
Penjelasan yang dilakukan oleh Steve mengenai kondisi pergelangan tangan mama Myra sangat menunjukan betapa profesional dirinya sebagai dokter.
"Untuk kasus ini tidak perlu di gips tangannya, hanya memakai arm sling saja dan menghindari pekerjaan berat sudah cukup. Dalam waktu satu sampai dua bulan akan segera pulih."
"Baik dok. Terimakasih untuk penjelasannya." Shenna bersikap senormal mungkin meskipun degup jantungnya bergemuruh kencang.
"Ini hasil rontgennya, dan obat anti nyeri sudah bisa di ambil d apotik. Saya permisi dulu."
Steve meletakkan hasil rontgen dimeja dan segera berlalu dari bilik UGD, saat berjalan kembali keruangannya Steve tersenyum kecil penuh arti.
"Sus, ini mama saya sudah bisa pulang kan yah? Hanya tinggal mengurus administrasi saja kan?" Shenna kembali ketempat para suster jaga di UGD.
"Iya betul bu. Silahkan mengurus administrasi dan mengambil obatnya di apotik." Suster menjawab ramah.
Shenna melihat sekilas mamanya sungguh tertidur karena pengaruh obat anti nyeri yang diminum tadi mungkin membuatnya mengantuk.
*K*asian mama... Tapi tidurnya gitu amat iih jangan sampe dia ngorok.
Shenna bergegas berjalan menuju kasir tempat mengurus administrasinya, mengambil nomor antrian dan menunggu untuk dipanggil.
"Atas nama pasien ibu Myra!"
"Ya..!" Shenna berbegas menuju kasir dan mengeluarkan kartu kreditnya.
"Buk untuk biaya pengobatannya serta obat totalnya dua juta dua ratus tiga puluh ribu rupiah yah, sudah di bayar lunas."
"Dua juta dua ra.... apa??? lunas??!" Shenna takut salah dengar dan bertanya pada kasirnya lagi.
"Iya benar ibu sudah lunas." Kasir menjawan lugas.
"Ini bukti bayarnya, dan ibu sudah bisa mengambil obatnya di apotik." Shenna menganggukan kepalanya bingung dan mengambil bukti bayar itu menuju ke loker apotik.
Hmmmm.. Ransen udah bayar semua apa biayanya??
Merasa ada yang ganjil Shenna memutar tubuhnya kembali menuju kasir tadi.
"Mba boleh tolong untuk dibantu cek, pembayaran atas nama Ibu Myra dibayarkan oleh siapa yah?"
Merasa bingung, kasir tadi hanya menuruti permintaan Shenna.
"Baik buk, mohon ditunggu sebentar." Kasir itu terlihat sibuk mengutak-atik komputernya. Alisnya berkerut sebentar, lalu mengangkat telefonnya untuk menghubungi seseorang.
Shenna berjalan tergesa di lorong rumah sakit, nafasnya memburu naik turun, emosi, kesal dan bingung menjadi satu.
"Sudah dibayar lunas oleh dokter Steve Aldjaya buk." Informasi dari kasir itu benar-benar membuat Shenna emosi luar dalam atas bawah depan belakang kiri kanan.
__ADS_1
Apa maksudnya sih?? emangnya gua ga punya duit buat bayar gitu???? Maunya apa sih nih dokter gak jelas!!
Shenna bertanya pada suster di bagian pendaftaran dimana ruangan dokter pencari masalah itu. Begitu sudah sampai didepan ruangan berpintu putih, terpasang sebuah plat besi tipis bertuliskan
DR George Steve Aldjaya Sp Jp
Tanpa bersopan santun terlebih dahulu Shenna langsung membuka pintu itu.
'Brakkkk.....!!'
Ruangan berukuran besar dengan interior meja, kursi dan sofa besar yang sudah pasti harganya melewati gaji tahunan Shenna mendadak menjadi saksi bisu kemarahan Shenna yang mungkin saja akan bertindak brutal.
"Saya rasa semua orang punya etika untuk mengetuk pintu terlebih dahulu, benar begitu nona Shenna?" Steve yang sudah mengetahui siapa yang datang tidak mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjanya sembari tersenyum penuh arti. Tentu saja dia hanya menggoda wanita itu, Steve tidak akan marah sekalipun Shenna benar benar memporakporandakan ruang kerjanya.
"Dan saya rasa semua orang juga mempunya etika untuk tidak mencampuri urusan hidup orang lain tanpa diminta, benar begitu dokter George??" Shenna dengan sengaja memanggil nama George yang merupakan nama baptis Steva, secara tidak langsung memberi ultimatum bahwa huhungan mereka hanya sekedar orang luar.
Steve mengangkat kepalanya dan menatap Shenna dalam.
A.. apaa sih ngeliatin begitu????
Shenna mendadak grogi sendiri.
Kok muka dia sekarang udah berubah banget yah??? Jan.. jantung diem ga??!!!
Dia udah berubah total, sial gantengnya kelewatan ini mah!!!!!!
*Shenna tolong kontrol diri, j*angan kebawa suasana. Inget, ingettt ini dokter fucekboy nomor dua!!
Steve menghembuskan nafasnya lalu membuka kacamatanya dan meletakkan ujung siku lengannya di atas meja lalu menahan wajahnya pada telapak tangannya.
"Apa kabar kamu Sheii? Kamu terlihat makin cantik sekarang. Kamu benar benar udah tumbuh menjadi wanita dewasa yah.." Tatapan matanya hangat sehangat teh yang diseduh dipagi hari, lalu senyumnya sangat merekah seperti bunga yang baru bermekaran.
Shenna membesarkan matanya, tenggorokannya terasa tercekat. Dia bingung dengan respon Steve saat ini. Sudah pasti saat diruang UGD tadi mereka tidak banyak melakukan interaksi berarti bahkan tidak saling menatap muka seperti sekarang ini.
"Ja.. Jangan mengalihkan pembicaraan ini Steve!" Desis Shenna mencoba untuk menenangkan detak jantungnya.
Steve tetap terlihat tenang dan tersenyym kecil lalu dia menggenakan kacamatanya dan kembali berkutat dengan berkas dimeja nya.
Merasa diabaikan, nafas Shenna memburu, dia sangat-sangat merasa kesal saat ini.
"Dokter Steve Aldjaya!!!!!!!!!!!!" Shenna berteriak dengan lantang karena kesal untuk menyadarkan keberadaan dia diruangan itu.
"Gak usah teriak teriak begitu itu Sheii..." Steve meringis mendengar jeritan Shenna. "Cukup ngomong saja apa yang mau dibicarakan akan aku dengarkan kok." lanjut steve.
"Saya ingin membayar biaya pengobatan mama saya, saya merasa tidak perlu bantuan dari siapapun terlebih itu dari anda!" Shenna menyorocos panjang dan menatap tajam Steve, "Berikan nomor rekening bank anda, saya akan transfer segera SE.KA RANG!" lanjut Shenna.
__ADS_1
Steve hanya diam mendengar ucapan Shenna, dan berpikir sejenak. "Aku gaK hafal nomor rekening aku Sheii. kasih saja nomor handphone mu yang sekarang, nanti akan aku hubungi." Steve tersenyum penuh kemenangan sambil menyerahkan handphonenya untuk Shenna.
*S*ialll....!!
Shenna bukanlah wanita bodoh yang tidak paham tipu muslihat semacam ini. Dia sangat paham disini Steve sangat licik untuk meminta nomor kontaknya kembali.
Karena merasa tidak ingin berlama lama disana, selain menambah dosa karena emosi dan sumpah serapah terus berkumandang dikepala Shenna, dia juga takut mamanya menunggu terlalu lama dibawah.
Shenna tidak banyak bicara dan langsung menyambar kasar handphone milik Steve, dia mengetikan nomor kontaknya segera berlalu dari ruangan itu tanpa berbicara satu patah katapun.
I got you sayank!
Steve tersenyum senang sembari memegang handphonenya sepeninggal Shenna dari ruangannya.
Bukan tanpa alasan Steve ingin kembali berkomunikasi dengan Shenna, tujuh tahun lalu tiba tiba shenna memblokir nomor handphonenya dan tidak bisa ditemui sama sekali, padahal saat itu Steve ingin mengutarakan perasaan dia yang sebenarnya sebelum berangkat kuliah ke Jerman.
Shenna bergegas mengambil obat di apotik dan menghampiri mamanya yang sudah duduk dengan cemberut di ranjang UGD.
"Kamu narik angkot dulu yah ngumpulin recehan buat bayar? Atau itu obat ternyata diracik di luar dunia?? lama sekali Nana... Mama udah sampe berakar duduk disini!"
"Yaaa maaf lah ma. Tadi Nana ada urusan bentar. Maaf yah mamaku yang cantik." Shenna dengan cekatan segera membantu mamanya untuk berdiri dan membawakan tas mamanya.
"Yuk kita pulang, Nana udah pesen taksi. Mobil Nana masih dikantor. Nanti Nana langsung balik kantor lagi yah ma, masih banyak kerjaan. Ada Mbok Jum yang jagain mama dirumah kan?"
"Iyaaaaa." Mama mengehela nafasnya panjang.
Setelah urusan rumit dengan Steve, mengantar mamanya pulang dan memastikan mamanya berisirahat dengan baik. Tidak lupa Shenna berpesan pada mbok Jum untuk menjaga mama dan mengingatkan jadwal minum obatnya.
Shenna mengetik pesan singkat untuk Ransen.
Shenna
"Dek, mama udah pulang kerumah, ada obat yang harus diminum, kakak uda pesen ke mbok Jum tadi nanti kamu liat yah. Jangan kelayapan, langsung pulang dan temenin mama. Kakak harus langsung balik ke kantor masih ada kerjaan."
Ransen
"Ok"
Ransen membalas singkat pesan dari Shenna.
Pukul 16.00 tepat Shenna sudah sampai dikantornya kembali. Baru saja mendudukan dirinya dikursi kebesarannya, tiba tiba telefon dimeja nya berbunyi.
"Keruangan saya sekarang!" Belum sempat Shenna berhalo halo ria, telefon sudah terputus begitu terdengar informasi yang tak lain tak bukan dari bos barunya itu.
Apaan lagi yah Tuhan???? Belom juga sempet nafas ini mah!!
__ADS_1