Shenna Love

Shenna Love
Semua Akan Baik baik Saja. Benar Begitu kan??


__ADS_3

"Chris!! Kalau lu masih mau liat matahari besok better lu alihin pandangan lu dari pacar orang, gak usah tebar pesona apa lagi sok kenal!!" Steve mengacungkan jari tengahnya pada Christian.


Shenna membelakkan matanya ketika Steve merengkuh pinggangnya dan memaksa Shenna kembali duduk dikasurnya, Chris pun tidak kalah terkejut.


"Pacar?? Siapa yah Steve??? Pacar lu kan Villy."


Perkataan Christian sontak membuat Shenna sedikit meradang, "Owh semua orang juga tau yah pacar kamu siapa Steve Aldjaya?!" Shenna bersidekap dan menatap sinis Steve.


Steve kembali melirik tajam pada Christian setelah mendapat tatapan menakutkan dari Shenna, "Mendingan lu keluar deh, pacar gua cuma satu dan itu Sheii!" Secara gamblang Steve mengusir Christian untuk keluar, tetapi lelaki itu masih melirik kearah Shenna dan Steve secara bergantian.


"Jangan bilang lu selingkuh Steve??" Steve yang mendengar perkataan Christian langsung naik darah, pria itu mengambil gelas diatas nakas tempat tidurnya.


"Cepetan lu keluar sekarang atau gua sambit ini ke kepala lu yah!!" Steve mengarahkan gelas itu kepada Christian.


"Oke santai bro! Hahahaha!" Christian terbahak dan melirik Shenna,


"Kalau gak bahagia sama Steve kamu sama aku aja." Christian bergegas melangkah keluar cepat setelah berkata demikian sambil terbahak karena dia tau sahabatnya itu akan sungguhan melempari dia dengan gelas jika dia tidak keluar saat itu juga.


"Kamu kenal sama dia??" Steve mendengus tak suka


"Dokter itu yang obatin luka aku kemarin." ketus Shenna.


"Apa?? Dia megang megang kamu gitu??? Kok bisa diobatinnya sama dia?"


"Gak sengaja ketemu disini kemarin dia liat aku.... aaaaah sudahlah!!" Shenna memasang wajah kesal.


Shenna menghela nafas panjang, dia tau mungkin dokter tadi hanya iseng bercanda menggoda Steve tapi hatinya sakit dan kesal mendengar orang orang lebih tahu bahwa kekasih Steve adalah Villy bukan Shenna.


"Steve." Shenna menatap nanar lelaki itu,


"Aku masih perlu waktu untuk memikirkan ulang tentang hubungan kita."


Wajah steve mendadak mengeras dan tatapan matanya tajam memandang Shenna, "Sheii, kamu tahu bahwa kamu itu satu satunya buat aku. Jangan pernah kamu terhasut omongan orang dan aku..."


"Steve." Shenna memotong perkataan pria itu dan mengangkat tangan untuk membelai sayang pipinya,


"Aku sekalipun tidak pernah terhasut omongan siapapun. Aku melihat semua dengan mata aku sendiri. Dan aku rasa memang kita..."


"No Sheii!! please dont. I love you so and i promises i'd never do this stupid mistake again. You can trust me. please Sheii." Ada nada keputusasaan dari suara Steve.


Shenna berusaha menampiknya tetapi rasa sakit di dadanya jelas dan sulit diabaikan.


"Steve dengar, kamu sama Villy uda jalanin long relationship kalian udah bareng lebih dari 10 tahun. Dan apa kamu bisa menelaah bahwa perasaan kamu ke aku bukan sementara? Mungkin kamu cuma jenuh sama Villy tapi jelas kalian punya dasar hubungan yang kuat dan aku...... gak mau jadi perusak." Air mata sialan itu lagi lagi meluncur dengan mulus dipipi Shenna membuat sesak dadanya dan pikirannya semakin kalut.


Steve mengusap pelan pipi Shenna yang basah dengan ibu jarinya,


"Aku cuma mau kamu, apapun yang kamu katakan tadi aku gak peduli karena itu bukan kebenarannya dan aku yang tau isi hati aku. Aku cuma cinta sama kamu Sheii!" Pria itu menarik nafasnya dalam.


Gadis itu menatap lurus lurus mata Steve mencari celah, dan dia tahu bahwa kekasihnya memang jujur. Tetapi dia masih merasa ada yang mengganjal mengetahui bahwa ada wanita lain yang juga mencintai kekasihnya sama besarnya atau bahkan lebih besar dari yang dia tahu.


Shenna serasa sulit untuk berbicara, kerongkongannya terasa tercekat dan air matanya meleleh begitu saja. Dia memegang erat jemari pria itu, pria yang telah mencuri seluruh hatinya dan entah kapan tanpa dia sadari dia telah jatuh cinta dan terperangkap seperti ini dengan perasaannya.

__ADS_1


Tetapi apakah dia bisa berbahagia jika ada orang lain yang tersakiti?? Tanpa perlu diberitahu dia juga menyadari betapa besar perasaan Villy, dia sungguh menjadi seorang perusak baik 5 tahun lalu maupun hari ini.


"Steve, aku bisa tanpa kamu.. tapi dia tidak. Maafkan aku, aku gak bisa menjadi egois seperti ini." Shenna melangkah keluar ruang perawatan Steve.


Pria itu hanya bisa terdiam mencoba mencerna situasi, kenapa jadi sesulit ini. Steve memejamkan matanya, nyeri dikepalanya masih dapat dia rasakan tetapi sakit dihatinya lebih dari apapun.


Kenapa kamu gak berpikir bahwa aku gak mampu tanpa kamu Sheii?? Semua cinta itu egois!


****


Shenna duduk melamun dalam ruangan kerjanya, sejak kembali dari rumah sakit dia hanya mengurung diri dalam ruangannya dan berpesan tak ingin diganggu bahkan Rara juga mengurungkan niatnya untuk menghampiri Shenna.


Dia masih mengingat jelas bagaimana kemarin saat dia menangis dirumah sakit, dia memilih toilet menjadi tempat terbaik untuk melampiaskannya tanpa harus dilihat banyak orang. Sayangnya pemikiran Shenna juga dipikirkan oleh Villy, tanpa mereka saling tahu mereka menangis di toilet bersama hanya berbeda bilik.


Flash back on


Tak lama mereka sedang menangis Shenna mendengar suara langkah sepatu masuk kedalam toilet.


"Vill?? Villy lu disni??"


Shenna menghentikan tangisnya dan tetap bersembunyi dalam bilik. Tak lama terdengar pintu bilik dibuka dan suara tangisan Villy menghambur.


Terdengar suara tangisan pilu dan suara seorang wanita lainnya mencoba menenangkan Villy.


"Gua gak sanggup kaya gini. 10 tahun gak pernah cukup Stell. Steve bisa cinta sama gua sedikit lagi aja gua yakin. Tapi lagi lagi ada wanita itu datang. Dia ngerusak semuanya..."


Perkataan Villy bagaikan ribuan jarum menghujam hati Shenna.


Ternyata sedari dulu hingga sekarang dia merusak hubungan Steve dan Villy tanpa dia tahu.


Setelah situasi kondusif, Villy dan temannya juga sudah keluar barulah Shenna membuka pintu biliknya. Dia menatap nanar wajahnya dicermin, matanya bengkak, mascara dan eyelinernya sudah tidak beraturan, rambutnya juga acak acakan. Dia terlihat sedikit mengerikan.


Ini yang namanya muka pelakor kali yah?? Hahaha!


Shenna menertawakan dirinya sendiri dan menangis kembali. Setelah mencuci wajahnya dia melangkah gontai keluar, bibirnya perih dan tangannya juga perih.


'Brukkkk' seseorang tak sengaja menabrak Shenna hingga dia jatuh terduduk dilantai.


"Maaf maaf saya gak sengaja kesandung bangku itu..." distulah Shenna bertemu dokter Christian.


Flash back off


Shenna menghapus sisa air mata dipipi, dia membetulkan riasannya lalu memaksakan diri untuk tersenyum dan melirik arloji ditangannya sudah waktunya pulang. Dia meraih ponselnya yang banyak sekali panggilan dan pesan dari Steve, semua dia abaikan. Dia wanita kuat sedari dulu, baru 7 bulan dia berpacaran dengan Steve tidak akan sulit melupakan lelaki itu. Bukankah sedari dulu dia biasa hidup melajang, benar begitu kan??


Sudah satu minggu sejak hari itu, hari dimana Shenna memutuskan untuk melajang. Dengan tegasnya dia memblok nomor ponsel Steve dan berpesan pada security apartemennya agar tidak memperbolehkan Steve naik menemui dia, untuk dikantor sudah pasti Shenna juga melakukan hal serupa.


Dia tidak ingin lemah hati saat menatap wajah Steve, dia takut hatinya luluh. Meski malam hari Shenna sebelum dia tidur selalu diwarnai oleh adegan drama tangis menangis dahulu.


Dia sangat merindukan Steve lebih dari yang dia duga, tetapi dia menampik itu dari hatinya. Dia sungguh tidak ingin menjadi pelakor, meski situasinya berbeda tapi pada kenyataannya Villy lebih layak mendapatkan Steve ketimbang dia si orang baru yang masuk diantara hubungan mereka.


Dan pada akhirnya juga sudah 4 hari Steve tidak menganggunya lagi, ini yang seharusnya terjadi kan?? Tapi kenapa hati Shenna terasa kosong.

__ADS_1


Rara mungkin sudah jenuh dan bosan menasehati Shenna bahwa dia juga layak berbahagia, bahwa kenyataannya Steve memang memilih dirinya, tapi hati siapa yang bisa berbahagia diatas tangisan orang lain. Shenna benci menjadi orang yang sangat peduli dengan orang lain.


Hari ini akhir pekan, dia memilih mengurung diri di apartemen ketimbang untuk pulang kerumah mama. Dengan kondisi Shenna saat ini tidak mungkin bertemu mamanya, matanya bengkak dan kuyu, mungkin berat badannya juga turun banyak karena dia tidak makan dengan benar. Shenna menyalakan televisi dan hanya mengganti ganti chanel tanpa menontonnya, perutnya lapar dan dia harus makan.


Kulkas lagi kosong, apa gua ke supermarket aja kali yah?? Udah deh jangan begini terus bisa ambruk badan lama lama.


Shenna bangkit berdiri dan bergegas untuk mandi, dia bersiap untuk keluar membeli bahan makanan. Dia memesan taksi online, meski mobil dari Steve masih terparkir cantik diapartemennya tapi dia segan untuk memakai, dia sudah mengembalikannya pada Steve tapi lagi lagi bang Jon datang dan membawa mobil itu kembali. Jadi Shenna putuskan dibiarkan saja dulu.


Dengan memakai kemeja kotak longgar dan celana coklat Shenna berjalan santai menuju supermarket setelah sampai di mall. Ini hari minggu sudah pasti ramai pengunjung, jadi dia berjalan santai saja membaur dengan keramaian agar tidak terlalu terlihat menyedihkan.


Shenna mendorong troley belanjaannya yang sudah lumayan penuh menuju kasir, dia mengantri untuk gilirannya. Tiba tiba matanya menangkap sosok seseorang yang sangat dia rindukan, dia berharap dia salah lihat tetapi itu benar Steve!!!


Tiba giliran Shenna untuk membayar, dia tidak terlalu fokus pada kasir karena matanya terus mengawasi Steve yang sedang duduk dalam sebuah restauran jauh disebrang swalayan tempat dia berbelanja. Mungkin inilah mata wanita yang terlalu jeli, dia terus berusaha melihat Steve sedang melakukan apa disana. Pria itu sedang makan dan sesekali dia tertawa untuk lawan bicaranya yang tertutup oleh pilar restoran tersebut.


"Totalnya lima ratus empat puluh delapan ribu rupiah bu. Untuk pembayarannya menggunakan apa?" Tanpa menjawab Shenna mengeluarkan kartu dari dompetnya dan mata dia terus mengawasi Steve di sebrang restauran.


"Maaf ibu, tapi KTP tidak bisa digunakan untuk membayar." dia gelagapan ternyata dia menyerahkan KTP nya.


"Maaf mba salah ambil." dia mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya dan menyerahkan ke kasir.


Saat matanya kembali mencari sosok Steve, pria itu sudah tidak ada ditempatnya.


Kemana dia????


Shenna menengok kanan kiri mencari dan ternyata Steve baru keluar dari restoran tersebut bersama... Villy???


Shenna duduk dengan tenang dalam taksi online perjalanan kembali menuju apartemennya, beberapa kantong belanjaan dia letakkan disebelahnya.


Sesudah sampai di apartemen dia masuk dengan sedikit kesusahan karena membawa 4 kantong sekaligus.


Dia meletakkan belanjaannya di meja dapur, lalu ke kamar untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Shenna melepas satu persatu pakaiannya yang tertinggal hanya pakaian dalamnya saja, dia bersenandung ringan dan tersenyum.


Semua akan baik baik saja.


Shenna mengatur pola nafasnya, dia melihat kearah pintu kamar mandi.


Mau cuci muka!


Dia masuk kedalam kamar mandi.


Mandi saja sekalian!


Dia berjalan kearah shower.


Semua akan baik baik saja. Benar begitu kan?


Shenna menyalakan shower dan berdiri dibawah kucuran air, dingin menusuk kulit sedikit perih.. tapi ada yang lebih sakit. Shenna memegang dadanya dan jatuh terduduk.


*Benar begitu, bahwa semua ini baik baik saja? Inikan yang kamu harapkan N*ana?


Shenna tertawa dan terus tertawa tanpa sadar air matanya meleleh, dia nangis tersedu sedu siang itu. Hatinya terlalu sesak sampai dia susah bernafas.

__ADS_1



__ADS_2