
Sudah 5 bulan berlalu semenjak Shenna berpacaran dengan Steve, setiap hari yang dilalui membuat cinta Shenna semakin besar begitu juga dengan Steve. Mereka saling mengisi dengan sifat masing masing, adakalanya mereka bertengkar hal hal kecil mulai dari Shenna yang kesal dengan tingkah cemburuan Steve sampai sifat Steve yang terkadang ingin Shenna hanya memperhatikan dia saja. Shenna sangat paham dikarenakan perasaan Steve yang begitu besar padanya. Tetapi sebagaimana mereka bertengkar mereka akan selalu menemukan jalan untuk berbaikan kembali.
Ditambah baik Shenna maupun Steve harus memahami kesibukan masing masing. Shenna tentu tetap harus bersama sama dengan Kevin setiap waktu untuk pekerjaannya, meski Kevin sudah mengaku 'kalah' dari Steve tetap saja lelaki itu cukup waspada dengan atasan dari kekasihnya itu. Belum lagi Jansen yang sepertinya diam diam tidak mau menyerah meski sudah 5 bulan sejak Shenna melepas status singlenya, dua lelaki ini seperti penyusup yang pelan pelan masuk. Tetapi Shenna meminta Steve untuk percaya karena bagaimanapun hati dia sudah sepenuhnya jatuh pada Steve. Dan untuk Shenna tentu harus memahami kesibukan Steve sebagai kepala rumah sakit belum lagi gelar profesionalnya sebagai ahli jantung dirumah sakit besar yang membuat berkali kali lipat kesibukan kekasihnya itu.
Semenjak keberhasilan Steve menangani pasien dengan bawaan kelainan jantung langka itu melambungkan namanya dan Djaya Hospital, membuat banyak pasien yang mengalami masalah dengan jantung mencari cari kekasihnya untuk konsultasi.
Akhir pekan ini contohnya, Shenna harus merelakan acara kencan romantis ataupun rasa rindu pada kekasihnya karena sudah 5 hari mereka tidak bertemu. Pasalnya hari ini Steve mempunyai dua jadwal operasi, meski bukan operasi besar tetapi sudah cukup menyita waktu Steve, belum lagi jadwal konsultasi dengan pasien. Diperkirakan semua berakhir pada malam hari, meski belum larut sudah pasti akan menguras semua tenaga Steve. Tidak ingin sang kekasih terlalu lelah jadi Shenna memutuskan untuk bertemu esok hari saja.
*Duhhh sibuk banget si abang deh, udah dari subuh gak ad*a kabarnya.
Shenna selonjoran malas di sofa ruang tamunya, meski televisi menyala tapi dia tidak konsen menonton dan hanya mengganti ganti salurannya saja sejak tadi.
Mama pergi arisan. Ransen pergi mancing.
Gua merana kesepain huhu!
Rasa bosan yang menyerang Shenna dan bersamaan dengan rindu cukup membuat dia jadi manusia labil yang cengeng. Dia sangat merindukan kekasihnya.
Harusnya tadi gua iyain aja dia ajak ketemu meski udah malem juga. Tapi kan gak pasti malemnya jam berapa, nanti gua drama nungguin dia hiks.
Dering ponsel Shenna menyadarkan Shenna dari lamunan galaunya, dia mengerutkan alisnya begitu melihat nama kontak yang menelfonnya.
"Ha.. haloo tante. Apa kabar?" Shenna tersenyum sedikit canggung mengetahu siapa yang menghubunginya.
"Aduh sekarang dia bisa tanya kabar loh. Kemarin kemarin yang udah pacaran gak pernah kasih kabar sedikit pun nih." Liana disebrang sana berpura pura ngambek.
"Hehe.. Maaf tante Sheii beneran sedikit sibuk belakangan ini. Jadi suka kelupaan tanya kabar tante."
"Yaudah kalau kamu merasa bersalah kamu dateng ke alamat yang tante kirim nanti. Bantuin tante masak!"
Begitu telepon sudah terputus Shenna secepat kilat bersiap siap menuju alamat yang diberikan oleh mama kekasihnya itu.
Seengaknya gak ketemu anaknya, emaknya juga boleh lah. Yang penting gak bosen lagi dirumah.
Shenna menepikan mobilnya begitu memastikan dia sudah sampai pada alamat yang Liana kirimkan tadi, rumah besar itu lebih dari sekedar mewah. Rumah ini seperti istana lengkap dengan perimeter keamanan juga.
Ini rumah mafia apa yah?? Benar gak yah sesuai alamatnya?
Ketukan pada kaca jendela mobilnya mengejutkan Shenna, terlihat lelaki berbadan besar dengan memakai seragam keamanan berdiri di samping mobilnya. Shenna langsung menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Permisi ibu, maaf ini bukan kawasan umum dilarang memarkir mobil disini." Bapak itu dengan sopan menginformasikan pada Shenna.
"Owh baik pak, tapi saya cuma mau tanya apa benar disini alamatnya cendana pinisi 5?"
"Iya betul ibu, jika boleh tahu ibu ada keperluan apa?" Tanya bapak itu kembali.
"Saya ingin bertemu dengan tante Liana pak, apa benar ini rumah nya??" Tanya Shenna.
"Benar ibu, ini rumah Nyonya Liana. Ibu dengan siapa?"
Setelah Shenna menyebutkan nama dan maksudnya segera keamanan itu berbicara dengan rekannya lewat radio HT.
"Silahkan masuk ibu. Nyonya besar sudah menunggu kedatangan anda."
Shenna tersenyum canggung dan menjalankan mobilnya masuk dari gerbang utama hingga pintu masuk rumah yang berjarak lebih dari 100m mungkin.
__ADS_1
"Gila!! Ini rumah Steve?? Astaga gua macem upik abu ketemu pangeran kalo begini mah.." Decak Shenna sembari memarkirkan mobilnya pada garasi pribadi dirumah ini. Dan Shenna hanya bisa melengos jarinya tidak cukup untuk menghitung jumlah mobil digarasi ini.
Begitu Shenna turun dari mobilnya dan berjalan kepintu masuk, sudah terlihat Liana menunggunya dengan senyuman yang sangat ramah.
"Gimana kamu gak nyasar kan kesini?" Liana memeluk Shenna.
"Gak kok tante, tadi cuma kaget kirain salah rumah." Shenna memberi pelukan balasan dan senyuman malu malu.
Liana berdecak "Ah bisa ajah kamu. Ayuk masuk. Kamu harus penuhin janji kamu untuk bantuin tante masak yah. Malam nanti tante udah janji mau makan malam sama Kakek dan Nenek Steve"
Shenna hanya mengangguk tersenyum dan mengikuti Liana masuk kedalam rumah itu, untung saja keahlian Shenna dalam memasak boleh diadu. Pelajaran dari mama Myra tidak sia sia, sekarang dia tidak perlu merasa rendah diri untuk urusan dapur. Interior rumah itu terutama dapurnya cukup membuat mata Shenna berbinar pasalnya dapur ini seperti dapur impian setiap ibu rumah tangga. Berbagai jenis perlengkapan masak tertata dengan rapi dan baik, belum lagi warna pastelnya sangat cantik dipandang mata.
"Dapurnya impian banget tante." Shenna tidak segan dalam memberi pujian.
Liana tersenyum simpul. "Tante kan bukan dokter seperi kakek nenek Steve ataupun Steve." Dia mengelus lembut lengan Shenna. "Tante cuma ibu rumah tangga biasa yang hobi masak, atur rumah, urus anak dan....belanja." Lanjut Liana sambil tertawa ringan.
Tawa itu menular dan Shenna ikut tersenyum lebar menampakkan giginya yang rapih.
"Sama dong tante... semua wanita doyan belanja yah. haha."
Waktu sudah menunjukan pukul 6 sore, tidak terasa Shenna dan Liana berbaur dengan alat masak hingga mereka tidak sadar waktu. Obrolan demi obrolan mereka lakukan, Shenna bercerita tentang keluarganya, pekerjaannya dan sudah pasti tentang hubungannya dengan Steve kekasihnya yang sibuk itu.
"Tante harap kamu bisa memahami kesibukan Steve. Dia harapan besar kakeknya untuk meneruskan rumah sakit itu. Karena papa Steve..." Liana sedikit berat meneruskan kata katanya.
Shenna mengelus lembut lengan Liana dan tersenyum menenangkan. "Tante tenang aja, meski Sheii belum tau apa apa tapi Sheii bisa lihat gimana Steve bertanggung jawab atas semua ini. Dan Sheii janji untuk selalu ngerti kesibukan Steve."
Liana tersenyum hangat dan merasa bahagia karena putra satu satunya itu sudah menemukan orang yang tepat.
"Sheii kamu ikut yah acara makan malam tante. Gak bisa dan gak terima bantahan, kamu naik mandi dan ganti baju udah tante siapin semuanya." Shenna terkejut ingin menolak, tetapi Liana segera memanggil pelayan untuk mengantar dia ke kamar tamu.
Shenna sedikit tidak enak hati dan bingung bagaimana menghadapi kakek dan nenek Steve nanti, setelah menuntaskan ritual mandinya dia melihat ada dress nonformal dikasur, dengan motif bunga bunga kecil berwarna kuning muda.
Shenna hanya melongo melihat harga dress yang setara dengan gaji dia 4 bulan bekerja.
Shenna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. dengan segera memakai baju itu dan turun menemui Liana.
Sementara itu Liana berhasil menghubungi putranya itu setelah 10 kali panggilan tak terjawab.
"Aduh Steve kamu susah banget dihubungi. Pulang yah kerumah mama. Kamu udah selesai semua kan? kita makan malam sama kakek nenek."
Steve mengusap wajahnya kasar, dia sangat lelah hari ini bukan ingin menjadi anak durhaka tetapi sedari subuh dia sudah dirumah sakit menangani 2 operasi yang ternyata ada kejadian yang menguras tenaga dan otaknya belum lagi dengan konsultasi pasien yang panjang hari ini. Dia hanya ingin pulang mandi dan tidur, mungkin jika Shenna tidak membatalkan untuk bertemu dia lebih memilih bertemu kekasihnya itu, memeluk kekasihnya mengisi daya untuk tenaga dia lagi.
"Ma, Steve pulang ke apartemen aja yah. Steve cape banget.." Steve mendengus pelan agar mamanya tidak mengira dia kurang ajar menolak. Dia sangat sibuk seharian ini bahkan melihat ponselnya saja tidak sempat, begitu meraih ponsel untuk menghubungi Shenna tepat dengan mamanya menelfon.
"Tapi kan kamu uda jarang pulang...." Liana sengaja menyembunyikan bahwa Shenna disini untuk memberi kejutan pada anaknya itu.
Tiba tiba terdengar suara Shenna datang. "Tante aku udah selesai..."
dan itu dengan jelas terdengar oleh Steve.
"Ma!! Itu...... Sheii???" Belum selesai Steve berbicara Liana langsung memotong.
"Yasudah pak kalau tidak sempat datang. Makasih!!"
Liana dengan sengaja belum memutuskan telefon dan berbicara dengan Shenna agar Steve mendengar.
__ADS_1
"Eh kamu udah selesai nak, yuk kita keruang makan. Ini tante tadi telepon tukang sedot WC! Gak sempet dateng dia..." seketika itu juga telefon terputus.
Tukang sedot wc??? Steve mendelik mendengar mamanya menyebut dia tukang sedot wc.
Itu pasti Sheii gua yakin tadi denger suara Sheii!
Dengan segera Steve menuju ruangannya untuk membereskan barangnya dan segera pulang.
Rumah mamanya menjadi tujuan utamanya sekarang, dia melirik ponselnya Shenna belum membalas pesannya lagi menambah yakin bahwa kekasihnya ada dirumah mamanya.
Liana memandang Shenna dengan senyumannya
"Udah tante duga pasti baju ini cocok buat kamu, ini tante yang pilihin sendiri loh.. pas tidak ukurannya?"
Shenna tersipu "Pas tante, terimakasih yah Sheii tersanjung banget sama kebaikan tante." Shenna memegang lengan Liana, matanya terpancar tulus untuk sangat berterimakasih.
"Nyonya. Tuan dan Nyonya besar sudah tiba." Seorang pelayan menginformasikan bahwa kakek dan nenek Steve sudah hadir.
Liana mengelus lembut tangan Shenna, "Mari nak, tante kenalkan dengan kakek nenek Steve."
Sosok kakek dan nenek Steve penuh dengan wibawa diumur senjanya, tatapan mata kakek sangat hangat persis dengan Steve, sedangkan Nenek hanya diam tersenyum tipis begitu mereka berkenalan dengan Shenna.
Sepanjang makan malam mereka, Liana tidak hentinya memuji muji Shenna kecekatannya dalam memasak di dapur, rajinnya dalam bekerja dan lain prestasi akademik yang pernah Shenna dapat. Semua itu membuat Shenna tersipu dan juga canggung disaat bersamaan karena hanya kakek yang antusias mendengarkan, nenek hanya tersenyum tipis sambil sesekali menganggukan kepala.
Tiba tiba terdengar suara di ambamg pintu ruang makan keluarga.
"Jadi acaranya udah mulai tanpa nungguin si tukang sedot WC ma??" Steve tersenyum manis berdiri diambang pintu. Liana mendengus pelan dan memutar bola matanya malas, sekilas Steve memperhatikan wajah kekasihnya yang terkejut tetapi tetap selalu cantik dimata Steve. Pria itu melangkah masuk yang mencium pipi mamanya, lalu kakek dan neneknya secara bergantian.
Wajah nenek seketika tersenyum sumringah
"kemana saja kamu anak nakal??" Nenek menepuk pelan pundak cucu kesayangannya.
"Sibuk nek dengan amanah kakek." Balas Steve tertawa lalu duduk disebelah kekasihnya.
Shenna menjadi semakin canggung karena Steve tidak berhenti memandanginya.
"Apaan sih liatnya begitu banget." Bisik Shenna pelan.
"Kamu cantik!" Steve membelai sayang kepala kekasihnya. "Lalu kenapa gak kasih tau aku kalau kamu kesini???" Steve melirik mamanya sekilas.
"Sheii bantuin mama masak, mama yang suruh dia datang." Liana menjawab sambil mengambilkan piring bersih untuk putranya. "Cepatan makan dulu." lanjut Liana menyerahkan piring untuk Steve.
Suasana makan malam itu menjadi ceria semenjak kedatangan Steve, lelucon yang pria itu bikin ditambah celetukan Liana dalam meledek putranya. Tawa kakek dan nenek terdengar bahagia, Shenna tersenyum bahagia melihat keakraban di keluarga kekasihnya itu.
"Ma, Steve anter Sheii pulang yah nanti sekalian balik ke apartemen. Kakek Nenek Steve pulang dulu yah. kalian hati hati nanti. "Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, Steve dan Shenna segera pamit untuk pulang, setelah Shenna pamit pada kakek nenek dan juga Liana dia segera menyusul Steve naik mobilnya.
"Naik mobil aku aja Steve nanti aku yang anter ke apartemen kamu." Shenna memakai seatbeltnya membiarkan Steve yang mengemudikan mobilnya.
"Aku yang antar kamu dulu. Nanti aku bisa pulang naik taxi." Sudah pasti Shenna melarang Steve naik taxi, setelah debat alot akhirnya sepakat Steve membawa mobil Shenna pulang ke apartemennya.
Sementara itu nenek memegang tangan Liana sebelum dia pulang, "Villy lebih baik segala aspek dari pada dia." Kata kata nenek membuat Liana tertegun dan menahan tangan ibunya itu.
"Ma... Liana tau Liana dapat sisi keras kepala dari mama, tapi Liana tau bahwa mama dan Liana sama sama punya sisi lembut yang mengutamakan kebahagiaan Steve lebih dari apapun." Liana mengusap lembut punggung tangan ibunya.
"Mama bisa dengan jelas melihat wajah bahagia Steve saat bersama Sheii, yang tidak pernah sekalipun itu terlihat saat bersama Villy. Cukup Liana saja ma yang pernah menikah tanpa ada dasar cinta dan tidak pernah berbahagia. Jangan Steve ma."
__ADS_1
Nenek cukup tertegun mendengar perkataan putrinya dan tersenyum hangat lalu keluar pintu untuk menyusul kakek kedalam mobil.
Liana percaya pasti ibunya akan merestui Shenna.