
Shenna duduk termenung dibalkon apartemennya, pandangannya kesembarang arah, terlihat padatnya lalulintas ibu kota dan samar terdengar suara klakson kendaraan yang saling bersahutan. Meski jam sudah menunjukan pukul 22.00, memang ibukota dikenal sebagai kota hidup 24 jam, hari yang sudah gelap juga tidak menyurutkan aktifitas manusia yang masih ada saja seolah tidak ada habisnya.
Hari ini berat dan sangat menyita emosi psikis Shenna, wajar dan sangat diperbolehkan untuk dia bersedih saat ini. Besok kalau bisa mungkin dia akan mentraktir Kartika untuk makan siang sebagai tanda terimakasihnya, mungkin wanita itu tidak sadar tetapi dia menyelamatkan Shenna jika Kartika tidak mengetuk pintu sudah dipastikan Kevin dengan kurang ajarnya akan mencium bibirnya.
Shenna menghela berat nafasnya, belum lagi tadi selesai urusan hatinya dengan Kevin, dia juga mendapatkan kunjungan dari Jansen tadi dikantornya saat jam makan siang.
FLASH BACK ON
Shenna turun tergesa menggunakan lift ke loby kantornya, telefon dari Jansen yang mengatakan bahwa dia sudah ada di parkiran depan gedung kantornya yang membuat Shenna turun untuk menemui Jansen. Bukan niat dia menerima ajakan makan siang dari Jansen, sungguh dia hanya tidak ingin Kevin tau bahwa Jansen datang dan membuat dirinya kesusahan lagi. Shenna tidak peduli gosip gosip wanita dikantornya, dia hanya tidak mau terlibat lagi cinta segi empat ini. Dia muak dan pusing.
Shenna mengetuk kaca jendela mobil berwarna hitam yang dia yakini milik Jansen karena sepertinya Jansen membawa mobil yang berbeda saat mengantar Shenna pulang kemarin. Bagaimana tidak, terlalu mencolok dan tidak ada satupun karyawan perusahaan yang membawa mobil Mercedes Benz GLc 450 atau mungkin tidak akan seorang karyawan sanggup membeli mobil yang seharga satu rumah mewah itu.
Kaca Jendela terbuka dan menampilkan langsung senyuman maut dari pemilik mobil,
"Masuk." Katanya dengan mimik muka bahagia.
Shenna memasang wajah datar tanpa niat dan segera masuk kedalam mobil untuk berbicara dengan Jansen sebelum ada banyak mata mata yang bisa melaporkan pada Kevin.
"Saya turun bukan mau pergi lunch sama anda, tapi saya cuma mau..."
'KLIK' Belum selesai Shenna bicara, Jansen sudah memasangkan seatbelt untuk Shenna, dengan segera juga Jansen mengunci pintu mobilnya untuk menghindari Shenna kabur dan langsung menjalankan mobilnya keluar dari area gedung kantor Shenna.
"Sen!! Berhenti, saya ga ikut! Saya cuma mau ngomong!!" Shenna cukup panik karena dia tidak membawa dompet atau apapun hanya ponsel yang dia bawa.
"Diam! Sudah ikut aku, dan jangan ngomong saya saya saya. kuping aku panas dengernya!" Nada suara Jansen menyiratkan kekesalan juga.
Shenna hanya diam, dia kembali merasa tertekan dengan situasi seperti ini. Seperti yang Kevin tadi lakukan, seperti apa yang dia alami akhir akhir ini. Jansen, Kevin dan Steve benar benar membuatnya tertekan.
Shenna merasa nyeri pada pangkal hidungnya, entah karena sinusnya sedang kambuh atau dia terlalu stress dan tidak bisa menerima situasi seperti ini lagi. Dia memijat perlahan pangkal hidungnya.
Jansen merasakan perubahan pada Shenna dan melembutkan suaranya.
"Sheii, maaf aku ga maksud bentak. Tapi aku cuma mau makan siang aja sama kamu. Aku kangen kamu." Jansen mengucapkan kata kangen tanpa malunya sambil tersenyum memelas menatap Shenna.
Shenna mendengus pelan dan tidak menjawab Jansen. Merasa suasana tidak terlalu baik, pria itu ikut diam dan tidak bicara lagi sampai memarkirkan mobilnya disalah satu hotel terbaik disini.
"Kita lunch bentar yah Sheii." Jansen melepaskan seatbeltnya dan Shenna.
"Terserah!! Dan gua gak bawa dompet!" Ketus Shenna dan hanya ditanggapi senyuman oleh Jansen.
Berada dilantai 51 gedung hotel tersebut, restoran tempat mereka akan makan siang menghadap dan menampilkan langsung jalanan ibukota siang hari itu.
Setelah memilih menu, Jansen dan Shenna kembali diam. Jansen bingung untuk memulai bicara karena wajah Shenna menampilkan ketidaksukaannya untuk dipaksa kesini.
" Sheii, kamu benci sama aku sekarang yah??"
Shenna kaget akan pertanyaan Jansen dan reflek memandang wajah Jansen.
"Aku tau kok. Betapa dulu aku bodoh dan bikin kamu kecewa, wajar kamu benci aku sekarang. Tapi please Sheii kasih aku kesempatan perbaikin ini semua."
__ADS_1
Shenna menatap mata Jansen mencari celah kebohongan atas sandiwara yang mungkin saja Jansen mainkan. Tetapi hanya sirat kejujuran yang ada disana.
Sebelum Shenna sempat menjawab apapun, hindangan makan siang sudah disajikan oleh pelayan hotel tersebut.
"Makan aja dulu." jawab Shenna singkat dan disetujui oleh Jansen.
Setelah makan siang selesai Shenna meminta untuk segera diantar kembali ke kantor.
Sepanjang perjalanan Shenna hanya diam dan bingung untuk merangkai kata menanggapi Jansen, karena memang sejujurnya dia bimbang dengan apa yang dia rasakan dari semua ini.
Jansen juga hanya bisa diam dan merasa kecewa karena mungkin Shenna sudah benar benar membenci dirinya dan menutup hati. Tanpa terasa Jansen sudah memarkirkan kembali mobilnya di depan gedung kantor Shenna.
Shenna melepas seatbeltnya dan memutar posisi duduknya menghadap Jansen.
Jansen melihat pergerakan gestur Shenna seketika tersenyum hangat.
"Sen, emang bener aku kecewa banget sama kamu. Tapi itu uda berlalu, udah 7 tahun lalu. Dan aku sadar mungkin saat itu kita berdua hanya remaja labil yang gak bisa kontrol apa yang kita rasain. Tapi sekarang aku udah lupain semuanya, aku gak benci kamu." Shenna tersenyum menjawab semua kegundahan hati Jansen, tapi bukan itu yang Jansen harapkan saat ini.
"Sheii, aku cuma mau minta kesempatan kedua. Aku cuma lelaki bodoh yang hilangin kesempatan buat milikin kamu dulu. I love you Sheii. I do!"
Shenna terdiam, kata kata yang dia dengar saat ini mungkin jika diucapkan Jansen 7 tahun lalu sudah dipastikan akan membuatnya melompat dengan girangnya atau mungkin membuat dirinya bernyanyi lantunan jatuh cinta sepanjang waktu. Tapi saat ini, dia meraba dadanya sendiri, degup jantung itu tidak sama lagi.
Tanpa memberi jawaban pasti untuk Jansen, dia turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih dan bergegas masuk kedalam gedung kantornya.
FLASHBACK OFF
Shenna menghela nafasnya lagi dan lagi, sepertinya itu sudah menjadi hobi barunya sekarang. Dia merasa sangat bingung. Bukan maksud hati Shenna untuk terus terjebak dengan ketiga pria ini, dia hanya butuh waktu untuk menelaah hatinya saat ini. Sungguh Shenna tidak ingin salah mengambil keputusan hanya karena perasaan sesaat.
Shenna melirik sekilas pada ponselnya yang sedari tadi tidak berhenti menampilkan notifikasi pesan masuk dan semua itu dari Kevin, Jansen dan Steve yang dia tidak tahu apa itu sedari tadi siang sampai sekarang yang dia abaikan.
kevin 12.30
"Nana kamu kemana?"
Kevin 12.45
"Na?? kamu melarikan diri yah? kamu belum jawab pertanyaan aku."
Kevin 13.00
"Na kamu cuekin aku??"
Kevin 13.05
"Shennnaaaa!!"
Jansen 13.17
"Makasih udah ditemenin lunch tadi"
Jansen 16.00
__ADS_1
"Kamu bawa mobil kekantor?? Mau aku jemput?"
Kevin 16.15
"Na kamu udah cuekin aku seharian, kamu gak mau dateng keruangan aku juga. kamu kenapa sih??"
Kevin 16.30
"Na.. jawab aku"
Kevin 16.45
"Nana.."
Kevin 19.00
"Kamu udah dirumah Na? udah makan belum?"
Kelvin 19.30
"Shenna Shennaaa..."
Jansen 20.00
"Sheii.. kamu lagi apa?"
Kevin 20.30
"Nana angkat telefon aku!!! Kamu tadi keluar sama Jansen????"
Kevin 20.32
"Shennaa!! Mulai besok aku cut off kontrak sama Jansen!!"
Dan sejumpah pesan lainnya dari Kevin yang membuat Shenna meringis,
*Us*ah pasti besok gua kagak selamat!!
Siapa yang laporan sih?? pasti pak Daniel ini mah!!
Shenna segera menonaktifkan ponselnya karena telefon yang tidak berhenti dari Kevin.
Perlahan sesuatu yang hangat mengalir dipipi Shenna, dia menangis. Dia tidak bisa mengerti dirinya sendiri saat ini. Terlalu tidak tegas atau bagaimana kenapa perlakuan Kevin dan Jansen terasa sangat menekan dia hari ini.
Shenna mencoba menelaah hatinya sendiri, seharusnya dia tau, ada satu nama yang menonjol. Satu wajah yang tidak bisa dia abaikan, satu aroma yang selalu dia rindukan. Mungkin pria ini memang telah mencuri hatinya dari awal mereka bertemu, semua sikap dingin dan jutek Shenna hanya sebagai tameng perlindungan untuk dirinya sendiri, dia hanya tidak ingin kembali kecewa.
Bukan mudah bagi dirinya mencapai pada posisi ini, posisi dimana hatinya tidak bergantung pada siapapun. Shenna dengan sangat baik menutup hatinya dari perasaan labil tidak menentu yang bisa saja didapat jika dekat dengan pria, dia tidak baper mencoba menjadi dewasa dengan mengejar karir dan membahagiakan mamanya. Tetapi kedatangan tiga pria ini membuat Shenna berada dipersimpangan jalan seolah menjadi lonceng bagi diri Shenna memaksa dirinya, sudah waktunya mungkin dia harus menentukan apakah dirinya akan tetap mendinginkan hatinya seperti tahun tahun lalu atau memilih untuk tidak mengabaikan gejolak hatinya tentang pria itu.
'TING TONG!!'
*I*ni.....
__ADS_1
Shenna tersentak suara bel apartemen memecahkan lamunannya.