
Ruang tamu di apartemen Shenna memang tidak terlalu besar, jika kedatangan tamu dua atau tiga orang masih akan cukup lebar untuk sekedar duduk atau bersantai disana. Tetapi dengan kehadiran satu orang tamu atau mungkin orang yang tidak diundang ini saja membuat seluruh ruangan apartemen ini terasa sesak untuk ditinggali.
Jelangkung apa orang sih ini? Main dateng gak diundang, langsung duduk ga tau diri!
Shenna menatap tajam Steve yang sedang duduk manis di sofa bednya, namun Steve tetap santai malah dia asik memanjakan matanya menatap sekeliling ruangan apartemen Shenna.
"Apartemen kamu decornya bagus Sheii, bikin betah yah." Steve tersenyum mengamati tiap sudut apartemen Shenna.
"Bagaimana caranya anda bisa naik kesini dokter??" Shenna menatap tajam Steve mengabaikan perkataan Steva yang sungguh tidak tau malunya berkunjung ke apartemen Shenna tanpa diundang.
"Dan kehadiran anda bukan hal yang saya harapkan saat ini. Jika tidak ada keperluan silahkan keluar!" lanjut Shenna.
Mengabaikan pengusiran Shenna, Steve bangun untuk melihat deretan bingkai foto Shenna yang terpajang di dinding. "Aku Dokter Sheii, aku bisa mendapat akses dengan mudah hanya dengan mengeluarkan statement urgent." Mata Steve terus mengamati foto-foto yang dipajang. "Waahh kamu mendapat gelar cum laude yah?! Hebat sekali Sheii, aku bangga." binar mata Steve menunjukan betapa dia terpukau oleh seorang Shenna.
"Wahhh disini ada seorang dokter yang menyalah gunakan gelarnya untuk kepentingan pribadi yah?? Dan gak perlu basa basi!!" Sinis Shenna, "Lagipula kedatangan anda tidak diharapkan disni." Shenna mengulang kembali kata-kata pengusirannya untuk Steve.
Sambil berjalan kearah Steve " Jadi tolong anda keluar dari apartemen saya sekarang!!" Shenna menarik kasar tangan Steve dengan maksud untuk mengusirnya secara paksa.
Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Maksud hati ingin mengusir apa daya tenaga tak sampai. Ungkapan yang agak menyimpang dari situasi ini memang namun itulah yang terjadi.
Saat tangan Steve ditarik paksa oleh Shenna, yang bahkan se centi pun Steve tak bergeming, Steve tersenyum jahil kembali menarik tangan Shenna dan sukses membuat Shenna jatuh kedalam pelukannya.
Alih alih menyeret Steve, Shenna malah terjebak dengan perbuatannya sendiri.
"Le.. Lepasin ga???!!!" Shenna terkejut bukan main. Pasalnya dulu selama tiga bulan mereka dekat, tidak pernah ada kontak fisik yang terjadi. Tetapi saat ini, disini, di apartemen Shenna, di malam ini. Sungguh diluar perkiraan Shenna bahwa Steve sangat lancang berani memeluk dirinya.
Bukannya melepas pelukannya, Steve semakin mengeratkannya sehingga tidak ada lagi jarak diantara mereka.
"A.. Apa mau anda dokter??!!! Ja.. jangan macam macam atau saya akan berteriak!! Dan keamanan akan datang!!" Ancaman Shenna tidak membuat Steve gentar, malahan semakin lebar Steve tersenyum manis.
"Kamu Cantik Sheii, akan selalu begitu.. apalagi kalau lagi marah marah kaya gini." Steve mengelus lembut pipi Shenna dengan punggung jemarinya.
Sebelum Shenna menjawab emosi perkataan dan tingkah laku Steve yang kurang ajar ini, Steve sudah lebih dahulu melepaskan pelukannya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pelukan dan sentuhan Steve benar benar membuat tubuh Shenna meremang seperti terkena sengatan aliran listrik.
Shenna menderukan nafasnya, dadanya naik turun menunjukan betapa dia sangat shock dengan perlakuan Steve.
"Apa maumu Steve?? Apa tujuan dan maksud kamu datang kesini??" Shenna bersidekap memeluk tubuhnya sendiri setelah dia berjalan menjauh dari Steve.
Melihat Shenna seperti itu terbesit rasa bersalah dalam hati Steve.
"Aku cuma merindukan kamu Sheii."
"Rindu???!!! Lelucon murahan macam apa lagi yang akan anda mainkan dokter??! Sungguh menggelikan." Shenna memasang wajah jijiknya.
"Sheii.. kamu harus dengar penjelasan aku dulu.." Steve menjadi salah tingkah.
Shenna langsung bergerak kearah pintu dan membukanya dengan lebar.
" Keluar!"
"Sheii jangan seperti ini. Dengar dulu, saat itu aku tidak punya banyak pilihan. Kamu dengar dulu penjelasan aku." Steve masih berupaya meluluhkan amarah Shenna.
"Keluar Steveeeeee!!!!!!!!" Shenna menaikan intonasi suaranya sembari menunjuk kearah pintu dan tanpa sadar ada air yang mengalir keluar dari sudut mata Shenna hingga Steve tergugu.
__ADS_1
Ini bukan saat yang tepat.
Dan dengan berat hati Steve melangkahkan kakinya keluar apartemen Shenna meski sangat enggan.
****
Sudah dua hari semenjak kejadian di apartemen Shenna, dan semenjak hari itu juga hampir setiap jam Steve mengirimkan pesan untuk shenna.
Steve
"Hai Sheii, apa kamu sibuk? Bisa kita keluar makan siang sebentar?"
"Sheii.. kamu harus dengar dulu penjelasan aku."
"Sheii jangan kecapaian bekerja yah..jaga kesehatan kamu."
"Sheii boleh aku telfon?"
Dan berbagai jenis pesan dan berapa banyak panggilan dari Steve semua Shenna abaikan.
Muka gile lu..!! Seenak udel dateng pergi semau mau perut lu. Gua gak bakal terpengaruh!! Sekarang sok sok an care, jijay bajaj bodo amat!!!!!
Shenna kesal bukan main saat ini dan melempar ponselnya asal.
Tiba tiba tanpa ada angin hujan pintu ruangan Shenna terbuka lebar, masuk tanpa permisi, langsung duduk di kursi depan meja kerja Shenna, siapa lagi kalau buka Rara.
"Kenapa lu liatin gua begitu amat?? Cantik yah gua hari ini? *S*hining smering splendid ?? Iyaaa??" Rara menyibakkan rambutnya ke kanan ke kiri seperti sedang ingin menebar ketombenya kebeberapa arah dalam ruangan Shenna
"Jidat luh shinning Ra! Kesel nih gua, lu kagak ada sopan sopannya masuk ruangan atasan yah!" Shenna sewot memelototkan matanya pada Rara.
"Aduhhh hidup gak usah dibawa ribet! Gak usa sopan menyopan, nih yang lebih penting dan utama dalam hidup ini. Liat dong!!"
Shenna mengerutkan alisnya tidak paham.
"Aduh pake acara bengong dia..." Rara menghela nafas panjang. "Ibu Shenna Asterta Keynard tercinta ini company profile yang anda minta kemarin siang, sudah jadi dan sudah sangat apik. Informasi perusahaan didalamnya dijamin dapat meluluhkan hati klien manapun didunia ini bahkan saya rasa alien pun akan terpukau betapa cerdas dan kompetennya seorang Rara ini."
Shenna langsung merampas map dari tangan Rara, matanya dengan jeli menelisik hasil kerjaan Rara dan tersenyum sangat puas.
"Meski otak dan kelakuan lu gesrek dan susah diterima oleh nalar manusia awam, tapi gua akuin lu berkompeten."
" Yeeeee.. Muji tapi menghina. Dasar lu!!"
Saat larut dalam candaannya dengan Rara tiba tiba Shenna spontan berdiri dengan shocknya karena mengingat suatu hal penting.
'Braaaakkkk!!!'
Rara dibuat shock oleh tingkah Shenna yang terlalu ajaib berdiri dan menggebrak meja saat ini.
"Gila kerasukan apa lagi nih perawan?!" Rara mengelus elus dadanya.
"Raa!! M*mpus Ra!! Gue lupaaaa aduh b*go banget deh. M*mpus deh." Shenna menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melihat arlojinya.
"Apaan sih??!!" Rara mulai ikutan panik.
"Gua ada janji ketemu sama event organizer buat acara peresmian perusahaan senin besok 15 menit lagi. Tapi gua lupa juga ada meeting ketemu klien baru sama pak kevin."
__ADS_1
"Hadeeehhh perawan ibukota. Gitu aja gundah gulana. Nih tinggal serahin sama Rara si ratu kompeten pasti beres." Rara menepuk dadanya.
"Owwwh iyaaa bener juga lu kalo ngomong. Okeh sekarang lu naik ke ruangan pak Kevin dan gantiin gua meeting, gampang kok cuma jelasin company profile. Dan gua mau turun ketemu EO nya. Byeee!!!"
Shenna segera menyambar handphone dan beberapa map di mejanya langsung keluar ruangan tergesa meninggalkan Rara yang shock.
"Hhhaaaahh??? begimane ini?? maksudnya gua yang meeting sm EO jenalll. Lu yang ketemu pak Kevin!!" Teriak Rara yang sudah pasti tidak di dengar Shenna yang sudah hilang batang hidungnya.
****
'TOK TOK TOK.'
Rara masuk ke dalam ruangan Kevin untuk segera mengikuti meeting klien.
Kevin tengah sibuk berbicara dengan Daniel melalui telefon, karena Daniel sedang berada diluar kota.
"Ini akan menjadi proyek pertama kita dengan perusahaan tekstil terbesar, jadi saya harap kamu juga bisa menghandle disana ok."
Begitu telefon ditutup Kevin melirik pada Rara yang berdiri dengan senyum segan pada Kevin.
"Ada keperluan apa nona Rara?" Kevin masih tetap sibuk dengan berkasnya karena 5 menit lagi kliennya akan segera tiba.
"Saya diutus oleh Ibu Shenna untuk mendampingi bapak meeting siang ini."
Kata-kata Rara sukses membuat Kevin terdiam menghentikan aktifitasnya.
"Maksudnya?? Dimana Shenna??!"
"Ibu Shenna sedang diruang meeting bawah ada pertemuan dengan event organizer untuk acara senin besok pak." Rara menelan ludahnya kasar karena mendapat tatapan tajam dari Kevin.
..
Rara dengan cepat berlari menuju lift dan menelusuri setiap ruangan meeting, serta bertanya pada orang yang ditemuinya perihal keberadaan Shenna.
Siallll kenapa gua yang kena semprottt???! Lu harus traktir gua makan sampe kenyang Sheiiii gua gakk mau tau!!
Rara sangat gemas pada Shenna saat ini.
"Kamu tukaran posisi sama Shenna. Kamu yang turun untuk bertemu EO dan suruh Shenna secepatnya kemari. SEKARANG!!" Bentakan Kevin masi bergema dikepala Rara.
Setelah mendapat petuah dari Rara, Shenna melangkahkan kakinya malas untuk naik keatas.
*Siapa yang ikut dia meeting kan sama aja, Rara atau gua juga sama.. Kenapa sih dia?
Rutuk Shenna kesal. Meski tau meeting pasti sudah dimulai Shenna tetap melangkahkan kakinya dengan malas dan terkesan lamban.
Bodo ah ditungguin juga. Kezal aku tuh*!!
'TOK TOK TOK'
Shenna mengetuk ruangan meeting khusus CEO dengan klien penting yang biasa digunakan. Shenna langsung masuk begitu melihat sudah ada 3 orang disana. Kevin, termasuk klien itu dan seorang wanita mungkin asisten klien itu.
Begitu Shenna mendaratkan dirinya untuk duduk dan meminta maaf atas keterlambatannya, matanya menangkap sosok sang klien baru itu.
Lelucon macam apa lagi sekarang??!!
__ADS_1
Shenna dengan segera bangkit dan meninggalkan ruangan itu tanpa peduli pandangan bingung Kevin dan tamunya, berlari menuju toilet terdekat. Wanita itu langsung menuju salah satu bilik yang kosong dan menguncinya.
Tuhan mana piring cantiknya????!!!!!!!!!!!!!!!!!