
Shenna terlentang diatas kasurnya, jam dinding menunjukan pukul 09.00 pagi. Matanya membuang kesegala arah, pikirannya melayang kemana mana dan perasaanya tidak menentu. Semalaman dia tidak bisa tertidur, semalaman dia menangis mengingat perkataan Steve yang jahat hatinya sakit, kotak cincin dari Steve digenggamnya erat.
Kamu sekarang jadi wanita yang gampangan?!
Kata kata Steve terus terngiang di telinganya.
Kemarin begitu tiba dirumah Shenna langsung masuk kedalam kamar dan mengurung dirinya. Mama yang sudah hafal kebiasaan Shenna jika ada masalah, pun memilih untuk tidak mengganggu dia sampai jam makan malam Shenna tidak kunjung turun untuk makan bersama, dia melewati jam makan malamnya.
Kalau memang tidak harus bersama setidaknya kita jangan bermusuhan! Batin Shenna. Dia bangkit berdiri dan segera memasuki kamar mandi untuk bersiap.
Cincin ini harus gua balikin dan selesaiin masalah sama Steve, kemarin Kevin udah beres dan Jansen juga. Sekarang giliran Steve. Udah cukup semuanya, memang lebih baik sendiri!
Begitu Shenna selesai mandi dia bersiap untuk menemui Steve, memakai kemeja besar berwarna biru garis dan celana 7/8 serta sepatu ketsnya yang nyaman dia segera mengamit tas untuk turun dan berangkat.
"Ma, Nana keluar dulu ada urusan." Shenna mengambil kunci mobilnya di atas meja dan mencium pipi mamanya.
"Kamu gak mau sarapan Na?? Dari semalem kamu gak makan loh!" Mama terlihat khawatir terlebih mendengar suara serak Shenna, seakan tau putrinya menangis semalam tadi.
"Nanti aja ma Nana makan diluar, Nana buru - buru. Nana pergi dulu yah." Shenna tersenyum tipis dan bergegas keluar untuk menghindari pertanyaan selanjutnya dari sang mama.
Shenna mengendarai mobilnya menuju Djaya Hospital, ini hari jumat hari libur kejepit setelah kemarin tanggal merah dan besok akhir minggu. Tetapi untuk para dokter sepertinya tidak menikmati hari libur kejepit seperti karyawan kantoran. Jadi Shenna menerka pasti Steve berada dirumah sakit dan bekerja.
Setelah sampai dan memarkirkan mobilnya di lahan parkir, Shenna menjadi ragu untuk mengunjungi Steve.
Kalau gua diusir gimana?
Atau mungkin dia sibuk lagi operasiin orang!
Nanti harga diri gua hancur lagi dong huhu!
Shenna bermain sendiri dengan pikirannya, dia melepas seatbeltnya dan berjalan dengan perasaan tak menentu sampai dia melihat sebuah restauran dimsum yang berada di samping gedung rumah sakit, lumayan ramai pengunjung. Restoran dengan gaya cina kuno modern, bahkan pintunya pun masih menggunakan pintu kayu tapi terlihat kokoh. Aroma masakannya tercium sampai kehidung Shenna, dia memegang perutnya dan dia memang sangat lapar.
Makan dulu aja deh, nangis juga butuh tenaga!
Gimana nantinya baru dipikir kalau udah kenyang. Seengaknya gua gak bakal pingsan malu maluin karena kelaperan kalo ternyata dia usir gua.
Shenna memesan tempat duduk pada pelayan, suasana restoran cukup ramai pengunjung tetapi dia beruntung mendapat meja sendiri di sudut restoran.
Setelah memesan beberapa menu Shenna sibuk mengecek ponselnya. Untuk kali ini dia mencari apa Steve mengubungi dia, nyatanya tidak. Hanya ada pesan dari Kevin dan Jansen hari ini.
Kevin
"Nana good morning"
"Na, aku udah pikirin baik baik, kita berteman gak apa apa. Tapi kamu harus tau kalau aku bersedia nunggu kamu sampai batas hati aku tentuin sendiri. Kamu jangan hindarin aku lagi yah. Aku janji akan bersikap layaknya teman."
Jansen
"Sheii. Kamu ok?"
"Hari ini bisa bertemu buat ngobrol?"
Dan banyak pesan lainnya dari kedua pria itu, Shenna hanya membalas seadanya untuk Kevin dan Jansen. Dia memangku wajahnya lesu, dan menghembus nafasnya.
Kayaknya Steve marah banget.
Tiba tiba seorang pelayan dan ibu paruh baya menghampiri meja Shenna untuk meminta kesediannya bergabung dimeja Shenna.
"Permisi nona mohon maaf, apa nona keberatan untuk sharing meja dengan pengunjung lainnya? Hanya 1 orang dengan Ibu ini." Sang pelayan dengan sopan bertanya pada Shenna.
"Saya tidak keberatan." Shenna mempersilahkan ibu itu untuk bergabung. "Silahkan duduk tante." dengan sopan Shenna menggeser kursinya.
Tante tersebut sepertinya lebih tua dari mamanya, tetapi penampilannya masih sangat fashion dan menata rambutnya dengan elegan.
"Terimakasih." Tante itu tersenyum dengan ramah dan duduk di sebelah Shenna. Tante tersebut mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan sibuk dengan ponselnya setelah memesan makanan pada pelayan.
Wadooww tasnya!!!! Gua kerja 2 tahun tanpa pake gaji 1 rupiahpun baru bisa beli itu tas kayaknya.
Shenna cukup bisa menilai brand mahal, meski tidak sanggup untuk membelinya tapi dia banyak tahu soal brand besar dan mahal.
Mereka sibuk dengan hindangan mereka masing masing tanpa ada pembicaraan, sampai tante itu meminta tolong pada Shenna untuk diambilkan saus cabai yang terletak di sebelah Shenna.
__ADS_1
"Silahkan tante." Shenna memberi dengan sopan dan tersenyum ramah.
"Terimakasih." Tante itu balas tersenyum ramah.
"Kamu sendirian saja?" lanjut tante itu bertanya.
"Iya tante." Shenna menjawan sopan.
"Habis jenguk keluarga??" Tanya tante itu lagi.
"Owh bukan, tadi ada keperluan untuk ketemu orang. Tapi sepertinya gak jadi, mungkin orangnya sibuk."
Shenna menjawab dengan senyum yang pias.
"Owh. Nama kamu siapa? Umur berapa?"
Shenna seperti sedang diintrogasi calon mertua.
"Shenna tante. saya umur 28 tahun."
"Wah masih muda yah. Beda 7 tahun dari anak saya.
Saya Liana." Tante Liana menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Shenna.
Widihh gaul.
"Salam kenal tante Liana." Shenna membalas jabat tangan tante Liana.
"Tante kunjungin pasein disini?" Shenna mulai bertanya untuk berbasa basi.
"Tidak. Saya ada janji dengan anak saya. Dia kerja di rumah sakit ini."
"Owwh" Shenna hanya membulatkan bibirnya dan mengangguk tersenyum.
Tersengar dering ponsel, Shenna segera mengambil ponselnya berharap Steve yang menghubunginya. Tapi dia harus menelan kecewa ternyata ponsel tante Liana yang berdering.
"Halo. iya mama udah sampe lagi makan. Kamu kesini yah samperin mama di restoran dimsum biasa." Tante Liana menutup ponselnya dan tersenyum. "Kamu sudah punya pacar? Ini anak saya masih jomblo."
Shenna hanya tertawa menanggapi pertanyaan tante Liana. "Belum ada tante, tapi saya gak berniat pacaran nih."
"Cocok apanya yah tante?"
"Cocok jadi mantu saya."
Lagi lagi Shenna hanya tertawa menanggapi tante Liana yang pandai bergurau.
Lawak juga nih tante ternyata.
Mereka asik bersenda gurau bahkan sudah bertukar nomor ponsel masing masing. Tidak sulit bagi Shenna untuk dekat dengan orang yang lebih tua darinya karena memang Shenna anak yang sopan dan supel, pengetahuannya juga luas sehingga diajak ngobrol apapun dia nyambung.
"Ma sorry nunggu lama." Shenna dan Tante Liana serempak menengok kearah sumber suara.
Yah ampunn kebetulan apalagi ini ternyata Steve anaknya si tante.
Shenna menelan ludahnya kasar, pandangan Steve datar padanya dan tante Liana mencium kecanggungan diantara mereka.
"Steve." Wajah Tante Liana tersenyum sumringah.
"Kenalin ini Shenna. Shenna ini Steve anak tante."
Steve langsung menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Shenna, wanita itu langsung tertohok. Steve bersikap seolah tidak mengenalnya! Shenna tersenyum hambar lalu menyambut tangan Steve dan mereka bersalaman sangat singkat.
"Yasudah. Shenna sepertinya tante harus berangkat sekarang sudah keburu siang soalnya."
Tante Liana memanggil pelayan dan membayar tagihannya beserta punya Shenna.
"Tidak perlu tante, saya bayar sendiri." Shenna dengan segera mencegah.
"Gak apa apa. Lain kali kita lunch sama sama lagi, nomor tante tadi disimpan yah. Menyenangkan ngobrol sama kamu. Yuk mari tante duluan."
Shenna hanya tersenyum canggung dan mengangguk terimakasih, lalu tante Liana dan Steve berlalu begitu saja.
Seengaknya gua gak permaluin diri sendiri buat nyamperin dia tadi.
__ADS_1
Shenna menahan air matanya yang hendak keluar setelah sosok Liana dan Steve hilang dari pandangannha.
"Mama kenal orang itu? Kok bisa lunch sama dia?"
Steve bertanya karena sangat penasaran dengan sikap sewajarnya agar mamanya tidak curiga.
"Owh Shenna?? Tadi baru kenalan dan ketemu. Cantik yah anaknya. Mama suka deh sama dia sopan juga dan yang pasti tipikal wanita smart."
"Kok mama kenalan sama sembarang orang kalau dia orang jahat gimana?"
"Jahat gimana? Orang dia kesini katanya mau ketemu orang tapi gak jadi katanya. Lagian muka cantik giu masa kriminal?!"
Steve tersentak mendengar penuturan mamanya dan berpikir apa mungkin Shenna kesini untuk bertemu dirinya.
"Ma, mama bisa tunggu sebentar gak diruangan Steve, ini kuncinya. Steve ada perlu sebentar aja."
Steve menyerahkan kunci ruangannya, hatinya merasa perlu untuk memastikan sesuatu.
"Laaah katanya kerjaan kamu udah selesai? Lagian hari ini juga gak praktek kan? Emang masih ada urusan apa?"
"Mau coba mastiin sesuatu ma. Berusaha dapetin apa yang mama suka tadi itu." Steve tersenyum penuh makna dan mamanya hanya menghela nafas memutar bola matanya.
"Jangan lama. Mama tunggu! Kasih tau mama hasilnya gimana!!" Mama Steve tersenyum mengambil kunci ruangan itu dan berlalu memasuki gedung rumah sakit.
Steve mengeluarkan ponselnya dan berlari menuju arah restoran tadi lalu menelfon.
"Kamu dimana????" Tanya Steve setelah telefon tadi tersambung.
Shenna duduk di dalam mobilnya, menunggu Steve yang katanya akan datang untuk bicara. Hati Shenna harap harap cemas dicampur sedikit gelisah karena tadi Steve bahkan pura pura tidak mengenal dirinya.
Kaca jendela mobil Shenna diketuk, dia memalingkan wajahnya dan melihat Steve sudah berdiri disamping mobilnya. Dia hanya membuka kunci pintu dan Steve masuk duduk dibangku penumpang sebelah Shenna.
Suasana parkiran siang itu cukup sepi, Shenna meremas kemudi mobilmya dan bingung karena keheningan menyelimuti mereka.
"Kamu datang kesini mau ketemu siapa Sheii?" Steve memecah keheningan yang terjadi.
Shenna menggigit bibir bawahnya, rasanya dia memang harus mengesampingkan gengsi dia dulu untuk menyelesaikan masalah ini.
"Mau ketemu kamu tadinya.." Cicitnya pelan.
"Ada keperluan apa??" Tanya Steve datar.
Hati Shenna seperti diremas mendengar Steve berbicara dengan dingin, dia mengeluarkan kotak cincin dari dalam tasnya.
"Mau kembaliin ini." Shenna menyerahkan kotak cincin itu pada Steve. "Dan menyelesaikan salah paham, aku gak mau kita seperti ini seengaknya berteman kalau memang gak bersama."
Steve memandang lurus Shenna, tatapan matanya seolah menelisik Shenna untuk menemukan jawaban apa maksud perkataan wanita itu.
"Memangnya kamu harapin bisa sama aku? Bukannya kamu lebih senang sama bos kamu atau laki laki kemarin. Aku mau ajak kamu keluar aja susah gak pernah dianggap. sedangkan kamu juga haha hihi seneng pergi sama mereka." Steve berdecih mendengar perkataan Shenna
"Bukan begitu Steve, aku terpaksa mereka itu..." Shenna menghembuskan nafas seolah percuma menjelaskan karena hanya akan terdengar dia membela dirinya sendiri, memang selama ini dia tidak meladeni ajakan Steve untuk keluar bersama. Pada dasarnya pun dirinya enggan untuk keluar bersama Jansen maupun Kevin tetapi mereka benar benar datang dan memaksa Shenna.
"Yasudah gak perlu dijelasin lagi. Cincin itu simpan aja atau buang kalau gal mau." Steve hendak membuka pintu mobil dan keluar.
Shenna sedikit panik karena Steve tetap salah paham, secara implusif menarik kemeja Steve dan menahannya. Tidak peduli lagi dengan keputusannya tadi untuk tetap single saja, tanpa sadar airmatanya keluar begitu saja. Hiks Shenna menangis sesengukan.
Steve terkejut dan bingung kenapa Shenna menangis.
"Kamu kenapa nangis??" Steve yang memang masih tidak bisa mengabaikan Shenna tentu saja merasa cemas melihat Shenna menangis sepeti itu.
"Jangan nangis.. " Steve menghapus airmata Shenna dengan jarinya.
Shenna mengangkat wajahnya dan memandang Steve kesal,
"Kamu jahat gak peka!" Shenna memukul lengan Steve beberapa kali. "Ngomong sembarangan, nilai sembarangan! Gak punya hati gak peka!! Bencii banget benci sama kamu benci kenapa harus kamu!!" Shenna meracau tidak jelas sambil terus memukul Steve.
Steve menerima semua pukulan Shenna sambil memeluk wanita itu,
"Maaf" Hanya itu yang bisa Steve ucapkan setelah sadar dialah yang menyakiti hati wanita ini.
"I love you..." Lirih Shenna berbicara disela isakannya, meski dengan volume kecil tetapi ditangkap dengan jelas oleh Steve, dengan segera Steve melepas pelukannya dan memandang Shenna terkejut.
"Kamu bilang apa tadi???"
__ADS_1
Shenna mengangkat kepalanya, dengan masih terisak menghapus air mata dan ingusnya dia meneriakkan dengan lantang
"I love you George Steve Aldjaya!!!"