beranggapan kamu hanya anak kecil. kita terpaut 6 tahun dan aku malah memilih untuk berpacaran Herlin." Kevin tersenyum sambil menerawang.


Shenna tertawa dan menatap Kevin, "Tapi Herlin memang cantik dewasa dan seksi, aku saat itu seperti papan setrikaan dibandingkan dengan Herlin."


Kevin ikut tertawa, "Dan akhirnya aku menyesal udah lepasin kamu. Jangan sampai menyesal Na. Aku udah berjanji untuk jadi teman yang baik buat kamu, Jadi inilah yang aku lakukan. Tapi jika kamu bisa kasih aku kesempatan, aku gak akan sia siakan"


Shenna menatap dalam Kevin dan memeluk pria itu,


" Maaf dan terimakasih Kev.."


Kevin tersenyum pias dibalik bahu Shenna dan menepuk punggung wanita itu pelan.


"Makan yuk, aku laper banget belum makan dari siang. Kamu emang gak laper??" Kevin menjitak pelan kepala Shenna, "Nungguin kamu selesai nangis bisa kena serangan magg!"


Shenna hanya tertawa dan mengangguk, Kevin dengan segera menghidupkan mesin mobilnya dan mengendarai meninggalkan dermaga. Setelah menempuh jarak hampir setengah jam, Kevin memarkirkan mobilnya pada sebuah cafe yang sedang ramai dibicarakan para food blogger.


"Eh. ini kan??" Shenna menoleh sekeliling sambil melepas seatbeltnya, Kevin hanya tersenyum dan turun dari mobil. Mereka jalan beriringan masuk kedalam restoran. Beberapa pelayan melihat Kevin dan Shenna datang langsung sedikit terburu berbaris untuk melayani.


Seorang manager cafe tersebut keluar menyambut mereka, "Selamat datang pak Kevin, silahkan masuk kami sudah menyiapkan tempat."


Shenna dan Kevin mengikuti manager cafe tersebut yang berjalan mendahuli menunjukan meja mereka, Shenna menarik pelan kemeja Kevin,


"Kev ini cafe kamu yah??" dan hanya dijawab senyuman dan anggukan oleh pria itu


Shenna hanya bisa tersenyum hambar.


Setelah memesan makanan Shenna duduk memandangi sekeliling cafe ini yang didesain dengan bagus. "Keren juga kamu bikin cafe ngehits gini Kev."


"Ini Join dengan beberapa teman, tapi aku pemegang saham utama." Kevin tersenyum pongah, Shenna hanya mencebikkan bibirnya melihat reaksi Kevin.


"Ehh ada live music nya juga disni?" Shenna menunjuk panggung yang berukuran sedang didepan. Kevin menoleh dan menganggukkan kepalanya sambil menikmati minumannya.


Kevin memanggil manager restoran untuk bertanya kenapa pemain band masih belum tampil padahal tadi dia melihat gerombolan group band sudah masuk keruang tunggu 30 menit yang lalu.


"Anu pak.. itu vokalis mereka sedang terjebat macet di toll katanya ada truck terguling. Jadi akan terlambat 30 menit." Dan kevin hanya menganggukan kepalanya.


"Kenapa bukan kamu aja yang nyanyi Kev?" Shenna tertawa setelah manager itu berlalu pergi.


"Maksud kamu?" Kevin menautkan kedua alisnya, fokusnya pada makannya teralihkan.


"Iya. kamu kan suka nyanyi, kamu aja dulu suka nyanyi buat aku di telfon. Sambil main piano..."


Kevin langsung terbahak mengingat cara dia PDKT dengan Shenna dulu dan Shenna ikut tertawa.


Kevin terkekeh dan menghabiskan makannya, lalu berdiri. "Aku persembahkan 1 lagu buat kamu Nana ku tersayang." Lalu segera berjalan menghampiri manager itu. Setelah mendapat instruksi dari Kevin manager itu segera masuk dan keluar besama anggota band itu ada pembicaraan singkat diantara mereka yang Shenna tidak ketahui.


Shenna menggeleng dan menghabiskan makanannya lalu duduk dan menikmati minumannya,


"Halo.. selamat malam. Saya ingin membawakan 1 lagu saja untuk orang spesial malam ini. Saya bukan vokalis band di harap maklum jika suara saya sumbang." Kevin berbicara diatas panggung dengan mic dan disambut gelak tawa dari pengunjung lainnya.


Shenna tertawa dan bertepuk tangan lalu menyoraki Kevin dari mejanya yang tidak jauh dari panggung.

__ADS_1


Intro musik dimainkan ternyata Kelvin membawa lagu SHE WILL BE LOVES dari Marron5


Beauty queen of only eighteen she


Had some trouble with herself


He was always there to help her, she


Always belonged to someone else


I drove for miles and miles and wound up


At your door


I've had you so many times but somehow I want more


I don't mind spendin' everyday


Out on your corner in the pourin' rain


Look for the girl with the broken smile


Ask her if she wants to stay awhile


And she will be loved, and she will be loved


Setiap lirik lagu yang Kevin nyanyikan seakan menggambarkan dirinya dan Shenna saat ini, Kevin menatap dalam Shenna sambil terus bernyanyi hingga membuat dia salah tingkah.


***


"Turunin depan lobby aja Kev. Maaf udah bolos kantor dan nyeret kamu juga, dan makasih banyak udah hibur aku hari ini." Shenna melepas seatbeltnya saat mobil Kevin sudah memasuki area apartemennya.


"Yakin? Aku akan menemami kamu keatas."


"Gak usah Kev, aku hanya ingin mandi dan beristirahat. Terimakasih dan... maaf jika lancang, aku ingin meminta 1 hal lagi pada kamu." Shenna menelan ludahnya, "Aku ingin minta cuti beberapa hari, ada tempat yang ingin aku kunjungi."


Kevin terdiam sejenak mendengar perkataan Shenna,


"Baiklah, tapi berjanjilah 1 hal Nana, saat kamu kembali ke kantor aku tidak mau melihat air matamu lagi. Dan.. pakai ini, hubungi aku." Kevin menyerahkan sebuah kantong.


Shenna tersenyum dan menerimanya, lalu membuka bungkusan itu,


Handphone???? Shenna mengrutkan alisnya dan tersadar, aah iya benar ponsel dia sudah rusak dan hancur. Dia juga harus menghubungi mama, tapi bukan diberi ponsel juga sih.


"Tadi aku meminta pak Daniel yang beli dan mengantarkannya ke cafe. Itu untuk kamu dan terima saja." Seolah menjawab pertanyaan di kepala Shenna.


Gadis itu mengangguk dan segera masuk ke lobby apartemennya, yang dia inginkan saat ini hanya membersihkan dirinya untuk berisitirahat. Lift berhenti dilantai unit Shenna, dia berjalan menuju pintu apartemennya. Dia berhenti dan terdiam bingung harus bagaimana dengan apa yang ada dihadapannya.


Steve terduduk didepan pintu apartemen Shenna, matanya sembab seperti habis menangis, baju dan rambutnya berantakan. Pria itu terlihat begitu putus asa. Steve tersadar Shenna sudah pulang dan segera berdiri tetapi ada raut cemas menghadapi Shenna yang hanya berdiri memandanganya tanpa ekspresi.


"Pon.. ponsel kamu mati sedari siang, aku... udah nunggu dikantor tapi kata Rara kamu gak balik ke kantor sejak siang. Aku... juga kerumah mama kamu tapi kamu gak kesana juga.. jadi.." Steve sefrustasi itu berusaha untuk berbicara dengan Shenna dengan terbata.


Dan Shenna mengabaikan, dia hanya berjalan dan membuka pintu apartemennya untuk masuk.


"Jangan tunjukan wajahmu dan menemui saya dalam waktu dekat ini, saya tidak ingin melihat anda. silahkan pergi!!"


"Sheiii tunggu!! Sayang dengarkan aku..."


'BRAKkK'


Shenna menutup kencang pintunya meninggalkan Steve yang terdiam didepan, pria itu memegang pintu kekasihnya lalu menyandarkan kepalanya dan menangis, iya pria itu menangis.

__ADS_1


"Sheii.. maafin aku. Aku mencintai kamu, jangan tinggalkan aku..."


Dibalik pintu Shenna terduduk dilantai memeluk kedua lututnya dan menangis mendengar ucapan Steve, mereka menangis dengan luka hati yang dalam malam itu dengan dibatasi oleh pintu.


__ADS_2