Shenna Love

Shenna Love
Baku Hantam


__ADS_3

Shenna duduk lesu di sofa ruang tamu apartemennya, dia sudah berpakaian rapi. Jam sudah menunjukan pukul 07.15 dia sudah harus berangkat ke kantor, tetapi hatinya hampa dan tidak ada semangat.


Dia mengamati ponselnya sebal


kenapa Steve gak hubungin gua? Apa benar dia udah milih mantannya??'


Apa sih arti pacaran seumur jagung sama gua, kalah lah pasti sama yang udah sama sama barengan 10 tahun.


Tatapan Shenna nanar, air matanya hampir keluar kembali. Dia langsung memejamkan matanya erat.


Ga ada Na! Lu gak boleh cengeng!!! Tapi....... gua cinta Steve!


Air mata itu langsung meluncur melawan logika Shenna.


'Ting' ponsel Shenna menampilkan notifikasi bahwa taxi online yang dia pesan sudah mendekati apartemennya. Dia menyambar tas kerjanya tas bergerak lesu dan gontai untuk keluar apartemen. Memang Steve juga sudah mengembalikan kunci serta mobil hadiah pemberiannya ke apartemen, tapi Shenna merasa tidak etis menggunakan mobil itu karena kondisi hubungan mereka saat ini, dan jika Shenna mengambil mobil miliknya dirumah mama sudah pasti tak bisa, selain bisa di cecar 1001 pertanyaan dari mama juga dia tidak mau melihat Ransen kecewa mobilnya ditarik kembali.


Shenna memasuki lobby kantor seperti biasa banyak pasang mata menatapnya, tetapi kali ini ada yang berbeda. Mata yang melihatnya seolah melihat sinis.


Ini pada kenapa sih? Perasaan gua tadi udah ngaca muka gua gak ada yang salah.


Shenna memegang wajahnya dengan raut bingung. Tanpa mempedulikan tatapan orang orang dia langsung bergegas naik menuju ruangan kerjanya.


Dia melihat Rara yang tengah sibuk dimeja kerjanya, mereka bersitatap. Shenna langsung memberi isyarat agar Rara mengikutinya masuk keruangan.


"Ra, aneh semua kenapa liatin gua begitu amat yah???" Rara yang sudah duduk dihadapannya menghela nafas panjang melihat Shenna kebingungan.


"Sheii. ruwet dah, gua 2hari kemarin kan gua sibuk jadi gak dikantor seharian dari pagi sampe sore."


Shenna menautkan kedua alisnya. "Lalu??"


"Naah gua juga baru tahu kemaren, ternyata Steve kesini pas lu cuti. Dia nyariin lu." Rara mengetuk ketuk pulpen diatas meja. "Dan lu tau dia ketemu lagi lagi si Auli anak marketing yang comel, intinya ada gosip lu selingkuh dari pacar lu cuti barengan pak bos."


"Haaahh??? Gila yah gua pergi sendiri kemarin. Lagian emang pak bos juga cuti???" Shenna memasang wajah horor


"Iya pak bos juga cuti eh bukan cuti sih sebenarnya, dia ada dinas keluar kota beneran ngurusin kontrak perjanjian kerja sama Revis corp kan di Surabaya." Rara memijat jidatnya "Pusing gak lu?! Apa labrak si Auli aja kali yah?! Mulut kok comel banget."


Shenna memasang wajah datar sejujurnya dia sangat bingung harus bereaksi seperti apa, atau mungkin ini penyebab Steve tidak menghubungi dia karena Steve mengira dia pergi bersama Kevin.


Bodo amat!!!!!!!! Dia yang ciuman duluan sama mantannya! Gua gak peduli!


Shenna kesal lalu membanting beberapa berkas dimejanya dengan keras hingga Rara terlonjak.

__ADS_1


"Astaga Tuhan!!!! Sheii lu uda kesurupan?? Kalau emosi udah memuncak yuk kita baku hantan sama Auli."


Rara langsung berdiri dan menyingsingkan lengan kemeja kerjanya.


Shenna membereskan berkas berkas yang berserakan, "Yuk mulai kerja, kita sibuk banyak kerjaan." Cicit Shenna lesu.


Hari itu memang hari yang sibuk untuk Shenna karena dia sudah cuti 3 hari jadi beberapa kerjaan menumpuk atau dia memang sengaja menyibukkan dirinya. Dia melirik arloji ditangannya jam sudah menunjukan pukul 12.15 sudah waktunya makan siang. Rara mengintip kedalam ruangan Shenna.


"Sheii makan siang yuk laperrrr."


"Lu gak barengan Andro??"


"Gak. Gua udah bilang hari ini gua makan sama lu aja. hehe." Kadang Rara memang suka tinggal setengah otak dan kelakuannya tetapi dia memang sahabat terbaik untuk Shenna.


Tanpa banyak bicara Shenna segera mengambil ponsel dan dompetnya, "Kita makan soto di sebrang kantor aja yuk." Rara hanya mengangguk dan langsung menggandeng tangan Shenna.


Mereka turun lift menuju lobby, sepanjang berjalan mereka mengobrol dan tertawa melupakan sejenak permasalahan kerjaan dan Steve tentunya. Begitu mereka sampai di lobby suasana lobby seperti biasa cukup ramai saat jam makan siang.


"Shenna!" Merasa ada suara yang memanggilnya, Shenna dan Rara kompak mengengok kearah sumber suara.


Seorang wanita yang terlihat tidak terlalu asing bagi Shenna, dia mengerutkan alisnya sesaat mencoba mengingat. Wanita itu berjarak 5 meter dari Shenna dan Rara, sudah pasti teriakannya tadi memanggil Shenna mengundang beberapa pasang mata ikut menatap. Wanita itu berjalan mendekat hingga hanya berjarak satu langkah dari Shenna.


Kebisuan tercipta diantara mereka, wanita itu menatap dan menelisik penampilan Shenna dari atas hingga bawah, membuat dia dan Rara tidak mau kalah juga membalas menelisik penampilan wanita yang usianya pasti lebih tua dari mereka. Situasi cukup canggung dan membuat bingung orang disekitar mereka.


Kevin??! Shenna menengok kebelakang untuk melihat siapa yang menahan tubuhnya, dan saat itu juga Shenna tersadar dia baru saja ditampar. Bahkan seumur hidupnya dia belum pernah ditampar orang lain karena mamanya saja tidak pernah memukul Shenna. Wanita itu langsung berang dan marah, emosinya langsung meluap.


Belum sempat Kevin berkata apapun dia terkejut kembali melihat Shenna langsung menerjang wanita itu, Shenna memang bukan wanita lemah yang bisa ditindas sembarangan. Mereka terlibat perkelahian sengit, menjambak , mencakar bahkan menendang. Rara yang memang dari tadi kebelet baku hantam ikut turun meramaikan, tidak seimbang karena wanita itu dikeroyok oleh Shenna dan Rara. Inipun menjadi santapan makan siang lezat untuk para karyawan yang lapar akan ghibah, mereka mengerumuni, menyoraki bahkan ada yang mengabadikan kejadian itu.


Kevin bermaksud untuk menengahi dan entah siapa pelakunya Kevin ikut terjambak bahkan dipukul wajahnya, pria itu curiga Rara pelakunya.


Saat Daniel dan kemanan kantor turun tangan untuk melerai barulah mereka dapat dipisahkan, penampilan mereka bertiga acak acakan dengan rambut yang sudah menggimbal, baju tidak rapi lagi dan sepatu terlepas. Shenna mendapat luka sobek disudut bibirnya dan cakaran dilengannya, begitu juga Rara tidak terhindar dan wanita itu tidak jauh berbeda.


Wanita itu menatap tajam Shenna dan jengah.


"Jika sesuatu terjadi pada Steve aku tidak akan pernah memaafkan kamu, bocah kurang ajar!!!" Wanita itu memaksa untuk melepaskan diri dari Daniel yang menahan tubuhnya dan berlalu begitu saja.


Shenna terdiam, dia sekarang sudah tersadar wanita itu Villy mantan kekasih Steve dan.... apa maksud perkataan terakhirnya tadi???!


Kevin yang menyadari bahwa bisa saja Shenna mendapatkan cemooh dari seluruh karyawan kantornya langsung dengan sigap memerintahkan Daniel untuk mengurus ini. Kevin memapah Shenna dan mengajak Rara untuk mengikuti dia keruang poliklinik dikantor itu.


"Hapus semua rekaman dan foto kejadian ini!" Kevin berkata tegas sebelum berlalu dan hanya diangguki kepala oleh Daniel.

__ADS_1


Poliklinik dikantor tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menampung 4 orang sekaligus, ada 2 orang suster yang berjaga disana. Shenna dan Rara duduk bankar pasien dan suster itu membersihkan luka diwajah mereka. Rara meringis dan masih mengomel kesal, tidak dengan Shenna dia diam sedari tadi memikirkan perkataan wanita itu. Kevin hanya menghela nafas memperhatikan Shenna dan Rara.


Tiba tiba Shenna berdiri spontan membuat suster, Rara dan Kevin cukup terkejut.


"Gua ada urusan gua harus pergi!!!" Shenna langsung berlari keluar dan meninggalkan mereka semua.


Kevin terkejut dengan sikap Shenna hingga tidak bisa berkata apapun, Rara yang paling mengenal Shenna tersenyum canggung. "Dia memang kadang seaneh itu harap dimaklumi."


****


Shenna menggenggam erat ponsel dan dompetnya yang tadi diserahkan oleh pak Daniel, dia berada dalam taksi tujuannya hanya satu diotaknya yaitu Djaya Hospital. Entah kenapa perasaanya sekarang tidak begitu nyaman, sebenarnya apa yang terjadi.


Shenna teringat, Tante Liana!!!! Kenapa gua gak terpikir telepon dia!!


Shenna langsung melefon nomor tante Liana.


Setelah bunyi yang kelima kalinya akhirnya telefon diangkat.


"Ha..halo tante.."


"Sheiii?! Steve, dia..." Belum selesai Shenna berbicara suara tangisan tante Liana lebih dulu terdengar.


Shenna menelan ludahnya kasar, pikirannya blank. Setelah mendapat informasi singkat dimana Steve berada dia hanya bisa terisak sendiri.


"Syok Hipovolemik, masa kritisnya sudah lewat. Tetapi dia masih belum sadar dan masih harus menunggu Steve sadar agar bisa melanjutkan observasi untuk menjamin tidak ada organ yang rusak. Tante kuatir sekali, dia belum pernah seperti ini, Steve sangat menjaga kesehatannya." Tante Liana terisak menceritakan pada Shenna diruang tunggu depan kamar pasien, Shenna hanya jongkok didepan Liana yang duduk dan menangis sesengukan.


"Maafin Sheii tante... ini gara gara Sheii.." Shenna semakin menangis dan meminta maaf pada Liana.


Tiba tiba bahu Shenna dicengkram kuat oleh Villy


"Iyaaa kamu sadar ini salah kamu!!!"


Shenna hanya bisa menangis mendengar perkataan Villy, memang benar itu salahnya mengabaikan Steve seperti kemarin harusnya dia dewasa dan menghadapi masalah bukan mengabaikan dan melarikan diri.


"Sudah Villy, hentikan.. jangan membuat keributan dirumah sakit." Liana menengahi dan memang Villy menurutinya, wanita itu juga menangis mengkhawatirkan Steve.


Ada rasa cemburu yang besar dihati Shenna, dia merasa dia tidak pantas disni karena dialah penyebab Steve drop sampai seperi ini.


"Sheii, Villy, kalian pulanglah dahulu jika nanti Steve sudah sadar akan tante kabari. Lebih baik kalian pulang biarkan hari ini Steve beristirahat dan tante juga butuh istirahat. Kalian pulanglah."


Liana beranjak berdiri meski dia juga terlihat lemah, dan memberi isyarat pada bang Jon supir dan juga asisten pribadinya.

__ADS_1


Setelah Liana berlalu, Shenna dan Villy masih tetap pada posisinya sehingga bang Jon menyadarkan mereka kembali. "Sebaiknya nona sekalian pulang dulu..."


Villy segera beranjak dan pergi, tak lama kemudian Shenna juga berjalan gontai untuk kembali kekantor, dua wanita itu masih tetap menangis terisak.


__ADS_2