
"Aku tidak mencintaimu, aku hanya ...."
"Iya, aku tahu," potong Hades. Ia berusaha menjadi tempat ternyaman gadis itu walau ia tahu ini akan melukai dirinya, kelak.
Max berdehem membuat keduanya sadar ada orang lain di ruangan itu.
Buru-buru Hades melepas pelukan. Ia segera berdiri dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Mmh, siang-siang kenapa tumben kau ke sini?" Max menyatukan tangannya di belakang punggung, bertanya pada Hades.
"Eh, kerja siangku selesai lebih cepat dan aku pindah sift malam mulai besok," terang Hades membuat alasan.
"Mmh, begitu. Jadi kau tidak lagi jadi kepala keamanan malam, di daerah ini ya?"
"Maaf, tidak bisa, Pak. Sepertinya aku harus memberikan posisi itu pada orang lain."
"Mmh." Max memandangi Hades dan Miriam dalam diam. "Jangan karena aku menyukaimu, kamu bisa sembarangan di rumahku ya?" ucapnya pada pria itu. "Jelita masih tanggung jawabku saat ini."
Hades menunduk. "Eh, maaf."
"Tapi aku berterima kasih, karena kamu bisa membantu menyembuhkan sakitnya. Tadi Lita kenapa?"
"Salah makan sepertinya, tapi entah makan apa." Hades berusaha menyembunyikan fakta tentang kodok itu.
"Mmh." Sekali lagi Max memperhatikan Hades. Pria itu walau tampan dan tampak garang, tapi ia taat peraturan dan juga santun. Max sangat mengaguminya. "Bagaimana kalau kau kerja padaku saja sebagai kepala keamanan di siang hari?"
"Apa?" Hades menoleh. Ia tak menyangka ia mendapat tawaran bekerja di rumah itu.
"Bukankah dulu aku pernah menawarkan padamu pekerjaan ini tapi waktu itu kamu masih kerja sift siang."
"Tapi aku tak tahu sampai kapan."
"Tidak apa-apa. Selama kau tidak bekerja pagi, setidaknya kamu bisa cari uang tambahan dengan bekerja pagi di sini. Jadi, bagaimana?"
Matanya Hades membulat sempurna. Ia tak tahu bagaimana menjawabnya.
"Kalau kau di sini, aku jadi bisa menitipkan Lita padamu."
"Kak Max, aku tidak mau!" protes Miriam cepat.
"Lita, kau harus di rumah. Tidak ada gunanya kau ikut aku ke mana-nama. Lagipula aku ada banyak urusan yang membutuhkan konsentrasi, ke depannya sehingga aku tidak bisa membawa kamu serta."
"Kak, Max," rengek Miriam.
"Bagaimana?" Max kembali beralih ke Hades.
__ADS_1
Hades melirik Miriam dan saat itu pula Max menghalanginya dengan menarik pria itu keluar dari kamar itu. Di luar, Max mulai bicara. "Aku butuh pria tegas dan sebagai pria aku minta kau yang memimpin Lita, bukan Lita yang memimpin kamu."
"Eh, tapi ...."
"Apa kau tidak ingin bertemu Lita tiap hari?"
Inilah yang membingungkan Hades. Di satu sisi ia ingin bersama Miriam tapi di sisi lain, ia tidak ingin membuat marah gadis itu. Jadi jalan mana yang harus dipilihnya? "Aku bukan tidak ingin tapi aku memikirkan perasaan Lita, Pak."
"Mmh." Pria ini cocok buat Lita karena ia sangat memperhatikan perasaannya, tapi bagaimana caranya ia mau bekerja di rumahku ini ya? "Baiklah, aku coba tanyakan pada Lita."
Keduanya kembali masuk. Max baru menyadari mata Lita yang kemerahan. "Kenapa matamu, Lita." Max menunjuk ke kelopak mata gadis itu yang memerah.
"Eh ...."
"Itu tanda keracunan." Tanda itu hanya ada pada putri dan putra duyung sehingga Hades langsung mengetahuinya.
"Oh." Kemudian Max mulai serius bicara. "Lita. Aku berniat menikah. Akan ada pertemuan-pertemuan dan juga tugas keliling yang membuat aku dan Anna akan sering bersama, dan aku tidak bisa terus bersamamu.
Aku bukan mengusirmu tapi memberi tahu bahwa akan ada orang satu lagi yang akan tinggal di sini. Aku akan melamar Anna dan mungkin bulan madu. Tidak mungkin 'kan aku selalu membawamu?"
Miriam tertunduk.
"Di saat kamu di rumah aku ingin ada yang mendampingimu. Setidaknya ada saat kamu butuh dan aku memilih Hadi karena kalian sudah saling mengenal. Bagaimana menurutmu?"
"Eh, Lita sepertinya butuh istirahat karena dia habis muntah." Hades mencoba menetralisir keadaan.
"Oh, begitu."
"Iya, Pak."
"Ok, kalo begitu aku minta kamu mulai besok bekerja dari pagi di sini. Bisa 'kan?"
"Bisa, Pak." Hades mengangguk.
"Ok."
----------+++----------
Miriam hanya menunduk, makan. Sebenarnya ia tak berselera tapi kalau tak makan malam ini ia takkan bertemu Max.
Sesudah pulang tadi, Max disibukkan dengan teleponnya hingga jam makan siang. Sedang saat makan siang, Max menyuruhnya makan di kamar karena tubuhnya terlalu lemah untuk keluar.
"Lita."
Gadis itu mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Besok aku akan bertemu dengan orang tua Anna. Apa kau mau ikut?"
"Boleh?" Tiba-tiba mata gadis itu membulat sempurna dengan senyum keceriaan.
"Tentu. Kau terlihat sudah sehat dan mungkin besok sudah benar-benar sehat."
"Pasti, Kak. Pasti!" ucap gadis itu penuh semangat.
"Mmh. Ya sudah, jaga kesehatanmu sampai besok karena kita akan pergi pagi-pagi."
"Eh, tapi ... bagaimana dengan Hadi?"
"Panggil dia Mas Hadi, Lita. Dia lebih tua darimu." Max menasehati.
Miriam merengut. "Iya."
"Dia 'kan petugas keamanan, jadi pastinya tinggal di rumah."
"Oh."
Max menatap Lita dengan senyum kecilnya. Kenapa saat Mas Hadi ditinggal, dia malah khawatir? Apa Lita tidak sadar kalau dia telah menyukai pria itu?
Sedang Lita, ia begitu gusar. Ia tak tahu bagaimana caranya agar pria itu menoleh padanya dan melihatnya sebagai perempuan utuh dan bukan sebagai seorang saudara perempuannya. Semakin hari semakin kecil kesempatan itu dan ia harus mulai belajar mengikhlaskan.
----------+++-----------
Hari yang di nanti tiba. Miriam akan ikut Max untuk mendatangi rumah Anna. Ia sudah berdandan secantik mungkin dan yang terkesima adalah Hades. Max tersenyum dengan penampilan gadis itu yang mulai pintar berdandan dan penampilannya terlihat dewasa.
Max sempat berbicara dengan Hades tentang keamanan rumah sebelum akhirnya membawa Miriam pergi.
Mereka akhirnya mendatangi sebuah rumah besar bergaya minimalis. Rumah itu berhalaman luas ditumbuhi dengan bermacam tanaman pagar di depannya juga dengan tempat parkir yang cukup besar. Mereka kemudian turun.
Keluarga Anna telah menunggu kedatangan mereka dengan menyambutnya di depan rumah. Suasana terlihat akrab walau keduanya terlihat seperti orang bule karena baik Max maupun Miriam sangat fasih dengan bahasa Indonesia.
"Mari, silahkan masuk," ujar kedua orang tua Anna yang dikenalkan Anna pada Max.
"Oh, iya, iya. Terima kasih," sahut Max. Pria itu mengikuti kedua orang tua Anna dan kekasihnya dari belakang.
Miriam tentu saja, saat datang netranya langsung teralihkan ketika mengetahui di rumah itu ternyata memelihara banyak hewan dalam kandang. Binatang itu berada dalam kandang yang tertata rapi di depan rumah. Ada ayam, kelinci, burung bahkan bebek pula ada di sana membuat jiwa iblisnya kembali tergoda.
____________________________________________
Masih baca novel author ini 'kan? Jangan lupa untuk memberi semangat author dengan like, vote, komen atau hadiah. Ini visual Miriam dengan dandanan feminimnya ke rumah Anna. Salam, ingflora. 💋
__ADS_1