Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Rampok


__ADS_3

Setelah Hades pergi, Miriam protes pada Max. "Kak, kita 'kan tidak kenal dengan Hadi itu. Kenapa Kakak membiarkan dia mengamankan rumah ini? Bagaimana kalau dia berniat jahat?"


"Lita, kita tidak boleh suudzon."


"Suudzon, apa?"


"Berpikiran buruk pada orang lain."


"Bukan berpikiran buruk tapi hati-hati. Apa Kakak tidak belajar dari pengalaman? Kakak 'kan hampir dibunuh dengan dibuang ke laut."


Max mengerut kening. "Bagaimana kau tahu?"


Miriam gelagapan. "Eh, a-aku mendengarnya dari sekretarismu."


"Oh."


Miriam hampir saja membuka rahasianya. Ia lega.


"Walaupun wajahnya sedikit misterius, tapi aku yakin dia orang baik."


Ya, Hades memang orang baik tapi aku tak suka ia bolak-balik ke sini. Menyebalkan!


---------+++--------


Max duduk sendiri di ruang tengah, dalam diam. Ia sedang berpikir. Aku sedikit bingung dengan misteri 2 wanita ini. Yang satu, yang menyelamatkanku dari tenggelam di dasar laut, tapi aku tidak bisa mengenali wajahnya hanya rambutnya saja yang berwarna merah.


Satu lagi gadis yang kuberi nama Jelita. Ia ditemukan tanpa identitas dan tak ada yang mengenal atau melihat dia sebelumnya. Yang mencarinya pun tak ada. Ia seperti manusia yang lahir dengan sendirinya. Bahkan di daftar pencarian orang pun tidak ada yang berwajah mirip dengannya.


Aku harus bagaimana? Apa aku kembali lagi ke pantai itu mencari tahu tentang keduanya? Mmh, mungkin untuk awalnya aku akan bertemu ibu nelayan tua itu lagi karena ia yang menemukan Lita pertama kali. Mungkin darinya aku bisa dapat petunjuk.


Selagi duduk melamun sendirian, ternyata Hades datang dan masuk ke dalam rumah. "Pak Hadi, apa kabarmu?" sambutnya.


"Jangan terlalu formal begitu, Pak, aku jadi tidak enak sama yang lain. Panggil saja nama Saya karena posisi Saya adalah pegawai Anda."


"Mas Hadi?" Ia menjajal memanggilnya.


Hades tersenyum.


"Apa sudah mengontrol di luar?"


"Oh sudah. Boleh Saya melihat-lihat di dalam?"


"Biar Aku tunjukkan tempat-tempatnya."


Mereka melangkah bersama ke kebun belakang. Miriam memperhatikan keduanya dari lantai atas. Tak lama mereka masuk kembali.

__ADS_1


"Begitulah rumahku. Mungkin tidak terlalu besar dibanding rumah-rumah lainnya di sekitar sini."


Hades bingung menjawabnya karena ia sendiri belum pernah masuk ke rumah mewah lain di lingkungan komplek itu, tapi berdasarkan ukuran, rumah pria itu cukup luas dibanding rumah lainnya bila dilihat dari luar. "Rumah Anda Saya rasa, salah satu yang terluas di komplek ini, Pak."


"Benarkah? Mmh, padahal rumah seukuran ini di Inggris tidak besar. Aku punya rumah di Inggris, yang cukup besar. Punya kolam renang dan taman belakang untuk bermain golf.


Rumah ini aku beli ketika mencari rumah kontrakan sementara untuk tinggal di Jakarta dan ada teman bisnis yang terdesak uang dengan menjual rumah ini. Eh, tapi ternyata aku malah lama tinggal di sini karena bisnisku ternyata berkembang di Jakarta. Padahal awalnya cuma coba-coba."


Mmh, tipe pebisnis handal.


"Oh ya, aku akan keluar kota lagi besok. Apa kau akan memeriksa lagi rumahku? Aku tidak lama tapi kalau kau ingin memeriksanya aku akan meminta penjagaku di luar untuk membiarkanmu masuk."


Keduanya terhenti di ruang tamu.


"Oh, nanti lihat situasinya, Pak."


"Ok, kalau begitu aku akan bilang pada penjaga di depan."


Hades pun pamit. Pria itu sempat melihat Miriam yang mengintipnya dari lantai atas.


---------+++----------


Jalan keluar kota, kembali dipenuhi pemandangan tanaman hijau dan pohon-pohon besar. Sesekali terpampang sawah dengan padi yang mulai menguning. Miriam dan Max menyukai pemandangan sejuk ini.


Belum lama mereka memasuki daerah perkampungan yang sedikit sepi, mobil mereka dibuntuti oleh mobil lain lebih dari satu.


"Ada apa ini?" Max merasakan tanda bahaya. "Lita, kamu jangan keluar ya?" Ia menoleh ke belakang.


Gadis itu hanya terlihat bingung.


"Pak, tolong tanyakan pada pria itu apa maunya," ucap Max pada sopirnya mengingat pria di motor itu turun dan mendatangi mobil. "Hati-hati ya?"


"Iya, Pak." Sopir pribadi merangkap bodyguard itu keluar menyambangi pria itu tapi apa yang didapat? Sopir itu langsung diserang sebelum sempat bicara. Sopir itu menangkis serangan, tapi sebelum usai, pintu samping mobil Max dibuka oleh seseorang di samping Max dan Miriam. Keduanya dipaksa untuk turun.


"Hei, kau mau apa!" teriak Max. Pria itu juga melihat seorang pria menarik Lita keluar dengan kasar. "Hei, apa yang kau lakukan padanya?!!Hentikan!!" Ia baru saja akan mendorong pria yang menarik Miriam keluar dari mobil ketika seseorang memukul kepalanya dengan keras. "Ah!"


"Kak Max!" Disaat itulah Miriam bereaksi, tapi ia tak bisa berbuat banyak karena Max yang terlihat tak berdaya, ditarik dan tangannya diikat ke belakang. Demikian pula dengan sopir pria itu yang dikeroyok 3 orang, akhirnya tumbang dan juga diikat. Wajahnya babak belur.


Miriam tidak berani beraksi karena Max dan sopirnya dalam keadaan sadar. Ia diikat dan di masukkan ke dalam mobil penjahat sedang Max ke dalam mobilnya sendiri. Mereka juga memasukkan sopir Max di mobil yang lain.


"Lita!"


"Kak Max!"


Mobil bergerak ke suatu tempat.

__ADS_1


"Kau akan membawa kami ke mana?" tanya Max pada pria disebelahnya. Ia duduk di belakang di apit oleh 2 orang pria, tapi pria yang duduk di depanlah yang tertawa.


"Tenang saja. Kau akan tahu setelah sampai," katanya tanpa menoleh.


"Tapi bebaskan gadis itu. Kau boleh bawa aku!"


Pria tinggi besar yang ada di depan itu menoleh. Ia tersenyum. "Kau bukan pada posisi menawar jadi kau diam saja dan ikuti perintahku atau gadis itu akan celaka," ucap pria itu dengan suara pelan tapi berat.


Max terpaksa diam walaupun saat itu ia sangat geram hingga merapatkan gerahamnya.


-----------+++---------


Sampai di sebuah gubuk, ketiganya dimasukkan ke dalamnya dan dihadapkan pada seorang pria bertubuh kekar dengan banyak tato di tubuhnya. Dengan berpakaian kaos singlet, pria itu menatap liar pada Miriam. "Niatku mau merampok malah dapat barang bagus." Ia mendekati Miriam dengan mata nakal yang memindai tubuh gadis itu.


"Hentikan! Kalau kamu butuh uang, apa kuberikan, tapi lepas kami," tawar Max. Ia tidak ingin Miriam disentuh pria itu.


Miriam hanya diam. Ia sedang mencari cara agar bisa terbebas dari penjahat itu dan aksinya tidak terlihat oleh Max dan sopirnya.


"Baiklah," jawab pria itu. "Shin, bawa pria bule ini untuk mengambil uang 2 Milyar di bank. Pastikan ia tidak kabur dan memberitahu polisi."


"Baik, Bos." Pria itu menarik Max dengan kasar.


"Tapi, jangan sentuh gadis itu, dia adikku," pinta Max sebelum ditarik paksa untuk keluar.


Kepala penjahat itu menggerak-gerakkan tangannya mengusir Max. "Cepat sana, atau kau akan mencelakainya."


Max terpaksa diam saat diseret keluar dengan kasar oleh anak buahnya.


Setelah Max pergi, kepala penjahat itu melirik Miriam. "Sudah waktunya kita bersenang-senang, Sayang." Ia mengusap rambut gadis itu dan menariknya ke sebuah kamar.


"Hei, kau menyalahi janji!" teriak sopir Max.


Pria itu menoleh ke belakang dengan tatapan beringas. Ia melirik anak buahnya yang masih ada di sana. "Beri dia pelajaran! Jangan asal meneriaki orang sembarang," geramnya dengan geraham gemerutuk.


Sopir itu pun dipukuli tanpa ampun.


___________________________________________


Ayo, lihat novel yang satu ini menunggu novel author, up.


Dewi Arumi adalah seorang Dewi yang sangat cantik, pintar dan mempunyai ilmu sihir yang bisa merubah bentuknya sesuai apa yang diinginkannya dan bisa merubah benda mati menjadi hidup sesuai yang diinginkan oleh Dewi Arumi.


Hingga suatu ketika Dewi Arumi melakukan kesalahan besar hingga dirinya di sihir menjadi Putri Pokemon dan di buang ke bumi.


Dewi Arumi bisa berubah wujudnya asalkan melakukan 1000 kebaikan tanpa menggunakan sihir. Apakah usahanya berhasil?

__ADS_1


Ikuti yuk novelku yang ke 33



__ADS_2