Shenna Love

Shenna Love
Dia Kembali


__ADS_3

Shenna enggan sebenarnya mengemudikan mobil pemberian Steve untuk ke kantor, selain berlebihan juga dia tidak ingin dipandang sebelah mata oleh orang orang. Meskipun mobilnya hanya merk biasa dengan harga standart itu adalah hasil keringatnya sendiri, dia bekerja sedari kuliah dan menabung, menahan keinginan dan kegeoisan untuk bergaul atau sekedar nongkrong di cafe seperti anak muda lainnya akhirnya Shenna bisa membeli mobil secara cash tanpa kredit. Gadis itu boleh berbangga diri, ditambah sekarang dia mampu membeli sebuah apartemen dikawasan menengah keatas meski dengan kredit.


Shenna memarkirkan mobilnya sedikit pojok dan menunggu sepi untuk turun dari mobil, setelah dirasa tidak ada orang dia segera turun. Tetapi baru satu kaki menginjak tanah, matanya beradu pandang dengan mata Rara yang juga baru turun dari mobil Andro.


Rara membuka mulutnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dibarengi oleh Andro yang tertawa, Shenna hanya meringis kesal dan langsung turun dari mobil.


Rara secepat kilat pamit dengan Andro dan langsung mengejar Shenna seperti Gundala si anak petir.


"Sheii!!! Yampun main ngacir aja sih! Yang kemaren ulang tahun tapi ngilang ga ad kabar." Rara mengaet lengan Shenna dan jalan beriringan.


"Happy birthday my bucin best friendku!!!"


"Thankyou ugh gak usah pake bucin bucin." Shenna mencubit pelan pipi Rara. "Ra, jangan gosip yah nanti." Shenna memperingatkan sahabatnya itu dulu sebelum nanti mulutnya tidak terkondisikan.


"Yaudaaahh iya tauu. Tapi itu supercar beneran dari Steve??" Rara tersenyum meledek.


"Supercar gigi lu Ra. hahaha iya kado dari Steve, susah nolaknya gue." Shenna cengengesan.


"Itu mah maunya eluu, yuk naik!" Rara menarik lengan Shenna untuk masuk kedalam lift.


Hari ini menjadi hari yang sedikit sibuk untuk Shenna dan team, karena ada beberapa produk terbaru launching sehingga mereka harusa mengundang beberapa rekanan hingga media untuk memperkenalkan produknya.


Karena acara ini lumayan penting maka Kevin pun turun tangan untuk menangani ini, Shenna sedang sibuk diruangannya bersama Rara membahas rangkuman untuk meeting hari ini sudah mencapai tahap mana. Mereka terlalu sibuk hingga tidak menyadari Kevin sudah masuk kedalam ruangan Shenna.


"Bagiamana semua sudah siap?" Suara Kevin mengejutkan dua gadis itu.


"Eh.. siang pak Kevin." Rara menyapa atasannya itu dan dibalas dengan anggukan Kevin.


"Semua udah ok sih harusnya pak. Team PR udah koordinasi sama pers. Nanti tinggal koordinasi sama marketing untuk kesiapan tempat acara." Shenna menimpali pertanyaan Kevin.


Kevin mengangguk mendengar jawaban Shenna tetapi lelaki itu tidak juga bergeming dari tempatnya, Rara yang menyadari itu langsung mengeluarkan jurus sandiwaranya yang sudah dia pelajari di dunia lain.


"Aduh! Gua sakit perut. Gua ke toilet dulu yah Sheii!" Secepat kilat Rara ngacir dari ruangan Shenna meninggalkan Shenna yang memasang tampang malas sudah tau taktik gadis itu.


Kevin melirik Rara sudah pergi menjauh lalu menutup pintu ruangan Shenna dan duduk di kursi hadapan dia.


Apa lagi ini? Shenna sudah gusar memikirkan apa yang akan Kevin lakukan.


"Happy birthday Na! Aku mau ucapin langsung ke kamu tapi kamu kan cuti kemarin." Kevin tersenyum sangat manis dan menyerahkan kotak kado kecil di meja Shenna.


"Thankyou Kev." Shenna tersenyum, dia melihat kotak kado itu "Ini apa? Kev, jangan aku gak bisa terima apapun." Shenna mendorong kotak itu kearah Kevin.


"Na. katanya kita teman. Ini kado sebagai teman, kalau kamu gak terima aku pasti sakit hati." Kevin tersenyum pias dan menatap mata Shenna sendu.


Shenna hanya tersenyum canggung dan mengambil kado itu dari Kevin. "Thankyou yah."


Hari ini berjalan cepat setelah semua pekerjaannya selesai Shenna bergegas akan pulang ke apartemennya, sekarang dia hanya ingin merebahkan dirinya dan tidur.


Shennna mengacak isi tasnya untuk mencari ponselnya karena dia teringat hari ini belum menghubungi kekasihnya lagi semenjak pagi tadi. Sebelum ponselnya ketemu tangan Shenna mengambil kotak kado kecil pemberian Kevin yang dia simpan tadi di tas, lalu Shenna membukanya karena penasaran.


Setelah kertas kado dibuka terlihat kotak bewarna biru navy dengan lambang angsa.


Jam tangan.


Shenna menutup kembali kotak itu.

__ADS_1


*K*alau dipake nanti ada yang jealous. Kalau gak dipake nanti bilang gak hargain.


Nah, paling bener jam nya gua taro dimobil ajah kalau ngantor dipake kalau pulang dilepas. Lu jenius banget Na!


Sepanjang perjalanan pulang ke apartemen Shenna berusaha untuk menghubungi kekasihnya itu.


Kok gak diangkat sih?? Udah jam 7 harusnya dia udah selesai praktek deh.


Shenna memarkirkan mobilnya di basement apartemen dan masih terus mencoba menghubungi Steve sambil berjalan masuk menuju unit apartemennya. Gadis itu kesal Steve masih juga mengabaikan telefonnya, dia memasukan pasword pintunya dan tiba tiba ada tangan melingkar memeluk perutnya.


"Kamu pulang telat banget sayang, aku udah nungguin dari tadi." Steve memeluk erat Shenna dari belakang dan menghirup aroma manis kekasihnya.


Shenna sempat sangat terkejut dan hampir berteriak sampai dia mencium aroma parfum yang selalu membuat dia mabuk kepayang.


"Kamu sengaja gak mau angkat telefon aku yah??" Shenna masuk kedalam apartemennya setelah pintu berhasil dibuka.


Steve mengikuti Shenna masuk, dia membuka sepatu dan melepas tas kerjanya. "Biar greget sayang." pria itu tertawa sambil menggulung kemeja panjangnya hingga ke siku.


Shenna kesal melihat Steve, kesal bahwa dia tidak bisa marah dengan lelaki ini.


Ganteng banget lagi!!


"kamu udah makan malam belum? Aku mau masak pasta. Kamu mau?" Shenna kedapur dan memakai apron, dia akan memasak sebelum ritual mandinya.


"Ia aku mau, lapar!! Aah lain kali aku taro baju handuk semua disini aja biar pulang kerja aku bisa langsung berberes." Steve duduk selonjor di sofa sambil memijat tengkuknya.


"Sekalian ajah pindah kesni pak!" Dengus Shenna.


"Kamu capek banget keliatannya."


"Maunya aku juga tinggal sama kamu Sheii, tapi tunggu kita married yah kalau gak kita bisa di ciduk." Steve tertawa memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan Shenna hanya memutar bola matanya. "Iya aku capek. kalau bisa aku mau nginep aja disini, udah males nyetir."


"Oke Makasih sayang." Steve segera bergegas untuk membersihkan diri karena dia baru saja bekerja dirumah sakit dan kuatir membawa kuman penyakit.


Setelah Steve dan Shenna selesai mandi, kini mereka duduk dimeja makan untuk menikmati santapan makan malam. Obrolan ringan dan candaan mewarnai makan malam itu.


"Sayang aku nginep yah malam ini, besok pagi aku anter kamu ke kantor baru pulang ke apart ganti baju dan kerumah sakit. Sore selesai kantor aku jemput kamu, besok aku cuma praktek sampe jam 4 aja. Kita keluar makan malam yah."


"Oke." Shenna mengangguk setuju.


Malam itu mereka tidur berdua tetapi tidak melakukan hal yang aneh, hanya tidur berpelukan. Mereka sudah sepakat no *** before married. Meski kadang Steve suka kelepasan menjadi liar saat mereka bermesraan, tetapi tidak lebih dari itu.


Shenna mencari posisi nyamannya, Steve memeluk tubuhnya dari belakang. Karena Shenna ingin membetulkan posisi bajunya, tangannya kebelakang untuk menarik bajunya. Tetapi tidak sengaja dia menyentuh sesuatu yang asing.


"Sheiii...." Steve melengos seperti menahan sesuatu.


"So.. sorryy, aku gak sengaja cuma mau narik baju tadi. Sorry!" Shenna tersenyum canggung.


Steve menghela nafas panjang dan membelai kepala Shenna, "Sudah cepat tidur!"


Shenna hanya mengangguk dan tidur membelakangi Steve, pikirannya masih berkecamuk.


"Steve...."


"Hmmm?" Pria itu sudah mengantuk sedari tadi.

__ADS_1


"Kamu... enggak pake daleman??"


"Enggak. Kan gak punya gantinya." Steve tersenyum lebar dengan mata tertutup.


Astagaaaah tangan gua ternoda!!!!! Shenna meringis kesal.


****


Shenna menelan ludahnya kasar saat Steve berkata bahwa bensin mobilnya tinggal sedikit jadi memilih untuk memakai mobil Shenna.


Jam tangan dari Kevin masih gua taro dikursi gitu aja... Duh be*o yah Na kok lu pikun banget!!


Steve menautkan kedua alisnya, pria itu masih menggunakan baju Ransen dan belum mandi hanya mencuci muka.


"Kunci mobil kamu sayang... mana?" Steve menadah tangannya meminta kunci.


Shenna dengan gerakan lambat menyerahkan kuncinya dan Steve membuka pintu mobil, sejenak dia membeku melihat kotak kecil itu dikursi tetapi melanjutkan untuk masuk kedalam mobil.


Shenna ikut masuk duduk di kursi penumpang sembari mencuri pandang pada kekasihnya.


Marah gak sih dia? Ekspresi yang sulit terbaca huhu.


Steve menyalakan mesin mobilnya dan melaju membelah jalanan pagi itu, dia masih diam membisu. Mereka masing masing sibuk dengan pikirannya, tapi Shenna tidak bisa membiarkan momen ini rusak hanya karena hal kecil.


"Sayang kamu diam aja." Shenna memegang lengan Steve.


"Hmmm"


Lah mendadak gagu dia.. duhhh!


"Kamu marah? kenapa?" Shenna masih mencoba untuk mengontrol situasi.


"Kado dari bos kamu itu??" Steve hanya bertanya datar tidak bisa menyembunyikan pertanyaan yang sedari tadi dia pikirkan.


"Iya.." Cicit Shenna singkat.


"Kenapa kamu terima? Lama lama perasaannya juga bakal kamu terima mungkin.."


Perkataan Steve seperti menohok Shenna, gadis itu tersikap dia sangat terkejut.


"Maksud kamu aku bisa selingkuh gitu???" Darah Shenna mulai mendidih.


"Aku gak tau..." Jawaban Steve membuat Shenna geram dan sepanjang jalan Shenna enggan untuk membalas perkataan Steve dan memilih untuk diam bahkan setiba dikantornya Shenna langsung turun dan membanting pintu mobil dengan kencang, Steve pun langsung melajukan mobilnya pergi.


Kenapa jadi begini sih????? Sesal Shenna.


Semenyara itu dirumah Liana sedang menyiram tanamannya dipagi hari, sudah beberapa minggu sejak putranya pulang kerumah bersama Shenna kini mereka belum datang berkungjung lagi.


Emang yah anak muda kalau udah pacaran suka lupa sama mamanya.. Kesal Liana.


Liana sibuk menyiram tanamannya hingga tidak sadar ada seseorang yang memperhatikannya dengan tersenyum.


"Tanteeee... sibuk sekali, sampe gak sadar aku dateng." Suara itu mengagetkan Liana dan dia menengok kearah sumber suara.


Ekspresi Liana yang semula tersenyum kini menjadi terkejut campur cemas, Liana sampai tidak bisa berkata kata.

__ADS_1


"Tante?? kaget banget liat aku, udah lama gak ketemu gimana kabar tante??" Wanita itu mendekat dan memeluk Liana hangat. "Kangen tante."


"Vill..Villy, Kapan kamu kembali??" Liana tersenyum tetapi tidak bisa menyembunyikan raut wajah cemasnya, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan gadis itu perbuat jika mengetahui Steve sudah bersama Shenna sekarang. Villy seorang yang ambisius, Liana sangat kuatir.


__ADS_2