
"Oh, iya. Aku pulang," jawab Max memutuskan. Ia mengikuti langkah pria sopir pribadinya itu dan keluar dari dalam air. Dengan satu tangan, ia memasukkan seluruh mutiara hasil temuannya itu dalam saku baju.
Hades masih terus mengejar Miriam. Tentu saja, tak butuh waktu lama, ia bisa mendahului putri duyung itu dan meraih tangannya. "Miri ...."
"Lepaskan!" Miriam berusaha membebaskan diri tapi kemudian ia seperti kebingungan karena hatinya kini sedang porak-poranda. "Hades, biarkan aku sendiri," katanya sambil menunduk.
Hades mendekat. "Ada aku Miriam. Aku ini 'kan temanmu," ucapnya merendah.
"Benar Hades, aku hanya ingin sendiri," ujar putri duyung itu masih menunduk.
"Tapi jangan jalan seperti tadi, ke sana kemari tanpa perhitungan, bahaya Miriam. Kamu bisa di makan ikan besar. Sudah, aku antar saja kamu pulang ya?"
Miriam mengangguk. Hades kemudian mengantar Miriam pulang.
---------+++---------
Max terbangun di pagi hari. Sinar mentari masuk dari cela-cela gorden kamarnya. Segera ia mendudukkan diri di atas tempat tidur.
Rasanya kejadian dua malam yang lalu itu seperti mimpi tapi ia mengingat wajah penolongnya itu dengan jelas. Seorang wanita yang walaupun tidak cantik tapi baik hatinya karena telah bersusah payah menyelamatkannya dari kecurangan patner bisnis yang dengan tega memberi obat pada minumannya dan menenggelamkannya ke laut. Sungguh, ia tak pernah berpikir ia akan dibohongi semudah itu.
Segera setelah ia siuman dan menyadari ada di sebuah balai pengobatan kecil, ia menelepon polisi. Polisi segera datang dan menginterogasinya. Tidak butuh waktu lama, polisi segera meringkus partner bisnisnya itu.
Hanya saja kini, ia tidak bisa menemukan gadis yang menolongnya. Padahal sangat mudah, gadis itu punya warna rambut yang tidak biasa yaitu berwarna merah tapi tak satu pun orang yang ditemuinya mengenal seorang gadis dengan warna rambut seperti itu. Ini benar-benar sangat membingungkan. Harusnya 'kan ini mudah?
Pria itu kini menghela napas panjang.
------------+++-----------
Miriam kembali mendatangi tempat keramaian, tetapi ia berniat untuk hanya duduk-duduk saja di tempat favoritnya. Saat ia datang, ternyata siluman buaya putih tengah bersantai juga di sana.
"Oh, Miri. Silahkan duduk. Aku hanya mengambil sebagian kecil saja tempatmu duduk."
__ADS_1
Miriam tersenyum menahan tawa. Bagaimana tidak, ukuran buaya itu saja sangat besar. Bagaimana bisa buaya itu mengaku mengambil sebagian kecil saja tempat istirahatnya. "Baiklah ... tidak apa-apa. Sisakan aku sedikit agar aku bisa duduk dan memandang tempat ini sebentar."
Buaya itu bergeser sedikit memberi tempat dan Miriam mulai duduk di sana dan memandangi lalu lintas makhluk laut yang ada di sana.
Tak lama, Miriam mulai mengajak buaya itu bicara. "Mmh, kalau makhluk seperti kita ini bermimpi ingin jadi manusia, bagaimana ya?"
Buaya itu melirik Miriam. "Apa kau sudah jatuh cinta pada manusia? Oh, Sayangku ...." Buaya itu merupakan buaya betina yang sudah cukup tua. Keberadaannya di sana adalah menunggu anak-anaknya pulang dari bekerja di tempat yang jauh, seperti Miriam waktu itu. "Apa manusia itu juga mencintaimu?"
Miriam mulai menoleh ke arah siluman buaya putih. "Aku tidak tahu, tapi aku sangat ingin jadi manusia dengan kaki yang indah."
"Oh, Miri. Hati-hati dalam berharap. Pastikan ia mencintaimu atau semua akan sia-sia. Kamu mau jadi manusia karena pria itu 'kan?"
Miriam mengangguk.
"Kamu tidak harus jadi manusia bila pria itu mencintaimu apa adanya. Banyak kok, manusia yang menikah dengan siluman seperti kita dan anaknya bisa seperti kita atau mereka. Ada juga yang merubah dirinya menjadi cantik tapi tetap saja siluman punya keterbatasan."
"Nah, karena itu. Apa kita benar-benar tidak bisa berubah jadi manusia?"
"Apa itu?" Miriam penasaran.
"Miri ...."
"Katakan saja, aku ingin tahu!" desak Miriam.
Siluman buaya putih itu menghela napas. "Kau harus mendatangi Penyihir Siluman Ular Laut. Ia setengah naga, karena itu dia bisa membuatmu jadi manusia tapi itu tidak gratis, Miri."
"Jadi? Dia minta apa?"
"Jiwamu. Kau harus berpikir panjang, Miri. Kalau kau tak mendapatkan apa yang kau inginkan ia akan mengambil jiwamu. Miri, ini sangat berbahaya."
Miriam hanya diam.
__ADS_1
"Miri ...."
"Miri! Akhirnya aku menemukanmu." Hades tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Hades."
"Ayo, Miri, ikut aku. Ada rombongan lumba-lumba dari New Zealand datang. Mereka melakukan atraksi di tengah perjalanannya ke benua lain." Hades langsung menarik lengan putri duyung itu tanpa izin, membuat Miriam tak bisa menolak dirinya yang telah ditarik ke atas.
"Hades!"
Namun putra duyung itu tak mendengarkan. Ia terus membawa Miriam berenang ke suatu tempat.
"Hades." Namun pada akhirnya Miriam menyerah. Ia membiarkan saja Hades menariknya sambil menikmati tempat-tempat yang dilaluinya. Seperti terumbu karang dan bermacam-macam ikan berwarna-warni yang dilewatinya. Semakin ke atas, penghuni laut terlihat berwarna. Akhirnya mereka sampai pada permukaan laut. Di sana sudah banyak beberapa siluman yang memperhatikan rombongan lumba-lumba berloncatan seperti berbaris melewati mereka.
"Sudah mulai, Miriam. Ayo sini, lebih dekat." Hades menarik lengan Miriam dan mendorongnya ke depan agar Miriam bisa melihat paling depan. Putri duyung itu begitu senangnya melihat lumba-lumba itu berloncatan dengan indahnya bersama rombongan dan membuat formasi-formasi tertentu. Matanya terlihat sangat bercahaya.
Hades melihat di sampingnya, betapa putri duyung sederhana yang dicintainya selama bertahun-tahun itu selalu saja menggetarkan hatinya. Entah saat ia sedih atau bahkan bahagia seperti saat ini.
"Oh, Halo Hades yang tampan."
Putra duyung itu menoleh. Seorang putri duyung cantik dan seksi tengah berdiri di samping putra duyung itu. Dia adalah Runa, putri duyung paling cantik di sana dan dia sangat menyukai Hades. Apalagi Hades adalah anak raja duyung. "Mmh? Oh kamu."
"Hades, kenapa kamu tidak datang ke pestaku?Aku menunggumu kemarin malam," tanya Runa kecewa. Padahal ia ingin memamerkan pada teman-temannya kalau ia kenal putra duyung itu tapi sekali pun Hades tak pernah datang. Runa tak pernah menyerah dan selalu mengundang putra duyung itu untuk datang ke pesta-pestanya.
"Maaf, Runa, aku tak punya waktu." Hades segera meninggalkan Runa dan merapat pada Miriam.
Runa sangat kesal pada Miriam, karena ia selalu kalah bila itu menyangkut Hades. Putra duyung itu selalu memilih Miriam, padahal Runa pernah mendatangi Miriam guna mengejeknya dan agar putri duyung itu tidak dekat-dekat lagi dengan Hades tapi sepertinya percuma karena Hadeslah yang selalu mengejar Miriam.
"Miri, setelah ini kita cari gurita kecil yuk!" ajak Hades.
"Mmh?" Miriam menoleh pada Hades dan melihat ada Runa di belakang Hades. Ia tahu, Runa sangat mencintai Hades, karena itu ia berusaha memberi peluang pada Runa. Bukan karena takut, tapi karena ia memang hanya menganggap Hades teman. "Oh, aku sedang ada urusan, Hades. Sampai nanti!" Ia langsung berenang ke dalam laut.
__ADS_1