
Kedatangan Rara bisa mengalihkan kesedihan Shenna meski hanya sementara dan itu sudah cukup untuk dia, sambil menikmati sarapan mereka banyak mengobrol dan bercanda sudah tentu diselingi gosip.
"Ra, Jansen gak ada kabarnya lagi." Shenna menyeruput bakminya, wanita itu sangat kelaparan nangis juga butuh tenaga.
Rara tersenyum mengejek "Kenapa? sekarang mau sama Jansen aja??"
"Gilss kagak lah! Cuma biasanya dia getol nyatronin, tapi ini udah lama gak ada kabar gua baru sadar."
Rara menyeka mulutnya tanda dia sudah selesai makan,
"Lu tau tetakhir dia recokin lunch lu sama pak bos dan Steve?"
"Rese looooh lu waktu itu!!"
Kedua wanita itu terbahak bersama mengingat hal itu bagaimana tidak, Shenna seperti makan dengan 3 pengawal yang bertengkar memperebutkan dirinya secara terang terangan.
"Nah hari itu Andro cs juga lagi lunch kan sama gua juga itu kita lagi farewell Jansen."
"Owh yah??? emang Jansen kemana? dia gak ngomong apa apa sama gua." Shenna membereskan sisa sampah makanan dimeja makannya.
"Gimana mau ngomong sama lu Sheii, orang lu faktor utamanya." Shenna mengerutkan alisnya mendengar ucapan Rara, "Jansen stay di Singapur lagi, dia milih urus perusahaan bokapnya yang disana. Dia mau move on dari lu hahaha!!" Rara mengucapkan hal tersebut seolah itu lucu.
"Cewe sableng!" Shenna menoyor kepala Rara dan dibalasa tatapan sengit wanita itu. "Ra, sebelum jam makan siang gua mau pergi."
"Pergi kemana?"
"Naik gunung." Shenna nyengir seperti kuda
"Jangan aneh aneh deh kelakuan anak gadis."
"Serius gua Ra, gua mau naik gunung buat refreshing."
"Sama siapa?????"
"Sendiri. Nanti gua bilang sama mama kalau gua ada dinas kantor keluar kota, dan gua udah ambil cuti sama pak bos juga kemarin."
Rara hanya mengehela nafas, dia tau sahabatnya ini tidak bisa dilarang jika sudah bulat keinginannya.
"Emangnya semua udah lu siapin?? Lu naik mobil sendiri??"
"Udah beres, semalem subuh gua bangun dan langsung pesen tiket bus, kereta dan akomodasi. Semua keperluan juga uda gua beresin."
__ADS_1
"Yauda terselah lu aja Sheii. Yang penting hati hati dan inget... jangan bodoh!"
"Emang lu kira gua bakal loncat bunuh diri gitu dari gunung??!!"
"Iya mungkin, mana gua tau saking lu depresi liat pacar lu ciuman sama mantannya."
Shenna tidak menjawab, dia hanya menjepret Rara dengan karet bekas bungkus bakmi.
"Sakit Sheiiiiiiiii!!!" Jerit Rara
****
Rara sudah pulang tadi dijemput oleh Andro, jam menunjukan pukul 11.00 Shenna juga sudah siap. Tadi dia juga sudah menelfon mamanya, sempat mama Myra bertanya kenapa Steve mencari dia kemarin dan sudah pasti Shenna mengarang bebas berkata bahwa batre ponselnya mati.
Shenna berdiri di lobby apartemennya menunggu taxi online untuk menjemput dirinya, begitu taxi itu tiba dia langsung masuk dan pergi.
Pagi tadi begitu menyelesaikan operasinya Steve terburu keluar rumah sakit untuk datang ke kantor Shenna, pria itu tidak akan pernah menyerah untuk membujuk kekasihnya kembali. Steve memarkirkan mobilnya dan menuju lobby gedung kantor, dia melirik arlojinya sebentar lagi jam makan siang pasti Shenna akan turun untuk makan siang, jadi dia memilih untuk duduk di area ruang tunggu.
Jam makan siang sudah hampir habis, dia sudah mencoba menghubungi ponsel Shenna berulang kali tetapi tetap tidak tersambung. Jelas karena Shenna memblokir nomor Steve. Pria itu menghampiri beberapa wanita yang baru saja kembali dari makan siang mereka karena Steve sedari tadi juga tidak menemukan Rara dan dia tidak mempunyai nomor ponsel Rara.
"Permisi sorry, mau tanya apa kalian mengenal Shenna dari divisi humas?"
"Iya kami tahu bapak kekasihnya ibu Shenna, ibu Shenna tidak masuk, dia cuti selama 3hari." wanita itu juga berasal dari divisi humas sudah pasti dia mengetahui jadwal cuti atasannya untuk menghandle beberapa pekerjaan atas perinta Rara.
"Cuti?? 3 hari???" Steve tampak terkejut.
"Iya pak."
"Hah ibu Shenna juga cuti 3 hari sama kayak pak Kevin??" Seorang wanita lagi yang berasal dari divisi lain bertanya pada temannya.
"Lah mereka cuti berdua?" Terjadi ribut ribut gosip diantara mereka, dan wanita yang merupakan bawahan Shenna langsung memotong.
"Udah jangan kebanyakan ghibah! Yuk naik." Merasa tak enak hati dengan Steve "Permisi pak." Angguk wanita itu dan berlalu.
Steve mengangguk kecil dan tertohok, dia tidak mau percaya, dia sangat kenal kekasihnya. Tidak mungkin Shenna mau pergi menginap dengan pria lain tanpa ada ikatan status apapun. Steve mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju apartemen Shenna, setelah sampai dia dengan terburu menuju lobby untuk menuju resepsionis seperti biasa dia akan meminta tolong untuk diberi akses menuju lantai unit Shenna.
"Maaf pak, disini tertulis pesan unit 1718 akan keluar kota beberapa hari. Jadi untuk tamu yang datang atau paket yang akan diantar minta diinformasikan."
Ucapan respsionis itu seperti hantaman palu di kepala Steve, dia masih tidak mau percaya meski hatinya sakit. Dia akan tetap percaya pada Shenna, dia mengenal kekasihnya melebihi siapapun, dan menyangkal semua informasi yang dia dapat. Tetapi dia sangat penasaran dan kuatir kemana Shenna pergi, jika bertanya pada tante Myra juga pasti akan membuat kuatir wanita paruh baya itu. Steve tidak sanggup, kemarin saja Steve datang untuk mencari Shenna, tante Myra terlihat sendu dan bertanya apa mereka sedang bertengkar.
Nyatanya memang demikian, Shenna kini sedang duduk nyaman dalam gerbong kereta eksklusif yang membawanya ketempat tujuan, dia tidak berpergian ala backpaker dia akan berlibur dengan nyaman seorang diri. Wanita itu beberapa kali menghembuskan nafas, tidak bisa membohongi perasaanya terus menerus. Dia sangat merindukan kekasihnya Steve, suara berat pria itu saat memanggil namanya, harum tubuhnya saat memeluk dirinya, bulu bulu halus diwajahnya yang mengenai wajah Shenna jika mereka berciuman. Demi Tuhan Shenna rindu pria itu, tanpa sadar air mata dia meluncur membasahi pipi mulusnya. Dia menangis kembali yang entah sudah berapa kalinya.
__ADS_1
***
Pikiran Steve bercabang, belum selesai urusannya dengan kekasihnya yang salah paham, urusan pekerjaan dirumah sakit yang tidak mudah dan masih harus meladeni mantan kekasihnya yang agresif. Ponsel Steve tidak berhenti mendering notifikasi pesan dan telefon dari Villy, wanita itu kesal Steve mengabaikan semua pesannya. Dia tidak mudah untuk berpergian sesuka hati, kemarin tante Liana bertemu Philip, papa Villy mereka mengobrol dan tante Liana memberitahu bahwa anak gadisnya mengunjungi Steve sehingga menimbulkan salah paham antara Steve dan kekasihnya.
Sudah pasti Steve melarang Liana untuk menghubungi Shenna setelah menceritakan semua hal pada Liana. Dia tidak ingin terlihat cengeng dan tidak mampu menyelesaikan masalah dengan kekasihnya dan menjadikan mamanya sebagai tameng. Liana yang kesal maka dari itu kemarin dia bertemu Philip, sehingga Villy terancam akan dikembalikan ke Jerman secepatnya.
"Philip maaf jika harus ada kejadian seperti ini aku juga menyesalinya, maafkan Steve dan aku. Sungguh aku tidak bisa memaksakan Steve untuk bersama dengan Villy kembali." kunjungan Liana kemarin juga tidak disangka oleh Villy, wanita itu sempat kesal tetapi dia bisa memaklumi tante Liana.
Aku gak bisa nyerah begini aja!! Maafin Villy pa, tapi Villy cuma cinta sama steve.
Villy meremas kuat ponselnya dan menangis.
***
Selama 3 hari mencari keberadaan Shenna, menunggu semalaman di lobby aprtemennya dan belum lagi jadwal operasi yang padat serta praktek dirumah sakit benar benar membuat tubuh Steve sangat kelelahan, rasanya dia tidak begitu semangat menjalani hari. Tidak makan dan minum dengan benar, jarang tidur dan hampir selalu bersedih memikirkan Shenna. Kondisi tubuh Steve sudah mulai tidak stabil, tetapi dia mengabaikannya dan masih terus bekerja untuk mengalihkan rasa sedihnya.
Dan hari ini Steve mempunyai jadwal 3 operasi, Steve memegang keningnya dia merasa sedikit pusing. Steve melepas kacamatanya sebentar, dia memijit pangkal hidungnya sambil terus membaca rekam medik pasien yang akan dioperasi nanti, sesaat dia merasa pandangannya mulai kabur dan detak jantungnya mulai tidak beraturan.
Kayaknya ini gak bagus...
Steve memegang dadanya berusaha berdiri untuk mengisi air minum. Saat dia berdiri pandangannya gelap dan....
brukk Steve jatuh pingsan dalam ruangannya seorang diri.
Shenna menarik nafas panjang dia rasa 3 hari cukup untuk dia mengistirahatkan hatinya, selama 3hari menginap di hotel dengan nuansa alam begitu membuat dia seperti fresh kembali. Disana dia berpetualang dengan beberapa anggota club hiking merupakan pengalaman baru bagi Shenna, kini dia sudah kembali ke apartemennya yang nyaman.
Besok udah kerja aja.. Shenna merengangkan badannya diatas kasur. Dia menatap bingkai foto diatas nakas tempat tidurnya, ada foto dia dan steve sedang dipantai saat kemarin merayakan ulang tahunnya. Air mata Shenna kembali menggenang dipelupuk matanya.
Gak boleh nangis! Mungkin aja sekarang dia lagi senang senang sama mantannya mesra mesra ciuman pelukan!!!
10 tahun mennnnn, gak mungkin gak ngapa ngapain!!!
Ngomong gak cinta tapi 10 tahun bullshit!!!!
Sudah dari kemarin malam Shenna membuka blokiran Steve dari ponselnya, harusnya pria itu sudah menerima notifikasinya tetapi kenapa pria itu tidak menghubunginya lagi dia sangat kesal dan kecewa.
Shenna memejamkan matanya mencoba untuk tidur, airmatanya terus keluar dan dia mengusap kasar matanya secara bergantian.
Tidur aja Nana udah! Jangan cengeng!!
Sekuat tenaga dia menahan untuk tidak terisak.
__ADS_1