
Pintu diketuk. Tak lama pintu terbuka.
"Lita? Ada apa?" Max dengan wajah ngantuk dan rambut berantakan.
"Eh, aku tadi mimpi buruk. Bolehkah aku tidur di sini?"
"Apa?" Pria itu terkejut dan masih belum sepenuhnya sadar. "Eh, mimpi buruk?" Ia menggaruk-garuk kepalanya dengan mata yang masih sedikit menyipit. "Mmh ...." Ia seperti berpikir.
"Boleh ya?" Miriam dengan wajah memelas.
"Tapi kita bukan Mahram."
"Apa itu Mahram?" Kening Miriam berkerut.
" Dua orang asing yang tidak punya pertalian."
"Mmh." Miriam makin tak mengerti. "Jadi aku tak boleh ...," ucapnya dengan nada menggantung dan mimik kecewa. "Ya sudah, aku tidur di sofa bawah saja."
Miriam membalikkan tubuhnya hendak ke bawah tapi segera dicegah Max. Pria itu meraih lengan Miriam. "Eh, ya sudah. Sini, ayo," ucapnya pelan.
Pria itu menarik gadis itu ke dalam kamar dan menutup pintu. Miriam mengikuti pria itu ke tempat tidur.
Max membukakan selimut dan Miriam masuk ke dalamnya. Ia merapikan selimut ketika gadis itu membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Pria itu duduk di tepian tempat tidur dan menghela napas. "Kamu mimpi apa sih, Lita sampai terbangun seperti ini?" Ia menepikan rambut gadis itu hingga ke belakang telinga. "Apa kau ingat orang tuamu?" ucapnya pelan.
Gadis itu mengerut kening. "Tidak."
"Lalu apa? Kau mimpi apa?" tanya Max seraya mengusap pucuk kepala gadis itu lembut.
Miriam sangat menyukainya. Di saat-saat seperti itu, pria itu bisa sangat dekat dan memperhatikannya. Bicara lembut dan hanya memperhatikan dirinya. Hanya dirinya. "A-aku sendiri lupa." Gadis itu tergagap karena di hadapan Max ia jadi tak pintar berbohong.
"Ya sudah, sekarang tidur ya, sudah malam." Sekali lagi pria itu merapikan selimut yang menutup tubuh gadis itu, kemudian beranjak berdiri. Ia mengitari tempat tidur menuju tempat pembaringannya.
Max begitu saja naik ke atas tempat tidur dan tidur di atasnya.
"Kak Max tidak pakai selimut?"
"Tidak usah. Kakak akan menjagamu. Nah, tidurlah."
Pria itu bicara begitu, tapi ia yang lebih dulu tertidur beberapa menit kemudian. Miriam tersenyum mendengar dengkuran halus yang keluar dari mulut pria itu. Begitu mudahnya ia tertidur.
__ADS_1
Di saat itu Miriam bisa mengagumi wajah tampan Max yang tidur di sampingnya. Wajah tampan yang membuatnya ingin lari dari dunianya dan memasuki kehidupan manusia. Gadis itu rela menyerahkan jiwa dan raganya hanya untuk bisa bersama pria ini. Kak Max, balaslah cintaku ....
-------+++--------
Gadis itu terbangun dan melihat Max sedang sholat. Awalnya ia lupa kalau ia tidur di kamar pria itu. Oh, iya, aku ke kamar Kak Max semalam. Ia segera duduk. Diperhatikannya Max yang sedang sholat. Baru kali ini ia memperhatikan cara sholat, dulu-dulu ia tak pernah perduli tapi ....
"Oh, kau sudah bangun. Nah, gitu dong, bangun pagi-pagi. Aku bingung kenapa kamu susah sekali bangun pagi padahal sudah cepat tidur."
Miriam tak berkomentar.
"Kamu masih mengantuk?"
"Mmh, tidak. Apa ... Kak Max suka pada Kak Anna karena dia berjilbab?" Tiba-tiba saja, Miriam ingin menanyakan itu.
Max melipat sajadahnya. "Salah satunya, iya."
"Lainnya?"
"Mmh, apa ya?" Pria itu berpikir sebentar. "Aku mencintainya. Ia punya pribadi yang sederhana, apa adanya. Aku pernah ke rumahnya dan saat itu ia menemuiku dengan tanpa make up, lucu. Aku baru kali itu melihat wajahnya tanpa make up dan dia seperti tidak berusaha menyembunyikan wajah aslinya dan aku suka itu. Dia selalu apa adanya," ucapnya menengadah, tapi sedetik kemudian ia menoleh. "Eh, ayo sarapan. Kita mau ke kantor 'kan?"
----------+++----------
"Pak maaf, Pak Bagus tidak ada di kantor karena sedang sakit," sahut sekretaris Max.
"Yang aku dengar, setelah dari sini, ia tiba-tiba muntah darah Pak, dan dilarikan ke rumah sakit."
"Astaghfirullah alazim. Coba kau tolong carikan rumah sakit dan nomor kamarnya agar aku bisa menjenguknya."
"Baik Pak." Sekretaris itu pun keluar ruangan.
Miriam hanya tersenyum simpul. Jangan main-main kalau dengan makhluk tak kasat mata karena mereka tetap menuntut saat kalah.
Sejam kemudian, Miriam dan Max sudah berada di sebuah ruang perawatan di sebuah rumah sakit. Bagus terbaring di tempat tidur dengan jarum infus tersemat di tangan kiri dan masker oksigen di wajahnya. Matanya yang sayu menatap Max dan juga Miriam. Di samping duduk istrinya, menunggu.
"Apa tidak ada perubahan sejak masuk rumah sakit, Bu," tanya Max pada istrinya.
"Begitulah, Pak. Saya jadi bingung harus bagaimana. Sejak masuk rumah sakit, saya bingung mendengar keterangan dokter. Katanya di perutnya ada bermacam-macam benda tajam seperti pisau, jarum, silet sehingga saat itu juga suami saya di operasi. Operasinya sudah selesai tapi lambung yang luka butuh penyembuhan yang lama sehingga ia hanya bisa tergantung dengan infus ini sementara waktu."
Oh, dia kerja sama dengan dukun ilmu hitam rupanya. Pantas saja, benda-benda yang ia kirim ke orang yang akan diguna-gunanya kini berbalik ke dia. Dia juga piara tuyul untuk pengasihan. Pasti sudah banyak orang diguna-gunanya hingga mati hingga ia sampai bisa mendapatkan posisinya sekarang ini, Miriam menyipitkan mata melirik pria yang kini terbaring lemah di tempat tidur.
__ADS_1
Ternyata ada juga manusia yang lebih jahat dari seorang siluman. Untung saja aku menolong Kak Max, kalau tidak Kak Max juga pasti dalam genggamannya. Mmh, sepertinya aku juga telah tak sengaja mematahkan guna-gunanya.
Aku juga takkan tinggal diam. Ternyata dia tidak saja berniat menang kerja sama tapi pasti juga ingin menguasai Kak Max. Miriam mengeratkan gerahamnya.
Gadis itu mengeluarkan sebutir mutiara di tangan. Kemudian ia yang berada di samping Max, memejamkan mata dan membaca mantra dalam hati. Gadis itu tak lama membuka mata dan telapak tangannya. Di telapak tangan, mutiara itu telah menjadi bubuk berwarna abu-abu.
Secara samar, gadis itu menaburkan bubuk itu di tempat tidur pasien dengan pura-pura menyentuh bantalnya.
"Terima kasih, Mbak," sahut istri pria itu melihat Miriam merapikan bantal suaminya.
Miriam menampilkan senyum palsunya.
Tak lama kemudian, pria yang sedang dirawat itu kejang-kejang. Max yang sedang mengobrol dengan istri pria itu terkejut.
Juga wanita itu. "Ya Allah, Mas kenapa?" Ia panik.
Dengan sigap, Max menekan tombol yang ada di dinding.
"Ada apa, Bu?" terdengar suara yang menanyakan keperluan.
"Ah, cepat datang ke sini, pasiennya kejang!" terang Max, panik. Ia masih memperhatikan pria itu yang masih kejang-kejang dan ia tidak tahu harus berbuat apa.
Istri pria itu sampai mengalirkan air mata karena saking terkejutnya. Ia stres melihat suami yang dicintai kejang di hadapannya. "Mas ...."
Miriam hanya diam tanpa ekspresi.
Tiba-tiba Max teringat Miriam dan memutar tubuh gadis itu agar menghadapnya. "Kamu jangan melihat nanti kamu stres."
__________________________________________
Sambil menunggu kelanjutannya, kita intip novel author yang satu ini.
Adrian Devano adalah anak sekolahan yang sering di jauhi karna baunya yang seperti ikan busuk.
Di tambah lagi kantung matanya yang gelap seperti ikan mati menambah kesan menjijikkan dari pria muda tersebut.
Berbeda dengan anak anak di tempat tinggalnya yang menginginkan pekerjaan di kota besar dan modern. Adrian justru bercinta cita menjadi seorang nelayan sukses.
__ADS_1
Saat sedang memancing di tengah laut pasifik, Adrian yang di timpa kesialan tak sengaja menemukan sebuah kotak aneh berwarna biru laut dan mendapatkan sistem dari sana.
Dengan bantuan sistem misterius yang ia beri nama "Sea" Mampukah Adrian mewujudkan impiannya.