Shenna Love

Shenna Love
Hari Hari Bahagia (2)


__ADS_3

Shenna menghembuskan nafasnya panjang, Steve sekilas melirik kekasihnya dan kembali fokus menyetir. " Kamu cape yah sayang??" Steve menggenggam tangan Shenna dan membawanya keatas pahanya. " Emang bantuin mama masak berapa menu sih? kasian pacarnya akuh.." Steve mengecup punggung tangan Shenna.


Wanita tersenyum pias, " Aku ga cape sama sekali bantuin mama kamu.." Lalu Shenna membuang pandangannya keluar jendela. " Nenek ga suka sama aku yah Steve??" pertanyaan Shenna lebih terdengar seperti pernyataan.


Steve menghelas nafasnya dan tersenyum " Sayang, nenek itu ga gampang dekat sama orang, kamu sabar aja... tapi melihat sikap dia tadi, beliau sudah bisa dikatakan menerima kamu sih."


" Pasti dia sukanya sama mantan pacar kamu... secara mantan kamu itu orang hebat dokter pula dan keluarganya.."


" Sheiii..!!! Stop bahas orang lain saat kita lagi bersama!" Steve menaikan intonasi suaranya memotong pembicaraan Shenna membuat wanita itu bersingut menerucutkan bibirnya.


Tidak terasa sudah sampai dirumah mama Shenna dan sebelum dia turun dari mobil seperti biasa mereka akan melakukan ciuman panasnya untuk penutup hari ini. Shenna melenguh sesaat karena permainan bibir dan lidah Steve selalu membuatnya terbuai, kaki gadis itu dipastikan seperti agar - agar lemas tak bertenaga jika melakukan ciuman panasnya dengan Steve.


Kenapa dia bisa jago ciuman begini??


Bibir Steve turun keleher Shenna dan mengecupnya perlahan berusaha agar tidak meninggalkan jejak merah disana. Tangannya dengan nakal merajai bagian tubuh Shenna.


Bahkan dia ahli banget begini!!!


Shenna bisa kehilangam kontrol jika begini terlalu lama. Gadis itu dengan otomatis mendorong bahu Steve agar menjauh dari dirinya. Shenna dengan nafas yang terengah dan Steve yang sedikit terkejut.


" Aku... ehmmm jangan begini disini.. takut ada yang melihat" Shenna tergagap memberi penjelasan.


Wajah Steve sedikit gusar dan malu. " Maaf.." cicit Steve.


Setelah mengucap salam perpisahan dan janjian untuk besok bertemu lagi, Steve segera melajukan mobil Shenna untuk dia bawa pulang dahulu.


Bego Nana!!! Semoga Steve ga salah paham..


Tadi Wanita itu hanya sedikit terkejut Steve menjadi sedikit agresif.


***


Shenna sudah segar sehabis mandi dan kini dia berbaring santai diatas kasur, dering ponselnya mengejutkannya.


" Halo sayang... Kamu udah beres semua?" Sudah pasti Steve yang menelfon dan mereka bercengkrama hingga lupa waktu.


" Besok rencana kamu apa? Ada tempat yang mau kamu datengin?" Tanya Steve.


" Aku pikir besok kita masak bareng aja yuk.. kita pergi belanja lalu masak dan makan bareng!"


" Boleh.. sepertinya asik! Tempat kamu atau aku?"


" Tempat kamu aja!" Kata Shenna mantap.


" Okeh besok aku jemput yah pagi. Sekalian nanti mobil kamu diantar sama bang Jon supirnya si mama"


Dan selanjutnya mereka bercerita hingga Shenna tertidur saat bertelepon dengan Steve.


" Good night love.." Steve menutup telefon begitu mendengar dengkuran halus Shenna.


Pagi harinya Shenna terbangun dengan perasaan bahagia seperti biasa, wanita itu berdoa sungguh jangan sampai hari - hari bahagia ini berlalu.


Jam sudah menunjukan pukul 10 dan Steve sudah menelfon sebentar lagi pria itu akan sampai dirumah Shenna.


Tak lama terdengar bunyi klakson, Shenna berlari keluar menyambut kekasihnya.


" Loh.. mobil aku mana sayang?" Shenna mencari keberadaan mobilnya.


" Aku suruh bang Jon anterin langsung ke apartemen kamu supaya besok aku yang anter kamu kerja."


" Emangnya besok kamu ga ad praktek??"


Shenna mempersilahkan kekasihnya untuk masuk kedalam rumah terlebih dahulu.


" Siang prakteknya jam11. Mama mana sayang?"

__ADS_1


" Owwh ok. Ada didalam yuk masuk."


Shenna menggandeng sayang tangan Steve.


Setelah berbasa basi sejenak, Shenna dan Steve pamit pada mama Myra untuk berkencan yang mereka sudah nanti - nantikan.


Steve mengemudikan mobil Lamborghini Veneno miliknya dengan kecepatan rata - rata.


" Kamu mobilnya banyak amat sih Steve. Pemborosan sekali, sejauh 5 bulan kita pacaran kamu udah pakai 7 mobil berbeda." Shenna menggelengkan kepalanya.


" Aku suka dan aku hobi koleksi mobil.. Kalau kamu udah jadi istri aku, aku cuma minta kamu maklumin hobi aku yang satu ini." Steve tersenyum sambil mengecup sayang tangan Shenna


" No!!! Aku ga suka segala jenis pemborosan ga penting."


" Harus! Kamu harus terima!" Steve mencuri kecupan dari bibir kekasihnya.


" Steve nyetir yang bener ah!!" Shenna mendelik kesal.


Steve memarkirkan mobilnya pada parkiran khusus di mall itu, " Tuh sayang.. kalau kita bawa mobil tertentu ga harus pusing dengan parkiran. Ada tempat khususnya." Steve terlihat pongah membuat Shenna mencebikan bibirnya.


Suasana supermarket cukup ramai minggu siang itu, banyak keluarga dan pasangan muda - mudi berbelanja bahan pokok. Steve terlihat mengamati beberapa produk sereal yang akan dia beli, dia membandingkan kadar gizi dan kandungannya, Shenna menahan tawa melihat tingkah laku kekasihnya itu. Mungkin seorang dokter memang demikian sedikit teliti dengan apa yang akan dia konsumsi setiap harinya.


" Sayang, aku kebagian rak bumbu yah.." Shenna mengelus pelan lengan Steve dan hanya dijawab dengan anggukan.


Shenna sedang berdiri menunduk memilih beberapa bumbu dapur hingga tiba - tiba seorang anak kecil berlari tak sengaja menabrak dia, wanita itu hampir saja terjatuh menabrak troley belanjaan jika tidak ada sebuah tangan yang menahannya.


" Aah terimakasih.." Shenna mencoba membetulkan posisinya dari rangkulan orang yang menyelamatkannya.


" Kamu... Sheiiiii?????" Orang tersebut menatap tak percaya siapa gadis dihadapannya.


Shenna membelak tak percaya " Gio!!!!! Astaga...!"


Shenna menepuk pundak Gio hingga pria itu meringis pelan " Haha gimana kabar lu Gio???" Shenna menatap pria didepannya yang merupakan teman kuliahnya dulu dan pernah mendekati Shenna juga meski langsung ditolak dia, tetapi pada akhirnya mereka tetap berteman dengan baik.


" Sheii tetap aja ga berubah yah... sakit nih bahu main pukul aja.." Gio tersenyum sambil mengacak rambut Shenna, dan gadis itu berdecak sebal sambil bercanda dan tertawa mengenang masa kuliah mereka.


" Eh Steve kamu udah selesai??" Shenna merasa suasana tiba - tiba tidak kondusif. " Ehm kenalin ini Gio teman kuliah aku dulu.. Gio ini Steve pacar gue." Shenna mengenalkan Steve sebagai kekasihnya membuat Gio membelakkan matanya tidak percaya, setau dia Shenna sudah lama tidak berpacaran dan tidak berminat dengan pacaran. Setelah acara perkenalan singkat itu Shenna segera mengundur diri dari Gio untuk melanjutlan belanjanya besama Steve.


Mulai dari situlah sikap Steve dan raut wajahnya sudah berubah.


Aduuhh ngambek lagi deh si abang.


Shenna berupaya untuk merayu kekasihnya itu tetapi sampai pada waktu selesai belanja Steve masih juga bertahan dengan ngambeknya. Mereka berjalan menuju tempat parkir khusus, begitu sampai Steve segera memasukan belanjaannya dan Shenna hendak masuk ke kursi penumpang sampai ada suara yang memanggilnya.


" Sheiiii...!!!!!" Gadis itu mencari arah sumber suara dan mendapatkan Jansen sedang melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.


Shenna membalas senyuman Jansen canggung, dia tahu Steve yang berada di posisi belakangnya pasti sedang merengut kesal.


Iyaaaahh satu lagi dari mayora... yang tadi aja belom lewat ngambeknya. Shenna menelan ludahnya kasar.


Shenna hanya berbasa basi sedikit dengan Jansen dan segera pamit masuk kedalam mobil Steve. Steve sudah duduk memegang erat kemudi mobilnya untuk menunggu Shenna, begitu gadis itu masuk kedalam mobil dan memakai seatbeltnya Steve langsung meluncurkan mobilnya keluar parkir dan menuju apartemennya.


Sepanjang perjalanan Steve hanya diam meski Shenna sudah merayu kekasihnya itu, raut muka Steve terlihat tidak senang, jidatnya berkerut menandakan pria itu sedang kesal. Karena Steve mengemudi dengan kecepatan diatas rata rata maka tidak butuh waktu lama mereka sudah tiba diapartemen Steve.


Shenna menysun dan mengeluarkan beberapa bahan untuk dimasak nanti, dia melirik Steve yang ikut membantunya tanpa suara " Sayang kamu masih ngambek?? Awet banget coba ngambeknya. Udah dong..kan kita mau masak, mau happy dan romantis. Masa kamu cemberut terus" Shenna mencolek colek dagu kekasihnya itu. Tanpa jawaban Steve berlalu menuju kamarnya.


Ya Tuhan hamba dicuekin! Shenna meringis sedih.


Setelah merapikan bahannya Shenna menyusul untuk memanggil kekasihnya, dia membuka pintu kamar Steve dan membelakkan matanya melihat kekasihnya tanpa baju dan hanya menggenakan celana pendek rumahan sedang berbaring diatas kasur memainkan ponselnya. Tubuh Steve memang proposional untuk seorang lelaki, ototnya padat dan tidak berlebihan belum lagi tatto yang berada di punggung dan lengannya yang selalu dia tutupi jika sedang praktek dirumah sakit.


Waduh godaan iman sungguh besar. punggungnya minta di elus elus.


Shenna melangkah masuk canggung dan menggoyangkan kaki kekasihnya itu. " Steve... udahan dong ngambeknya.." Steve tetap tak bergeming.


" Sayang.... ayuk kita masak sekarang.."

__ADS_1


Steve tetap diam dan sibuk dengan ponselnya.


" Sayang...." Shenna menggoyangkan kaki Steve lagi.


" Jangan ngambek terus dong.. aku minta maaf yah.."


Steve tetap bersikukuh dengan diamnya.


Shenna menarik nafas panjang. " Yasuda aku pulang ajah.. kalau tau begini mending ga usah dari awal!"


Shenna melangkahkan kakinya keluar kamar hingga di dapur juga Steve tidak mengejarnya. Air matanya turun dia sangat kesal, kesal sampai ingin menangis. Shenna memasukan ponselnya pada tas dan memakai tasnya begitu hendak membuka pintu keluar sebuah pelukan dari belakang menahannya.


" Kamu mau kemana??" Suara itu yang dari tadi dia rindukan. Shenna hanya menengok kepalanya dan menjawab sekenanya. " Pulang.."


Steve terkejut melihat mata Shenna basah.


" Kamu nangis???????" Bukan maksud Steve untuk membuat kekasihnya ini sampai menangis.


Shenna menggeleng kepalanya perlahan dan memaksa tersenyum, " Aku pulang yah. kamu istirahat aja mungkin kamu cape. Aku juga mau pulang istirahat." Tidak ada jawaban dari Steve tetapi pelukan di perut Shenna juga tidak dilepasnya.


" Steve.. lepasin.." Shenna memegang lembut lengan kekasihnya itu.


Steve melepaskan tas Shenna dan melempar benda itu ke sofa. " Kata siapa kamu boleh pulang!" Steve mengangkat tubuh Shenna ala Bride style membuat wanita itu memekik terkejut. Mereka masuk kedalam kamar dan Steve menurunkan Shenna perlahan ke ranjangnya.


Shenna tertegun sesaat.


Mau ngapain ini????


" Aku bisa mati cemburu dan kuatir terus - terusan kalau kamu belum jadi milik aku seutuhnya Sheii...." tatapan mata Steve terasa tidak seperti biasanya.


Milik dia seutuhnya???? Ambigu nih...


Shenna terdiam mencoba mengerti makna kata kata Steve barusan.


Steve langsung mendorong perlahan dan mencium kekasihnya hingga posisi Shenna berada dibawah kungkungan tubuh Steve.


Alarm otak Shenna menyala menandakan ada bahaya,


*ninu ninu ninu* Sumpah Steve cuma pake boxer dan posisi ini sangat bahaya!!!


Tetapi tubuh Shenna lebih mendengar bisikan setan dan selalu gadis itu terbuai dengan segala keahlian Steve dalam berciuman. Shenna memeluk tubuh polos Steve, kencang dan keras!! Mantap mama!!!!


Ciuman mereka semakin dalam dan panas, tangan Steve secara implusif membuka tali pita pada baju Shenna dibagian dada dan menampakkan jelas bra Shenna yang berwarna cream. Dengan luwesnya Steve membuka baju Shenna menciumi bagian dada Alwina yang masih terbalut bra membuat wanita itu melenguh dan dengan perlahan membuka celana pendek Shenna hingga meninggalkan pakaian dalamnya saja. Steve kembali dengan permainan bibirnya menciumi Shenna dengan dalamnya dan penuh hasrat, memasukan lidahnya pada rongga mulut Shenna dan mengabsen setiap incinya.


Shenna semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Steve, dia merasakan sesuatu yang berbeda yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, Steve mencari celah memasukan tangannya kebelakang punggung Shenna dan membuka bra Shenna dengan sekali tarikan dan melempar bra itu kesembarang arah.


Shenna tersadar dia hampir n*ked!!!!! Tiba - tiba semua pesan dan amanah mamanya melintas di otaknya, Steve masih terus melanjutkan aksinya dia mulai meremas dada Shenna dan ********** meninggalkan tanda kepemilikannya disana. Shenna melenguh panjang .


" Aaahh.. Steve.... Ah... Hen..hentikan..." Shenna menahan dada Steve untuk memeberi jarak. Steve tertegun sejenak melihat kondisi kekasihnya yang sudah sangat berantakan akibat ulahnya seperti tersadar sudah terlalu jauh. Dengan segera Steve menarik selimut untuk membungkus tubuh Shenna.


Nafas mereka terengah, Shenna sedikit shock karena ini yang pertama baginya seorang pria menjamah seluruh tubuhnya. Steve menarik rambutnya dan meringis kesal "Maafkan aku Sheii... aku brengsek tidak bisa mengontrol diri..."


Shenna bangkit duduk dan memeluk tubuh kekasihnya itu dari belakang. " Kita lakukan ini semua tanpa dipaksa dan karena memang kita saling cinta. Its ok sayang.. biar pengalaman pertama kita dilakukan nanti setelah kita menikah."


Steve mengusap lembut pipi Shenna dan menciumi bibirnya kembali tetapi kali ini dengan ciuman yang lembut tanpa hasrat. " Maaf aku selalu kaya anak kecil cemburu buta.. Semua karena aku cinta kamu Sheii. Sungguh..."


" I love you too... Yuk jadi kan masaknya? Aku laper banget...."


" Iya sayang... yuk" Steve mengulurkan tangannya untuk menggandeng Shenna tetapi gadis itu hanya diam tak menyambut, Steve menaikan kedua alisnya bingung.


" Bra.. bra aku kamu lempar kemana???" Wajah Shenna merona merah.



__ADS_1


Mohon like dan vote nya yah. makasih 🥰


__ADS_2