Shenna Love

Shenna Love
Villy Albiansono


__ADS_3

"Halo." Villy mengangkat telefonnya setelah beberapa kali berbunyi, kesibukannya sebagai seorang dokter ahli bedah membuat dirinya terasa diambang batas kelelahan.


"Fix, dia udah ngaku sendiri sama gua kalau wanita itu pacarnya dia." Suara wanita disebrang sana dengan mantap memberikan informasi.


Setelah telefon terputus Villy menggenggam erat ponselnya hingga buku jarinya memutih, wanita itu kesal dan marah. Dia menghembuskan nafasnya panjang dengan segera berjalan menuju ruang kepala rumah sakit untuk mengurus pengunduran dirinya.


Aku harus pulang, mengambil apa yang memang dasarnya milikku. Selamanya kamu hanya buat aku Steve.


Villy menginjakkan kakinya kembali ke tanah air, sudah lebih dari 6 tahun mungkin dia berada di Jerman, bukan keinginannya untuk menetap disana ini semua karena Steve. Lelaki itu, lelaki yang sudah membuat Villy begitu merendahkan dirinya hanya untuk mendapatkan sedikit saja perhatian dari Steve. Tidak usah bermuluk mendapatkan cinta, Villy percaya seiring waktu cinta akan timbul jika hanya Steve peduli dengan dia.


Tetapi di usia 10 tahun hubungan mereka Steve kembali meminta putus yang entah sudah diucapkannya berapa ratus kali, tetapi keberapa ratus kalinya juga Villy tetap bersikukuh ingin bersama. Sampai akhirnya seorang teman memberi saran untuk melepaskan Steve; Beri pria ruang dan waktu untuk merindukanmu, itu katanya tetapi yang Villy dapatkan hanyalah kabar bahwa lelaki itu sudah memiliki kekasih.


Villy mengalami hari hari sulit, pria itu tidak pernah tahu. Steve tidak pernah tau dan tidak peduli, setelah dia menemui orang tua Villy berkata bahwa tidak ada cinta diantara mereka dan hubungan tidak bisa dipaksa, bahkan tante Liana juga ikut berbicara dengan papa mamanya.


Sungguh membuat Villy habis pikir, bahkan tante Liana sudah tidak berpihak padanya. Menjadikan orang tua Villy mengambil tindakan tegas agar putri kesayangan mereka tidak merendahkan diri mengemis cinta, sehingga menetap di Jerman adalah pilihan terbaik menurut mereka.


Pertemuan pertama Villy dengan Steve bukan seperti di film atau buku novel, mereka hanya teman sekelas di kampus. Menyandang keluarga yang notabene dokter terkenal membuat Villy sangat diharapkan oleh beberapa dosen, tetapi Villy hanyalah Villy gadis biasa yang juga mempunyai cita cita selain dokter yang membuat gadis itu tidak mendapatkan nilai memuaskan.


Dan Steve merupakan cucu pemilik rumah sakit terbesar, lelaki itu bisa dibilang jenius. Dia sangat pintar dan awalnya Villy berteman dengan Steve hanya untuk belajar dari pria itu. Ternyata selain pintar juga jangan lupakan pesona seorang Steve, kulit sawo matangnya, tatapan tajamnya, senyumnya yang memabukkan semua menjadi begitu mempesona dimata Villy. Iya, Villy menjadi tergila gila pada Steve bahkan dia mengakui kakau dia terobsesi pada Steve, lelaki itu mempunyai segudang kelebihan terlebih rasa sayang pada keluarganya. Aah! Steve seorang family man sungguh suami idaman.


Upaya pendekatan Villy tidak membuahkan hasil, pria itu keras dan sulit didekati. Selalu memasang tembok pengaman jika ada wanita yang mendekatinya, padahal dengan segala yang dimilikinya mungkin sah sah saja jika Steve memilih jalan untuk menjadi playboy kelas berat. Tetapi tidak dengan Steve, lelaki itu konsisten dengan sikap dinginnya.


Namun bak gayung bersambut akhirnya Villy bisa bertemu dengan Steve diluar kampus, acara ulang tahun kakek Steve. Acara yang sudah pasti mengundang banyak dokter datang dan ayah Villy merupakan salah satu tamu undangan Spesial, kakek Steve dulu mentor dari papanya Villy. Gadis itu merengek merajuk seperti anak kecil untuk dijodohkan dengan Steve dan sang papa menuruti keinginan gadis kecilnya.


Tante Liana ternyata menyukai Villy, bagaikan mendapat suporter Villy dengan gencar kembali mendekati Steve, bahkan Villy sudah tidak segan menyatakan cinta. Tetapi selalu ditolak oleh Steve dengan alasan tidak ingin berpacaran ,akhirnya setelah 5 bulan mendekati dengan agresif dan menyatakan cinta 3x Steve menerima Villy hanya karena desakan dari kakek dan mamanya.


Kesempatan ini tidak akan Villy sia siakan, dia akan membuat Steve membalas perasaannya.


Tetapi dugaan Villy meleset Steve tetap cuek dan bahkan diusia 5 tahun mereka percaran Steve 'berselingkuh' pada masa break mereka.


Siapa gadis itu? Gadis yang bisa membuat Steve tersenyum hanya dengan mengingatnya saja.


Villy gusar, dia tidak ingin menyerah secepat ini, bahkan 5tahun baginya masih belum cukup.


Tidak peduli orang orang juga sudah memberi label 'terobsesi dengan Steve' dia sungguh tidak peduli karena hanya Steve lah yang hatinya inginkan.


****


Siang hari setelah Villy mengunjungi tante Liana tadi pagi, dia memutuskan untuk mengunjungi pujaan hatinya dirumah sakit. Mendapat kabar pria itu sudah menduduki jabatan kepala rumah sakit menggantikan kakeknya tentu saja Villy ikut berbangga dan bahagia, akhirnya amanah dari kakeknya terlaksana juga.

__ADS_1


Villy mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rata rata, dia menghembuskan nafasnya dalam dan memandang sekeliling. Situasi sudah banyak berubah hanya dalam 5 tahun sudah banyak gedung baru bermunculan, untung saja kemampuannya dalam menyetir masih baik jadi dia bisa pergi kemanapun seorang diri tanpa harus diawasi oleh supir papanya.


Papa masih saja gak ijinin aku buat ketemu Steve, aku kangen banget udah lebih dari 1 tahun gak ketemu. Seperti apa dia sekarang yah?


Villy memarkirkan mobilnya di area parkir rumah sakit, dia tersenyum gembira tidak sabar bertemu Steve.


..


Sementara itu Shenna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bagaimana bisa Steve begitu marah pada dia, Shenna risau memikirkan kekasihnya itu.


Gak bisa begini terus!


Shenna menyambar ponselnya dan tas kerjanya, dia harus ketemu Steve, bertengkar sampai seperti ini memang yang pertama untuk Shenna jadi dia akan segera menyelesaikannya dan meminta maaf.


Mumpung pak bos lagi keluar!


Shenna segera memesan taksi dan meninggalkan pesan pada Rara dia ada urusan diluar kantor sebentar dan akan kembali setelah jam makan siang.


Shenna mampir kerestoran dimsum yang berada disebelah rumah sakit, dia membeli beberapa makanan untuk makan siang bersama kekasihnya. Dengan mantap Shenna berjalan memasuki gedung rumah sakit yang selalu ramai pengunjung.


Owh iya beli kopi buat Steve!


Shenna memasuki coffee shop yang ada di loby dan memesan americano dingin untuk dirinya dan Steve. Sambil menunggu pesanannya dia duduk pada salah satu bangku dan memainkan ponselnya.


Perasaan Shenna sedikit gusar, setelah mengambil pesanannya dia naik lift untuk menuju ruangan Steve.


Jangan asal baper dan marah Na, apapun itu lu harus bisa cari tau dulu itu siapa dan gimana situasinya. Lu itu cewe smart bermatabat jadi jangan bertindak konyol.


Shenna sebenarnya saat ingin berteriak marah marah cemburu tadi saat melihat Steve dan wanita itu berjalan bersama, raut wajah wanita itu yang hanya Shenna perhatikan, itu raut wajah mengagumi, jatuh cinta, rindu dan bahagia menjadi satu mungkin.


Setiap langkah kaki yang membawa Shenna mendekati ruangan Steve seperti detik detik yang menengangkan buat Shenna, instingnya sebagai seorang wanita menunjukan ini bukan sesuatu hal yang baik, terlebih tadi sebelum menaikin lift dia berpaspasan dengan dokter wanita itu, dokter yang berpakaian seksi yang pernah dengan tidak sopannya menyebut dia hanya orang lain, dokter itu melihatnya denga tatapan kasihan dan tersenyum sinis lalu segera berlalu.


Semoga semua cuma prasangka buruk gua aja!


Alis Shenna sedikit mengerut melihat pintu ruangan Steve tidak ditutup dengan rapat, samar terdengar pembicaraan dua orang. Mungkin Steve tidak terlalu kuatir karena tidak sembarang orang mempunyai akses kelantai ini dan pada jam ini mungkin semua dokter sedang makan siang diruangan masing masing. Shenna berjalan canggung dan perlahan untuk mencuri dengar apa yang terjadi, dia merapatkan tubuhnya di dinding tepat disebelah pintu.


"Hubungan kita saat ini tidak bisa lebih dari ini Vil, cukup seperti ini saja. Kita begini saja." Suara Steve terdengar lembut, Shenna menautkan alisnya.


"Kamu harus tau Steve betapa aku mencintai kamu dan sampai kapanpun cinta ini akan tetap sama."

__ADS_1


Wanita itu sepertinya sedang menangis, Shenna semakin gusar dan memberanikan dirinya untuk mengintip.


Tubuh Shenna seketika lemas, kakinya seperti tidak mendapat pijakan kuat melihat Steve dan wanita itu berpelukan, iya berpelukan Steve membalas pelukannya.


Tenggorokan Shenna tercekat, Shenna berusaha untuk mengontrol nafasnya yang tidak beraturan dan baru saja dia sedikit mendapat kesadarannya, wanita dipelukan Steve itu menjinjitkan badannya dan merangkul leher Steve dengan segera mencium bibir Steve.


Dimata Shenna mereka berciuman, dia terkejut dan melepaskan pegangannya, semua kantong makanan bawaannya terjatuh kelantai dan menimbulkan suara sudah pasti.


Steve dan Villy bersamaan menoleh kearah pintu, wajah Villy bingung, wajah Steve tegang dan terkejut. Bagaimana tidak, Shenna berdiri didepan pintu terdiam dan menatap Steve dengan kecewa.


"Sheiii?! Sayang." Steve mencoba mendekati Shenna, tetapi gadis itu lebih dahulu menghentikan dengan tangannya.


"Stop! Jangan kesini Steve!" Shenna masih berusaha tersenyum tetapi air matanya segera meluncur menuruni pipinya. Hati Steve nyeri seperti dihujam ribuan jarum.


Shenna memandang gadis itu yang tersenyum seperti sudah mengetahui siapa Shenna, lalu kembali melihat Steve. Dia melepaslan cincin dijarinya,


"Ini saya kembalikan, dan jangan pernah satu kalipun menunjukan wajahmu dihadapan saya dokter Steve Aldjaya." Shenna meletakkan cincin pemberian Steve dilantai dan memutar tubuhnya untuk pergi.


"Jika anda berniat mengejar saya itu hanya akan menambah malu dan benci saya. Jadi urungkan niat anda, dan disini saya tegaskan sekali lagi urusan kita sudah selesai dan tidak akan pernah ada lagi. Terimakasih untuk semuanya, beberapa barang lainnya lagi akan saya kirim untuk dikembalikan."


Shenna dengan cepat meninggalkan tempat itu, dia tidak ingin terlihat lemah dan cengeng. Dengan tergesa Shenna berjalan keluar lobi rumah sakit untuk menuju jalan raya. Dia berlari kecil, air matanya tidak mau berhenti hatinya sakit, kenapa dia bernasib begini dengan orang yang sama 2x. Tidak pernah ada kan yang namanya kesempatan ketiga?!


Sebuah tangan menghentikan Shenna, dia terkejut dan dengan nafas yang terengah dia melihat siapa yang menariknya.


"Kamu ngapain disni Nana??" Kevin menahan pergelangan tangan Shenna.


"Kamu nangis??!! kamu kenapa??!"


Tenggorokan Shenna seperti tercekat tidak bisa berbicara, hanya deru nafasnya yang tidak beraturan dan air mata yang terus tidak berhenti. Dadanya naik turun dan saat itu juga tangis Shenna pecah, dia menangis sesengukan dan tersiak isak.


Kevin segera memeluk dia dan menggiring wanita itu menuju mobilnya.


"Daniel, kamu kembali saja ke kantor duluan. Biar mobil ini saya bawa, kamu hubungi supir kantor yah."


Setelah menyuruh Shenna untuk menunggu di mobil, Kevin berbicara dengan Daniel sekretarisnya.


"Baik pak." Daniel menundukan kepalanya.


Kevin melajukan mobilnya, sesekali dia mencuri pandang Shenna yang terus menangis sesengukan. Gadis itu tidak mau bicara apapun setelah membanting hancur ponselnya tadi.

__ADS_1


Pasti ini gara gara si dokter sialan itu!


Kevin meringis, hatinya pedih melihat gadis pujaannya menangis seperti ini.


__ADS_2