Shenna Love

Shenna Love
Keputusan


__ADS_3

Steve mengusap wajahnya kasar, tubuhnya cukup lelah belum lagi jet lag yang cukup mengganggunya. Perjalanan udara 12 jam, kurang istirahat dan rasa rindu pada Shenna semua menguras tenaganya. Kembali menempati apartemennya dulu saat berkuliah di Charitè Universitätsmedizin - Berlin, Steve sedikit bernostalgia dengan ruangan berukuran 85m dengan 3 kamar tidur dan dapur serta ruang tamu.


Cukup berlebihan mengingat hanya dia seorang diri yang tinggal disitu, Liana yang mengatur semuanya dan Steve hanya menerima beres. Apartemen tempatnya berjuang dengan banyaknya tugas serta makalah yang harus ditulis, belum lagi kegiatannya dirumah sakit sebagai dokter baru saat itu, dan memang hanya Villy yang menemaninya melewati masa perjuangan saat itu.


Bicara tentang Villy, masih jelas diingatan Steve sekitar seminggu lalu Villy datang menemuinya di rumah sakit hingga berlanjut acara makan siang di mall. Dengan hati yang lapang wanita itu berkata ingin memulai awal yang baru sebagai teman maka langkah terbaik saat ini yang bisa dia lakukan adalah kembali tinggal di Jerman agar bisa menetralisir perasaannya pada Steve. Steve menyukai Villy sebagai seorang sahabat tentu saja, 10 tahun bukan waktu yang singkat. Dia ingat bagaimana wanita itu berjuang, menyemangati bahkan menemani hari hari sulitnya koas sebagai dokter baru. Villy jelas bukan wanita jahat seperti di film film yang kalian bayangkan, dia elegan. Tumbuh dari keluarga bermatabat, perilaku dan pemikirannya jelas terdepan. Tetapi dia jelas manusia biasa yang juga mempunyai sifat tempramen yang buruk, terutama untuk obsesinya pada Steve.


Setelah melihat bagaimana Steve terpuruk tanpa Shenna, dan pembicaraan singkatnya dengan tante Liana membuat Villy mengerti bahwa tidak ada tempat baginya di hati Steve.


Karena bahkan 10 tahun tidak pernah cukup, dan betapa dia terkejut bahwa kenyataannya keberadaan Shenna yang hanya satu dua bulan sanggup membuat Steve tergila gila seperti ini. Sebelum semua bertambah menyakitkan dan bahkan orang tua Villy sudah tidak setuju, apa lagi yang bisa wanita itu harapkan.


Keberangkatan Steve ke Jerman juga sudah direncanakan lama, undangan sebagai salah satu pembawa materi diacara seminar yang dilakukan oleh Charitè Universitätsmedizin sudah lama dia terima dan rencananya adalah mengajak Shenna sekalian liburan singkat. Tapi keadaan memaksa lain sehingga dia berangkat sendiri. Bertepatan juga dengan Villy yang akan berangkat kembali ke Jerman, karena tiket Steve sudah dipersiapkan lama jadinya jam keberangkatan mereka berbeda.


Sekarang di Jerman baru pukul 17.00, dia akan berisitrahat sejenak sebelum janji makan malam dengan beberapa teman kuliahnya dulu dan tentu saja Villy juga turut hadir.


'Drtt drtt'


Ponselnya bergetar tanda ada notifikasi yang masuk sesaat sebelum dia memejamkan matanya, dengan enggan dia mengambil ponselnya dan melihat sekilas.


'Shenna.Asterta mengunggah postingan baru'


Sejenak Steve seperti ditarik sadar dari rasa kantuknya, dengan hati yang sedikit was was dia membuka media sosialnya.


Bagaimana tidak, Shenna kekasihnya bukan tipikal yang suka memposting foto jika tidak ada momen yang cukup berkesan untuknya. Begitu Steve membuka tampilan media sosialnya langsung terpampang foto Shenna yang bisa membuat hasrat yang dengan liar meembuncah buncah meronta untuk keluar.


Hollysht Sheiii!!! kamu pakai baju apa itu??!!! Aarrghhh bisa gila gua!! Rara mana katanya mau jagai*n?!!


Shenna mempunyai tubuh yang sangat seksi, dia tau itu, semua ukuran terasa pas ditangannya. Lekuk pinggulnya, dadanya dan.. aaakhhh dia akan selalu gila memikirkan tubuh kekasihnya.


Steve sudah melihat semuanya, bahkan dia sudah merasakannya menelusuri seluruh tubuh Shenna dengam bibirnya. Hanya dengan mengingatnya saja Steve harus segera mandi air dingin sendirian, dan sekarang Shenna dengan memakai pakaian sialan itu memamerkan belahan dadanya bahkan 3/4 bagian tubuhnya!


Katakan dia pria posesif dengan pemikiran yang berlebihan tetapi itu semua hanya karena dia terlalu mencintai Shenna, dan hanya dia yang boleh melihat tubuh kekasihnya bahkan hanya dia yang boleh mendapatkan harta berharga Shenna nanti saat malam pertama!


Dengan meremas rambutnya jengkel, Steve berusaha menghubungi Rara tetapi wanita itu mereject teleponnya dan mengirimkan pesan yang berisi foto Shenna tertidur dijok belakang mobil yang diyakini itu mobil Andro.


Posisi Shenna meringkuk seperti bayi, wajahnya sedikit memerah, rambutnya berantakan dan yang paling mengerikan adalah baju kekasihnya yang tersingkap dengan luar biasa, paha dan dadanya terekspos kemana mana.


Steve benar benar merasa jengkel karena tidak bisa melindungi wanitanya sekarang, Shenna berani sekali mabuk dan itu tanpa ada dirinya disana. Awas saja nanti dia akan beri perhitungan pada Rara. Rasa jengkel dihatinya membuat Steve melupakan rasa kantuk dan memilih untuk mandi saja, bersiap untuk reuni dengan sahabatnya para dokter disini.


'Ting tong!'


Bel apartemen Steve berbunyi ketika dirinya sudah selesai bersiap, dia melirik arlojinya baru pukul 18.30.


Siapa yang datang?!


"Hai Steve! Aku baru aja sampai masih jet lag banget, semua janjian jam 19.00 kan? Aku numpang istirahat disini yah, kan nanti janjiannya di cafe dekat sini." Villy masuk begitu saja setelah Steve membuka pintu apartemennya. Wanita itu langsung meletakkan kopernya dan selonjoran disofa ruang tamu.

__ADS_1


"Aduhhhh gila cape sekali!!" Villy merentangkan kedua tangannya keatas.


Kebiasaan! Gerutu Steve dalam hati, tapi yah sudah dia biarkan saja toh dia juga tau bahwa apartemen Villy berjarak lumayan jauh dari tempatnya.


"Yaudah santai dulu aja, aku mau beresin materi seminar besok sebentar."


Steve berlalu kedalam kamarnya untuk meng-save materinya untuk seminar besok yang baru saja dia sempurnakan lagi.


Saat dia berjalan keluar kamarnya karena sebentar lagi saatnya sudah harus berangkat, dia melihat Villy sedang tersenyum diruang tamunya mengamati foto foto kelulusan mereka bersama teman teman seprofesi terpajang di dinding.


Menyadari Steve ada disana Villy menatap Steve dengan senyum tulus, "Kamu kapan pulang kembali ke tanah air?"


Steve mengerutkan alisnya, baru saja dia sampai tadi bahkan belum mengikuti seminar besok yang berlangsung selama 3 hari dan dia masih ada beberapa keperluan dengan profesor dikampus itu yang semuanya mungkin memakan waktu 1 minggu lamanya dia di Jerman.


"Jangan kelamaan di Jerman yah Steve, bisa bisa aku gagal move on. Orang aku balik stay disni demi hindarin kamu eh malah kamu juga ada keperluan disni ternyata. Yauda deh aku anggap kali ini beneran last aku puas puasin liat kamu." Villy terkekeh pelan.


Steve sejujurnya bingung harus bereaksi seperti apa, hatinya sudah pasti hanya untuk Shenna seorang dan itu tidak bisa dibantah lagi, tetapi dia juga merasa tidak enak hati menyakiti hati Villy seperti ini.


"Sorry." hanya itu yang bisa Steve katakan.


"Santai Steve, its ok. Pokoknya jika Shenna campakin kamu, aku siap terima." Villy lalu tertawa renyah diikuti oleh Steve.


"Dia masih marah sama aku Vil." Senyum Steve terlihat pias.


"Hahh??? Ngapain? Kok bisa kamu tau apart dia??" Steve cukup shock mendengar ucapan Villy.


Villy tersenyum pongah, "Kamu tau itu bukan hal yang sulit buat aku tau data seseorang! Haha tapi aku kerjain dikit aku bilang kamu move kesini sama aku."


Steve membelakkan matanya tak percaya ini bisa saja menjadi lebih rumit, "Vill!! Astaga kamu..."


Steve frustasi membayangkan bagaimana Shenna akan salah paham lagi.


"Biar!! Siapa suruh kamu lelet! Haha udah yuk berangkat pasti yang lain udah ngumpul!" Villy membereskan bawaan dia dan bersiap untuk pergi diikuti Steve yang melangkah gontai dan lesu.


***


Shenna terbangun dari tidurnya, badannya berkeringat dan hidungnya sakit, sinusnya pasti kambuh gara gara paparan asap rokok tadi saat nongkrong bersama teman teman Andro.


Mimpi apa yang dia alami barusan juga tidak terlalu jelas yang pasti dia merasa itu bukan mimpi indah, dia memijat pelan pangkal ujung hidungnya.


Melihat jam di dinding masih menunjukan pukul 03.00 dini hari, Rara tertidur sangat pulas disebelahnya seperti anak bayi.


Perasaan dia campur aduk, jelas sudah pasti dia merindukan Steve, rasa rindu yang membuat hatinya sakit sampai sekujur tubuhnya merasakan sakit. Entah itu sugesti atau bukan yang jelas Shenna sungguh merasakan sekujur tubuhnya sakit karena hatinya sakit. Dalam diam dia kembali menangis, otaknya secara implusif memainkan sebuah lagu menambah kesedihan hatinya.


Now the day bleeds

__ADS_1


Into nightfall


And you're not here


To get me through it all


I let my guard down


And then you pulled the rug


I was getting kinda used to being someone you loved


I'm going under and this time I fear there's no one to turn to


This all or nothing way of loving got me sleeping without you


Setelah memakai obat semprot dihidung untuk sinusnya, Shenna mencoba untuk tidur lagi. Dia terdiam dan menutup mata tetapi bulir bulir air matanya tidak berhenti mengalir hingga merembes basah sampai kebantalnya.


..


Rara mengerjapkan matanya, aroma kopi dan roti bakar di pagi hari masuk sampai kehidungnya. Menggapai ponselnya di nakas samping tempat tidur melihat sudah pukul 06.30, dia langsung bangkit dan hendak bersiap siap untuk ke kantor.


Dengan menggantung handuk dilehernya Rara berjalan keluar kearah dapur, melihat pemandangan Shenna dengan cekatan mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua.


"Hey anak jorok! Sana cuci muka kita sarapan dulu." Shenna melirik sekilas kearah Rara dan lanjut menata sarapannya dan Rara dimeja makan.


"Lu bangun pagi banget Sheii? Ngapain cuci muka, mau sarapan ga usah cuci muka! Nanti kotor lagi mending abis sarapan baru mandi sekalian." Rara menggeser kursi untuk duduk, lalu mengambil roti bakar yang akan dia oleskan selai coklat.


Shenna memutar bola matanya malas dan ikut bergabung dengan Rara, dia mengoles rotinya dengan selai, "Ra, semalam gua udah mikir..."


"Mikir apa? semalem kan lu tidur. Jangan kebanyakan halu." Rara menyeruput kopi panasnya.


"Iiish kesel, dengerin aja deh!" Rara hanya cengengesan, "Gua udah putusin buat lupain Steve dan mencoba buka hati sama Kevin aja!"


Rara terkejut hingga tersedak, karena kopi ini masih panas jadi lidahnya melepuh sedikit, dia terbatuk dan menjulurkan lidahnya keluar karena panas, Shenna hanya mentapa iba sahabatnya.


"Lu jangan gila!!! Steve itu.." Shenna meletakkan telapak tangannya tepat diwajah Rara untuk menghentikan wanita cerewet itu berbicara.


"Lu gak perlu berkomentar apa lagi bawa bawa nama si dokter itu! Keputusan gua udah bulet sebulet muka lu dan lu jangan coba coba buat mencegah karena gua tau lu pasti disuruh dokter itu buat ngawasin gua! Lu itu sahabat gua bukan sahabat dia, jadi lu mending dukung gua aja udah!"


"Nih sekarang makan jangan banyak ngomong abis itu lu mandi dan siap siap kita mau kerja!" Shenna memasukan sepotong besar roti bakar itu kedalam mulut Rara dan hanya dikunyah dengan jengkel oleh Rara.


Steve im so sorry kayanya lu harus berusaha keras buat dapetin Sheii lagi nanti atau bahkan bisa gakk sama sekali ada kesempatan! Duuhh.. sorry.


Rara meringis dalam hati, dia mengenal Shenna si wanita keras kepala.

__ADS_1


__ADS_2