Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Di Rumah


__ADS_3

Anna menarik dagu Miriam mendekat. Ia memperhatikan luka di wajah gadis itu dengan teliti. "Yang aku dengar, dia kehilangan banyak darah." ucap wanita itu melirik Max.


"Takutnya nanti dia tak kuat jalan lalu pingsan."


Pria itu beralih melirik Miriam yang tiba-tiba cemberut. Ia menghela napas panjang. "Maaf, Lita. Sebaiknya kau istirahat di rumah saja."


Anna melepas wajah gadis itu.


"Katanya tadi diajak ikuut." Cemberut gadis itu makin menjadi-jadi.


"Eh, ini demi kesehatanmu, Lita," bujuk pria itu. "Lain kali nanti kita ajak."


Miriam masih cemberut dan menunduk.


Anna menyentuh tangan gadis itu. "Nanti aku belikan kamu sate, mau?" Ia tahu, Miriam sangat suka makan daging.


Miriam mengangkat wajahnya menatap Anna. "Sate? Apa itu?"


Anna tersenyum seraya sekilas melirik Max. "Potongan daging yang ditusuk ke lidi dari bambu dan dipanggang. Dagingnya bisa sapi atau ayam."


Gadis itu terdiam membayangkan. Lalu sedetik kemudian mata gadis itu langsung bercahaya. "Ah, enak sepertinya."


"Kamu mau yang mana? Sate ayam atau sapi?"


"Yang mana saja." Terbayang lezatnya daging itu di lidah Miriam.


"Pakai saus kacang atau kecap?"


"Hah?" Gadis itu mengenyit dahi. "Aku daging saja, tidak mau yang lain. Pasti tidak enak."


"Eh ...." Anna melirik Max dan kembali menatap Miriam. "Terserah kamu saja, nanti akan dibawakan terpisah."


Gadis itu tersenyum lebar. Max bernapas lega. Ternyata mudah membuat gadis itu senang.


Anna mengusap pucuk kepala Miriam. "Kamu istirahat di rumah saja ya? Nanti dibelikan, tapi jangan manjat-manjat lagi ya?"


Miriam mengangguk.


"Lihat, bekas luka ini akan jadi perhatian umum kalau kamu keluar. Kamu tidak mau 'kan diperhatikan orang banyak gara-gara bekas lukamu itu?"


"Iya. Eh, tapi jangan lama-lama." Miriam menyentuh tangan Anna.


Anna dan Max saling berpandangan dan tersenyum. Keduanya menatap Miriam.


"Iya," jawab wanita itu pelan.


----------+++--------


"Terima kasih ya, kamu mau bicara dengan Lita. Aku tidak mengerti cara berbicara dengannya. Sedikit rumit," ungkap Max di mobil. Ia berbicara sambil menyetir mobil.


"Kenapa?" Wanita itu meliriknya.


"Entahlah. Aku takut salah bicara. Mendengar apa yang dikatakan dokter bahwa dia mungkin punya trauma karena itu dia hilang ingatan, aku jadi makin bingung bicara dengannya. Dia ... bagaimana bilangnya ya, unik?" Max melirik Anna.

__ADS_1


"Ya, aku mengerti." Wanita itu mentap ke depan. "Lita, kadang aku membayangkan apa anak ini pernah diisolasi dari dunia luar ya?" Ia kembali menatap Max.


"Maksudmu?" Max penasaran mendengarnya.


"Aku pernah baca kasus anaknya yang dikurung sama orang tuanya karena terbelakang dan dia memang tidak tahu sesuatu apapun tentang dunia luar seperti makanan, tehnologi, tata krama dan itu mengingatkan aku akan Lita."


Max melirik sekilas karena terkejut. " Tapi Lita tidak terbelakang, aku lihat ia cukup cerdas saat bicara."


"Banyak alasan kenapa orang tua mengurung anaknya. Bisa gila ...."


"Lita tidak gila, kau tahu 'kan?"


"Atau ada alasan lain yang kita tidak tahu."


"Seperti apa?"


"'Kan kita tidak tahu."


"Eh, ya ...."


Keduanya terdiam sejenak.


"Aku tidak bisa menemukan alasan kenapa Lita dikurung oleh orang tuanya." Akhirnya Max bicara.


"Aku juga."


"Aku hanya ... eh, kasihan kalau benar Lita dikurung oleh orang tuanya."


Max kembali melirik Anna. "Aku jadi kasihan padanya. Apa ada orang tua sejahat itu pada anaknya? Pantas saja Lita tidak ingat, bahkan mungkin tidak ingin mengingatnya."


Anna menarik napas pelan. "Tapi itu hanya perkiraanku saja." Wanita itu merapikan duduknya.


"Tidak. Kemungkinan besar apa yang kau katakan itu benar. Semua potongan teka-teki tentang dirinya tergenapi. Aku merasa itulah yang terjadi pada Lita walaupun sebenarnya aku tak ingin percaya. Aku sudah coba cari di daftar orang hilang di beberapa kedutaan dan hasilnya nihil dan aku baru menyadari Lita juga tak bisa bahasa Inggris.


Aku mencarinya di daftar orang hilang dari kepolisian juga sama sehingga aku yakin orang tuanya pasti tidak sedang berusaha mencarinya. Ia tak pernah menjawab setiap aku tanya tentang orang tuanya."


"Ya, tapi Kak Max, itu hanya dugaan. Tetap kita harus mencari tahu tentang fakta yang sebenarnya terjadi karena ini tetap hanya bisa disebut dugaan. Faktanya, bisa saja lain, Kak."


Pria itu terdiam sejenak. "Mmh, kau benar."


--------+++-------


Hades baru saja masuk ke dalam rumah Max, dan tanpa sengaja melihat ke atas. Miriam baru saja masuk ke kamarnya.


Mmh? Miriam di rumah? Tapi katanya Pak Max pergi .... "Eh, aku ingin ke toilet," ucap pria itu pada pembantu yang membukakan pintu.


"Oh, ini, Mas." Pembantu itu menunjukkan ke sebuah ruangan dekat ruang tamu.


"Aku mules," Hades memegangi perutnya.


Pembantu itu segera mengerti. "Oh, iya, Mas saya ke dapur dulu. Nanti beri tahu saya kalau mau keluar."


"Eh, iya." Hades melangkah ke toilet, tapi ketika pembantu itu masuk ke ruang dapur, ia bergegas ke tangga. Ia menaiki anak tangga pelan-pelan agar tak terdengar langkahnya. Kemudian, ia mencoba peruntungan membuka pintu kamar Miriam.

__ADS_1


Terbuka ... Ya, tentu saja. Rumah gadis itu saja hanya sebuah gua kecil tanpa pintu, apalagi yang berpintu, dia pasti ... tak tahu cara menguncinya.


Gadis itu tengah berada di beranda. Ia tak tahu seseorang telah memasuki kamarnya.


"Miriam."


Gadis itu terkejut dan menoleh. "Ha ...." Miriam ingat, jangan sampai ada yang tahu hingga mengecilkan suaranya. "des, kenapa kamu ke sini?" Miriam panik sekaligus terganggu. Ia segera masuk dan menutup beranda. "Hades!" ucapnya kesal.


Pria itu hanya tersenyum.


"Hades, sebaiknya kamu keluar." Miriam menunjuk ke arah pintu.


"Kenapa? Aku tidak melakukan sesuatu yang buruk." Pria itu malah duduk di tepian tempat tidur.


"Hades!"


"Sudah jangan berteriak, nanti orang di luar tahu. Lagipula aku hanya duduk dan memanggil namamu. Apa itu buruk?" Pria itu tersenyum nakal pada Miriam.


Miriam merengut. Ia masih kesal.


"Kau suka pada Pak Max ya?"


"Bukan urusanmu."


"'Kan dia sudah tua? Kenapa tidak dengan aku saja yang lebih muda."


"Tidak mau. Sudah sana pergi! Aku tak mau melihatmu!" teriak Miriam gemas.


"Eh, ini beneran, Lita. Kak Max lebih tua darimu. Mungkin sekitar 7 tahunan," ledek Hades dengan gaya bicara Max.


Miriam makin mangkel. Ia menjewer telinga Hades.


"Aduhh, aduhh, Lita .... " Kepala Hades sudah dibuat miring ditarik telinganya oleh Miriam ke atas tapi masih juga pria itu bercanda dengan memanggil Miriam dengan 'Lita' sehingga gadis itu semakin gemas. "Kamu itu, selalu menggangguku." Gadis itu akhirnya melepas jewerannya. "Sudah sana pergi!" usir gadis itu.


"Aku tidak mauuu. Aku kangen kamu," ucap Hades manja.


"Kamu itu ...." Tiba-tiba Miriam menyentuh kepalanya. "Ah ...." Tubuh gadis itu mulai goyah.


"Miriam?" Dengan cepat Hades meraih tubuh gadis itu yang hampir jatuh dan memapahnya ke tempat tidur. Gadis itu terlihat pasrah.


Pria itu baru melihat ada segaris luka di wajah gadis itu yang mulai merapat. Sekilas tak terlihat. "Miriam? Kau kenapa?" tanya Hades khawatir.


__________________________________________


Yuk, baca karya author yang satu ini.


Antonie adalah pemulung yang mati akibat ulah Sonya, putri pemilik Rumah Sakit Harapan Kita.


Setelah kematiannya, Antoni bertemu dengan seseorang pria tua yang ramah. Awalnya Antonie tidak tahu jika dirinya telah mati, namun setelah obrolan dengan pria tua itu, Antonie tahu jika telah mati.


Pria tua itu bisa menghidupkan si Antoni, asal ada syaratnya, yaitu, merubah dunia kedokteran yang sudah rusak karena keserakahan....


__ADS_1


__ADS_2