
Akhir pekan berada dirumah mama, merupakan akhir pekan terbaik untuk Shenna. Tidak perlu pusing memikirkan makan apa hari ini, tidak perlu cape menyapu dan pel rumah, tidak perlu urus cucian di dapur dan baju kotor. Shenna akan bersantai dan menikmati akhir pekannya. Bukan, Shenna bukanlah wanita malas dan manja, dia telah melakukan semuanya sendiri dari hari senin sampai jumat, maka dari itu mama Mrya berkata jika Shenna pulang kerumah, maka Shenna hanyalah gadis kecilnya yang akan dia urusi.
Shenna merengangkan badannya, sejenak tangannya meraba nakas disamping tempat tidur untuk mencari handphone nya, dilirik jam di handphone menunjukan pukul 09.00
"Hoaaaammmm!!" Shenna bangkit menuju kamar mandi sambil menguap panjang.
Sambil bersenandung Shenna menjalankan ritual mandinya, sejenak dia mengingat kejadian hari jumat kemarin, tiba-tiba bulu kuduknya bergidik.
Gua bisa gila lama lama kalau kerja dengan situasi begini.
Tapi gua bisa apa duhh..
Cobaan ini berat yah Tuhan.
Shenna membayangkan Jansen, sekarang lelaki itu sudah menjabat sebagai Direktur di perusahaan papanya, Shenna tau sedari dulu bahwa keluarga Jansen memang berlatar pengusaha tekstil, dimulai dari kakak perempuannya hingga kini menurun pada Jansen.
Kemarin sudah sangat jelas bahwa Jansen seperti mengibar bendera perang pada Kevin.
Terang terangan Jansen bertanya pada Shenna diluar konteks pekerjaannya, seperti bertanya soal kabarnya dan bertanya soal keluarga Shenna. Karena memang Jansen sudah mengenal mama Myra dan Ransen saat dulu cukup lama dekat dengan Shenna.
Mendengar Jansen kenal dengan keluarga Shenna membuat Kevin kesal setengah mati karena merasa kalah 1 poin dari pria itu.
Dengan konyolnya saat perjalanan kembali ke kantor, Kevin berkata bahwa dia berharap juga akan dikenalkan pada keluarga Shenna, dan reaksi Shenna hanya menelan ludahnya kasar.
*Te*rserah lo deh!
****
Shenna turun kebawah untuk mencari makan, karena perutnya sudah protes minta diisi.
"Ma! Masak apa hari ini? Nana laperrrr!!" Shenna duduk dengan santai dimeja makannya.
"Ini sayur asem sama cumi asin kesukaan kamu." Mama yang memang baru selesai memasak membawa sepiring cumi asin goreng diikuti oleh mbo Jum membawa semangkuk penuh sayur asem.
"Yaaayyyy!!" Shenna bersorak gembira dan segera bangkit untuk mengambil nasi.
"Tangan mama gimana? Udah oke??" Shenna mengajak mamanya ngobrol sembari menikmati makanannya.
"Udaahh nih liat..." Mama menggerak gerakan pergelangan tangannya meniru orang mau taichi.
Shenna mengerutkan alisnya
Ini mama gua kenapa sih??
" Ransen mana mah?" Shenna melirik kesana kemari tidak melihat batang hidung adik satu satunya itu.
"Aaaah adek kamu itu kalau akhir pekan gini bangun bisa jam 12 siang, makan mandi abis itu ngelayapan deh sampe malem."
"Anak muda ma, haha."
Mama hanya mendengus pelan sambil memetik tauge, duduk disebelah Shenna.
"Nana, nanti siangan kamu anter mama ke salon yah di mall."
"Hmmm.. tumben mau nyalon di mall, biasa Nana ajakin mama selalu ogah. Katanya lebih asik di salon langganan mama di komplek."
"Iyaaa abisnya kemarin mama ketemu tante Rasya, kamu masih inget gak?? Masa yah Na dia rambutnya ngembang tinggi banget kaya pake ragi 2 saset. Mama tanya dibikin dimana itu rambut, katanya di emol. Mama kan juga mau!"
Buset iih si mama!! Shenna tercengang geli.
__ADS_1
"Yaaahh terserah mama ajah, nanti Nana anterin. Tapi Nana gak ikut nyalon yah ma, soalnya hari senin hari peresmian perusahaan dan Nana belum beli blazer warna putih sesuai temanya."
"Yaaaah kok gitu????" Mama memanyunkan bibirnya kecewa.
"Nanti mama bawa aja kartu kredit Nana aja, Nana juga cuma cari blazer bentar.. paling lama 1 2 jam ma."
Mendengar kartu kredit mama Myra langsung semangat.
"Lamaan juga gapapa Na! Mama mau sekalian lulur, creambath sama facial!!"
Shenna tercengang kembali. *In*i mama kandung gua kan???
****
Setelah mengantarkan mamanya yang galau memilih salon mana yang akan dikunjungi, akhirnya Shenna bisa bernafas lega berjalan sendiri di mall untuk mencari kebutuhannya.
*Haduuhhh jalan dari ujung keujung milih salon akhirnya milih yang pertama juga.
Kalau bukan mama udah gua tinggal, jadi anak durjana dehh gu*a.
Shenna memasuki butik di mall satu persatu untuk mencari blazer warna putih yang cocok untuk dia kenakan,
*S*ekalian beli baju aaah buat ngantor sama jalan hihi
Shenna hanya wanita pada umumnya yang juga doyan belanja.
Dengan menenteng beberapa kantong belanjaan Shenna hasil pencariannya selama 2 jam dan juga tak lupa membeli baju untuk mamanya juga dan Ransen.
Shenna menghampiri salon untuk menjemput mamanya, tetapi pihak salon memberitahu paket treatment yang mamanya ambil cukup komplit dan baru akan selesai 2jam lagi.
Bisa aja nih make kartu kredit anaknya yah. Gak nanggung nanggung totalnya hampir 3 juta rupiah!
Shenna berjalan menuju restoran untuk mengisi perutnya lagi setelah meletakkan belanjannya di mobilnya terlebih dahulu.
Keadaan restoran cukup ramai tetapi Shenna beruntung mendapatkan meja kosong yang seharusnya diisi 4 orang.
Selagi Shenna makan sambil melihat handphonenya, seorang pelayan menghampirinya.
" Maaf bu, meja sudah terisi penuh semua. Apa ibu bersedia sharing tempat dengan pengunjung lainnya? Hanya 1 orang juga seperti ibu, nanti kami akan geser sedikit mejanya agar ibu tetap nyaman."
Shenna menganggukan kepalanya tanda untuk setuju dan tidak terlalu pusing untuk sharing meja dengan orang lain toh sebentar lagi dia akan selesai makan dan pergi.
Setelah dipersilahkan oleh pelayan, tamu tersebut langsung masuk dan menuju meja Shenna. Dia terkejut sesaat mengetahui siapa wanita dimeja tersebut dan tersenyum senang.
"Ternyata kita emang jodoh yah Sheii."
Mendengar suara tersebut Shenna langsung mendengakan kepalanya dan melihat Jansen sedang tersenyum dengan tampannya.
Lawak apa lagi ini?????
Jansen langsung duduk dengan manis disamping Shenna, dan Shenna hanya memutar bola matanya malas, dia sangat jengah sekali dengan Kevin, Jansen dan Steve yang terlalu agresif mengejar dirinya. Belum lagi mereka bertiga mengklaim kepemilikan atas diri Shenna tanpa tahu malunya padahal mereka bertiga juga yang dulu sudah melakukam ghosting pada Shenna. Mereka bertiga bagaikan racun untuk jiwa Shenna yang suci ini. hahaha
"Mau apa anda??" Shenna bertanya sangat ketus.
"Mau makan... ini restoran kan?"
Merasa bodoh dengan pertanyaannya sendiri Shenna hanya diam tak menanggapi Jansen.
"Silahkan makan, saya sudah selesai." Shenna hendak berdiri, tetapi Jansen lebih cepat meraih tangan Shenna.
__ADS_1
"Duduk!! temani aku sebentar." Titah Jansen.
"Hahhh? siapa anda? ada hak apa berani memerintah saya??" Shenna terlihat sangat kesal dengan perlakuan Jansen dan menghempas tangan Jansen.
"Kamu takut si bos pacar kamu bakal mergokin kamu makan sama aku??"
"Saya gak punya pacar! Dan saya..." Belum selesai Shenna menjawab Jansen memotong.
"Jadi aku bisa dekatin kamu lagi dong??!"
Shenna geram sekali, dadanya sesak karena emosi dan rasa kesal semua menjadi satu.
"Jangan lupa ucapan anda sendiri tuan Jansen bahwa saya tidak cocok dan membuat anda tidak nyaman!! Kenapa sekarang anda ingin mendekati saya lagi??? rasanya tidak mungkin seorang Jansen kekurangan wanita diluar sana!" Shenna menembak Jansen telak.
"Bisa diam ga? atau aku cium supaya kamu diam!"
Shenna terbelak dengan ucapan Jansen. Pria itu hanya bergurau karena dia memang tidak bisa berkilah lagi dari ucapan telak Shenn.
"Jangan kurang ajar!!" Shenna mendengus sinis.
Jansen menghela nafasnya panjang, mungkin ini saatnya dia untuk jujur pada Shenna perihal perasannya.
"Sheii, kita dulu masih sama sama masih labil dan muda. Terutama aku, aku masih belum terlalu paham perasaan aku dulu. Sekarang setelah dewasa tentu semua pasti berubah. Dan aku mau kita dekat lagi kaya dulu bisa sama sama. Atau.. Kamu mau kita langsung pacaran aja??" Jansen mengucap lambat lambat kalimatnya
Shenna cukup terkejut dengan kejujuran Jansen, lalu bersidekap.
Luar biasa sekali narsisnya!!!
"Anda terlalu banyak mimpi tuan Jansen." Shenna berdecih.
Jansen mengeluarkan handphone ny dan menyodorkan pada Shenna.
"Masukin nomor kamu."
"Gak!!!" Shena merasa malaa berdebat lebih lanjut dan hendak pergi saja.
"Yaudah kalau begitu perjanjian kerjanya batalin aja, aku rasa bos kamu pasti kecewa banget." Kalimat itu menahan Shenna. Sebenarnya Shenna juga bisa saja tidak peduli dengan semua itu, tetapi mengingat ini kerjasama besar yang dulu juga pak Setya impikan tetapi diraih oleh Kevin dan impian pak Setya sudah didepan mata membuat Shenna merampas handphone Jansen dan mengetik nomornya.
Gampang nanti tinggal diabaikan saja.
"Jangan coba berpikir untuk mengabaikan pesan dan telefon aku Sheii. Apalagi memasukan nomor palsu!"
Buset nih orang bisa baca pikiran.
"Tolong jangan ganggu saya. Apasih mau anda??!"
Shenna mulai kehabisan stok sabarnya.
"Aku mau kamu.... Sheii."
Secara spontan Jansen memegang lembut punggung tangan Shenna.. " Aku tunggu jawaban kamu untuk jadi pacar aku..." lanjut Jansen.
Shenna terkejut dan hendak menarik tanganya tetapi Jansen menahannya, bersamaan dengan itu ponselnya berdering.
"Sepertinya kamu harus pergi sudah ditunggu oleh tante." Jansen yang melihat ponsel Shenna mama Myra hanya misscall dan meninggalkan pesan.
Mama
"Mama udah selesai Na."
__ADS_1
"Ingat Sheii,aku tunggu jawaban kamu." Jansen berbisik ditelinga Shenna dan melepaskan genggaman tangannya membuat bulu kuduk Shenna meremang.