Shenna Love

Shenna Love
Satu Dua Tiga ..


__ADS_3

Steve yang tersadar langsung segera masuk kedalam restoran untuk menyusul Shenna, begitu masuk mereka disambut oleh pelayan wanita yang menanyakan jumlah kursi yang dibutuhkan.


"Dua orang." Tegas Shenna namun masih terkesan ramah. Dan pelayan tersebut mengangguk, sekilas menatap Steve dengan tatapan kagum yang mendamba. Shenna mengetahui itu hanya dengan melihat dari sudut matanya saja.


Satu...


Shenna mendengus pelan berjalan mengikuti pelayan tersebut dan tidak lupa menggenggam jemari Steve. Mereka berjalan beriringan cukup menyita perhatian tamu lainnya, bagaimana tidak wajah Shenna masuk dalam kategori cantik dan tubuh rampingnya idaman semua wanita. Untuk Steve jangan ditanya sudah tentu semua wanita normal mendambakan dia bukan, diluar dari jabatan dan profesi yang ditekuninya mungkin Steve lebih cocok untuk menjadi seorang model pria dewasa dengan postur tubuh yang dia punya.


"Silahkan duduk." Pelayan tersebut kelewat ramah dengan suara yang dibuat semanis mungkin menurut sudut pandang Shenna.


Steve yang tidak peka tentu saja menyambut senyuman pelayan tersebut dan membalasnya ramah.


"Terimakasih." membuat pelayan Tersebut semakin girang.


Tatapan garang Shenna segera keluar, hawa nafsu ingin membunuhnya seketika timbul. Dia menatap tajam Steve, sehingga Steve menjadi salah tingkah.


Salah apaan lagi nih gua?? Batin steve tak enak sambil berdehem untuk menormalkan tenggorokannya yang serat mendadak.


Datanglah satu pelayanan wanita berbeda yang mengantar buku menu pada meja Shenna, pelayan tersebut menaruh buku menu untuk mereka. Shenna masih tersenyum ramah, namun begitu momen saat pelayan tersebut hendak memberikan buku menu pada Steve, pelayan itu sempat tercengang sesaat dan kembali menampilkan wajah yang terkagum kagum dengan pria dihadapannya sembari tersipu malu.


"Silahkan dipilih menunya, kami mempunyai menu menu favorit disini yang pasti akan Tuan dan Nyonya sukai." Suara pelayan tersebut persis seperti mendesah ditelinga Shenna membuat dia melirik tajam kearah pelayan itu.


Dua....


Shenna tetap tenang membolak balik buku menu dan memilih beberapa menu untuk dia dan Steve nurut hanya mengikuti pilihan Shenna.


"Kamu suka semua menu yang aku pilihin kan.... sayang???" Kata sayang yang Shenna ucapkan dengan penuh penekanan mengintimidasi, dia tersenyum tetapi matanya menatap Steve tajam dan beralih menatap pelayan yang sibuk mencatat menu pilihan Shenna sehingga pelayan tersebut sedikit salah tingkah.


Steve juga tidak luput dari tatapan intimidasi dari Shenna dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah pelayan itu pergi barulah Steve memberanikan diri untuk bertanya.


"Aku ada salah apa Sheii? So.. soal make out itu??"


"Diam!! Aku gak mau bahas. Aku laper! Mau makan dulu!"


Steve menelan ludahnya kasar dengan jawaban ketus Shenna, dia memang tahu Shenna memiliki watak judes dan galak dari dulu tetapi dihari pertamanya menyandang status pacar tidak menyangka sudah terkena imbas dari kejudesan Shenna.


Mereka duduk dengan posisi berhadap hadapan, Steve mengeluarkan ponselnya dan sibuk memeriksa beberapa pesan singkat dari rumah sakit terkait pasien yang baru dia operasi minggu lalu.


"Sayang sebentar yah aku balesin pesan dulu perihal pasien aku." Steve memperlihatkan layar ponselnya pada Shenna meyakinkan dirinya memang mengurus perihal kerjaan. Shenna hanya senyum tipis dan mengangguk kepalanya.


Jemari Steve tidak berhenti mengelus sayang punggung tangan Shenna di atas meja dan tangan satunya sibuk membalas pesan diponselnya. Shenna senang dengan perlakuan manis Steve, dia menatap lelaki dihadapannya ini dengan sayang dan kemudian Shenna memandang interior restoran yang cukup unik. Matanya menelusuri tiap sudut ruangan yang terasa cozzy, senyumnya hangat sampai Shenna menyadari satu hal yang menyurutkan senyumnya.


Hampir semua pengunjung wanita disini dan pelayan restoran mencoba mencuri pandang pada pacarnya.


Tiga.. empat.. lima.. enam..tu....


Shenna merengut kesal seketika dia menarik tangannya yang digenggam Steve dengan kasar membuat Steve tersentak kecil dan menatap Shenna bingung.


Baru saja Steve ingin bertanya ada pelayan yang datang mengantarkan makanannya kemeja mereka, dan lagi lagi pelayan tersebut berusaha untuk menebar pesona singkat pada Steve.


Tujuh!!!!!!!


'BRAKKKKKKKK'


Shenna menggebrak meja secara implusif membuat pelayan tersebut dan Steve tersentak bersamaan memandang Shenna kaget.


Shenna juga terkejut dengan reaksinya langsung berdehem dan membetulkan ekspresinya.


"Ada nyamuk tadi..." cicit Shenna.


Sepanjang acara makan malam mereka Steve tidak berhenti mencurahkan perhatian pada Shenna, memotongkan steak untuk dia, menuangkan minuman dalam gelas sampai menyeka sisa saus disudut bibir Shenna. Dia tidak pernah menyangka gadis yang sudah mencuri hatinya akhirnya bisa menjadi miliknya, Steve sungguh sangat menyayangi Shenna sepenuh hatinya. Semua bentuk perhatian kecil dari Steve membuat hati Shenna luluh.

__ADS_1


Kayaknya gua uda boleh di stamp bucin!!! Aduh..


Shenna berharap sungguh kali ini hatinya tidak salah memilih Steve.


"Besok kamu ada plan kemana?" Sambil menyeka mulutnya setelah selesai makan Steve bertanya pada Shenna.


"Gak ada, dirumah aja mungkin. Kenapa?"


Shenna meminum minumannya hingga tandas sebagai penutup dia telah selesai makan.


"Besok kita kegunung yuk. Ke kebun teh piknik."


Mata Shenna berbinar mendengar ajakan Steve.


"Beneran???? Mauu!!!" Shenna kegirangan seperti anak kecil karena diajak piknik.


Pukul 21.30 Shenna sudah sampai dirumah, karena besok harus berangkat pagi pagi jadi mereka memutuskan bahwa harus tidur lebih awal malam ini.


Shenna memasuki kamarnya setelah terlebih dahulu menyapa mamanya tadi dan sekalian meminta ijin untuk besok pergi bersama Steve.


Begitu selesai mandi Shenna mendudukan dirinya dipinggir kasur dengan baju tidur mini dress yang nyaman sembari mengeringkan rambutnya.


Tiba tiba ponselnya berdering ada telefon masuk. Setelah melihat siapa yang menelfon Shenna segera mengangkatnya.


"Kamu uda sampe rumah??"


"Udah sayang. Ini mau mandi sebentar lagi." Jawab Steve.


"Lah belum mandi kenapa telefon. Sana mandi!"


"Kangen.." kata Steve manja membuat rona merah muncul dipipi Shenna.


"Dasar!! Aku matiin yah telfonnya!"


"Besok kita berangkat siangan aja gak apa apa. Paginya aku ada urusan kerumah sakit sebentar perihal pasien yang aku operasi minggu lalu. Kamu gak apa apa kan?"


"Jam berapa?" Tanya Shenna.


"Aku selesai kurang lebih jam 9, maksimal jam 10 harusnya. Tapi kemungkinan jam9 udah...."


"Maksud aku, kamu jam berapa kerumah sakit? Aku ikut kamu!"


"Hah??? Nanti kamu bosen loh sayang nungguin aku. Aku ada rapat sebentar sama team dokter."


"Gak apa apa aku tungguin kamu.." *S*ekalian gua mau lanjut berhitung.. Batin Shenna sinis.


Permintaan Shenna tidak bisa Steve tolak, karena dari nada permintaan pacarnya seolah mendesak dia untuk mengiyakan.


"Oke yaudah aku jemput kamu besok jam 6.30. Kita sarapan sama sama di cafe rumah sakit aja."


Setelah mengucapkan perpisahan telefon sudah terputus, Shenna segera bersiap untuk tidur.


Malam itu dia tertidur pulas meski ada puluhan chat dari Kevin dan Jansen yang dia abaikan sejak kemarin diponselnya.


Pagi pagi sekali Steve sudah sampai dirumah Shenna, dilihatnya arloji pada lengannya baru menunjukan pukul 05.45, dia datang 45 menit lebih awal karenanterlalu antusias bertemu kekasihnya. Baru saja dia ingin memencet bel karena Shenna tidak membalas pesannya dan pintu sudah terbuka, munculah sosok mama Myra sudah siap dengan pakaian olahraganya.


"Steve? Sudah mau jemput Nana? Dia ada dikamarnya, kayaknya masoh tidur nanti kasih tau mbok Jum aja. Tante mau berangkat senam dulu sama ibu ibu komplek." Setelah memberi informasi yang tidak penting penting amat mama Shenna mempersilahkan Steve langsung masuk.


"Baik tante. Hati hati dijalan." Steve mengangguk canggung.


"Kalian yang hati hati, Nana dijaga baik baik yah." Begitu mama Myra melihat mobio Steve dia menaikkan alisnya. "Wooowwww ini mobil kamu?? Gagah yah kaya yang punya." Mama Myra memegang kap mobil steve


Steve hanya tersenyum canggung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Kacanya gelap sekali yah.. gak kelihatan apa apa dari luar...." Lalu melirik Steve dalam. "Jangan macam macam yah kalian nanti!"


Steve menelan ludahnya kasar.


Setelah mendapat instruksi "Naik saja non Nana masih dikamar." Dari Mbok Jum, Steve melangkahkan kakinya canggung menuju lantai dua rumah itu.


Ada 3 pintu kamar diatas, pintu yang paling pojok diyakini Steve sebagai kamar Shenna karena ada ukiran huruf S pada daun pintu dan keset kaki berwarna pink bergambar dua bebek berdampingan.


"Sayang..." Steve mengetuk pintu kamar pelan. Setelah 5 kali mengetuk dan memanggil tidak ada jawaban Steve memberanikan diri untuk membuka daun pintu tersebut dan ternyata tidak terkunci.


Suasana kamar dingin karena ac dan penerangan yang remang memang menjadi alasan bagus untuk tetap tidur pulas dipagi hari minggu ini.


Shenna masih tertidur pulas, nafasnya naik turun secara teratur dan mulutnya sedikit terbuka, selimut bantal dan guling tidak beraturan diranjang. Steve berjongkok dipinggir kasur tersenyum geli melihat sosok Shenna yang lain, tanpa make up diwajahnya polos, menggemaskan dan.....


Dia tidur gak pake bra????!!!!!


Steve tersikap, dia seorang dokter, melihat bagian tubuh manusia bukan hal baru baik pria, wanita anak anak segala usiapun dia pernah melihatnya bahkan sampai pada organ dalamnya sekaligus. Tetapi wanita ini wanita yang dia dambakan tentu saja melihat dengan jelas bagian tubuh intimnya dibalik baju tidur yang tipis itu...


Bulat kencang dan akan terasa pas ditelapak tangan... Shiitttt apa yang ada dipikiran lu Steve!!!!!!


Steve menampar pelan pipinya sendiri dan menggumam kecil..


"Sabar yah belum saatnya kamu bangun dan beraksi." Steve menatap pada juniornya seolah itu adalah teman ngobrolnya saat ini.


Tiba tiba alarm ponsel Shenna berdering dan membuat pergerakan tangan Shenna menggapai ponselnya di nakas, secara reflek Steve bersembunyi disamping meja rias.


Kenapa gua ngumpet??! Karena merasa sudah tanggung Steve meneruskan dirinya bersembunyi dibalik meja.


Dengan langkah gontai Shenna bangkit dari kasurnya, jam sudah menunjukkan pukul 06.00 tepat dia harus bersiap karena Steve akan segera datang menjemput pikirnya. Shenna berdiri didepan pintu kamar mandi dan merengangkan badannya lalu dengan gerakan cepat menaikan mini dress tidurnya untuk dibuka, mini dress itu sudah terangkat hingga perut Shenna menampakan jelas pinggang ramping wanita itu dan ****** ***** Shenna yang berwarna hitam. Bola mata Steve hampir meloncat keluar sebelum dia melihat lebih jauh dan menggila lebih baik dia menghentikan semua ini.


"Sayang Stop!!!!" Shenna terkejut dan hampir saja berteriak kencang kalau saja pergerakan Steve tidak lebih cepat membekap mulut kekasihnya itu.


"Aku gak maksud apa apa, tadi aku masuk dan bersembunyi mau kagetin kamu, eh taunya kamu..." Tanpa sadar Steve berada dijarak sangat bahaya dengan Shenna, tangannya kanannya memeluk pinggang polos Shenna, tangan kirinya masih membekap mulut Shenna dan tubuh mereka rapat menyatu tidak ada celah. Baju Shenna yang sudah terangkat hingga batas dada masih belum sempat diturunkan membuat gairah Steve berkobar dengan tiba tiba memaksa untuk keluar.


Shenna merasa sesuatu yang janggal dibawah sana.


"Hmmmpphh!!" Shenna memberi isyarat agar Steve melepaskan tangannya.


Steve yang tersadar segera menarik diri dari Shenna dan melihat arah mata Shenna tertuju pada bagian dibawah sana.


Ada yang berdiri kokoh tapi bukan menara.


Steve seketika menutup malu juniornya. Wajahnya merah padam, dengan suara parau terputus putus berkata


"Ka.. kamu mandi dan bersiap sekarang, ak.. aku tunggu dibawah. Kasih aku 10 menit buat turun kebawah. Se.. sekarang kamu masuk kamar mandi!"


Setelah selesai bersiap Shenna turun kebawah dengan perasaan canggung mengingat kejadian tadi, dilihatnya Steve duduk diruang tamunya sedang sibuk dengan ponselnya.


"Yuk berangkat." Shenna membuyarkan konsentrasi Steve, dan hanya dijawab dengan anggukan kepala pria itu dan senyum canggung.


"Serius Steve mobil kamu ini???!" Shenna tertawa tidak percaya melihat mobil Jeep Rubicon terparkir depan rumahnya.


"Akhirnya punya juga yah mobil yang kamu impiin dari dulu!" Shenna tersenyum lebar mengingat dulu Steve sangat mendambakan mobil Jeep seperti ini.


"Kamu masih ingat?? Haha.. dan aku beli ini yang Wrangler limitid edition. Semua pake duit aku!" Steve tersenyum pongah meledek Shenna.


Mereka bercanda menghilangkan canggung akibat kejadian tadi, sesaat sebelum mereka masuk kedalam mobil sebuah mobil BMW yang sangat Shenna kenal berhenti didepan mereka.


Ransen turun dari pintu penumpang mobil tersebut disusul Jansen dari sisi kemudi. Raut muka Steve mendadak masam.


"Sheii mau kemana??" Jansen tersenyum manis sembari melirik kearah Steve.


Shenna hanya tersenyum pias.

__ADS_1


Jangan rusak hari indah hamba ya Tuhan...


__ADS_2