Shenna Love

Shenna Love
Siapa Yang Lebih Pantas Marah


__ADS_3

Desakan, paksaan, ultimaltum serta sedikit ancaman dari mama membuat Shenna dengan terpaksa menemani Jansen keluar ke mall siang ini. Katanya ada beberapa barang yang harus dibeli untuk kegiatannya bersama Ransen, yang tanpa Shenna tahu bahwa Jansen sudah hampir setiap hari kerumahnya bertemu mamanya dan 'bersahabat' dengan Ransen adiknya sampai sampai janjian untuk memancing bersama.


Memang belakangan mama sudah menginformasikan kepada Shenna bahwa Ransen suka pergi dengan komunitas pemacing akhir akhir ini, menyewa kapal boat kecil ke laut lepas untuk memancing dan kembali keesokan harinya.


Shenna merasa Jansen hanya berusaha untuk masuk dalam hidupnya lewat berupaya dekat dengan Ransen dan mamanya.


Licik juga nih orang! Dengus Shenna


"Jadi sekarang suka mancing juga? Atau iseng iseng mancing berhadiah???" Shenna bukan sebodoh itu untuk tidak mengetahui siasat yang Jansen lancarkan.


"Hahahaha! Bisa aja kamu Sheii. Tapi memang aku ketemu Ransen saat dipelabuhan kok, aku lagi temenin sepupu aku mau pergi mancing dan ternyata mereka 1 komunitas. Berarti kita emang ada jodoh dong?!" Jansen berjalan menyusuri mall untuk menuju toko alat pancing dimall tersebut.


Shenna hanya mencebikkan bibirnya dan berjalan seiringan dengan Jansen.


Bukan rencana Shena untuk menghabiskan libur akhir pekannya berjalan di mall, suasana siang ini juga lumayan ramai. Apalagi berjalan sama Jansen, padahal dirinya sudah bertekat untuk beristirahat dari tiga lelaki ini.


Setelah sampai di toko yang menjual alat pancing Jansen segera memilih beberapa barang dan membayarnya di kasir, Shenna hanya menunggu bosan tidak berselera untuk kegiatan tersebut.


"Udah selesai nih. Makan siang yuk!" Tanpa menunggu jawaban Shenna, Jansen segera menarik lengan Shenna untuk memasuki sebuah restoran pasta dan pancake.


"Kamu masih suka makan makanan manis kan??" Jansen tersenyum sangat sangat manis.


Aduuhh silau banget!!! Jangan kebanyakan senyum deh!!


Shenna hanya menganggukkan kepalanya saja dan membuka buku menu untuk memilih menu makannya.


Spaghetti tuna Aglio olio menjadi pilihan Shenna dan Jansen hanya memesan pancake saja,


"Nanti dessertnya kamu mau pesen apa? Ice cream kayak dulu mau??"


Apaan sih bawa bawa dulu..dulu dulu.. Shenna memandang Jansen kesal sesaat dan menghela nafas lalu menganggukan kepalanya


*Biar cep*at!! Batin Shenna.


"Kamu banyak diem Sheii. Gak suka yah temenin aku??" Jansen mulai sedikit merajuk pada Shenna.


"Itu kamu tau!" Shenna mulai malas berbasa basi.


"Iih kamu begitu yah sekarang jutek banget, emangnya kita gak bisa mulai dari temenan dulu aja gitu. Jangan jutek atau cuekin aku dong."


Jansen mengerucutkan bibirnya dan menampakan ekspresi lucu.


Tanpa sadar Shenna terkekeh dengan tingkah Jansen.


"Aaah gak mau temenan sama kamu! Tuh nasib temen kamu si Herry selalu di bully melulu sama kamu!"


Shenna mengingat beberapa kejadian dulu saat dekat dengan Jansen ada temannya bernama Herry yang selalu menjadi sasaran bully untuk melucu saja dan memang sahabat Jansen saat itu semua manusia lawak termasuk Andro didalamnya.


Jansen langsung tertawa mengingat beberapa kejadian itu dan obrolan ringan serta candaan mengalir begitu saja dengan Shenna. Beberapa kali Shenna tertawa terbahak mendengar guyonan Jansen perihal sahabatnya terutama Andro yang terkadang suka *telmi.


Gak apa apa deh dari temenan dulu asal bisa liat tawa kamu kayak begini, sedekat ini.

__ADS_1


Batin Jansen.


Makan siang sudah mereka habiskan tetapi masih ada dessert dan minuman ringan di atas meja sebagai pelengkap teman mengobrol candaan mereka.


Tiba tiba kursi di sebelah Shenna ditarik dan Steve langsung duduk disebelah Shenna. Karena sangat terkejut, Shenna sampai hampir tersedak makanannya.


Hari ini udah dua kali kaget pas makan!!! Bisa bisa umur gua jadi pendek!!!


Shenna mengelus dadanya agar tidak tersedak.


"Asik banget kayanya." Senyum Steve lebar dan merekah tetapi terlihat janggal di mata Shenna.


Jansen hanya memandang bingung dan waspada seperti tahu ada lagi saingannya.


"Owwh iya kenalin, Steve!" Steve dengan segera menghadap kearah Jansen dan mengulurkan tangannya.


Disambut ragu oleh Jansen tetapi mereka erat berjabat tangan seperti menandakan ingin adu kekuatan masing masing.


"Pacarnya dan akan segera jadi tunangan Sheii!" Lanjut Steve mantap.


Shenna langsung tersedak minumannya kali ini, dia tidak bisa menghindar dari serangan terkejutnya yang ketiga kalinya hari ini.


"Ohok. ohok. ohok!!" Shenna terbatuk batuk dan dengan segera Steve mengelus punggung Shenna dengan sayang.


"Pelan pelan dong minumnya sayang."


Jansen mengeraskan rahangnya dan tersenyum sinis.


"Bukan!"


"Iya!!"


Steve dan Shenna menjawab bersamaan.


Tsk!! Shenna berdecak dan memandang Steve kesal.


"Kenapa kamu bisa disini??!"


"Kenapa kamu non aktifin ponsel kamu? cuma buat pergi selingkuh??" Steve tidak mau kalah.


Diam kamu!" Shenna mulai kesal Steve seolah memprovokasikan keadaan.


"Gua mau pulang!" Shenna berdiri dan mengamit tasnya.


Dengan sigap Jansen meraih lengan Shenna.


"Aku antar!"


Steve yang tidak mau kalah juga meraih lengan Shenna satunya.


"Pulang sama aku!"

__ADS_1


Posisi Shenna berada di tengah dan kedua lengannya terentang sebelah kiri ditarik Steve dan sebelah kanan ditarik Jansen.


Beberapa pengunjung menyaksikan adegan itu seolah menjadi tontonan yang sangat menarik untuk bahan ghibah nanti.


Darah Shenna mendidih dia malu dia kesal dia merasa gila. Dengan kasar Shenna menampik kedua tangannya dan melepas pegangan Jansen maupun Steve. Karena teringat akan ultimatum yang mama berikan jadi Shenna memutuskan untuk pulang dengan Jansen.


"Sen, aku pulang sama kamu! Tapi tunggu aku mau bicara dulu sebentar sama orang ini!" Shenna menunjuk Steve dan membuat Jansen tersenyum senang.


"Ok Sheii. Take your time. Aku tunggu dibangku depan."


Jansen mengelus kepala Shenna sayang sebagai balasan untuk memprovokasi Steve.


Steve menghembuskan nafasnya kasar.


"Sheii..."


"Ikut gua!" Belum selesai Steve berbicara, Shenna menarik lengan Steve untuk mengikuti dia berjalan kepinggir lorong mall yang sepi orang berlalu lalang.


"Kamu kenapa bisa disni?? Kamu ngikutin saya dokter Steve??" Shenna kesal merasa hidupnya sudah mulai terusik seperti ini.


"Iya aku ngikutin kamu dari rumah mama kamu, ponsel kamu gak aktif jadi aku mutusin buat dateng kerumah mama kamu yang aku udah gak begitu ingat jalannya lagi, sampai aku lihat kamu keluar rumah masuk ke mobil laki laki itu. Siapa dia???!" Steve marah, kesal juga cemburu menjadi satu.


"Kamu benaran ikutin aku??" Shenna memandang jengah Steve. "Lagian Jansen itu..."


Belum selesai Shenna bericara Steve memotongnya.


"Apa?? kamu mau bilang kalau dia bukan pacar kamu lagi, atau cuma gebetan atau orang yang ngejar ngejar kamu? Kayak Kevin bos kamu itu atau aku??? Atau ada berapa ratus cowo lagi Sheii??? Semuanya bisa megang megang kamu?? Bisa ngelus kamu?? kamu tipe cewe gampangan sekarang Sheii??!! Emang yah aku ngarep banget sama kamu tapi melihat kamu kaya gini sekarang dan aku sadar sesuatu, atau aku emang belum kenal kamu Shenna?!" Steve yang marah melontarkan kata kata yang menurut Shenna sangat..... jahat.


*K*ok dia yang ngegas?!


Shenna merasa hatinya sakit akibat kata kata Steve.


Dan belum sempat Shenna membalas Steve sudah berlalu begitu saja dan meninggalkan Shenna berdiri sendiri.


Sepanjang perjalanan pulang Shenna hanya diam tergugu mengingat kata kata Steve. Dan Jansen sesekali mencuri pandang kearah Shenna dengan beribu pertanyaan di benaknya.


"Sheii, tadi itu.." Jansen berniat menuntaskan rasa penasarannya.


"Siapa yang lebih pantas marah Sen?? Aku atau kalian bertiga??" Jansen tidak mengerti apa yang Shenna ucapkan dan hanya mengerutkan kedua alisnya lalu menepikan mobilnya kebahu jalan.


Air mata Shenna mengalir begitu saja dipipi mulusnya, hati Jansen sakit melihat Shenna menangis.


"Kalian bertiga seenaknya datang, seenaknya mengklaim, seenaknya meluk, cium, gandeng dan sekarang gua yang dicap murah!" Shenna terisak pelan, hatinya sakit kenapa harus mendengar kata kata seperti itu dari Steve, kenapa harus Steve??!


"Sheii, im so sory.." Jansen hendak mengelus kepala Shenna dan dia langsung menghindar.


"Sen, hati aku udah memilih... tapi aku takut kecewa lagi. Hiks! kita temenan saja yah Sen, jangan lebih dan jangan tunjukin perlakuan manis apapun. Aku gak bisa terima lebih dari ini." Shenna melepas seatbelt nya.


"Aku mau pulang sendiri aja. Please jangan ikutin aku. Aku butuh waktu sendiri." Shenna menghapus air matanya dan dengan segera turun dari mobil Jansen.


Shenna menyetop taxi yang lewat dan segera masuk untuk melanjutkan perjalanan pulangnya.

__ADS_1


Jansen hanya memandang nanar kepergian Shenna, hatinya sakit.


__ADS_2