Siluman Putri Duyung

Siluman Putri Duyung
Bicara Cinta


__ADS_3

"Eh, sebenarnya iya."


Max tersenyum senang. "Mau menemaninya ngobrol? Silahkan."


"Mmh, sebenarnya aku ingin mengajaknya ke pantai. Apa boleh, Pak?"


Max terdiam sejenak. "Eh, Lita 'kan masih taraf pemulihan. Sebaiknya di rumah saja ngobrolnya. Apalagi sudah malam." Pria itu membujuk Hades. "Iya 'kan Lita?" Namun ketika ia menoleh pada Miriam, gadis itu tengah menatap Hades dengan pandangan sendu. "Lita?"


Gadis itu bergeming.


Max jadi salah tingkah. Haruskah ia mengizinkannya? "Apa kau mau pergi?"


"Eh, beri aku izin membawanya sebentar saja," pinta Hades sekali lagi.


Bola mata Max menatap Miriam dan Hades berganti. "Mmh, ya sudah."


Hades tampak senang.


"Tapi berangkatnya pakai mobil saja beserta sopir agar kau tak lelah dan menghindari angin malam. Lita, kau bawa jaketmu ya?"


Gadis itu segera ke lantai atas dengan menaiki tangga. Tak lama gadis itu keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga.


"Tolong jaga dia baik-baik ya?" pinta Max pada Hades.


"Baik, Pak." Hades melihat Max pria yang bertanggung jawab walau ia tidak mencintai Miriam.


Keduanya pergi dengan mobil dan sopir pribadi Max. Pria bule itu mengantarkan hingga depan rumah dan memandangi mobil menjauh dan hilang dari pandangan.


Hades duduk di depan bersama supir dan Miriam di belakang. Di dalam mobil, mereka tak banyak bicara.


Mobil akhirnya sampai di daerah tepi pantai dan keduanya turun.


"Kita makan dulu yuk!"


Miriam melirik aneh pada pria itu, sebab tak biasanya ia mengajak makan malam. Ia menurut sampai ia mengetahui sesuatu.


"Aku takut sopir Pak Max memata-matai kita," ucap Hades akhirnya dengan suara rendah.


"Oh."


Mereka memasuki sebuah restoran dengan dekorasi kerang-kerangan dan jala nelayan yang juga mempunyai tempat makan di luar. Hades memilih makan di luar. Setelah memesan makanan, mereka mulai mengobrol.


"Apa rencana kamu berikutnya?" tanya pria itu memulai percakapan.

__ADS_1


Miriam tak menjawab. Ia hanya menopang dagu di atas meja dengan satu tangan dan memandang ke arah pantai.


Bintang di langit berkerlap-kerlip begitu indahnya. Akankah hidupku akan berakhir sampai di sini saja?


"Jangan bilang kamu tak punya rencana."


"Aku tak punya rencana." Gadis itu menoleh pada Hades.


Pria itu merapatkan rahang karena gemas.


"Aku hanya ingin berada di sisinya sampai akhir hidupku."


"Miriam, kenapa kau tak kembali saja. Mengenai penyihir siluman laut .... "


"Hades, aku ingin begini. Aku ingin begini saja." Di wajah gadis itu terlihat keikhlasan. "Toh, kalau aku kembali, aku juga sama saja. Orang yang tak berguna."


"Tidak Miriam." Hades meraih satu tangan gadis itu yang tengah berada di atas meja dan menggenggamnya erat. "Kau sangat berarti. Sangat berarti untukku. Tidak bisakah satu orang membuatmu mengurungkan niat bunuh dirimu ini?"


"Hades ...."


"Miriam, dengarkan aku. Aku tidak rela kamu melakukan ini. Kau bukan buih dari hempasan ombak di pantai yang pelan-pelan menghilang. Kau juga bukan tinta pada kertas yang terkena hujan lalu luntur. Kau terpatri di sini, Miriam di hatiku." Pria itu menepuk-nepuk dadanya pelan. "Jadi jangan pernah meremehkan dirimu sebagai bukan siapa-siapa. Kau sesuatu, Miriam. Sesuatu yang indah."


Sebenarnya Miriam mengikuti Hades hanya ingin melarikan diri sebentar dari kenyataan. Menyatakan diri baik-baik saja bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah sebab sebenarnya ia sedang sesak, tak punya jalan keluar.


Gadis itu menatap pria itu dan merasa kasihan. Bukannya ia tidak tahu Hades menyukainya tapi ia merasa terlalu dekat dengan pria itu hanya akan mematahkan hati pria itu saja karena ia tidak bisa membalasnya. "Hades, mulai sekarang lupakan aku. Aku ...."


Kejujuran Hades akan isi hatinya membuat Miriam terkejut. "Hades ...."


"Aku tahu, kau takkan percaya, tapi inilah yang aku rasa selama ini Miriam, karena itu aku tak pernah pergi jauh darimu."


"Hades, aku ...."


"Apa aku terlalu berharap banyak? Tapi kau sudah mencobanya dengan orang lain dan tak berhasil."


"Tapi bukan berarti ...."


"Aku tahu. Kita bisa jadi teman dulu."


"Hades!" Miriam mulai bicara keras pada pria itu dan menarik tangannya menjauh darinya.


"Cintaku padamu, sekeras cintamu pada Max, bukan?" Sorot mata pria itu tajam pada Miriam.


Makanan kemudian datang sehingga keduanya terdiam sesaat.

__ADS_1


Setelah pelayan itu pergi, kembali gadis itu memandang ke arah pantai dan bersandar ke belakang. "Aku hanya ingin melepas lelah, karena itu aku mengikutimu. Beristirahat sebentar, lalu kemudian berjuang lagi." Miriam menunduk. "Aku tahu keputusan ini adalah keputusan yang paling bodoh yang pernah aku lakukan. Tidak masuk akal dan sia-sia ... tapi aku ingin memperjuangkannya walau tahu akhirnya seperti apa."


Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Hades. "Tolong, hargai pilihanku kalau kamu mau terus menjadi temanku," pinta Miriam pada pria itu. Lebih tepatnya mengemis, karena hanya pada Hadeslah, ia bisa bercerita. Hades, memang teman terbaiknya.


Pria itu menghela napas pelan. Keduanya kini melihat pada bintang-bintang yang masih gemerlapan di atas langit.


------------+++-----------


Miriam mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Apa Kak Max sudah tidur? Ah, sudahlah .... Ia melangkah ke kamarnya, tapi telinganya yang tajam mendengar sesuatu. Seperti orang yang sesak napas dan ingin bicara. Suara itu berasal dari kamar Max. Ia menempelkan telinganya pada daun pintu dan coba memastikan. Seseorang seperti kehabisan napas dan ....


Miriam segera membuka pintu dan masuk. Dilihatnya Max tengah memegangi lehernya seperti tercekik sesuatu.


"Kak Max!"


Satu tangan pria itu tengah berusaha menggapai gadis itu. Matanya membulat sempurna dengan urat leher yang menonjol menandakan ia sedang berjuang menahan sesuatu. Mulutnya tak mampu bicara karena tangan yang satu lagi tengah memegangi lehernya yang seperti tengah tercekik.


"Kak!" ucap Miriam cemas. Ia tahu, sesuatu yang tak lazim terjadi pada pria itu. Akhirnya ia terpaksa mengeluarkan kemampuannya.


Segera ia menutup mata dan berusaha melihat isi ruangan itu dengan mata yang satunya. Kini terlihat sesosok mahluk halus yang tinggi besar tengah duduk di samping Max dan mencekik pria itu. Mahluk itu tak punya kaki dan mengambang.


Di tubuh mahluk itu tertera tulisan-tulisan Jawa kuno yang tidak jelas. Miriam segera tahu apa yang terjadi. Seseorang berusaha membunuh Max dengan santet.


Miriam segera mengangkat kedua tangannya dan berputar di depan dada dengan jari merapat. Sebuah asap abu-abu yang berbentuk panjang berputar mengitari lengannya seperti ular. Ia mulai menurunkan mantranya.


"Bestelefo ragobagus sagobage."


Asap itu berputar dan menjadi bulat. Ia kemudian melemparnya pada mahluk itu.


Wus! Mahluk itu kesakitan tapi belum mau melepas cekikannya pada Max.


Miriam membuat lagi yang baru. "Bestelefo ragobagus sagobage!"


Wus!


Mahluk itu coba menghindar tapi tak ayal mengenai pundaknya. Ia kembali kesakitan. Mahluk itu marah dan mendatangi Miriam.


"Wachhh!" Makhluk berbulu seperti kera itu menyerang gadis itu.


Tangan gadis itu kembali menyatu. "Wessiko lamodaro imago." Ia membuat asap abu-abu lagi tapi kemudian berputar dan membesar sehingga mirip badai kecil. Badai itu bergerak-gerak di sekeliling Miriam melindunginya.


"Inaho beto. Hah!" Ia melempar asap itu pada mahluk itu dan kini mahluk itulah yang dikurung asap abu-abu milik Miriam. Hanya bedanya, mahluk itu kesakitan setiap menyentuh asap itu, dan mahluk itu semakin marah. Dengan mudahnya mahluk itu keluar dari badai itu dengan terbang ke atas dan turun tepat di hadapan Miriam.


__________________________________________

__ADS_1


Masih terus membaca novel ini kan reader? Jangan lupa terus dukung author untuk terus giat menulis dengan komen, like, vote, atau hadiah. Ini visual Miriam yang semakin dewasa karena pengalaman. Salam, ingflora. 💋



__ADS_2