Shenna Love

Shenna Love
Hidup Memang Selucu ini


__ADS_3

Shenna duduk dengan serius di ruang kerjanya, masih banyak hal yang harus dia urus perihal pekerjaannya. Karena minggu depan adalah saat dimana PT KLV Tehcno diresmikan secara publik setelah mengganti nama dari PT Global Techno.


*H*mm para pemegang saham utama udah ok.


Pers udah ok juga.


Tamu tamu vip juga udah ok.


Nanti tinggal bikin tesk penyambutan buat Kevin dan Pak Setya.


konsentrasi Shenna terbuyar tatkala pintu ruang kerjanya terbuka lebar dengan keras.


'Braaaakkkk!'


Dan masuklah sosok yang tidak pernah mengetuk pintunya, yap Rara.


Shenna menghela nafasnya panjang


*U*dah biasa.. gumamnya sambil terus melanjutkan pekerjaannya setelah tadi melirik Rara sesaat.


Merasa tindakan dengan hebohnya masuk ruangan Shenna diabaikan, Rara mendengus kesal.


"Kok lu gak respon sih gua masuk udah heboh begini?"


"Udah males Ra!"


"Diiihh baper deh..." Rara langsung menuju kursi depan Shenna. " Sheii..." Panggil Rara.


"Hmmm..."


"Sheiiiiiiiiiiiii!!!"


"Apa sih???? kagak bisa liat gua lagi sibuk apa??" Shenna memelototkan matanya karena terganggu oleh Rara.


Rara tidak menghiraukan amukan wanita itu,


"Shei, tadi dibawah..gua.."


"Pasti lu mau bilang lu ketemu Jansen kan??" Tebak Shenna yang tetap berkutat dengan berkasnya.


"Hahhh???? Bentar bentar....." Rara mulai mencerna situasi. " Jangan bilang klien baru Pak Kevin itu Jansen???"


Shenna hanya mangut mangut sambil tetap mengerjakan pekerjaannya.

__ADS_1


"Kok lu santai bangat sih Sheii?!"


Rara masih diabaikan Shenna mulai kesal.


"Shennnnaaaaa!!!" Rara mulai meninggikan suaranya lagi.


Shenna menghela nafasnya berat dan mengalihkan pandangannya dari setumpuk pekerjaan dimejanya. Akhir akhir ini terlalu banyak kejadian yang tidak bisa diterima oleh nalarnya. Kedatangan Kevin sebagai CEO barunya, belum lagi tiba tiba bertemu Steve kembali yang bahkan dengan kurang ajarnya berani masuk ke apartemennya, jangan lupakan juga kelancangan Steve memeluk dirinya. Seolah belum selesai dengan urusan Steve, muncul lagi Jansen. Shenna sungguh merasa dia dikerjai oleh takdir hidupnya akhir akhir ini. Andai sekarang dia punya pasangan, sudah pasti ketiga manusia dari masa lalunya tersebut tidak akan ada artinya dimata dia. Tetapi disinilah keadaanya masih sama dan tetap single.


"Ra..." Shenna menghela nafas panjang. "Ada yang harus gua ceritain. Otak gua udah melepuh ga bisa nyimpen ini lagi sendiri." Shenna mendengus sembari menahan cairan bening dimatanya.


Rara cukup tersikap melihat sahabatnya yang selalu haha hihi ini akan menangis, segera bangkit dan memeluk Shenna dari samping.


"Apaaaaahhhh???!!!!!! brengsek banget Kevin dan yang namanya Steve itu!!! Belum lagi dongkol gua tuh masih belum hilang sama Jansen gara gara dulu dia begitu sama lu!!" Rara tidak lagi menyebut atasannya dengan embel embel bapak lagi setelah mendengar seluruh cerita Shenna dari awal hingga akhir.


"Iyaaa makanya Ra!! Gua bingung harus gimana? Jujur aja gua merasa terbebani sama ini semua." Shenna menghela nafasnya frustasi lagi lagi.


Tiba tiba telefon dimeja Shenna berbunyi, dia melirik untuk melihat nomor ekstensi siapa yang menghubunginya, wanita itu mendengus kasar dan langsung mengangkat telefonnya.


"Keruangan saya sekarang Na!" shenna sudah bisa menebak apa isi pembicaraan ini dan seperti biasa telefon langsung ditutup.


"Tuh Ra... liat kelakuan bos baru lu!" Adu Shenna pada Rara.


"Apaan??" Rara masih kurang paham.


"Yaaah mau elu laaah sheii. Mau apa lagi doi?!"


"Haaaah percuma ngomong sama lu, capeeek!! Udah gua mau keatas dulu menghadap bos lu si fucek boy!"


Seperti yang sudah sudah dan seperti dugaan Shenna juga, dia hanya dipersilahkan duduk untuk mengamati bos barunya ini sibuk berkutat dengan pekerjaannya.


Shenna sudah mulai emosi seperti dikerjai oleh Kevin, dia merasa sangat dipermainkan.


"Pak kalau bapak terus terusan manggil saya kesini tetapi gak ada pekerjaan buat saya mending saya turun kembali keruangan saya lagi, karena pekerjaan saya masih sangat banyak pak!!" Suara Shenna terdengar sangat jengkel.


Dan lebih kesalnya lagi Kevin terlihat mengabaikan emosi Shenna sambil terus berkutat dengan pekerjaannya.


Merasa sudah habis kesabaranya Shenna segera bangkit dari kursinya dan menuju pintu keluar tanpa bicara apapun lagi.


Kevin dengan sigapnya mengejar pergerakan Shenna yang tidak diduganya, dia langsung meraih tangan Shenna.


"Kamu mau kemana Na??"


Shenna merasa jengah dengan pertanyaan Kevin yang menurutnya aneh.

__ADS_1


"Yah balik keruangan saya pak, untuk apa saya disini kalau cuma dicuekin." Shenna berusaha melepas tangan Kevin.


"Oowh jadi kamu maunya aku perhatiin gitu??" Kevin malah tersenyum menggoda Shenna.


"A.. Apaan sih??" Shenna merasa salah tingkah dengan ucapan Kevin ditambah tiba tiba Kevin memangkas jarak antara mereka dengan menarik tangan Shenna.


"Bapak mau apa???!" Shenna masih trauma dengan Steve yang kemarin memeluknya jelas tidak ingin terulang kembali dengan Kevin


Melihat gesture Shenna, Kevin juga sudah paham bahwa wanita dihadapannya ini merasa tidak nyaman dengan jarak mereka saat ini. Tetapi bukan Kevin namanya kalau dia perduli, Kevin semakin mengeratkan genggaman pada tangan Shenna, dan mengaitkan jarinya pada jemari Shenna.


Jantung Shenna kejar kejaran untuk berdetak adu cepat sudah seperti ada adu banteng liar didalam dadanya.


*In*i apaan sih????? tangan gua digenggam kaya gini kenceng banget.


Shenna berusaha kembali untuk melepas pegangan tangan Kevin tetapi sangat sulit.


"Jangan pernah panggil aku dengan sebutan bapak lagi Na. Aku ga mau dengar kata kata itu keluar dari mulut kamu lagi, dan sekarang jawab aku dengan jujur."


Tatapan mata Kevin dalam tajam dan sangat menusuk sehingga Shenna menelan kasar ludahnya karena sangat gugup berada dijarak sedekat ini dengan Kevin


"Ada hubungan apa kamu dengan Jansen Chrisyandi??"


****


Shenna menepikan mobilnya disebuah swalayan dekat apartemennya, dia harus belanja kebutuhan apartemennya yang sudah tipis stocknya.


Setelah memarkirkan mobilnya dia segera masuk dan mendorong trolley belanja.


Masih teringat jelas dikepala Shenna bagaimana Kevin mencecarnya perihal Jansen namun Shenna erus berkilah. Shenna juga tidak bodoh jelas sekali sikap Kevin tadi menunjukan bahwa dia sangat cemburu.


*Gi*la loh ada hak apa dia??? kemaren kemana apa pak.. udah basi! Rutuk Shenna.


Kepala Shenna rasanya sangat bercabang dengan berbagai pikirannya, belum lagi tadi Kevin berkata bahwa Jansen ingin dia yang menjadi perwakilan dr PT KLV Techno mengenai kerjasama yang akan berjalan, yang berarti akan semakin sering Shenna berhadapan dengan Jansen. Sungguh saat ini Shenna sangat mumet dengan pikirannya.


Setelah memeriksa belanjannya yang dirasa cukup, Shenna melirik arloji dilengannya, sudah pukul 19.30 sebaiknya dia segera ke kasir dan pulang.


Saat menunggu kasir menghitung semua belanjaannya, kasir tersebut tersenyum sumringan dan berkata.


"Selamat ibu, hari ini adalah anniversary 10 tahun swalayan kami!! Dengan total belanjaan ibu yang mencapai atau diatas 1juta rupiah maka ibu berhak mendapatkan 1 set perlatan makan serta set piring cantik ini!" Kasir tersebut mengangkat sebuah box cantik berwarna pink pastel berlapis plastik mika didepannya yang menunjukan set piring yang sangat cantik dan elegan.


Shenna tersenyum berbinar kemudian tertawa.


Beneran gua dikasih piring sama Tuhan?? Hidup emang selucu itu yah!!

__ADS_1


__ADS_2