Shenna Love

Shenna Love
Ciuman yang salah


__ADS_3

Shenna duduk didalam ruangan kantornya, dia menyibukkan dirinya tenggelam dalam pekerjaan agar dia bisa mengontrol pikirannya tentang Steve. Tadi Shenna membuka media sosial milik Steve, dia hanya ingin mengecek saja tidak lebih, tidak ada post an foto apapun. Kini dia sedikit resah memikirkan apa yang pria itu lakukan dengan Villy di Jerman berdua.


Tau tadi gak usah ngecek! Double sialan!


Shenna bisa saja menangis jika dia tidak mengontrol pikirannya, dia memijat pelan tengkuknya dan memainkan kalung dilehernya.


Dia tersadar dan melihat liontin kalungnya dengan inisial SS, kalung hadiah ulang tahun pemberian Steve. Shenna menggigit pelan bibirnya, memutar bola matanya melihat langit langit ruangannya untuk mencegah bulir airmata itu turun. Tenggorokannya terasa menyakitkan dan kering, lalu Shenna melepas kalung itu, membungkusnya dengan tisu lalu memasukan kedalam dompetnya.


Ini udah berakhir, gua harus pulih pelan pelan.


Gak usah buru buru Na, semua ada waktunya.


Dering ponsel Shenna mengagetkan dirinya, sebuah nomor tidak dikenal menelpon dengan kode negara luar.


+49 78 887820


Shenna menautkan kedua alisnya, lalu mengetik tust pada komputernya dan berselancar mencari kode negara yang menelponnya saat ini.


Jerman??? Ini..... Steve???


Shenna mengatur pola nafasnya berusaha tenang. Tidak, dia tidak akan mengangkat telepon ini. Jangankan melihat wajah Steve, mendengar 1 patah kata dari mulutnya sudah bisa membuyarkan semua tekat Shenna untuk melupakan pria itu.


Lebih aman gak usah diangkat. Bener begitu Na! Itu paling bener! Gak usah diangkat!!


Setelah sambungan kelima kali dan tetap diabaikan akhirnya Steve memilih untuk tidak menelpon Shenna lagi. Dia berdiri dibalkon apartemennya, pandangannya menerawang. Senja sudah mulai datang dan dia masih belum menyalakan lampu, dalam kegelapan Steve termenung sendiri. Lima tahun lalu hingga detik ini dia meyakini perasaannya pada Shenna bukanlah perasaan semu.


Meski disibukkan dengan perkuliahan mengambil gelar spesialis 5tahun lalu tetapi Steve tetap memikirkan Shenna, dia tidak melakukan tindakan apapun karena memang saat itu perasaannya tidak sedalam sekarang, Kali ini dia sungguh tidak ingin melepaskan Shenna lagi. Tiba tiba hujan turun, Steve terkejut ini baru saja menuju akhir dari musim panas di Jerman, di Berlin memang sedikit lebih sering hujan. Tetapi sedari tadi cuaca tidaklah mendung, Steve teringat sesuatu tentang hujan.


Jarinya mengetik pada layar ponsel mencari prakiraan cuaca di Negaranya saat ini, dia menggenggam erat ponselnya setelah mengetahui bahwa di negaranya sekarang sudah memasuki musin hujan.


Gua harus kelarin semua urusan dan balik lebih awal!


***


Sudah tiga hari ini Kevin sangat senang, bagaimana tidak. Shenna sungguh meladeninya dan bahkan setuju untuk menemani Kevin terus menerus saat pria itu memintanya.


Oke, Kevin memang tahu saat ini Shenna sedang dilanda masalah dalam hubungannya dengan Steve, tetapi dia rasa tidak masalah jika saat ini dia mencoba peruntungannya bukan? Hey! Perasaannya pada Shenna juga tak kalah dalam, dia mencintai wanita ini kok dan juga berniat untuk menikahi Shenna jika wanita itu mau.


Tapi sekarang Kevin juga tidak bisa terburu buru karena meski Shenna sudah mulai merespon ajakannya tetapi tetap saja Shenna seolah membuat batasan tak kasat mata. Dia tau dokter itu pasti masih menduduki rating nomor satu dihati Shenna, jadi dia harus bergerak pelan tapi pasti. Ada keyakinan dalam hati Kevin bahwa dia bisa meluluhkan hati Shenna.


Seperti hari ini, sedari pagi Shenna sudah menemani dia diruang kerjanya, oke memang ini masih dalam urusan pekerjaan Shenna harus menyusun jawaban pertanyaan wawancara dari sebuah majalah bisnis untuk sore nanti, tapi apapun alasannya yang penting saat ini adalah Shenna sudah menghabiskan waktunya beberapa jam ini bersama dia berdua!


Kevin mengerjakan sesuatu pada komputernya dan wanita itu duduk dengan manis dihadapannya dengan laptop yang menyala. Sesekali Kevin mencuri pandang, cantiknya.. dan dia kembali fokus pada pekerjaannya.


"Nana, siang mau makan apa? Mau keluar atau aku minta Daniel tolong pesanin?" Kevin mengalihkan Shenna sejenak dari pekerjaannya, wanita itu melirik arlojinya sekilas dan tidak menyangka waktu sudah menunjukan pukul 11.30


"Cepat yah waktu gak terasa uda jam lunch. Pesan aja, yang simple. Nasi, lauk udah cukup. Aku mah makan apa juga jadi." Shenna kembali fokus pada pekerjaannya, dan Kevin hanya tersenyum mendengar jawaban Shenna karena dia juga tahu Shenna itu bagaikan mesin makan, tidak pemilih dan makan dengan lahap. Lalu pria itu dengan segera menghubungi Daniel untuk memesan makan siang mereka.


Tak lama Daniel muncul dengan makan siang mereka, setelah meletakkan dimeja Daniel kembali keluar ruangan.


"Na, sini makan dulu." Kevin memanggil Shenna untuk bergabung dengan dirinya di sofa." Shenna langsung mengsave pekerjaannya dan duduk bergabung untuk makan siang bersama Kevin. Pria itu senang bukan main karena Shenna banyak bicara dan bercanda dengan dia, dewi fortuna datang lagi pikirnya dia merasa sangat beruntung.


Selesai makan siang mereka melanjutkan pekerjaannya kembali, Shenna harus sedikit mengebut karena pukul 16.00 nanti Kevin sudah harus berangkat untuk wawancara dengan majalah bisnis.


"Kamu mau gak temenin aku wawancara Na? Ada pemotretannya juga sih, tapi paling lama kayanya cuma 2 jam aja. Abis itu kita dinner bareng."


"Sorry kayanya gak bisa Kev, aku bawa mobil hari ini, terus abis dari kantor aku ada urusan." Shenna memang merencanakan akan kerumah Liana hari ini untuk mengembalikan mobil dari Steve.


Kevin hanya mengangguk meski hatinya sedikit kecewa, lalu dia berkutat dengan komputernya lagi.


Shenna terlihat bingung didepan laptopnya, menggerak gerakkan mousenya,


"Kok gak bisa??? Perasaan tadi baik baik aja."


"Kenapa Na?"


"Ini mouse aku kok ngadat, perasaan tadi baik baik aja." Kevin berjalan memutari mejanya dan duduk disebelah Shenna untuk mengecek mouse Shenna, dia menggerakannya tetapi kursor tak berpindah.


Kevin juga sedikit bingung dan meneliti laptop Shenna,

__ADS_1


"Aduhhh dasar anak ini yah, ini usb nya kamu cabut." Kevin mengacak rambut Shenna dan melepas jepitan rambut wanita itu.


Shenna reflek terbahak menertawakan keteledorannya,


"Hahaha! Aduh kirain rusak! Yauda sih sini jepitan rambut aku mana???!"


Kevin meledek Shenna dengan menaruh jepitan rambut wanita itu diatas tangannya dan menyuruh Shenna untuk merebutnya jika bisa, mereka larut dalam candaan hingga badan Shenna agak condong kearah Kevin berupaya untuk merebut jepitan rambutnya. Ketika tersadar mereka sudah dijarak yang cukup dekat, saling menatap sesaat hingga menyurutkan tawa diwajah mereka.


Secara implusif Kevin menarik tengkuk Shenna dan membawa wajah Shenna mendekati wajahnya lalu Kevin membenamkan bibirnya pada bibir Shenna.


Kevin memangut bibir Shenna dengan lembut awalnya lalu semakin dalam dan menuntut, hingga Shenna tersadar dan mendorong badan Kevin menjauh.


Dia menatap tak percaya, memegang bibirnya dan bulir airmata lolos kepipinya.


"Sorry...." Tenggorokan Shenna serasa tercekat batu besar.


"Na..." Kevin berupaya untuk menarik Shenna dalam pelukannya tetapi wanita itu menolak dan saat itu Kevin tersadar dia salah langkah.


"Kita gak seharusnya begini Kev, aku.." Shenna mencoba menetralkan detak jantungnya,


"Kita gak bisa lebih dari sekedar teman Kev...." Saat mengucapkan kalimat ini Shenna sendiri pun seolah tersadar bahwa hatinya tidak bisa dibohongi, dia memang berciuman dengan Kevin tetapi hati dan otaknya mendambakan Steve.


"So.. sorry Kev, aku kerjain semua diruangan aku saja. Nanti kalau udah selesai aku kirim by email."


Shenna membereskan laptopnya dan bersiap untuk keluar.


"Na... aku minta maaf aku..." Kevin menahan lengan Shenna dan wanita itu hanya menatap Kevin nanar.


"Please dont, aku gak mau ngerusak pertemanan kita Kev. Lupain aja yang tadi." Shenna menghempas pelan tangan Kevin dan berlalu keluar.


Entah bagaimana perasaan Kevin saat Shenna menghempas tangannya dan keluar dari ruangannya semua bercampur aduk tetapi yang jelas bahwa dari dalam hatinya seolah memberi sinyal 'Sudah cukup.'


***


Pesawat Steve baru saja landing, membawa pria itu kembali ke negara asalnya. Kemarin hari terakhir seminarnya, dan di hari itu juga Steve mengebut untuk menyelesaikan urusannya agar bisa kembali hari ini. Dia naik penerbangan subuh tadi, 12jam kembali dipesawat dan kurang istirahat kemarin sungguh dia kelelahan dan jet lag parah.


Flash back on


"Terimakasih sudah diantar." Steve tersenyum tulus dan bersiap akan masuk kedalam bandara.


"Boleh aku memeluk untuk yang terakhir?" Steve langsung berjalan untuk memeluk Villy erat.


"Berbahagialah Vill, aku yakin kamu akan bertemu pria baik yang mencintai kamu." Steve menepuk pelan punggung Villy.


Wanita itu berusaha menahan air matanya, dia harus merelakan pria yang dia cintai untuk orang lain. Hatinya sakit bagai ditusuk sembilu tetapi dia mengerti bahwa Steve tidak akan pernah bahagia jika dia memaksakan Steve untuk tetap bersamanya, mungkin ini yang dinamakan cinta sejati.


Villy mengangguk pelan dan melepas pelukan mereka. Dia menyeka sudut matanya yang basah,


"Ingat jika Shenna mencampakanmu aku siapa menerima." Tawa wanita itu pecah sesaat menular pada Steve yang ikut tertawa dan mengacak rambut Villy.


"Baiklah aku harus masuk, sekali lagi terimakasih sudah mau mengantar aku." Steve menyeret kopernya dan melambai tangan pada Villy dibalas oleh wanita itu.


Airmata Villy turun tanpa bisa dicegah lagi, seiring dengan hilangnya Steve dari pandangannya begitu juga cintanya.


Berbahagialah Steve, kita mungkin bisa bersama dikehidupan yang lain.


Flash back off.


Bang Jon sudah setia menunggu untuk menjemput Steve atas perinta Liana. Setelah mengambil bagasi dia tergesa berjalan keluar untuk segera menemui bang Jon, begitu Steve masuk kedalam mobil dia melirik arloji dilengannya sudah menunjukkan pukul 16.30.


Jaraknya jauh dari sini, semoga keburu.


"Bang Jon tolong antar saya ke Cloudnine Street, nanti koper saya diantar ke apartemen saya saja yah pak. Terimakasih. Ngebut yah pak!"


"Baik den."


Steve langsung membuka sweaternya dan menggantinya dengan kemeja lengan panjang dan menggulung lengannya sampai kesiku. Dia berharap harap cemas, begitu ditengah perjalanan dia melihat awan mendung. Sesuai prakiraan cuaca hari ini akan ada hujan besar.


****

__ADS_1


Shenna sudah menyelesaikan tugasnya sedari tadi, dan mungkin Kevin sudah berangkat sedari tadi untuk wawancara. Rara sedari sore sudah keluar kantor untuk meeting. Shenna terbengong diruangannya memikirkan ciumannya tadi dengan Kevin, hatinya merasa bersalah seperti berkhianat dari Steve.


Dia marah pada Steve karena Villy mencium kekasihnya, tetapi sekarang itu berbalik pada dirinya. Apa Steve akan kecewa jika mengetahui Kevin mencium dirinya, apa Steve juga akan langsung membenci dan menolak dirinya.


Tapi kan dia lagi di Jerman sama mantannya berdua!


Shenna menarik nafas dalam, dia bingung kenapa saat Kevin menciumnya hanya Steve yang terbayang dikepalanya.


Tapi...... Kevin ciumannya gak sejago Steve.


Shenna tersadar dari pikiran gilanya dan memukul kepalanya sendiri.


Gila lu Nana!!! Sempet sempetnya loh mikir begitu! Gak waras!!!!


Shenna termangu dan mengingat perkataan Villy,


'jika Steve kembali padamu maka aku sudah ikhlas semuanya..'


Apa Steve akan kembali? Atau setelah di Jerman Steve sadar bahwa dia mencintai Villy?


Hati Shenna semakin kalut, dia takut tidak bisa bertemu dengan Steve lagi.


Harusnya kemarin telepon itu gua angkat aja.


Shenna kembali terisak dia merindukan Steve, setiap hari dia merindukan pria itu, tetapi hari ini dia sangat merindukannya dan hatinya terasa sakit.


Sudah 1 minggu lebih mereka tidak berkomunikasi membuat Shenna benar benar merasa kehilangan sosok Steve.


Tiba tiba suara geledek mengejutkannya.


Hahhh??? Jangan bilang sekarang hujan?!!


Shenna membuka jendela yang ditutup dengan roller blinds, dan benar saja hujan deras mengguyur diluar sana. Shenna melihat arlojinya sudah menunjukkan pukul 17.30 dan dia terkejut tidak menyangka sudah sesore ini.


Hujan gini gimana mau pulang?! Tunggu 30 menit lagi deh, gua harus nyetir soalnya.


Selain karena parkiran kantor ini terletak diluar gedung, hujan deras juga menciutkan nyalinya untuk membawa mobil dia takut.


30 menit berlalu dan hujan tidak terlihat akan mereda, suasana kantor sudah sepi. Shenna ingin pulang.


Udah deh naik taksi aja, mobil tinggalin dulu. Besok baru kerumah tante Liana.


Shenna mengambil ponselnya untuk memesan taksi online tetapi ponselnya mati.


Lah battre nya habis???! Gua lupa ngecas tadi pagi.


Shenna segera bereberes dan turun untuk meminta security kantor memanggilkan taksi untuknya, dia bergegas melangkah karena takut akan suasana kantor yang sudah sepi.


Begitu Shenna menginjakkan kaki di lobby, suasana sepi dan tidak ada orang, dia mencari security untuk dimintai tolong. Shenna berjalan keluar pintu untuk mencari security dan dia terkejut dengan apa yang dilihat matanya.


Sesaat dia membatu tak percaya,


Jangan jangan gua halu?!


Dia melihat Steve sedang berjongkok dekat pilar pada pintu kantornya sambil memainkan ponselnya, memakai kemeja biru tua yang digulung hingga ke siku, celana jeans navy dengan aksen robek bagian lutut dan sepatu kets conversenya. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya juga terlihat lelah. Pria itu masih belum menyadari kehadiran Shenna.


Sesaat Steve mendengakkan kepalanya guna merenggangkan ototnya dan dia terkejut melihat Shenna menatap dirinya, dia segera memasukan ponselnya ke kantong celana dan berdiri.


"Hu.. hujan." Steve terbata mencoba mengontrol detak jantungnya karena rindu. Dia takut Shenna akan mengusirnya,


"Kamu gak suka nyetir pas hujan kan? Jadi aku...."


Shenna yang masih sangat terkejut juga tidak bisa berkata apa apa dia hanya menggelengkan kepalanya pelan.


Steve menelan ludahnya kasar, dia berjalan kearah Shenna perlahan,


"*B*reak my heart Shei... break my heart just crush it into a thousand pieces. Lakukan sesukamu.... tapi jangan pernah minta aku pergi dari hidup kamu!"


Pria itu sudah berdiri dihadapan Shenna memasang wajah frustasinya.

__ADS_1


Airmata Shenna turun tanpa bisa dicegah, tenggorokannya serasa tercekat batu besar.


"I.... Love you Steve." Shenna menangis tersedu sedu, Steve yang terkejut mendengar ucapan Shenna langsung memeluk wanitanya dengan erat.


__ADS_2