
Meski waktu sudah menunjukan pukul 20.30 ternyata tidak mengurangi juga kemacetan ibu kota. Lalulintas masih padat merayap, kerlap kerlip lampu gedung perkantoran dan kendaraan saling meramaikan suasana malam.
Shenna termenung menatap keluar jendela berharap waktu cepat berlalu dan tiba di apartemen agar segera bisa beristirahat. Sebenarnya hati Shenna juga enggan untuk diantarkan pulang oleh Jansen, namun mengingat jarak jauh cafe ke apartemennya juga hari yang sudah malam. Rasanya bukan pilihan bijak jika Shenna naik taxi seorang diri.
*Gak bagus dekat sama dia lama lama! Gak bagus buat kesehatan jantung*.
"Kamu sekarang jadinya tinggal sendiri? Emangnya kamu gak takut ada orang jahat gitu? Udah berapa lama tinggal di apartemen Sheii??"
Jansen masih berupaya untuk mencairkan keheningan antara dia dan Shenna, setelah banyak pertanyaan tadi yang juga tidak kunjung dijawab oleh Shenna.
Shenna melirik sekilas kearah Jansen, dan mendengus sebentar.
Orang jahatnya itu kalian deh!!
"Rasanya itu bukan urusan anda."
"Sheii...." Jansen menghela nafas panjang, seperti ragu untuk berbicara tetapi dia tau akan jarang kesempatan seperti ini. Melihat Shena juga tetap dingin padanya, maju atau benar benar tidak ada kesempatan pikirnya.
Jansen menarik dalam nafasnya.
"Sheii, kamu beneran udah gak bisa kasih aku kesempatan? Aku benaran..." Jansen menjeda sebentar. "Aku pas pertama liat kamu lagi setelah 7 tahun aku sadar betapa dulu aku bodoh bicara sama kamu soal kenyamanan itu, dulu aku pikir terikat hubungan sama pacar akan mengganggu hubungan aku dengan teman teman aku..." Jansen meremas kemudi mobilnya dan sejenak meminggirkan mobilnya kebahu jalan.
Shenna tersentak karena sangat tidak nyaman dengan situasi ini.
"Sen, bicara aja. Gak usah nepi.."
"Sheii, aku beneran serius sama kamu.." Jansen mengacuhkan rasa tidak nyaman Shenna.
Shenna menghembuskan nafasnya kasar, dia sungguh tidak nyaman dan sangat pusing menghadapi Jansen sekarang.
"Sen, jangan desak aku.. Aku gak bisa kasih kepastian apapun saat ini. Aku mau nolak saat ini juga sejujurnya tapi pasti kamu juga akan tetap bersikeras, aku gak nyaman. Aku masih belum bisa terima ini hal seperti ini sekarang. Fokus aku cuma mau kerja yang betul." Shenna mencoba melunakan suaranya berharap Jansen bisa mengerti.
"Biarin kasih aku waktu buat cerna semua ini sampai aku siap Sen.." lanjut Shena.
Jansen menatap dalam Shenna, perlahan mencoba untuk meraih tangan Shenna, tetapi wanita itu lebih cepat dan menghindar.
Udah dipeluk sama Steve dan Kevin, Jansen sudah juga pernah megang megang tangan, Steve bahkan sudah mencium pipi gua. Gua uda kaya ga ada harganya! ****
"Aku ngerti...." Jansen tersenyum pias, membetulkan posisi duduknya dan segera melanjutkan menyetir mobilnya kembali.
Jansen sungguh pria sempurna dimata Shenna, bahkan terlalu sempurna. Fisiknya seolah tidak punya kecacatan, wajah tampannya, senyumnya semuanya sungguh terlalu sempurna buat Shenna. Dan dia hanya sangat kuatir jika Kevin, Jansen dan Steve mereka semua hanya sementara dan memainkan perasaannya kembali seperti dulu.
*Ma*sa iya gua disakitin orang yang sama dua kali?? terus ini kan 3 orang dikali 2 jadi 6 kali dong????!!!
Shenna jelas masih sangat harus menyelidiki mereka bertiga, apa motif dan seberapa besar keseriusan mereka. Dia bukan gadis kemarin sore yang gampang ditipu-tipu lagi batinnya.
****
Pagi itu Shenna sudah tiba dikantor, diliriknya arloji pada lengannya menunjukan pukul 08.00 tepat. Dengan membawa segelas kopi ditangannya, dia menaiki lift untuk menuju ruangan kerjanya.
__ADS_1
Sepanjang jalan menuju ruangannya beberapa karyawan lain melirik dan bisik bisik dibelakang Shenna, dia mencoba untuk mengabaikannya dan tetap tenang.
Semoga hari ini gak ada yang aneh aneh lagi plissss gua cuma mau hidup damai!!
Sesampainya dilantai tempat divisinya berada, dia melirik sebentar kearah meja Rara yang masih kosong. Shenna membuka ruangannya dan tersentak,
"Ra sumpaaahh!! Ngapain lu disini??!!" Shenna segera masuk dan menutup pintu ruangannya dan meletakkan barang bawaannya, "Bikin jantungan aja. Terus itu lu ngapain bawa bawa kantong makanan banyak gitu??" lanjutnya.
Rara melirik Shenna tajam. "Lu harus cepet ambil keputusan Sheii." Gelagat Eara sudah seperti hakim.
"Keputusan apaan???" Shenna mengerutkan alisnya.
"Keputusan diantara tiga pilihan!!" Desis Rara seperti pembawa acara infotaimen gosip dan Shenna hanya mendengus kasar.
"Sheii! Lu gak tau yah???" Rara mulai bertingkah lagi.
"Gak tau!!"
"Gua belum kelar ngomong gak usa dijawab dulu!" Rara mendengus kesal. "Semua karyawan udah bergosip lu itu calon ibu bos disini! Gua denger dari Tika kemaren."
"Ibu bos dari Arab?? Pada ngaco aja yah heran!"
"Makanya dengerin dulu cerita gua Sheii..." Rara mulai kesal. "Tika bilang sama gua, kemarin habis acara kelar pak Kevin ketinggalan handphonenya, dan yang nemuin itu si Aulia dari bagian marketing. Lu tau laaah anak marketing gimana semua mulut dan tingkat kekepoannya. Pake acara mau ngecek ponsel pak Kevin yang untungnya di lock!!"
"Terus ada hubungannya sama gua??" Shenna mulai gemas dengan tingkah Rara, lalu dia memeriksa kantong kantong bertuliskan logo restoran dimeja nya. "Ini makanan lu bawa banyak amat sih?? Mau bikin syukuran??" Lanjut Shenna.
"Sheeeiiiii!!" Rara mulai habis kesabarannya, "Lu dengerin gua dulu!!"
"Jadi Aulia pas mau buka ponsel pak Kevin dia nemuin foto lu jadi wallpaper di ponsel pak kevin, dan dia langsung kegap sama Pak Daniel kan, tapi emang dasar mulut lemes langsung bocor dah itu info!!"
Shenna diam dan coba mencerna kata kata Rara.
"Terus makanan ini...." Shenna merendahkan suaranya seolah sudah menebak jangan jangan ini ulah salah satu dari tiga orang itu hingga memperparah gosip yang sudah timbul.
"Pagi pagi juga kantor heboh dengan kedatangan kepala dokter dan pemilik Djaya hospital yang nitipin sarapan katanya buat Ibu Shenna di bagian PR!" Rara memberikan informasi dengan gaya tengilnya.
Shenna membelaklan kedua matanya, matanya mungkin akan meloncat indah dengan sempurna dari tempatnya.
"Dan sekarang lu mendapatkan label 'Sudah punya pacar kaya pak Kevin sekarang selingkuh sama dokter kece!!' congrastulation Sheii." Rara menepuk kedua tangannya bersikap terlalu dramatis.
Merasa harus menyelesaikan masalah ini satu persatu, dimulai dari tempat kerjanya dahulu, maka Shenna bergegas menuju ruangan Kevin.
'TOK TOK TOK'
Pintu langsung terbuka saat Shenna mengetuk pintu dan sudah ada pak Daniel berdiri dihadapannya,
"Selamat pagi Ibu Shenna, silahkan langsung masuk saja." Daniel segera keluar dari ruangan itu.
Sembari tersenyum hambar dan menganggukan kepala pada Daniel, Shenna segera masuk dan pintupun ditutup.
Kevin yang sedang terpaku pada layar komputernya segera mengalihkan pandangannya begitu menyadari Shenna ada diruangannya.
__ADS_1
"Nana..." Kelvin tersenyum sangat sumringah seperti habis dapet lotre.
Ehh buset itu senyuman!
"Eehm.." Shenna melangkah menuju kursi depan kevin. "Saya mau ngomong Kev.. ada waktu?"
"Aku kamu aja sih Na, aku gak mau ngomong kalau masih formal begitu." Kevin kembali menatap layar komputernya, seolah merajuk seperti anak kecil ngambek.
Sabar Naa sabaaaarrr!
"Kev, aku mau ngomong sebentar. Ini soal.." Shenna mencoba melunakan suaranya tetapi respon Kevin spontan langsung berdiri menghampiri Shenna dan duduk dibangku sebelah Shenna. Tanpa aba-aba Kevin langsung menggenggam tangan Shenna dan memangkas jarak keduanya karena terlalu senang mendengar Shenna melunnak pada dirinya.
"kamu mau ngomong apa??" Suara Kevin terdengar rendah dan halus, sehalus sutra.
Shenna kaget tentu dengan reflek ingin menarik tangannya, tetapi Kevin menahannya dengan erat.
"Ngomong aja Na, posisi kita biar tetap seperti ini. kamu ngomong aja." Kevin berkata mantap penuh percaya diri.
Justru kaya begini posisinya gua gak bisa ngomong malihh!!!!!
Ingin rasanya Shenna menjerit keras.
"Ka.. kamu tau soal gosip yang beredar diantara karyawan lainnya?" Shenna mencoba untuk tetap mengabaikan rasa gugupnya dan bersingut mundur memberi jarak.
"Owh yah? Gosip apa Na?" Kevin hanya memadang Shenna dengan wajah polosnya dan terus tersenyum menatap Shenna.
"Go.. gosip.. yang bilang kita pa.. pacaran.." Shenna mengucap lambat lambat karena malu sendiri untuk mengatakan hal itu.
"Owh soal itu..."
"Ka.. kamu udah tau????"
"Dengar dari Daniel tadi, emangnya kenapa Na??" Kevin tersenyum seolah mengharapkan Shenna senang dengan gosip itu.
"Tolong katakan pada karyawan lain bahwa itu tidak benar.." Shenna berucap hati hati.
Mimik wajah Kevin seketika berubah menjadi datar dan dingin. "Kenapa??? Jadi bener kan kamu ada hubungan sama dokter itu??? Tadi pagi aku liat dia kesini, aku gak suka!!"
Shenna menghembuskan nafasnya panjang dan menautkan kedua alisnya bingung serta kesal sekaligus. "Aku bukan milik siapapun dan aku berhak juga berteman dengan siapapun. Gak ada yang bisa larang!!" Shenna mulai jengah dan berdiri untuk keluar. Rasanya percuma bicara seperti ini.
Terkejut Shenna akan keluar ruangannya Kevin segera mengejar wanita sebelum menggapai gagang pintu, Kevin lebih cepat dan langsung menarik lengan Shenna, memeluk gadis itu erat mendekap kedalam dadanya, seolah ingin menyatukan tubuh mereka.
Terkejut bukan main dengan segera Shenna memberontak untuk melepaskan pelukan intim Kevin, dan Kevin semakin erat memeluk.
"Le..lepasin Kev! Ja.. jangan kayak begini."
"Naaa! Please, be mine." Suara Kevin terdengar serak dan rendah.
Kevin menatap lekat mata Shenna sesaat mereka terdiam dan Kevin secara perlahan namun pasti mendekatkan wajahnya pada wajah Shenna, hingga bibir mereka hanya berjarak 5 centi.
Janngaann plissssss!!!
__ADS_1
Shenna ingin menangis seolah terjebak didasar sumur.